Chapter 23

1588 Kata
"Jadi kita akan makan di mana?" Tanya Rachel mulai kesal. Setelah jam kuliahnya selesai Ji-Yeon dan Seung-Hun mengajaknya makan siang. Tetapi sejak tadi mereka berdua malah terus berdebat di mana mereka akan makan siang. "Sudahlah, kalau begitu kita makan di kafe dekat apartemen Rachel saja," kata Seung-Hun bermaksud mengakhiri perdebatan. "Sudah kukatakan aku bosan makan di sana," sahut Ji-Yeon tak mau kalah. "Ck, kalau begitu kau makan sendiri saja." Kening Ji-Yeon makin berkerut. "Aku akan makan bersama Hime." "Tidak. Kau makan sendiri saja." "Hei, jangan berdebat terus," kata Rachel malas. Lalu mendadak matanya melebar, ia teringat sesuatu. "Bagaimana jika kita ke restoran itu saja?" Ia memandang Ji-Yeon dengan mata berkilat-kilat gembira. "Restoran apa?" Tanya Seung-Hun sebelum Ji-Yeon sempat bereaksi. Mata Rachel mengerjap cepat. Tiba-tiba ia merasa sangat bersemangat. "Atau makan steik salmon seperti waktu itu?" Kali ini ia memandang Seung-Hun penuh minat. Rachel malah berharap bisa datang ke kedua restoran itu dalam satu waktu. Menikmati langit malam yang indah dengan steik salmon kesukaan kakak Seung-Hun yang sangat enak itu. "Seperti kapan?" Tanya Ji-Yeon penasaran. Seingatnya ia tidak pernah makan steik salmon bersama Rachel akhir-akhir ini. "Ide ba-" "Oh, tidak. Tidak," sela Ji-Yeon cepat, membuat Seung-Hun kembali menutup mulut. "Kita makan di restoran itu saja!" "Restoran apa?" Tanya Seung-Hun semakin penasaran. Ia tidak tahu Ji-Yeon dan Rachel pernah makan malam bersama berdua saja. "Seung-Hun, itu kakakmu, kan?" "Rachel, jangan mengalihkan pembicaraan." "Memangnya kau sangat penasaran? Yang Hime maksud adalah restoran di-" Rachel mengerjap sekali. Sepertinya ia tidak salah lihat. Tetapi si Seung-Hun ini malah tidak memercayainya. Oh, lihat itu. Shin-Hye, kakak Seung-Hun, sedang bersama Woo-Sung, kakak Ji-Yeon. Dan mereka berdua melihat ke arahnya. Rachel cepat-cepat menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum ketika Shin-Hye dan Woo-Sung melambaikan sebelah tangan sembari mengembangkan senyum padanya. Rachel tidak terlalu yakin, tetapi jika mereka tidak tersenyum padanya lalu pada siapa lagi? Sementara Ji-Yeon dan Seung-Hun sedang berdebat dan tidak menyadari keberadaan mereka sama sekali. Kini Shin-Hye dan Woo-Sung berjalan ke arahnya. Mereka terlihat serasih, Rachel jadi merasa agak iri. . . eh? Apa yang ia pikirkan tadi? "Adik ipar aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Shin-Hye ketika ia sampai di hadapannya. Serempak Ji-Yeon dan Seung-Hun berhenti berdebat dan menolah ke arahnya. "Kakak?" Kata mereka bersamaan. "Hei, apa tadi aku salah dengar? Adik ipar?" Woo-Sung menatap Shin-Hye dengan tatapan heran bercampur bingung. "Ya, kenapa tidak," sahut Shin-Hye ringan. Woo-Sung tertawa singkat lalu menepuk lengan Shin-Hye. "Kurasa kau salah sangka, Shin-Hye. Rachel ini pacar adikku, benar kan Ji-Yeon?" Ia berpaling memandang sang adik. Ji-Yeon tertegun. Seluruh tubuhnya mendadak beku. Begitu juga dengan Seung-Hun, ia sama sekali tidak menyangka Woo-Sung mengira Rachel adalah pacar Ji-Yeon. Hal itu, membuatnya merasa agak tidak senang. . . Oh, tidak. Pasti hanya salah paham, kan? Atau ada sesuatu yang tidak ia ketahui? "Tidak, tidak. Kau salah sangka. Rachel itu pacar Seung-Hun, dia calon adik iparku," sergah Shin-Hye tak mau kalah, keningnya berkerut tersinggung meski mengira Woo-Sung hanya bercanda. Begitu juga sebaliknya, Woo-Sung mengira Shin-Hye hanya bercanda. Mana mungkin Rachel bukan pacar Ji-Yeon. Mustahil sekali mengingat semua hal yang sudah ia ketahui. "Kau ini pasti salah minum obat," Woo-Sung meletakkan sebelah tangannya pada kening Shin-Hye, lalu cepat-cepat menariknya kembali sebelum Shin-Hye sempat menepisnya. Shin-Hye tidak membalas perkataan Woo-Sung lagi, ia mendengus dan menatapnya dengan mata disipitkan. Lalu ia berpaling pada Rachel dan tersenyum cerah. "Adik ipar, katakan padaku jika ucapan makhluk ini salah," ia menunjuk Woo-Sung dengan sebelah tangan. Ia dan Woo-Sung sama sekali tidak menyadari bahwa tiga orang di hadapan mereka terlalu terkejut untuk bereaksi. Rachel tersenyum. Tepatnya memaksakan seulas senyum. "Aku mencari kalian ke mana-mana!" Serempak mereka menoleh ke arah suara bariton yang berasal dari balik tubuh Woo-Sung. "Oh, kau Mayama. Membuatku kaget saja," Shin-Hye kembali berbalik dan memandang Rachel dan tersenyum. "Sepertinya aku harus pergi sekarang, sampai jumpa adik ipar, Ji-Yeon dan kau juga Seung-Hun," Shin-Hye melambaikan sebelah tangan dan berbalik pergi. "Lagi-lagi adik ipar," gerutu Woo-Sung. "Aku juga pergu dulu ya Rachel. Sampai jumpa," Woo-Sung tersenyum untuk terakhir kali sebelum ikut berbalik dan mengikuti langkah Mayama dan Shin-Hye. Rachel bersumpah. Ia sudah berusaha untuk tetap berpikir positif sejak tadi. Ia tidak tahu kenapa Woo-Sung dan Shin-Hye mengira ia sebagai pacar adik mereka. Tetapi, Rachel kira Shin-Hye hanya bercanda waktu itu. Apakah tadi ia juga bercanda? Lalu bagaimana dengan Woo-Sung? Otak Ji-Yeon sedang berusaha keras memahami apa yang baru saja terjadi. Kenapa Shin-Hye menganggap Rachel sebagai pacar Seung-Hun? Apa yang sebenarnya terjadi? Mendadak Ji-Yeon menyadari satu kemungkinan yang tidak pernah ia pikirkan. Yaitu Seung-Hun -temannya sendiri- juga menyukai Rachel. Ji-Yeon tahu selama ini bukan hanya diirnya yang Rachel butuhkan. ia juga membutuhkan Seung-Hun. Tapi. . . Apakah mungkin, tanpa ia tahu sesuatu telah terjadi di antara Seung-Hun dan Rachel? Tidak! Itu tidak mungkin! "Kurasa aku tidak jadi makan siang. Aku baru ingat sedang banyak tugas," Rachel mendapati dirinya bersuara. Itu alasan yang sangat payah, tetapi saat ini otaknya tidak mampu berpikir lebih jauh. Dan kenyataan ia tidak mendapat jawaban apa pun dari Ji-Yeon dan Seung-Hun membuat Rachel semakin cemas. Jantungnya berdegup cepat dan terasa nyeri. Ia melangkahkan kakinya dengan pandangan kosong, seperti setengah sadar. Baik Ji-Yeon mau pun Seung-Hun tidak ada yang berani menjawab ucapan Rachel. Bahkan ketika Rachel sudah menghilang dari pandangan mereka, mereka tetap diam tak bergeming. "Ini lucu," Seung-Hun memaksakan diri untuk bicara. "Kakakku hanya salah paham." Ji-Yeon merasa cukup lega dengan kenyataan itu. Tetapi ia belum merasa puas. "Sudahlah, aku hanya ingin tahu satu hal." Seung-Hun berpaling memandangnya sehingga mereka berdua saling bertatapan. "Apa kau menyukai Rachel?" Rasanya agak aneh ketika Ji-Yeon menyebut nama Rachel dengan nama aslinya. Seung-Hun tertegun. Jelas temannya yang satu ini tidak main-main dengan pertanyaannya. "Kau sendiri?" Hanya itu yang dapat ia katakan. "Jadi kita menyukai orang yang sama, teman?" Kata teman yang Ji-Yeon katakan terdengar menyesakkan. "Aku tahu kita tidak bisa memilih untuk mencintai siapa..." "Memang." Hening sesaat. Sampai Ji-Yeon mengangkat wajah dan pergi. Namun ia mengatakan sesuatu sebelum benar-benar meninggalkan Seung-Hun. Seung-Hun berharap ia salah dengar. Tapi tidak. Ji-Yeon memang mengatakan itu. . . "Tadinya kukira kau adalah temanku." * * * Woo-Sung meletakkan sumpitnya di samping piring lalu mengangkat wajah dan melipat tangan di atas meja. "Baiklah, kita sudah selesai makan. Jadi sekarang ceritakan padaku kenapa Yamaken tidak bisa bergabung bersama kita di sini?" Mayama meminum jus jeruknya sampai habis dan menoleh memandang Woo-Sung. "Apa?" Tanyanya berpura-pura tidak nendengar perkataan Woo-Sung. "Jangan banyak alasan Mayama. Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan Yamaken." Mayama menunjukkan senyum lebarnya sebelum bicara. "Yamaken akan kembali ke Jepang." "Apa?" Raut wajah Shin-Hye berubah seketika. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu sambil tersenyum lebar?" Shin-Hye menggerakkan sebelah tangan ingin menjitak kepala Mayama yang menyebalkan itu. Otomatis Mayama langsung menjauh darinya. "Kenapa mendadak? Kenapa Yamaken tidak memberitahuku? Kapan dia akan pergi?" Tanya Woo-Sung tanpa ampun. "Ya, kenapa?" Shin-Hye menambakan. "Tanyakan saja pada Yamaken, kalian membuatku bingung," Mayama menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan wajah kebingungan. "Astaga! Anak ini!" Shin-Hye akan benar-benar menjitak kepala Mayama jika ia tidak cepat menyela. "Baiklah, baiklah, Yamaken ingin melupakan gadis." Alis Woo-Sung dan Shin-Hye saling bertaut bingung. Shin-Hye tahu siapa gadis itu yang Mayama maksud. Tetapi yang membuatnya bingung adalah. . . kenapa tiba-tiba Yamaken ingin melupakan dia? Bukankah selama setahun ini Yamaken masih bertahan dan tidak bisa melupakannya? "Kenapa begitu?" Oh. Woo-Sung sudah lebih dulu menanyakan pertanyaan yang akan Shin-Hye tanyakan. "Itu karena gadis itu sudah memiliki pacar," sahut Mayama sambil membenarkan posisi duduknya. Pacar? Shin-Hye baru ingat Yamaken perbah mengatakannya. Tapi sepertinya Yamaken belum memberitahu siapa pacar baru gadis itu. Atau, ia sudah lupa? "Siapa pacarnya?" "Adikmu." "APA?!" Mata Shin-Hye membulat sempurna. "Adikmu," ulang Mayama. Woo-Sung dan Shin-Hye saling pandang bingung. Shin-Hye cepat-cepat menyeret lehernya untuk memandang Mayama lagi. "Sebenarnya siapa nama gadis masa lalu Yamaken itu?" Mayama mengangkat bahu. "Kita semua tahu Yamaken tidak pernah mengatakan nama asli gadis itu. Kita hanya tahu namanya sebatas Watanabe-San atau apa lah." Untuk kedua kalinya Shin-Hye dan Woo-Sung saling berpandangan. "Kau tidak sungguh-sungguh mengira Rachel adalah pacar Ji-Yeon kan?" Woo-Sung tidak langsung menjawab. Ia butuh waktu untuk berpikir. "Ji-Yeon memang tidak pernah mengatakan Rachel adalah pacarnya. Tapi kukira Rachel adalah pacara Ji-Yeon, maksudku, terlebih jika kau melihat sendiri bagaimana sikapnya pada gadis itu." "Apa?" Shin-Hye mendapati suaranya terdengar seperti bisikan. "Tadinya kukira kau hanya bercanda." Shin-Hye menggeleng pelan. "Tidak. Aku sungguh-sungguh mengira Rachel adalah pacar adikku. Aku sangat tahu adikku menyukainya meskipun ia tidak pernah mengatakannya sendiri." "Kalian terlihat bingung, aneh dan bodoh. Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" "Yang terlihat bingung, aneh dan bodoh itu kau!" Shin-Hye tahu Mayama sedang memakan kentang gorengnya, namun untuk saat ini ia tidak peduli. "Ini aneh, sungguh-sungguh aneh. Kita harus menanyakannya pada adik-adik kita." Woo-Sung mengangguk setuju lalu meraih jaketnya pada sandaran kursi dan berlalu. Shin-Hye juga memakai tas tangannya kembali. "Kau bayar semua ini," katanya sebelum berlalu. "Apa? Kenapa? Apa karena aku memakan kentang gorengmu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN