Chapter 24

1217 Kata
Rachel duduk termenung di samping meja ruang tamu. Entah sudah berapa kali ia menghela napas seperti orang putus asa. Tentu semua ini hanya salah paham. Woo-Sung dan Shin-Hye sama-sama mengira jika ia adalah pacar adik mereka. Padahal kenyataannya mereka hanya berteman dekat. Mungkin terlalu dekat sampai membuat mereka, bahkan Karin sampai salah paham. Untuk beberapa saat Rachel masih terpekur di meja itu. Semua ini hanya salah paham. Sekali lagi Rachel berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Ya. Semua ini pasti akan baik-baik saja. Dan setelah hari ini semuanya akan kembali seperti semula. Tetapi. . . kenapa ia merasa sangat cemas? * * * Kenyataanya apa yang Shin-Hye katakan tidak bisa ia lakukan. Begitu juga dengan Woo-Sung. Ia yang kemarin menyetujui perkataan Shin-Hye juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kini mereka sedang duduk berhadapan dalam sebuah kafe. Sama-sama menatap meja dengan pandangan kosong. Makanan yang sudah mereka pesan pun terbengkalai tak tersentuh. Mayama menyadari keganjilan pada kedua temannya ini. Tetapi ia lebih memilih diam. Meski kentang goreng pesanan Shin-Hye cukup membuat perutnya keroncongan sekali pun. Ia tetap diam karena kapok Shin-Hye akan menyuruhnya membayar tagihan makan mereka lagi. Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama. Akhirnya Woo-Sung memutuskan untuk bicara. Ia berdeham, mengangkat wajah dan memandang Shin-Hye lurus-lurus. "Kemarin. . ." suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. Woo-Sung berdeham sekali lagi dan menegakkan punggung. Shin-Hye yang mendengar suara serak Woo-Sung yang dipaksakan mengangkat wajah dari meja. Wajahnya yang terlihat datar dan sepasang mata sipitnya menatap lurus pada sosok tinggi besar di hadapannya. "Kemarin seharian aku nyaris tidak melihat Ji-Yeon. Ia terus berada di kamarnya. Diam dan tidak melakukan apa pun," Woo-Sung mengangkat bahu lemah. Seolah dirinya adalah seseorang yang sangat tidak berguna. Shin-Hye menghela napas tanpa suara dan mengalihkan pandangan sekilas. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Woo-Sung menduga pikirannya tak jauh berbeda darinya. Sesaat kemudian Shin-Hye terlihat gelisah. "Aku juga tidak bisa melakukan apa pun," akunya lemah. Nyaris terlihat putus asa. "Kau tahu, aku sangat menyayangi Seung-Hun. Dan juga Ji-Yeon, mereka sudah bersahabat sejak lama sekali. Tapi kenapa hal bodoh ini bisa terjadi di antara mereka? Terlebih semua ini disebabkan oleh ketololan kita. Maksudku- astaga. . ." Woo-Sung mengerti apa yang dirasakan temannya ini. Mereka sama-sama menyayangi adik mereka. Dan kenyataan bahwa mereka belum menemukan jalan keluar untuk Ji-Yeon dan Seung-Hun, membuat mereka sangat kebingungan dan tersiksa. Padahal Ji-Yeon dan Seung-Hun berteman dekat. Tapi bagaimana bisa hal seperti itu terjadi di antara mereka? Ya. Satu tanda tanya besar di kepala Woo-Sung yang belum terjawab. "Kau tahu? Setiap kali aku melihat Seung-Hun, aku tidak bisa. Aku tidak sanggup menanyakannya. Karena apa? Karena adikku itu terlihat begitu menyedihkan dan tertekan." Perkataan Shin-Hye membuat Woo-Sung mau tidak mau harus menyeret kesadarannya kembali. Entahlah. Untuk saat ini ia belum menemukan tanggapan yang pas untuk perkataan Shin-Hye. Meski yang ia alami hampir sama. Yaitu Ji-Yeon merasakan hal yang sama dengan Seung-Hun. Meski ia sendiri tidak melihat wajah Ji-Yeon secara langsung. Tapi sebagai seorang kakak, Woo-Sung sangat mengerti keadaan adiknya. Dan alasa itu tidak membuat Woo-Sung berani memberikan tanggapan. Mayama berdeham. Menyeret perhatian dua temannya pada dirinya. "Aku mengerti permasalahan ini. Tapi sebagai kakak, bukankah sebaiknya kalian tidak terlalu ikut campur? Seung-Hun dan Ji-Yeon itu sudah dewasa. Sudah sepantasnya mereka menyelesaikan permasalahan mereka sendiri." Shin-Hye diam, Woo-Sung juga sama. Karena kedua temannya itu tidak bereaksi, Mayama melanjutkan. "Berilah kesempatan pada mereka untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Lagi pula apa kalian sudah lupa? Cinta itu tidak pernah kembali pada orang yang salah. Kali ini, biarkanlah cinta yang bicara." Baik Woo-Sung mau pun Shin-Hye sama-sama tidak memiliki alasan untuk membantah ucapan Mayama. Akhirnya mereka hanya saling berpandangan dalam diam. "Baiklah, jadi kapan kita akan makan?" Suara Mayama menyeret perhatian Woo-Sung dan Shin-Hye kembali. Shin-Hye mengangguk-angguk dan mengambil sepotong pizza di hadapannya. "Ngomong-ngomong kenapa Yamaken tidak ikut bersama kita lagi? Rasanya sudah sangat lama aku tidak melihatnya," kata Woo-Sung setelah memakan sepotong kentang goreng. Karena napsu makannya sudah terlanjur hilang, jadi ia memilih untuk makan kentang goreng saja. "Kurasa dia sedang menyibukkan diri. Entahlah dia sangat sulit dihubungi akhir-akhir ini," sahut Mayama acuh. Tadinya Shin-Hye berpikir akan menghubungi Yamaken atau datang ke apartemennya. Tapi tidak. Kali ini ia harus memberikan kesempatan pada Ji-Yeon untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dulu. Sepertu yang Mayama katakan. Ia berhenti mengunyah dan berpaling pada Mayama. "Hm. . . tumben sekali kau bicara menggunakan seluruh akal sehatmu. Tapi lumayan juga ucapanmu barusan membuatku merasa sedikit lebih ringan." Mayama tersenyum masam dan berguman. "Kuanggap itu pujian. Aku tersanjung sekali." * * * Rachel bergumam pada ponsel di telinganya. Ia menunduk dan memainkan sebelah kakinya. "Aku tidak tahu," gumamnya lagi. Saat ini ia sedang menceritakan semuanya pada Karin. Ia mengangkat wajah dan menyandarkan punggung pada dinding lorong. "Kurasa aku akan kembali ke Jepang, mungkin untuk beberapa waktu. Entahlah. . ." Rachel kembali menunduk mendengar ketidaksetujuan Karin pada keputusannya. "Aku bisa mengambil cuti," sahut Rachel ketika Karin menanyakan tentang kuliahnya. "Entahlah," gumam Rachel yang entah sudah berapa kali ia gumamkan sejak setengah jam yang lalu. Ia mengerti jika sepupunya itu mulai dongkol mendengar jawabannya yang monoton. Karena untuk saat ini 'entahlah' adalah kata yang paling tepat untuk menjawab semua pertanyaan Karin. Mungkin terdengar bodoh. Tapi untuk saa ini, Rachel memang tidak tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Ia tahu melarikan diri bukan jalan yang tepat. Namun, ia merasa tidak punya pilihan lain. Setidaknya untuk sebentar saja. Ia ingin melupakan kenyataan ini sejenak. Pergi ke Jepang untuk beberapa hari dan ketika ia kembali semua sudah seperti semula. Ya, harapan yang bodoh sekali. Rachel terpaksa menarik diri dan melanjutkan langkah. Ia dengan tekun mendengar perkataan Karin di seberang sana. Mendadak langkahnya terhenti ketika menyadari kehadiran seseorang di depan pintu apartemennya. Rachel mengangkat wajah sampai pandangannya terhenti pada sepasang mata yang menatapnya. Dan perlahan sebelah tangannya yang mengangkat ponsel bergerak turun menjauh dari telinga. Lagi-lagi tatapan itu. Lagi-lagi wajah datar itu. Apa Rachel harus berteriak bahwa ia tidak suka melihat Ji-Yeon seperti ini?! Ah, tidak. Ji-Yeon yang dihadapannya kini adalah Ji-Yeon yang benar-benar dingin dan datar. Bukan Ji-Yeon yang bisa kembali ceria dengan mudah seperti biasa. "Ini," Ji-Yeon mengulurkan sebelah tangan yang mengenggam sebuah kunci. Kunci apartemen Rachel. "Maaf sudah mengganggumu selama ini." Apa? Apa yang barusan Ji-Yeon katakan? Tidak! Ji-Yeon sama sekali tidak mengganggunya. Bahkan jika Rachel boleh mengakuinya. Ji-Yeon adalah bagian kebahagiaan dalam hidupnya. Namun sebelum Rachel berhasil mengembalikan suaranya yang hilang. Ji-Yeon sudah kembali bicara. "Sekali lagi aku minta maaf. Maaf untuk semuanya. . ." Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf. Namun kenyataannya Rachel tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan sampai Ji-Yeon menarik sebelah tangannya dan meletakkan kunci itu dalam genggamannya. Tak sepatah kata pun yang sanggup ia suarakan. Tanpa menatap Rachel dan bicara lagi. Ji-Yeon berbalik pergi. Tepat ketika Ji-Yeon pergi. Tepat ketika itu Rachel merasa pandangannya mulai kabur. Sebelum sedikit kekuatan yang tersisa dalam dirinya pecah. Rachel bergerak cepat membuka pintu apartemen. Ia tidak menyadari dan tidak peduli ia nyaris merusak pintu apartemen karena membantingnya terlalu keras. Akhirnya sedikit kekuatan yang tersisa itu menghilang dalam sekejap. Rachel bersandar di balik pintu dan mulai terisak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN