Chapter 25

988 Kata
Ji-Yeon harus terus menguatkan diri atas apa yang akan ia lakukan ini. Ketika kenyataan bicara tentang hal yang tidak pernah ia duga. Ji-Yeon merasa seluruh harapannya telah hilang. Menurutnya, jika Rachel tidak menyukai Seung-Hun, maka pasti lah si Yamaken itu yang dia sukai. Dan bagi Ji-Yeon sekarang, ia tidak memiliki kesempatan apa pun. Kuatkan dirimu. Sebelah tangan Ji-Yeon yang menggenggam kunci terkepal semakim erat. Ia harus melakukan ini. Ia harus mengembalikan kunci itu pada Rachel. Dan dengan itu juga. Ia harus merelakan seorang Im Rachel, Rachel Watanabe dari hidupnya. Sekali pun menyakitkan. Ji-Yeon tidak mau mengakuinya. Terkadang melepaskan itu lebih baik dari pada bertahan dan menghadapi yang lebih menyakitkan. Lalu perhatiannya beralih pada seseorang yang berjalan mendekat. Jika Ji-Yeon boleh mengakui ia berharap Rachel tidak pernah datang ke sini. Biarlah ia menunggu di sini seharian, sampai besok atau bahkan sampai lusa sekali pun. Itu lebih baik dari pada ia harus menghadapi kenyataan akan melepaskan gadis itu dari hidupnya. Apa ia masih sempat membatalkan rencana ini? Sepertinya tidak. Gadis itu sudah terlanjur melihatnya. Astaga, ia tidak sanggup melihat binar kesedihan dari balik mata gelap itu. "Ini," kata Ji-Yeon setelah bersusah payah memaksakan diri. Ia sudah berada sejauh ini. Ia tidak boleh membatalkan rencananya. "Maaf sudah mengganggumu selama ini," katanya tulus. Meski Ji-Yeon akui kata-katanya terdengar menyakitkan untuk dirinya sendiri. Tapi untuk saat ini rasa sakit itu tidak lah penting. Karena kebahagiaan Rachel adalah prioritas utama dalam hidupnya. Ah, lagi-lagi keyakinan itu muncul. Setelah ini bukankah ia akan kehilangan prioritas utama dalam hidupnya? Jadi selanjutnya apa? Ji-Yeon menguatkan dirinya sekali lagi dan berkata. "Sekali lagi aku minta maaf. Maaf untuk semuanya. . ." Maaf karena sudah menyukaimu. Maaf karena sudah mencintaimu. Maaf. . . mungkin sudah membuatmu kecewa. Gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dengan sedikit kesanggupan yang tersisa dalam dirinya. Ji-Yeon meraih sebelah tangan Rachel dan menaruh kunci itu dalam genggamannya. * * * Rachel termenung di balkon kecil apartemennya. Banyak kaleng beer berserakan di lantai. Sejak dulu Seung-Hun selalu melarangnya minum. Rachel membayangkan bagaimana reaksi Ji-Yeon jika melihat keadaannya saat ini. Ia tersenyum singkat tanpa sadar. Seulas senyuman pahit yang menyesakkan d**a. Sekarang, semua kenangan itu serasa begitu jauh. Dan fakta bahwa mungkin semua itu tak akan bisa terjadi lagi, membuat Rachel terisak. Ya. Segalanya tak akan sama lagi. Ia sudah menangis semalaman, namun seolah belum cukup air matanya terus saja mengalir. Berapa banyak beer lagi yang ia butuhkan sampai rasa sesak di dadanya bisa hilang? Rachel tahu ini. Ia sudah menyadarinya. Dirinya ini hanya bisa merusak segala hal. Dulu ia juga merusak hubungannya dengan Yamaken, ia sudah menyakiti laki-laki itu. Dan sekarang ia bahkan menyakiti dua temannya yang sangat berharga. Rachel terisak. Benar-benar membenci dirinya sendiri saat ini. Matanya begitu sembab dan ia sudah lelah sekali. Namun selalu saja ia terbangun seolah dikejutkan oleh sesuatu setiap kali mencoba untuk tidur. Rachel menjatuhkan kaleng beer ditangannya, benda itu berdenting membentur lantai. Di kejauhan di timur. Matahari mulai terbit. Langit berubah kemerahan. Sudah berapa hari ia tidak tidur sejak menginjakkan kakinya kembali ke Tokyo? Ya. Ia memang kembali ke sini meski pun Karin melarangnya. Ia pergi tanpa memberitahu siapa pun. Toh ia juga yakin, baik Ji-Yeon mau pun Seung-Hun tak akan mau lagi mendengarkannya. Akhir-akhir ini bahkan ia lebih banyak menangis ketimbang melakukan hal lain. Rachel mendesah lelah. Lantas berbalik masuk. Tubuhnya serasa akan hancur. Ia benar-benar butuh tidur sekarang. Ah, ya. Tidur selamanya saja. Dengan begitu ia tidak akan menyakiti siapa pun lagi. Semua orang akan lebih baik tanpa dirinya. Langkah Rachel gontai menuju kotak obat di seberang ruangan. Ia mengambil sebotol kecil obat tidur. Ini dia. Hidupnya. Dirinya. Sama sekali tidak berguna. Yang bisa ia lakukan hanya menyakiti orang lain. Jika ia mati. Rachel memandang obat itu. Jika ia mati pastinya tak akan ada yang bersedih. Senyum Rachel mengembang bersamaan setetes air matanya yang mengalir menuruni pipi. Lantas tanpa berpikir apa-apa lagi. Ia mengeluarkan seluruh obat dan menegaknya sekalian. Setelahnya ia terduduk di lantai. "Nah sekarang. Aku akan tidur." * * * Tak ada yang bereaksi diakhir cerita Rachel. Mitsuri yang setidaknya ia harapkan akan mengatakan sesuatu juga nampak diam dengan raut wajah datar. Sementara itu, meski agaknya terlambat, Katayama memulai alunan piaonanya yang lembut dan sedih. Sebegitu menyedihkan kah cerita dirinya? Ah, tidak. Tapi bodoh kan? Dengan mudahnya ia mengakhiri hidup dengan cara seperti itu. "Tugasku," Mitsuri mulai bicara. "Adalah membuatmu melupakan penyesalan yang masih kau rasakan. Aku mengerti pasti berat bagimu mengira semua orang terluka karena dirimu." Rachel menunduk dalam-dalam. Kedua tangannya terkepal. Berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Meski ia sendiri tidak tahu. Apakah arwah masih bisa menangis? "Tapi pernahkah kau berpikir bahwa ini sama sekali bukan salahmu?" Rachel tersentak. Kenapa Mitsuri bisa berpikir begitu? Mitsuri melanjutkan seolah tak melihat keterkejutan dalam reaksi Rachel. "Kau tidak pernah meminta siapa pun untuk mencintaimu. Mereka yang mencintaimu terluka atas ekspetasi mereka sendiri. Kau tidak seharusnya disalahkan." Rachel terdiam. "Lantas setelah ini, apa yang kau inginkan?" Tanya Mitsuri tiba-tiba, membuat semuanya heran karena mendadak ia merubah arah pembicaraan. Meski Rachel yakin sudah tahu apa yang dirinya inginkan. Tetapi Rachel tetap mengatakannya. "Membuat mereka tidak tersakiti lagi." "Nah, itu mustahil," sahut Mitsuri langsung. Rachel terkesiap sedih. "Tidak seorang pun bisa merubah apa yang dirasakan orang lain. Kita tidak bisa mengendalikan hati orang lain. Tetapi jika kau meminta padaku untuk membuat mereka agar tidak salah paham satu sama lain lagi, aku akan membantu." Rachel termenung beberapa saat. "Baiklah, sudah diputuskan. Kau akan melupakan semuanya setelah semua ini berakhir." Rachel menundukkan kepalanya lagi dan tidak bicara. Mungkin ini yang terbaik. Ia juga memikirkan ucapan Mitsuri. Dan hal itu membuatnya merasa sedikit lega. "Jadi sekarang, kita berlanjut pada cerita kedua." Suasana berubah tegang lagi. Kepala-kepala di meja saling menoleh mencari tahu. "Aku," kata Hinata Akabane tegas. Kedua tangannya terkepal di sisi meja. "Bagus," ujar Mitsuri. Dengan begitu cerita kedua tentang Hinata Akabane pun dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN