Chapter 26

1860 Kata
Gerimis mulai turun ketika Hinata dan dua temannya memasuki area perumahan itu. Yui dan Shina, kedua teman Hinata, mulai berlari-lari kecil sambil menaikan tas mereka ke atas kepala. Hinata terkikik geli melihat tingkah mereka. "Ayo, Hinata! Kenapa kau santai sekali?" Yui berbalik saat sadar Hinata tak ikut berlari. Shina yang mendengarnya ikut berbalik dengan wajah ngeri. Hinata nyengir lebar. "Aku suka hujan," katanya santai. Shina menggulirkan mata padanya. "Yang terlambat sampai tak akan kebagian sandwich!" Teriaknya. Serentak Hinata dan Yui terperangah. Kemudian secepat kilat keduanya ikut berlari. "Curang!" Rengek Hinata pada punggung Shina yang menjauh. Shina tertawa-tawa penuh kemenangan. Sesampainya di depan sebuah rumah bercat putih. Ia membuka pintu depan pagar dan melangkahi rerumputan di halaman kecil itu, saat hujan halamannya jadi licin jadi ia harus berhati-hati. "Hati-hati saat lewat sini," Shina berteriak lagi memeringatkan dua temannya. Tak lama darinya Yui sampai dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Meski napasnya tersengal ia tetap dengan senang hati berseru pada Hinata yang tertinggal. "Aku pulang!" Seru Shina seraya melepas sepatunya. Ia melangkahi pintu utama yang terbuka, mendengarkan sahutan-sahutan dari arah dapur dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Shina mengambil tiga buah handuk kecil. Satu untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berbalik lagi dan berjalan kembali ke arah pintu masuk. Hinata mendesah lelah, ia mengusap kening dengan sebelah tangan berlagak begitu kelelahan. "Wah, tadi itu menegangkan sekali." Shina menutupi kepala Hinata dengan handuk dan mengusap-ngusapnya. Membuat Hinata merengek lagi ingin menghindar. "Meski suka hujan tapi harus tetap jaga kesehatan," Shina memulai omelannya. Kini Hinata pasrah saja. "Jika hujannya bertambah deras tiba-tiba kau bisa sakit." Yui berjalan mengendap-endap melewati Hinata dan Shina. Tapi pandangan tajam Shina segera memergokinya. Ia beralih pada Yui yang langsung diam dengan pasrah. Membiarkan Shina mengusap kepalanya juga. "Nah," Shina melipat kedua tangannya mengaggumi hasil kerjanya. Rambut Hinata dan Yui jadi berantakan sekali. Yui sebisa mungkin merapikan rambutnya kembali sebelum berseru ke dalam rumah. "Aku pulang!" Ia, Hinata dan Shina sudah berteman sejak kecil. Karena itu tak heran masing-masing dari orang tua mereka sudah saling kenal dan menganggap mereka layaknya anak sendiri. "Aku pulang!" Hinata mengikuti langkah Yui tanpa repot-repot memperbaiki rambutnya. Di dapur, ibu Shina dan adiknya, Yori menyambut mereka dengan senang hati seperti biasa. Meski tidak terlalu senang hati bagi Yori sendiri, ia cenderung pendiam dan tak berperasaan. Sebaliknya, ibu Shina selalu terlihat ramah dan penuh cinta. Ia baru selesai membuatkan sandwich untuk mereka semua. Dibantu Yori dengan setengah hati. "Duduklah, makan dulu." Ketiganya serentak menarik kursi dan duduk. Masing-masing mendapatkan dua potong sandwich yang enak sekali. Yori, terlihat sangat terpaksa, menuangkan s**u pada gelas mereka. Hinata dan Yui mengucapkan terima kasih yang terdengar seperti angin lalu karna tak mendapat tanggapan. Sementara Shina yang sudah begitu sering mereka lihat, tetap berusaha mengacak rambut Yori yang tiap hari makin gesit saja menghindarinya. "Ah, ayahmu sudah sampai," kata ibu Shina, ia memeriksa jam dinding di seberang ruangan, memasukkan beberapa sandwich ke dalam tas tangannya yang besar. Beberapa hari yang lalu, Shina menceritakan pada mereka, orang tuanya akan pergi beberapa waktu untuk kembali ke kampung halaman sang ibu. Dikarenakan neneknya mengeluh sakit. Hal itu sudah sering terjadi, tapi neneknya tidak benar-benar sakit, ia hanya ingin anak dan cucunya selalu ada di sekitarnya. Dan saat ini Shina dan Yori tak bisa ikut karna belum liburan sekolah. Setelah mengucapkan salam ibu Shina meninggalkan dapur. Sebelumnya mengatakan agar mereka tak perlu mengantar sampai depan dan tetap melanjutkan makan saja. Hinata dan Yui melambaikan tangan sampai ia menghilang dari pandangan. Tak lama terdengar suara deru mobil menjauh. Yori menuangkan s**u untuk dirinya sendiri dan mengenyakkan diri duduk sejauh mungkin dari mereka. Ia makan sandwichnya tanpa suara. "Setelah ini jangan keluar dulu," Shina berkata padanya. "Di luar masih mendung jadi kali ini tetaplah di rumah." Setiap hari sepulang sekolah Yori selalu pergi main bersama teman-temannya. Yori tidak menunjukkan reaksi selama beberapa menit, kemudian ia mengangkat wajah memandang kakaknya sekilas. "Aku sudah janji," ujarnya singkat. Shina menggulirkan mata padanya. "Setidaknya bawalah payung." Yori tak menunjukkan tanda-tanda akan menanggapinya kali ini. Ia makan dengan cepat dan pergi begitu saja, jelas tanpa membawa payung. Shina memberengut. "Dasar anak itu, awas saja kalau sampai kehujanan," ia melongok ke luar jendela, menatap gumpalan abu-abu yang menggantung di atas langit. "Sudahlah," Yui berusaha menengahi. "Yori sedang melalu masa pubertas kurasa, jadi biarkan saja." Hinata mengangguk setuju, ia berbalik dan ikut memandang keluar jendela. Tersenyum melihat langit yang mendung dan merasakan semilir angin yang masuk melalui jendela. Yui bergidik. "Tutup saja ya jendelanya." Hinata mengerucutkan bibir berlagak kesal. "Padahal menyenangkan sekali." Yui berjalan kaku mendekati jendela untuk menutupnya. "Heran sekali padamu, tidak bisa merasa dingin, eh?" "Aku pluviophile," Hinata menggigit sandwichnya lagi, sambil terus menikmati langit mendung di luar sana. Pluviophile adalah sebutan bagi mereka yang menyukai hujan. Hinata adalah salah satunya. Ia sangat mencintai hujan. Perasaannya hangat setiap kali melihat langit mendung. Apalagi ketika mencium bau tanah setelah hujan, menyenangkan sekali. Ia juga senang bermain di bawah hujan, meski setelah itu ia jadi demam. Daya tahan tubuhnya tidak terlalu bagus, ia tergolong lemah untuk gadis seusianya. Untungnya ada Shina yang protektif sekali menjaganya. Mungkin karna di antara mereka bertiga hanya Shina satu-satunya yang memiliki adik, ia jadi bersikap melindungi pada mereka. Sementara Yui, sama seperti Hinata, mereka adalah anak tunggal di keluarganya. Tetapi Hinata sering merasa lebih baik dari Yui, ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tinggal sendirian setiap hari. Orang tuanya bekerja di luar negeri. Meski begitu tak pernah sekalipun Hinata melihatnya mengeluh. Ia jadi malu, kedua orang tuanya tinggal bersamanya di rumah. Tetapi karna kesibukan mereka, Hinata jadi jarang menghabiskan waktu bersama mereka dan itu membuatnya mengeluh sepanjang waktu. Ia mengalihkan pandangan pada Yui dengan sayang. Ia harus belajar darinya. Shina mendesah lega setelah menghabiskan sandwichnya. Kemudian membereskan meja makan, mengumpulkan piring dan meletakkannya di wastafel. "Aku akan mencucinya nanti," jelasnya, lebih pada diri sendiri. "Ayo," ia memberi isyarat pada dua temannya. Hinata cepat-cepat memasukan potongan terakhir sandwichnya ke dalam mulutnya yang masih penuh. Kemudian bergegas mengikuti langkah Shina yang sudah berbelok menuju lorong dan menaiki tangga menuju lantai dua kamar tidurnya. Sebaliknya Yui masih santai menambah s**u, kemudian membereskan gelasnya dan mengikuti mereka. Shina menaruh tas sekolahnya sembarangan dan menjatuhkan diri di atas ranjangnya yang empuk sambil mendesah keras-keras. "Tak banyak pekerjaan rumah hari ini, senangnya," ia bergumam. Yui mengikuti langkah Shina dan menjatuhkan diri di sampingnya. Hinata melempar pandangan ke luar jendela. Ia akan merasa mual jika langsung tiduran sehabis makan. Ia menarik kursi di meja belajar Shina dan duduk di depan jendela. Hujan mulai turun lagi dan kehangatan menyenangkan mulai menyelimuti dirinya. "Ngomong-ngomong," Yui baru teringat. Ia mendudukan diri menghadap Hinata yang membelakangi mereka. "Bagaimana perjodohanmu dengan senpai tampan kita?" Kata Yui dengan nada menggoda. Senpai yang ia maksud adalah panggilan untuk senior mereka di sekolah. Hinata melonjak kaget dan berbalik menatap Yui dengan wajah bersemu merah. Yang Yui maksud adalah dirinya. Mengingat hal itu di saat ini membuat Hinata merasa, sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jelas ia senang. Bahagia sekali ketika dua hari lalu orang tuanya mengajaknya mengobrol secara khusus untuk membahas rencana perjodohannya dengan Karasuma Fujii. Mantan seniornya sewaktu SMP yang begitu ia kagumi diam-diam. Tentu Shina dan Yui sudah mengetahui fakta itu sejak SMP. Mereka juga ikut bereuforia saat mendengar kabar ini. Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata. Hinata merasa seolah baru saja masuk ke dalam dunia fantasi. Ia tersenyum-senyum sendiri. Tak bisa tidak membayangkan bagaimana kelanjutannya nanti. Shina ikut duduk dengan wajah antusias. "Belum ada kemajuan," Hinata menghela napas berharap terlihat kecewa, tapi ia tahu benar tidak bisa merasa kecewa di saat seperti ini. Shina dan Yui saling pandang penuh arti. "Paling," kata Shina enteng seolah pernah mengalami perjodohan sebelum Hinata. "Mereka sedang mengatur rencana untuk mengatur pertemuan kalian." Yui mengangguk bersemangat. Hinata melemparkan pandangan kembali ke luar jendela untuk menyembunyikan senyumnya. Ia tahu itu. Lagipula perjodohan resmi mereka, seperti yang sudah ia sampaikan pada Yui dan Shina. Baru akan dilaksanan setelah Hinata lulus. Ia sudah kelas tiga SMA sekarang. Dan begitu lulus ia akan segera bertunangan dengan Karasuma. "Yah, bagaimanapun Karasuma-senpai itu pasti sibuk sekali," Yui memandang menerawang. "Aku tidak habis pikir orang semuda dia bisa sesukses itu. Aku jadi iri." "Minimal kau harus rajin belajar sepertinya. Ingatkan Karasuma-senpai selalu menempati peringkat pertama?" Ia memandang Hinata mencari pembelaan. Hinata mengangguk. Yui mendesah keras. "Kalau begitu aku langsung menyerah saja, aku tidak keberatan hidup dengan sederhana." Shina langsung memukulnya dengan bantal. Tawa mereka meledak. Hinata mengangkat kakinya ke kursi dan memeluknya. Perasaan hangat ini, ia harapkan bisa bertahan selamanya. Ia memandang sekeliling dalam jangkauan jendela itu. Dan lagi-lagi, entah sudah keberapa kalinya ia melihat sebuah rumah berpagar merah di kejauhan, yang sampai saat ini masih saja terlihat sepi seakan tak berpenghuni. "Hei, Shina," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari rumah itu. "Rumah berpagar merah itu," ia menunjuknya dengan dagu. "Memang tidak berpenghuni atau bagaimana? Dari awal aku melihatnya selalu saja terlihat sepi." Shina berhenti bermain pukul-pukulan bantal dan mendadak kengerian muncul di wajahnya. Hinata menyadari keanehan itu segera, Shina tidak biasanya tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia menoleh memandang temannya yang satu itu. "Dulu," Shina memulai. Dan mendadak suasana terasa jadi mencengkam. "Rumah itu ditinggali oleh sebuah keluarga kecil. Sepasang suami istri kaya dan kedua anaknya. Kalau tidak salah, anak pertama mereka itu perempuan mungkin seumuran dengan kita. Dan adiknya laki-laki kurasa masih berumur empat atau lima tahun saat itu," kening Shina berkerut dalam sementara ia berusaha mengingat. Hinata memandang ke arah rumah itu dan Shina bergantian, ikut merasa ngeri. "Aku tidak tahu banyak tentang keluarga itu. Mereka jarang bersosialiasi dengan warga sekitar. Dan sekitar dua tahun lalu mereka bangkrut. Dari yang kudengar benar-benar jatuh miskin seketika." Yui menahan napas penuh kengerian. Padahal jelas bukan itu bagian mengerikannya, membuat Hinata ingin sekali memukul kepalanya. "Lalu, tak lama setelahnya. Kudengar mereka dirampok, atau apalah aku tidak tahu detail pastinya. Ibu tidak mau menceritakannya. Yang jelas setelah kejadian itu mereka semua," Shina memandang Hinata dan Yui bergantian. Hinata langsung menyingkir dari jendela, merasa takut sekarang. "Bunuh diri," suara Shina serupa bisikan. "Apa?" Tanya Hinata dan Yui bersamaan. Shina menelan ludah. "Mereka bunuh diri." Yui dan Hinata tersentak. Hinata langsung menjatuhkan diri di antara Shina dan Yui. Yui juga terlihat sama takutnya dengan Hinata. Ia langsung mendekat ke arahnya. "Mereka semua?" Tanya Hinata dengan suara tercekat. Shina mengangguk. Jelas sekali berharap tak perlu menjawab apalagi menceritakan hal ini. "Tapi," Shina melanjutkan hati-hati. "Katanya hanya satu anggota keluarga yang masih hidup. Maksudku, si pasangan suami istri itu sengaja bunuh diri dan membunuh anak-anaknya." Hinata terkesiap keras. Tubuh Yui membeku di sisinya. "Yang selamat itu anak pertama mereka, dan dari desas-desus terakhir yang kudengar. Ia menjadi gila dan sekarang berada di rumah sakit jiwa." Hinata memandang menerawang ke luar jendela. Kasihan pada si anak pertama. Ia tidak bisa membayangkan berada di posisinya. Yui mulai menanyakan berbagai macam pertanyaan mendetail mengenai kejadian itu. Yang tak bisa Shina jawab karna ia sendiri tidak tahu. Pada saat itu. Hinata tidak tahu dan tidak menyadari. Bahwa kisah dari keluarga pemilik rumah berpagar merah itu, akan berkaitan dengan cerita hidupnya yang akan datang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN