Sambil memandang langit-langit kamarnya yang dilukis menyerupai langit siang hari. Cat biru sebagai warna dasar dan cat putih sebagai awan yang menggumpal di sana sini. Hinata mendesah lagi. Hari minggu yang membosankan baginya, karena sang ibu tidak mengijinkan ia keluar dan harus menunggunya pulang. Padahal pasti menyenangkan jika main bersama Yui dan Shina. Bisa tertawa lepas tanpa pekerjaan rumah atau tugas yang perlu mereka cemaskan.
Hinata mendesah keras dan berguling ke sana ke mari, sekedar mencari bagian terdingin di ranjang.
Kira-kira apa yang kedua temannya itu lakukan sekarang? Hinata terkesiap. Terkejut atas pemikirannya sendiri. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Karasuma. Apa yang ia lakukan sekarang? Semburat merah muncul di wajah Hinata. Kebahagiaan bagaikan sebuah balon besar yang muncul dalam dirinya, membuat ia merasa akan meledak.
Hinata tersenyum. Lagi-lagi bayangan di mana ia memakai gaun putih indah, dengan cincin di jari manisnya dan Karasuma di sisinya muncul dalam bayangannya. Hinata memejamkan mata dan memekik tertahan. Ia tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri. Adakah hal yang lebih indah dari itu?
Rasanya seperti mimpi yang menjadi nyata. Hinata tidak pernah lupa sejak pertama kali ia jatuh cinta pada Karasuma. Dia sangat tampan, berprestasi dalam berbagai bidang, selalu menjadi juara pertama di sekolah. Sempurna sekali dia itu. Terlebih dia lah yang akan menjadi suami Hinata di masa mendatang. Hinata memekik lagi. Tidak sabar rasanya menunggu hari itu tiba. Ia ingin cepat-cepat lulus saja rasanya.
"Hinata," ibu Hinata muncul dari balik pintu.
"Eh?" Hinata menghentikan euforianya seketika. "Ibu?" Ia bangun dan memandang sosok yang sudah ditunggunya sejak pagi itu.
Sang ibu tersenyum. "Nah, sekarang mandilah dan bersiap-siap. Kita akan berangkat sekarang."
"Ke mana?" Hinata tidak habis pikir kenapa ibunya mendadak mengajaknya pergi. Padahal ia sendiri baru pulang.
"Sudahlah, cepat bersiap-siap. Kita akan bertemu Karasuma juga."
Hinata terkesiap, matanya membulat sempurna. "Karasuma-senpai?" Nada suaranya meninggi tanpa sadar.
Ibunya mengangguk tidak sabar. "Cepatlah, jangan sampai mereka menunggu," ia menarik pintu hingga menutup dan berlalu.
Hinata masih tercengang. Bertemu Karasuma-senpai... sekarang juga? Tepat setelah ia memikirkan laki-laki itu?!
Tetapi... Ibunya bilang mereka. Apakah hari ini mereka akan membahas secara resmi pertunangan mereka? Hinata menahan napas. Tidak, tidak. Ayahnya sedang di luar kota, mana bisa pembahasan seserius itu dilakukan tanpa sang ayah. Hinata menghela napas kecewa.
Ia melangkah turun dari ranjang dan mulai bersiap-siap. Selesai mandi, membutuhkan waktu lebih lama dari biasa bagi Hinata untuk memilih pakaian. Ia merasa tidak memiliki cukup banyak pilihan setelah mengeluarkan setengah dari isi lemarinya. Ia tidak tahu apa yang Karasuma sukai. Dan masalahnya Hinata ingin membuat Karasuma terkesan di pertemuan pertama mereka setelah sekian lama.
Hinata melangkah bolak-bolik sambil menggigiti ujung kuku. Tak lama kemudian terdengar suara ibunya memanggil. Hinata memekik tertahan. Lantas memutuskan memakai sebuah gaun biru selutut bermotif bunga, dengan perasaan tak terlalu puas sebenarnya. Ia menyisir rambutnya lima kali sampai sang ibu terus memanggilnya tak sabar. Setelah yakin penampilannya cukup menyenangkan untuk dilihat, Hinata mengambil sebuah tas tangan mungil yang serasi dengan gaunnya dan berlalu.
Sepanjang langkahnya menuruni anak tangga, jantungnya terus berdetak gila-gilaan. Bagaimana wajahnya? Apa ia nampak bodoh? Bagaimana jika Karasuma mengganggapnya aneh? Hinata baru akan berbalik lagi saat ibunya memanggil dari dasar tangga.
"Hinata! Karasuma sudah di sini. Mereka menunggu di depan, cepatlah!"
Hinata yakin jantungnya telah melompat ke tenggorokan. Ia melangkah lagi, sekarang seluruh gerakan di tubuhnya serasa kaku. Bagaimana ini... Bagaimana ini... Ia terus bertanya-tanya sendiri dengan panik.
Keluar dari pintu depan, Hinata melihat sebuah mobil merah di halaman. Seseorang duduk di balik jok pengemudi. Yakinlah bahwa jantung Hinata benar-benar melompat keluar sekarang. Karasuma yang sudah setampan itu bertambah makin tampan saja.
Sang ibu menarik Hinata mendekat, membuat ia tersentak sadar dari lamunan. Seorang wanita paruh baya keluar dari mobil, tersenyum dan melambaikan sebelah tangan. Pastilah itu ibu Karasuma. Dia cantik sekali.
"Ah, ini pasti Hinata," suaranya terdengar ramah. Ia mengusap bahu Hinata dengan kedua tangan dan tersenyum menawan. "Kau cantik sekali," pujinya tulus.
Hinata berharap setengah mati senyumnya terlihat alami. Karena tubuhnya jadi sepenuhnya beku sekarang. Ia bahkan tidak berani melirik Karasuma lagi.
"Tentu saja, persis seperti ibunya."
Keduanya tertawa. Kemudian masih sambil terus bercakap-cakap, ibu Karasuma mendorong Hinata agar duduk di depan. Hinata melangkah kaku. Ia takut Karasuma akan mendengar detak jantungnya.
Karasuma tersenyum kecil saat ia duduk. Hinata bertanya-tanya dalam hati, apakah Karasuma masih mengingatnya? Apakah ia sudah lupa? Kenapa reaksinya biasa sekali?
Tapi segera saja Hinata melupakan kecemasannya. Ia bisa dengan puas memerhatikan wajah Karasuma sepanjang perjalanan. Bahkan setelah mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Sementara kedua ibu mereka sibuk berbelanja dan mengobrol. Ia dan Karasuma diam-diam saja mengikuti. Hinata sudah merasa cukup dengan ini. Walau rasanya ia tidak akan pernah merasa puas meski terus memandangi wajah Karasuma seumur hidup.
"Kalian tunggu saja di ruang tunggu, ibu akan mencoba beberapa pakaian ini," kata ibu Hinata.
Hinata melirik Karasuma mencari persetujuan. Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum kecil. Lantas mereka berdua berjalan bersama menuju ruang tunggu.
Hinata merasa wajahnya memanas. Berjalan berdua saja dengan Karasuma. Bukankah ini jadi seperti kencan? Hinata menahan diri agar tidak memekik karena terlalu senang.
Sampai di ruang tunggu ia mendudukan diri di sebuah sofa panjang yang tersisa, Karasuma mempersilahkan Hinata untuk duduk lebih dulu. Lalu ia sendiri duduk di sebelahnya. Ternyata ada cukup banyak orang di sini. Hinata kira ia akan berdua saja dengan Karasuma. Ia mendesah kecewa.
Ketika ia berpaling lagi untuk memerhatikan Karasuma, ia baru menyadari hal itu. Bahwa sejak awal Karasuma terlihat sedang mencemaskan sesuatu. Dan bukan sekali dua kali ia memeriksa ponselnya. Awalnya Hinata pikir, diamnya Karasuma adalah hal yang wajar karena ia sendiri selalu diam. Tapi ia jadi merasa aneh sekarang. Apa yang Karasuma pikirkan? Apa yang membuat Karasuma cemas?
Hinata menunduk sedih. Andai saja ia bisa membantu dan meringankan beban Karasuma. Apa pun itu, Hinata akan dengan senang hati membantunya. Oh, ya. Hinata teringat. Pastilah Karasuma begitu sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin itu yang sedang ia pikirkan sekarang.
Hening begitu lama. Hinata jadi makin cemas. Perlukah ia mengajak Karasuma mengobrol? Karena rasanya, semakin lama suasana di antara mereka jadi canggung sekali.
"Mmm, Karasuma-senpai?" Suara Hinata terdengar bergetar.
Karasuma mengangkat wajahnya dari ponsel dan menoleh padanya. "Ya?"
Hinata tersenyum salah tingkah. "Mmm, apa kau masih ingat padaku?" Ia mencoba untuk tersenyum ramah.
Karasuma balas tersenyum. "Tentu saja, kau adik kelasku di SMP."
Hinata lega sekali. Syukurlah, ia sempat mengira Karasuma tidak mengingatnya lagi. Jika hal itu benar-benar terjadi ia yakin akan menangis seminggu penuh. Karasuma yang begitu disukainya, ternyata tidak ingat atau bahkan tidak mengenal dirinya, terlalu menakutkan untuk menjadi nyata.
"Ah, mereka lama sekali," kata Karasuma tanpa diduga-duga. Ia memeriksa arloji hitam di tangannya.
Hinata memerhatikan tanpa tahu harus memberi tanggapan apa.
"Tapi ibuku memang seperti biasanya begitu," ia nyengir.
Jantung Hinata mencelos. Tak bisakah laki-laki itu menurunkan sedikit kadar ketampanannya?
"Mmm, Senpai biasa menemani bibi belanja?" Hinata tidak tahu apakah pertanyaannya terdengar bodoh. Ia hanya berusaha saja agar obrolan mereka tidak menggantung.
"Ya, terkadang. Jika aku punya cukup waktu luang. Hinata sendiri pastilah sering belanja, kan? Perempuan memang suka belanja."
Hinata membeku. Mendengar namanya disebut oleh Karasuma membuat jiwanya seolah terbang keluar. "Tidak terlalu," ia tersenyum lebar tanpa bisa ditahan.
Karasuma mengangguk-angguk mengerti.
"Ibuku juga ingin makan siang bersama," ia memeriksa arlojinya lagi. "Padahal sudah lewat dua jam untuk makan siang."
Hinata mengikuti ritme senyuman di wajah Karasuma. Benar-benar terpukau karenanya. Sampai nyaris tidak menyadari apa yang baru saja Karasuma katakan.
"Kau sudah makan siang, Hinata?"
"Eh, apa?" Hinata baru tersadar dari lamunan. "Oh, belum. Aku belum."
Karasuma tersenyum singkat dan tidak bicara lagi. Memusatkan perhatiannya kembali pada ponsel. Hinata langsung menyesal setengah mati. Pastilah ia sudah mengecewakan Karasuma. Apa-apaan itu? Kenapa juga ia harus melamun di saat seperti ini? Padahal mereka baru saja memulai obrolan. Siapa tahu obrolan mereka akan berujung pada pertanyaan gaun pengantin seperti apa yang Hinata sukai.
Hinata terus mengutuk diri sendiri. Bahkan setelah ibunya dan ibu Karasuma kembali. Dan benar, mereka makan siang bersama setelahnya.
Tetapi kesempatan untuk mengobrol lagi dengan Karasuma tidak pernah datang. Karasuma selalu sibuk dengan ponselnya. Dan hanya menanggapi pertanyaan yang dilontarkan ibu mereka seperlunya. Walau ia tetap menunjukkan senyum ramah yang memukau dan ikut tertawa di beberapa kesempatan. Hinata tahu Karasuma menyembunyikan kecemasan.
Sampai acara makan siang berakhir dan Karasuma mengantar mereka pulang. Ia tidak bicara apa pun lagi padanya. Hinata hanya berharap, bahwa hanya perasaannya saja Karasuma tidak terlihat tertarik padanya. Seolah ia memiliki dunianya sendiri yang tidak dapat Hinata jangkau.
Setidaknya, hal itu cukup membuat Hinata bersedih semalaman. Ia berharap, dengan sangat. Karasuma akan mulai memerhatikan dirinya dan perjodohan mereka terlaksana dengan semestinya. Tidak ada hal lain yang lebih Hinata harapkan selain semua itu.