Hinata mengikuti langkah Shina dan Yui menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang serasa tiada habisnya. Ia menunduk memandang lantai. Mulai merasa pusing sekarang. Hinata tidak pernah menyukai bau rumah sakit. Baginya serasa seperti bau kesedihan, meski jelas kesedihan tidak berbau.
Sekali lagi mereka berbelok menuju lorong lain. Hinata mendesah. Ia berjalan paling belakang di antara teman-temannya. Tidak habis pikir kenapa Yori harus membuat masalah dan membuat dirinya masuk rumah sakit. Akibatnya sekarang Hinata ikut terseret untuk menjenguk. Padahal sudah seribu kali ia katakan ia benci bau rumah sakit. Lihat, ia benar-benar merasa mual sekarang.
Lebih lagi sudah beberapa kali mereka tersesat. Hinata ingin menjerit saking frustasinya. Seberapa luasnya, sih, bangunan ini? Di mana-mana baunya sama saja. Ia tidak tahan.
Mereka berbelok sekali lagi. Hinata sudah ingin berbalik dan mencari jalan keluar saja tepat saat Shina memekik lega. Ia menunjuk pintu sebuah ruangan dengan papan yang sesuai dengan yang mereka cari. Tanpa basi-basi ia mendorong pintu terbuka dan menghambur berusaha memeluk Yori yang sesuai dugaan langsung menghindar. Sebelah tangannya dibebat. Nampak menyakitkan dan sepertinya akan lebih baik jika Shina tidak berusaha dekat-dekat.
Hinata yang berharap bau rumah sakit lebih baik di dalam sini langsung mengerang kecewa.
"Nah, sekarang jelaskan padaku bagaimana semua ini bisa terjadi!" Kata Shina tegas, jadi mirip benar dengan sang ibu saat marah.
Yori menggulirkan mata, ia terlihat ingin menghindar dari sang kakak atau minimal bisa menghilang dari ruangan.
Seorang dokter laki-laki paruh baya yang sempat mereka abaikan, tersenyum dan menepuk bahu Shina lembut. "Tak apa, Nak. Adikmu hanya terkilir dia akan segera baik-baik saja," ucapnya menenangkan.
Shina menghela napas lega. Sesaat terlihat akan menangis. "Terima kasih, dokter," suaranya terdengar gemetar.
Dokter tersenyum sekali lagi, menganggukan kepala lalu ijin untuk pergi.
"Sekarang! Ceritakan padaku sekarang!" Shina berbalik lagi pada Yori begitu sang dokter tak terlihat lagi.
"Yeah! Ceritakan padaku bagaimana mobil itu bisa menabrakmu! Apa kau terlempar dan berguling-guling di jalanan?" Tanya Yui penuh antusias. Membuat Shina langsung melotot padanya.
Hinata meringis. Yui itu tidak bisa membaca situasi.
"Kan sudah kukatakan ini hanya kecelakaan, bukannya aku dengan sengaja berlari ke tengah jalan agar bisa ditabrak dengan dramatis," Yori menggulirkan mata lagi. Kata-katanya dingin dan tajam seperti ia biasanya.
Dengan itu Hinata jadi yakin Yori memang baik-baik saja.
Shina terdiam dengan kedua tangan terlipat di d**a. Memerhatikan Yori dari ujung ke ujung dan jelas terlihat berusaha keras untuk tidak marah-marah lagi. "Baik," katanya dengan nada kalah. "Jadi jelaskan padaku di mana ponselmu? Kenapa aku mendapat kabar ini malah dari temanmu."
Yori mendengus, ia membuang muka lalu bergerak turun dari ranjang.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Shina memekik panik.
"Pulang," sahut Yori malas.
"Tapi kau bahkan belum menjelaskan apa pun padaku! Memang kau sendiri tidak bisa menghubungiku di saat seperti ini? Hei, tunggu!"
Mendadak Hinata teringat, bahwa dirinya juga sedang menunggu dihubungi Karasuma. Ia jadi merasa sedih sekarang. Sejak pertemuan terakhir mereka, Karasuma bahkan tidak mencoba sekali pun menghubunginya. Padahal Hinata sangat mengharapkan hal itu. Salah kah jika ia berharap pada calon suaminya sendiri?
"Aku baik-baik saja! Dokter juga tidak melarangku untuk pulang, katanya aku baik-baik saja," Yori masih berusaha kabur dari jangkauan kakaknya.
Shina tak mau kalah dan terus menarik Yori agar tetap di dekatnya. Setidaknya mereka harus pulang bersama, itu lah yang ia inginkan.
Yui yang mendapat sindirian dari Yori nampak biasa-biasa saja. Ia malah asik memandang ke sana-sini seolah sedang berada di taman hiburan.
Hinata memberengut menatap mereka semua. Ia sangat sedih karena teringat Karasuma. Dan situasi ini membuatnya teringat juga pada fakta bahwa ketika ia sedang bersama Karasuma sekali pun, Hinata tetap tak bisa masuk ke dunia Karasuma. Seolah Karasuma memiliki dunianya sendiri yang tak dapat Hinata jangkau. Nah, sekarang kalimat itu jadi membekas dalam ingatannya.
"Aku akan mengurus administrasinya dulu," Shina memberitahu ia dan Yui.
"Okay."
"Boleh aku menunggu di luar saja? Aku merasa mual sekarang," tak enak hati rasanya harus mengatakan ini, tetapi Hinata sama sekali tidak berbohong. Ia memang sudah pusing dan mual sejak tadi. Dan menahannya semakin lama sama sekali tidak baik dengan suasana hati yang buruk.
"Boleh, tapi kau yakin tak apa sendirian?" Shina menatapnya sedikit cemas.
"Tak apa, dah," Hinata cepat berbalik dan melangkah cepat sebelum salah satu di antara mereka menawarkan diri untuk menemaninya.
Langkah Hinata berubah jadi berlari-lari kecil. Ia tidak tahan lagi. Maka saat melihat pintu keluar senyumnya melebar dan ia bisa bernapas dengan lega di luar.
Namun kelegaan itu hilang secepat datangnya. Cukup jauh di sana di tempat parkir. Tak salah lagi Hinata melihat sosok yang sangat dikenalnya. Karasuma. Bahkan mobilnya pun masih sangat Hinata ingat.
Benar! Itu memang Karasuma. Tapi, yang membuat hatinya terasa sakit adalah kenyataan bahwa Karasuma tidak sendirian. Ia bersama seorang wanita. Siapa dia? Kenapa wanita itu memakai kursi roda? Apa mereka seumuran? Apa mereka berteman? Tak mungkin mereka memiliki hubungan khusus, kan?
Lantai yang Hinata pijak seolah hilang. Apa yang dilihatnya begitu menyakitkan tetapi ia tidak bisa mengalihkan pandangan.
Tidak. Ia harus tetap berpikir positif. Bagaimana pun juga gadis itu menggunakan kursi roda. Jelas kan bahwa ia tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu Karasuma perlu membantunya.
Karasuma menggendong gadis itu dan mendudukkannya di dalam mobil. Karasuma menyentuhnya. Karasuma tersenyum padanya. Karasuma bicara padanya. Sentuhan yang tak pernah Hinata rasakan. Senyuman yang tak pernah Hinata lihat ditujukan pada dirinya. Cara bicara Karasuma yang penuh perhatian yang tak pernah ia dengar.
Seketika hanya ada satu hal dalam kepala Hinata. Siapa gadis itu?
"Hinata."
Hinata melonjak kaget. Ia menoleh pada Yui yang mendadak muncul sambil tersenyum lebar.
"Kenapa melamun?" Tanyanya.
"Eh," Hinata merasa rasa panik menyerangnya seketika. Yui tidak boleh tahu! Yui tidak boleh melihatnya! "Tidak, aku tidak melamun. Di mana Shina dan Yori?" Hinata menarik lengan Yui agar membelakangi tempat Karasuma dan gadis itu berada.
"Sebentar lagi keluar, ah, itu dia!" Yui menunjuk Shina dan Yori yang baru muncul dengan bersemangat. Sama sekali tidak menyadari keanehan pada Hinata.
Hinata menyeringai gugup. Berharap tak seorang pun dari mereka menyadari apa yang ia takutkan. "Syukurlah, ayo kita pulang," suaranya memekik aneh. Hinata mengutuk diri sendiri seketika.
Shina yang lagi-lagi terus berusaha menarik Yori agar tetap berada dalam jangkauan, menoleh singkat pada Hinata dan mengangguk setuju.
"Tentu, Yori harus segera beristirahat," ia mendadak terlihat lelah.
"Aku tidak butuh," kata Yori dingin.
Hinata merasa sedih atas sikap Yori, bocah yang satu itu memang menyebalkan sekali. Walau tetap ia tidak bisa berhenti memikirkan Karasuma dan berharap setengah mati ia sudah pergi. Bersama gadis itu. Ah, rasanya menyakitkan.
"Kau sudah lebih baik, Hinata?" Shina menanyainya.
Hinata mengangguk dan menunjukkan senyum kecilnya.
"Kita akan pulang naik bus, tak apa buatmu, kan?"
"Tentu tak masalah," Hinata ikut mencengkeram lengan Yori yang bebas. Membuat laki-laki itu sesaat membeku dan memandangnya dengan raut wajah kaget. Hinata tidak memiliki alasan lain selain membawa mereka semua pergi dari sini secepat mungkin.
Kenyataan bahwa Karasuma sedang bersama wanita lain tanpa sepengetahuan Hinata, rasanya bisa membuat ia mati karena malu jika sampai Shina dan Yui tahu.
Untuk pertama kali dalam hidup, Yori diam saja. Ia berjalan patuh setengah menunduk, tapi tidak berusaha melepas cengkeraman Hinata pada lengannya. Tentu hal ini membuat Hinata bersyukur.
Tanpa memandang ke tempat Karasuma berada, mereka semua pergi meninggalkan rumah sakit.
Hinata tidak membantah betapa ia merasa marah, kesal dan juga cemburu. Rasanya ia bisa melampiaskan semua amarahnya kepada apa pun. Dan karena kebetulan Yori berada paling dekat dengannya, walau Hinata bahkan nyaris tidak pernah mengobrol dengannya. Ia berkata.
"Dengar, Yori, jangan membuat masalah lagi. Jangan menyusahkan kakakmu, demi Tuhan aku sangat benci bau rumah sakit! Jika kau sampai masuk rumah sakit lagi aku tidak akan mau menjengukmu!"
"Oke."