Chapter 29

1166 Kata
Hinata bersyukur saat mereka semua telah sampai di rumah Shina. Ia masih merasa sedih sekaligus kecewa. Cemburu dan marah juga. Pokoknya campur aduk! Ia ingin marah dan menangis di sisi lain. Bisakah ia melakukan hal itu? Tidak di sini. Jelas tidak. "Istirahatlah di kamarmu sekarang," suara Shina menyadarkan Hinata dari lamunan. Yori memandang Hinata untuk beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan berjalan lambat-lambat menuju kamar tidurnya. Yui memandang takjub. Kepatuhan Yori pastilah hal yang fantastis baginya. Bagi Hinata juga begitu. Tapi di saat ini ia tidak bisa terpukau atau apa. Ia hanya ingin mengeluarkan beban berat dalam dadanya. "Aku akan menyiapkan makan malam, kalian harus makan juga," Shina berbalik dan berjalan cepat menuju dapur. "Siap!" Kata Yui senang. Ia baru akan mengikuti langkah Shina ke dapur saat sadar Hinata diam saja. "Hinata," katanya. "Eh, ya?" Yui memandangnya dengan kening berkerut, menilai. Hinata jadi gugup di pandang begitu. Takut Yui akan tahu ia sedang menyembunyikan sesuatu. "Kau tak apa? Kuperhatikan kau sering melamun, apa kau masih sakit?" Ia bertanya sungguh-sungguh. Hinata memaksakan seulas senyum kering. "Tidak." Yui mengernyit. Tapi toh dia tidak bertanya apa-apa lagi. "Kurasa kau butuh makan sekarang," ia mencengkeram lengan Hinata dan menariknya bersama menuju dapur. Shina sibuk menggoreng telur dan beberapa sosis. Hinata kira, jika ia melakukan sesuatu juga akan membuatnya berhenti memikirkan Karasuma dan gadis itu. Benar. Ia harus menyibukkan diri. Ia maju dengan tegas. "Biar aku bantu!" "Tidak usah, duduk saja, ini tidak terlalu merepotkan. Kupikir Yori harus segera makan agar bisa meminum obatnya," ia berkata cemas, terdengar mirip sekali dengan sang ibu. Hinata memberengut. "Kalau begitu aku akan membantu melakukan sesuatu yang lain," ia bergumam sendiri dan berputar. Ah, Yui sudah lebih dulu menyiapkan gelas-gelas di meja dan menuangkan s**u dari karton. Ia mendesah putus asa. Tak ada sesuatukah yang bisa ia lakukan? Tiba-tiba ponselnya berdering. Hinata melonjak kaget dan cepat-cepat mencari ponsel itu di dalam tas. Oh, ia mendesah kecewa. Dari ibunya. Bukan Karasuma. "Pulang sekarang Hinata, Karasuma mengajak kita makan malam." Hinata bahkan tidak tahu haruskah ia senang? Muncul keinginan untuk menanyakan langsung pada Karasuma siapa gadis yang bersamanya di rumah sakit. Tetapi, di lain sisi ia ragu. Apakah ia berhak melakukannya? "Aku akan pulang sekarang," sahut Hinata akhirnya sambil memutus hubungan. "Ada apa?" Yui menanyainya. Shina sudah selesai menggoreng sosis dan telur untuk mereka semua. Ia juga menatap Hinata dengan tatapan bertanya. Hinata nyengir. "Ibu memintaku pulang, aku akan makan malam dengan Karasuma-senpai." Raut wajah Shina dan Yui berubah seketika. Mereka secara bersamaan berseru menggodanya. Hinata tersenyum lebar berpura-pura larut dalam euforia singkat itu. "Sudahlah, aku harus pulang sekarang. Dah," ia melambaikan sebelah tangan dan berlalu cepat. Tepat saat melangkah keluar dapur ia mendengar suara pintu yang dibanting menutup. Hinata sampai terhenti dari lari-lari kecilnya. Pasti Yori, ia bergumam sebal dan berlari lagi. Sesampainya di rumah Hinata langsung dihujani berbagai nasehat oleh sang ibu. Hinata tidak memerhatikan sama sekali. Seluruh perhatiannya terpusat pada Karasuma, pada kemungkinan pantaskah ia menanyakan perihal gadis itu padanya. Tetapi, ia ini calon istrinya di masa depan. Tentu hal yang wajar untuk menanyakannya. Bahkan ia pantas marah kan? Benarkah? Rasa percaya diri itu segera menyusut. Pantaskah ia bersikap sejauh itu? Lebih lagi pada Karasuma yang kenyataannya menunjukkan tanda-tanda menyukai Hinata saja tidak. Hinata mengernyit. Hatinya serasa pedih. "Lihat! Karasuma sudah sampai, kau lama sekali!" Seruan ibunya terdengar dari luar. Hinata yang sudah berganti pakaian dan memperbaiki riasan di wajahnya, bercermin sekali lagi dan beranjak. Ia berlari menuruni tangga di mana sang ibu nampaknya akan kehabisan napas karena terus berteriak memanggil dirinya. Sesaat ketika melihat wajahnya di cermin, Hinata tidak bisa mencegah pemikiran bagaimana jika ia membandingkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Siapa yang lebih cantik? Kalau pun Hinata lebih cantik dari gadis itu mau kah Karasuma memilih dirinya? Tidak! Hinata menggeleng-geleng. Karasuma hanya miliknya! Ia seutuhnya milik Hinata yang mendapat restu kedua orang tua Karasuma untuk menikahinya! Bukan gadis itu! Orang tua Karasuma tidak akan mungkin menjodohkan mereka jika Karasuma ternyata memiliki pacar atau apa pun itu. Hinata tersenyum penuh kemenangan. Ia seharusnya tidak perlu cemas lagi dan menjadi lebih percaya diri. Karasuma adalah miliknya. Bukan orang lain. Ketika akhirnya ia sampai di halaman dalam genggaman tangan sang ibu. Hinata menunjukkan senyum terbaiknya. Karasuma turun dari mobil, ia tersenyum dan terlihat lebih cerah dari yang pernah dilihatnya. Ia juga membukakan pintu untuk mereka. Hinata sangat tersanjung saat Karasuma membukakan pintu mobil untuknya juga. Kebahagiaan membuncah menyingkirkan kecemasan Hinata dalam sesaat. Ia terbuai pada wajah tampan Karasuma yang menawan dalam senyum samarnya. Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah restoran terkenal yang cukup ramai. Lagi-lagi, Hinata menyadari hal ini. Ia membutuhkan waktu terlalu lama untuk sadar, bahwa senyuman Karasuma tidak lah disebabkan oleh dirinya. Bahwa kebahagiaan Karasuma yang terpancar dari matanya saat ini, bukanlah kebahagiaan yang muncul karena pertemuan ini. Hinata sadar. Untuk kedua kalinya dalam hari ini. Ia merasa lantai yang dipijaknya hilang. Ia jatuh dalam kegelapan. Ke jurang tak berdasar yang hanya ada dalam penglihatannya sendiri. Tentu saja, sama seperti sebelumnya. Mereka semua mengobrol. Hanya Hinata yang terdiam dan tak seorang pun repot-repot mau menyadari hal ini. Sesekali, Karasuma memeriksa ponsel dan apa pun yang dilihatnya, membuat senyum menawan itu kian melebar. Mungkinkah hal ini berkaitan dengan gadis itu? Apakah dia seseorang yang begitu berarti bagi Karasuma? Mendadak muncul sebuah kesadaran kecil yang seketika menghancurkan Hinata sepenuhnya. Apakah bahkan Karasuma tahu bahwa ia dijodohkan dengan Hinata? Hinata mencengkeram ujung-ujung gaunnya sampai buku-buku tangannya memutih. Ia tidak meyadari sakitnya. Ia memandang Karasuma seakan baru melihat laki-laki itu untuk pertama kali dalam hidup. Sekarang jelas. Hinata tidak membutuhkan seseorang untuk memberitahu dirinya. Sejak awal pertemuan mereka, tak sekali pun dari ibunya atau ibu Karasuma membicarakan perihal perjodohan. Belum ada kejelasan mengenai keseriusan rencana itu juga. Umumnya, jika tahu dirimu akan dijodohkan bukankah kau pasti akan mencari tahu? Menanyai seseorang yang akan dijodohkan denganmu mengenai pendapatnya? Sedangkan sejak awal. Karasuma memandangnya sebagai perempuan pun tidak. Dia hanya mantan adik kelas di SMP, anak dari teman sang ibu, yang kebetulan hanya diajak untuk jalan-jalan bersama. Hinata mendenguskan tawa yang dirasanya menyakitkan sekali. Ah, jadi benar-benar jelas sekarang. Ia melepas cengkeramannya, sadar tangannya serasa kebas sekarang. Menatap kedua tangannya terbuka, merenung. Hinata tahu hanya dirinya yang menyukai Karasuma. Sejak dulu Karasuma memang tidak pernah menyadari perasaannya. Karasuma yang meski terasa sering dalam jangkaun, namun selalu saja seolah memiliki dunianya sendiri yang tak pernah bisa Hinata masuki. Ia dekat. Tapi terasa jauh. Hinata mendongak memandang Karasuma. Melihatnya tersenyum dan tertawa. Terkadang membuat Hinata berharap bahwa dirinyalah yang menjadi alasan atas kebahagiannya. Apakah dirinya egois? Ia sudah mencintai Karasuma sejak dulu. Sudah lama sekali. Dan tidak sekali pun Hinata tertarik pada laki-laki lain. Ia begitu setia padanya. Perjodohan ini jelas lah membuka pintu harapan terbesar untuk dirinya. Tetapi jika Karasuma tidak berubah dan tetap berada dalam dunianya sendiri yang tak terjangkau, ia bisa apa? Gadis itu. Siapa? Siapa dia? Kenapa ia tiba-tiba datang dan menghancurkan kebahagiaan Hinata? Hinata sangat membencinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN