Chapter 30

1450 Kata
Hinata sudah menceritakan mengenai makan malamnya kemarin dengan Karasuma dan ibu mereka pada Shina dan Yui. Namun sampai sekarang ia belum menceritakan tentang gadis itu. Gadis yang ia lihat bersama Karasuma di rumah sakit. Tidak. Barangkali bukan belum tapi Hinata memang tidak akan menceritakannya pada mereka. Ia merasa malu. Ia yang selama ini menunjukkan betapa bahagia dirinya dengan perjodohan ini, tapi ternyata Karasuma sudah memiliki gadis lain. Hinata tidak bisa mengelak dari pemikiran betapa memalukannya hal itu. Hinata mendesah sedih dan memandang keluar jendela. Ia kini berada di sebelah jendela dalam kamar tidur Shina. Ia memandang kosong pada rumah berpagar merah di sana. Persis seperti hari berhujan beberapa waktu lalu. Hari ini Hinata memutuskan untuk langsung mengunjungi rumah Shina tanpa pulang lebih dulu. Ia juga memutuskan untuk di sini setidaknya sampai malam. Ia tidak mau pulang. Ia merasa muak. Muak pada orang tuanya karena sudah memberi harapan palsu. Tahukah mereka betapa hal ini menyakitkan dan memalukan? Awan mendung berarak mendekat. Mungkin sebentar lagi akan hujan. Hinata menatap lama pada gumpalan kelabu itu. Ia ingin sekali menangis. Ia tidak ingin merasakan semua ini. Tidak jarang mendadak terlintas dalam benaknya. Bagaimana jika Yui dan Shina tahu kalau ternyata Karasuma sudah memiliki orang lain yang ia sukai? Bagaimana jika mereka tahu jika Karasuma sebenarnya tidak tahu sama sekali mengenai rencana perjodohan ini? Walau semua itu masih dugaan. Tetapi Hinata memiliki firasat buruk mengenainya. Ia meringis. Sakit sekali. Sakit sekali... Jika bisa, ia ingin menghilang saja. Berharap hal ini tidak pernah terjadi. Tiap hari, Hinata semakin membenci diri sendiri karena bahkan tidak bisa mengurangi rasa sukanya pada Karasuma. Ia tetap begitu menyukai laki-laki itu. Sekeras apa pun Hinata berusaha mengingatkan diri sendiri, bahwa tetap ada kemungkinan Karasuma sudah menyukai orang lain. Ia tetap tidak bisa. Mungkin hatinya sudah terpaku padanya, tidak bisa dilepas lagi. Tapi kenapa? Hinata meratap dengan suara rendah. Bersamaan hujan mulai turun di luar. Ah, bolehkah ia keluar dan bermandikan hujan? Tak akan ada yang tahu ia menangis jika dalam hujan. Hinata berbalik cepat memandang Yui yang sedang tiduran di ranjang sambil membaca sebuah majalah dan bersenandung kecil. Ia sedang memakai earphone, salah satu fakta kecil yang Hinata sukai karena dengan itu Yui sama sekali tidak mendengar keluhannya sejak tadi. "Yui, hei, Yui!" Yui tidak menunjukkan tanda-tanda mendengarnya. Hinata memberengut. Ia menarik napas dalam sebelum berteriak. "Yui!" Yui menoleh sedikit. Seolah memastikan apa barusan Hinata memanggilnya. "Yui, ayo kita main di luar!" Yui megernyit. Tak dapat mendengar apa yang Hinata katakan. "Hah? Apa?" Ia melepas sebelah earphonenya. Hinata menggulirkan mata padanya. "Ayo main di luar!" Yui melirik keluar jendela dan bergidik seketika. "Tidak, terima kasih." Ia memakai earphonenya lagi. Hinata mendengus sebal. Walau ia tahu Yui tidak akan mau, sih. Yui paling tidak suka pada hujan dan dingin. Dengan wajah tertekuk kesal Hinata mengalihkan pandangan lagi pada jendela. Ia menekuk kedua kakinya naik dan memeluknya. Sambil kembali merenung yang tiada habisnya. Ia sendiri sampai heran, kapan ia bisa berhenti memikirkan Karasuma? Ia bertanya-tanya sendiri. Tiba-tiba, sebuah ide untuk meminta pendapat pada Shina dan Yui mengenai apa yang ia pikirkan selama ini terlintas dalam kepalanya. Apa tidak apa-apa? Ia menimbang-nimbang. Hanya bertanya kemungkinan Karasuma memiliki pacar atau bahkan mungkin ia tidak tahu tentang perjodohan ini. Tanpa perlu menyebutkan tentang gadis itu. "Yui, Yui!" Hinata berteriak keras-keras. Yui terlonjak dan dengan segera melepas earphonenya. Ia bangun dan mendecak sebal. "Aku tidak mau, Hinata. Kau bisa sakit, oke?" Hinata menghela napas berat. "Bukan itu, tahu. Aku," mendadak ia ragu. Namun Yui masih menatapnya, menunggu. "Aku hanya ingin bertanya sesuatu." "Tentang?" Raut wajah Yui berubah serius. "Karasuma-senpai," desahnya. Berharap tidak perlu menunjukkan kesedihan dalam nada suaranya. Yui mengangguk-angguk mengerti. Hinata berpikir sejenak. Baiklah, ini saatnya. "Mmm, apa menurutmu mungkin jika Karasuma-senpai ternyata sudah memiliki pacar?" Ia bertanya hati-hati. Yui mengernyit heran bercampur bingung. "Entahlah, tapi-" "Apa menurutmu mungkin Karasuma-senpai sebenarnya tidak tahu mengenai perjodohan ini?" Kata Hinata cepat, ia sadar tak siap mendengar jawaban Yui. Berharap bisa terus melontarkan pertanyaan agar ia tidak perlu mendengar jawaban Yui. Ia akui ia menyesal sudah menanyakannya. Ia baru sadar dirinya tidak siap mendengar jawaban apa pun. Pintu menjeblak terbuka tiba-tiba bersamaan dengan seruan riang Shina. "Hinata, maukah kau membantuku?" Ia menatap Hinata dengan mata berseri-seri senang. "Tunggu dulu," Yui mencegahnya. Hinata yang sudah siap membuka mulut otomatis tak jadi bicara. Dengan perasaan kalah berbalut kekecewaan, ia tahu ia telah kalah. Ia tidak akan bisa menghindar. "Hinata sedang menanyakan pendapatku," Yui memberitahu Shina yang masih berdiri di ambang pintu. "Pendapat? Pendapat apa?" Yui mengulangi dua pertanyaan yang Hinata katakan padanya sebelumnya. Hinata terdiam. Tahu ia tidak akan sanggup bicara untuk sementara. "Begitu?" Shina menatap Hinata dengan tatapan sedih, kepedulian dan sesuatu yang tak dapat Hinata artikan. Yang Hinata pahami dengan jelas, Shina dan Yui memedulikan dirinya. Itu pasti. "Tapi kenapa? Apa yang membuatmu berpikir begitu?" Nah. Hinata tidak memikirkan sedikit pun kemungkinan ini. Padahal ia sangat menghindari segala sesuatu yang akan membawanya pada keharusan untuk menceritakan tentang gadis itu. Hinata bertekad ia tetap tidak akan mengatakan apa pun tentangnya. Tidak akan pernah. "Aku hanya berpikir, maksudku itu bukan hal yang mustahil, kan?" Shina berpikir sejenak. "Karena kita semua tahu Karasuma-senpai lebih dewasa dari kita. Dengan semua hal yang ia raih di usianya sekarang, tak mungkin tidak ada seorang gadis pun yang mencoba untuk mendekatinya," Hinata heran alasan itu keluar begitu lancar dari mulutnya. Ia hanya mengarang saja, tapi jadi sadar kenyataannya pasti juga begitu. Kenapa ada banyak hal yang baru ia sadari sekarang setelah terlanjur bereuforia karena perjodohan? Ia mengutuk diri sendiri. "Kalau begitu, sejauh yang aku tahu itu tergantung dari sikap Karasuma-senpai sendiri. Selama kau bertemu dengannya kurasa kau bisa menilai?" Yui menoleh pada Shina mencari pembelaan. Shina mengangguk. "Benar juga, apakah mungkin Karasuma-senpai bersikap seolah tidak tahu tentang perjodohan ini? Atau ia menunjukkan tanda-tanda ia sudah memiliki, mmm, pacar?" Ia mengatakan kata terakhir dengan kehati-hatian yang tak Hinata harapkan. Satu hal lagi, yang tidak pernah Hinata ceritakan pada Yui dan Shina. Ia tidak menceritakan mengenai sikap Karasuma secara terperinci. Karena ia sendiri -pada awalnya- berpikir positif dan mengira Karasuma hanya sibuk pada pekerjaannya. Sebagai akibat dari hal itu. Hinata mendapati dirinya terdiam dan tidak mampu berkata-kata. Ia tidak bisa menceritakan apa yang sebenarnya ia lihat atau rasakan. Ia terlalu malu. Terlebih jika suatu saat hal itu terbukti benar. Bisakah Hinata hidup dengan rasa malu itu? Bereuforia atas perjodohan yang sebenarnya hanya harapan palsu dari orang tua mereka. Bereuforia atas perjodohan di mana pihak laki-laki bahkan tidak tahu tentang perjodohan itu. Bereuforia atas perjodohan yang bahkan pihak laki-laki tidak mencintainya, tidak mengharapkannya, dan sudah memiliki orang lain yang ia sukai. "Tidak juga," Hinata mendesah sekaligus mengatur napas. Baru sadar ia menahan napas sejak tadi. "Kurasa aku hanya terlalu banyak menduga." Yui dan Shina mengangguk-angguk. Walau Hinata yakin mereka belum puas dengan jawaban Hinata. Atau barangkali mereka juga menduga ada sesuatu yang Hinata sembunyikan. "Ngomong-ngomong, Shina, kau tadi ingin aku membantumu apa?" Hinata mengingatkan sekaligus memecah kesunyian di antara mereka. "Oh, benar!" Shina teringat lagi pada tujuannya datang memanggil Hinata. Dalam sekejap raut wajahnya berubah cerah kembali. "Yori mengatakan akan mulai mengerjakan tugas sekolahnya." Yui tersentak dan memandang Hinata, memastikan ia tidak salah dengar. Hinata mengerjap. Sama terkejutnya dengan Yui. Yori si bocah yang tak tahu aturan tiba-tiba mau mengerjakan tugas sekolahnya? "Shina, kurasa kau harus memeriksakan Yori lagi, barangkali saat kecelakaan kepalanya terbentur atau apa!" Hinata berseru dengan kekuatan yang tak perlu. "Benar! Itu benar!" Yui menimpali dengan bersemangat. Ia bahkan sampai berdiri di atas ranjang tanpa sadar. "Astaga, kau harus benar-benar memeriksakannya lagi, Shina!" Shina menggulirkan mata pada kedua temannya itu. Seolah pendapat mereka membuatnya terluka. Padahal jelas mereka semua melihat bagaimana sikap Yori. Ia sama sekali tidak bisa diatur. Hidup sesukanya sendiri dan selalu saja main dengan teman-temannya. "Kumohon, tenanglah," ia mengangkat sebelah tangan. "Nah, Hinata apa kau tidak keberatan untuk membantu Yori? Di antara kita bertiga kau yang paling pintar dalam pelajaran bahasa inggris." Hinata dan Yui saling pandang. Kemudian Yui menatapnya sambil bergidik. Seolah tak ada hal yang lebih mengerikan ketimbang mengajari Yori bahasa inggris. "Aku tidak yakin apa aku bisa," kata Hinata lebih kepada diri sendiri. Ia membayangkan bagaimana Yori selalu berusaha kabur dari jangkauan Shina. Jika dalam posisi itu jelas ia tidak akan bisa mengatasinya. "Oh, ayolah," Shina memohon bak seekor anjing kecil. Hinata tidak tahan dengan keimutan Shina yang satu itu. "Oke, tapi aku tidak bisa menjamin apa pun," ia mengingatkan dengan serius. Mata Shina berbinar-binar cerah lagi. "Terima kasih, Hinata. Sungguh! Kau membantu sekali." Hinata melirik sekali lagi pada Yui yang masih menunjukkan tampang ngeri. Ia bangkit dan mengikuti langkah Shina keluar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN