"Sementara kalian belajar aku akan membuatkan cemilan. Kau suka s**u, tapi..." Shina teringat. "Yori baru beberapa jam lalu minum obat jadi kurasa aku akan membuatkan jus saja," Shina terus berceloteh riang sepanjang jalan.
"Aku s**u saja," kata Hinata.
"Oh, oke. Mau sosis juga? Mmm, atau buah sama seperti Yori?"
Hinata tak habis pikir, kenapa Shina harus seheboh ini. "Terserah saja."
Mereka menuruni tangga dan Hinata dapat melihat Yori di ruang duduk.
Hinata menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Ia mencoba untuk mengingat hal-hal menyenangkan tentang Yori. Tapi yang ada dalam kepalanya hanya betapa menyebalkannya sikap bocah satu itu.
Sementara Shina terus melangkah riang menuju dapur, Hinata berbelok menuju ruang duduk.
"Hei," kata Hinata enggan. Ia mendudukan diri tepat di sebelah Yori, membuat laki-laki itu tersentak dan seketika berjengit menjauh.
Nah, kan. Belum apa-apa ia sudah mendapat kesan diperlakukan seperti virus yang harus dijauhi.
"Jadi bagian mana yang tidak kau mengerti?" Hinata berusaha mengabaikan kekesalannya.
Yori mendorong sebuah buku padanya tanpa berkata-kata. Hinata mengembangkan seulas senyum. Sekedar menguatkan diri sendiri.
"Bagian ini," Yori menunjuk pada buku itu.
Syukurlah, Hinata jadi tidak perlu membaca semuanya. Ia mengangguk-angguk setelah membaca pertanyaan nomor sebelas yang ditunjuk Yori tadi. Kemudian mulai menjelaskan panjang lebar. Setelah selesai ia mendongak dan memandang Yori, yang seketika ia sesali karena Yori tersentak dan cepat-cepat mengalihkan pandangan darinya. Astaga benar-benar... Bagaimana Shina bisa tahan dengan sikap Yori? Hinata baru saja bicara panjang lebar tapi bocah ini tidak mendengarkan sama sekali.
Hinata mendorong keinginan untuk meremas-remas buku ditangannya. "Kau mendengar penjelasanku, kan?"
"Ya," Yori menunduk dan mulai menulis di buku tugasnya.
Hinata memerhatikan dan cukup terkejut Yori menuliskan jawaban dengan benar. Jika Yori tidak pandai dalam pelajaran bahasa inggris, kenapa ia bisa merangkai jawaban sebagus itu bahkan tanpa melihat kamus? Lebih lagi Hinata yakin memergoki Yori tidak mendengarkan penjelasannya.
Hinata menyipitkan mata. Memandang Yori yang masih menulis dengan serius. "Kau cukup pintar bahasa inggris kurasa?" Hinata menanyakannya dalam bahasa inggris.
"Tidak terlalu," sahut Yori enteng, masih melanjutkan menulis.
Nah! Ketahuan, kan!
Yori mendadak tersadar dan mendongak, menatap Hinata kaget yang sudah tahu kebohongannya.
"Lalu kenapa kau memintaku mengajarimu?"
Yori masih membeku dengan raut wajah kaget.
Hinata terus menatapnya dan menunggu. Berharap dengan sangat ia terlihat segalak Shina saat marah.
"Aku hanya, hanya ingin memastikan jawabanku benar."
Hinata mengernyit. Yah, alasannya masuk akal juga, sih. Hinata hanya mengira Yori mau mempermainkannya. Ia jadi agak merasa bersalah sudah berpikiran buruk padanya. "Begitu," Hinata menjatuhkan pandangan pada buku di tangan.
Hening sesaat.
"Sebenarnya aku," kata Yori tiba-tiba memecah keheningan. "Aku tidak pernah bermaksud menguping pembicaraan kalian."
Hinata mengangkat wajah lagi dan memandang Yori lekat. Membuat Yori sesaat seperti tersipu dan menunduk lagi.
"Tapi siapa pun pasti akan bisa mendengar jika kalian selalu bicara sambil berteriak-teriak begitu," Yori melanjutkan tanpa sekali pun menatap Hinata lagi.
Hinata terdiam. Tanpa alasan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasa.
"Karasuma itu tunanganmu, kan?"
Hinata nyaris yakin jantungnya melompat keluar. "Ap-apa? Tidak, maksudku belum. Eh, itu..." Ia tidak tahu harus menjawab apa. Wajahnya serasa membara sekarang.
Yori mengangkat wajah, terlihat heran. "Belum? Kukira dua orang yang dijodohkan berarti secara resmi mereka telah bertunangan."
Hinata tidak bisa tidak tertawa. Tetapi ia segera menutup mulut, sehingga alih-alih mengeluarkan suara tawa ia jadi menghasilkan suara yang aneh sekali. Hinata hanya tidak ingin melukai kepolosan Yori.
Kali ini wajah Yori bersemu merah dengan jelas. Meski begitu ia hanya mengalihkan pandangan tanpa menunduk lagi.
Hinata sendiri heran. Padahal dalam hati ia juga merasa kepedihan yang teramat. Tidak ia sangka kepolosan Yori bisa membuatnya tertawa.
"Tetapi aku," Yori melanjutkan. Raut wajahnya berubah aneh membuat Hinata berfirasat buruk.
"Apa?" Ia bertanya tak sabar.
Yori memandang ke dalam matanya. Ada ketakutan dan kecemasan yang Hinata tangkap di sana. Aneh sekali.
"Aku melihatnya bersama-"
"Perempuan lain?" Sela Hinata cepat. Ia tersenyum tetapi hatinya jelas menangis.
Yori terkejut, mengalihkan pandangan lagi sesaat dan. "Ya," ia memandang Hinata seolah mencari sesuatu di sana.
Hinata tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dan jauh lebih menyakitkan juga. "Apa kau memberitahu Shina tentang ini?"
Yori menggeleng. Hinata tahu ia tidak berbohong.
Hinata ingin berterima kasih karenanya, tapi hal itu pasti akan mengundang kecurigaan. "Bisakah kau berjanji padaku untuk tidak memberitahu siapa pun?" Ia bertanya sungguh-sungguh. Tapi tetap mempertahankan senyum itu.
Yori mengangguk sepenuhnya yakin.
"Janji?" Hinata mengulurkan jari kelingkingnya.
Yori terkejut dan wajahnya berubah merah sepenuhnya. Namun tanpa berkata apa-apa ia melingkarkan jari kelingkingnya yang besar pada jari kelingking Hinata yang kecil mungil.
"Janji harus ditepati, loh," Hinata mengingatkan sambil terus tersenyum. Senyuman yang menyentuh matanya lebih dari biasa, menyembunyikan fakta bahwa ia hampir menangis sekarang.
Yori diam dan terus menatapnya. Tak lama Shina muncul membawakan sebuah penampan yang penuh berisi cemilan.
"Loh, Yori? Wajahmu merah sekali, apa kau demam lagi?" Celotehan riangnya mendadak hilang begitu melihat wajah Yori.
Yori menggeleng. Kemudian menunduk pada buku tetapi tetap menatap Hinata. Mengawasinya dan tahu benar ada yang aneh darinya.