Untuk pertama kalinya Hinata tidak ingin pergi bersama Shina dan Yui. Pikirannya masih kacau. Hatinya masih sakit. Rencana main bersama mereka jadi tak terdengar menyenangkan sama sekali. Hinata sangat tersiksa. Ia berjalan lunglai mengikuti langkah Yui dan Shina. Ia bahkan tidak bisa memaksa otaknya untuk sekedar memikirkan alasan agar ia tidak perlu ikut. Tetapi, lantas apa yang akan ia lakukan? Ia jelas masih enggan berlama-lama di rumah.
Hinata menghela napas penuh beban dan mengangkat pandangan dari sepatunya. Ia mengernyit seketika. Tentunya ia tidak salah lihat. Yori memang berdiri di sana di sisi pintu gerbang sekolah. Hinata mendecak. Apa Shina mengajak Yori untuk bergabung bersama mereka? Ck. Yang benar saja.
Hinata tidak apa sebenarnya. Hanya saja melihat Yori lagi membuat ia teringat pada obrolan mereka kemarin. Dan hal itu sama sekali tak baik untuk kesehatan jiwanya.
"Ah, ya, aku lupa bilang," kata Shina. "Aku mengajak Yori karena tidak bisa membiarkan dia sendirian di rumah. Yori masih belum sembuh benar."
"Wah," Yui menggumam takjub. "Sejak kapan Yori jadi penurut begitu?"
Pertanyaan yang sama dengan Hinata. Namun ia terlalu malas untuk menyuarakan pikirannya.
Yori juga diam seolah tidak pernah mendengar pertanyaan Yui. Lantas kemudian mereka pergi dalam diam. Atau lebih tepatnya hanya Hinata dan Yori yang tak banyak bicara. Kalau Yori, memang sudah biasanya begitu jadi bukan hal yang aneh lagi. Namun Yui dan Shina terlalu sibuk membuat rancangan belanja.
Bagi Shina, belanja kebutuhan rumah setelah pulang sekolah adalah hal yang biasa. Walau tentu tidak setiap hari ia lakukan. Hinata dan Yui juga ikut terbiasa dengan itu karena memang selalu ikut ke mana pun Shina pergi.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu di halte dekat sekolah mereka. Bus datang dan mereka segera naik. Yui dan Shina duduk bersebelahan di kursi paling belakang. Kursi favorit mereka. Yui masih memaksa untuk menambahkan beberapa kaleng soda yang bagi Shina tidak sehat untuk kesehatannya. Ia juga berusaha keras mempertahankan catatan belanja di tangannya agar tetap seperti semula tanpa perubahan yang tidak menyehatkan.
Hinata menghela napas lelah dan duduk di sebelah Yui yang tidak berhenti bergerak-gerak. Di susul Yori yang juga diam saja di sebelahnya. Sebisa mungkin Hinata mengabaikan keberadaan Yori. Melihatnya saja membuat dirinya merasa malu dan menyedihkan.
Yori tahu hal itu. Yori tahu Karasuma pergi bersama wanita lain. Meski setengah bersyukur karena Yori tidak menanyakan apa-apa, tapi tetap saja kepedihan yang menyayat dalam hatinya membuat Hinata bahkan seolah kesulitan bernapas. Rasanya sesak dan menyakitkan.
Lebih lagi. Menahan sakit itu sekian lama sama sekali tidak menyenangkan. Ia begitu tersiksa setiap waktu. Hinata mendesah keras tanpa sadar. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi dan memejamkan mata. Sampai kapan akan begini? Ia bertanya-tanya sendiri.
Sampai kapan ia harus kesakitan hanya karena memikirkan seorang gadis yang bahkan tidak ia kenal. Sampai kapan ia akan menunggu dan terus mati-matian berharap bahwa perjodohan antara ia dan Karasuma bukan sekedar harapan palsu? Rasanya melelahkan sekali. Ingin sekali Hinata melupakan semua itu sejenak.
"Baiklah kita makan siang dulu di tempat biasa," ucapan Shina menyadarkan Hinata dari lamunan.
Bus juga sudah berhenti dan beberapa orang mulai turun.
Sudah menjadi rutinitas juga mereka akan makan di sebuah restoran makanan cepat saji sebelum mulai belanja. Dan nampaknya, entah bagaimana, Shina dan Yui sudah menemukan kesepakatan antara mereka berdua dan sudah tidak berdebat lagi. Kini mereka turun bersama. Pasti Shina tanpa sadar melupakan keberadaan Yori. Lagi pula ini memang kali pertama ia ikut.
Hinata menoleh untuk memastikan. Yori nampak kesulitan berjalan, beberapa orang secara tak sengaja menyenggol tangannya yang didebat, membuat ia beberapa kali meringis kesakitan juga. Hinata mendesah lelah lagi. Ah, hal itu jadi seperti kebiasaan sekarang. Ia berbalik menuju tempat Yori berada. Menarik sebelah lengannya yang tak di bebat dan menuntun Yori agar berjalan lebih dulu di depan. Hinata tidak terlalu memerhatikan reaksi Yori. Asal dia menurut saja itu sudah cukup.
"Eh? Yori? Oh, astaga! Aku hampir saja melupakanmu," ucap Shina begitu mereka turun.
"Tak apa, aku baik-baik saja," Yori menolak untuk diperhatikan.
Shina nampak sangat menyesal. "Ngomong-ngomong aku sangat lapar," ujar Hinata cepat sebelum Shina berkata apa-apa lagi. Ia sedang tidak ingin mendengar ucapan penyesalan Shina saat ini. Toh, Yori juga tidak akan peduli. Jadi ia menggandeng sebelah lengan Shina dan mengajaknya berjalan cepat menuju restoran tujuan mereka.
Kira-kira hanya berjarak kurang dari lima puluh meter dari halte letak restoran itu. Dan jika melanjutkan langkah terus ke barat sampai seratus meter, lalu berbelok ke kanan sekitar 150 meter lagi, maka akan sampai di rumah Shina.
Di restoran itu, Hinata mencoba menghibur diri sendiri dengan makanan. Walau tidak terlalu berpengaruh tapi ia sangat ingin menjadi ceria lagi. Sedikit banyak ia juga berharap, bisa kembali ke waktu di mana pembahasan mengenai perjodohan itu belum terjadi.
Namun kenyataannya, sekeras apa pun Hinata mencoba melupakan Karasuma, laki-laki itu tetap datang mengganggu pikirannya. Hinata merasa kacau sekali. Ia lelah terus-terusan bertarung dengan diri sendiri.
Selesai makan, mereka langsung menuju pusat perbelanjaan langganan Shina. Jelas Shina lebih suka belanja di sana ketimbang di minimarket biasa di sekitar rumah. Segala sesuatu ada dan mereka juga bisa sekalian cuci mata. Biasanya Hinata sangat bersemangat memandang sekeliling toko. Kali ini, segala sesuatu terlihat suram dan menyedihkan.
Lalu pada saat itu lah ia melihat Karasuma. Pada awalnya Hinata mengira ia salah lihat. Mungkin ini akibat dari terus menerus memikirkan laki-laki itu. Tapi tidak. Ia sedang tidak berhalusinasi. Dan kenyataan bahwa lagi-lagi Karasuma bersama gadis waktu itu, membuat Hinata seolah dihancurkan dari dalam. Tubuhnya membeku. Tepat saat ia mengalihkan pandangan. Tatapannya yang tegang bertemu dengan mata Yori yang meski diam, Hinata tahu Yori juga telah melihat Karasuma.
Hinata merasa seluruh tubuhnya beku dan ia tidak bisa bergerak meski ingin. Ia tahu ia harus melakukan sesuatu agar Shina dan Yui tidak melihat Karasuma bersama gadis itu. Tapi ia tidak bisa... Tubuhnya menolak untuk ia gerakan. Air mata Hinata hampir jatuh jika saja Yori tidak tiba-tiba mengerang kesakitan. Ia mencengkeram lengannya yang dibebat. Seketika perhatian Shina dan Yui teralih padanya.
"Ada apa, Yori?" Shina terlihat panik. Bahkan Yui yang biasanya santai juga terlihat ngeri melihat raut wajah Yori.
"Aku tidak tahu, ini tiba-tiba terasa menyakitkan," ia masih dengan kuat mencengkeram lengannya.
"Oh, tidak, tidak. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?!" Shina bergerak-gerak panik.
"Kita harus membawanya ke dokter!" Yui ikut memekik panik.
"Ya, benar! Ayo, Yori. Kumohon... Ikut denganku menemui dokter."
"Ya," Yori berbalik ke arah berlawanan dengan tempat Karasuma berada. Dengan begitu Shina dan Yui otomatis mengikutinya.
Hinata termenung sesaat. Yori? Pikirnya. Apa dia sengaja melakukan ini?
Pada akhirnya Hinata kembali merasakan tenaga mengalir ke kedua tangannya. Lantas perlahan ia bisa mengendalikan diri. Ia menoleh pelan pada Karasuma bersama gadis itu. Mereka melangkah ke arah ia berada, tanpa menyadari kehadirannya sama sekali. Kali ini Hinata dapat dengan cukup jelas melihat wajah gadis itu. Di saat yang sama Hinata juga menyadari. Bahwa dirinya sangat membencinya.
* * *
Ketika mereka telah kembali ke jalan untuk mencari taksi. Yori mendadak mengatakan sakitnya telah hilang dan ia ingin pulang ke rumah saja. Hal itu memicu perdebatan panjang antara dirinya, Yui dan Shina. Tapi Yori tidak mau mendengarkan dan bersikukuh ingin pulang. Bahkan ia juga mengatakan akan pulang sendiri jika mereka tidak mau pulang bersamanya. Akhirnya, Shina terpaksa mengalah dan pulang bersama Yori.
Yui sesekali menegaskan bahwa sebenarnya kepala Yori lah yang bermasalah dan Shina perlu memeriksakan itu ke dokter.
Hinata mengikuti mereka dalam diam. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Karasuma pergi berdua saja dengan gadis itu. Apakah teman perlu melakukan hal semacam itu? Maksudku, Hinata berpikir keras. Membuat dadanya serasa nyeri dan sesak untuk bernapas. Tawa itu. Atau cara Karasuma bergerak seolah gadis itu adalah pusat gravitasi dari dunianya. Bukan hal yang pernah Hinata lihat selama bertahun-tahun ia mengenal Karasuma. Akhirnya, meski dengan berat. Hinata mengakui jika dirinya kalah. Karasuma tidak mencintainya. Karasuma mencintai gadis itu yang entah siapa. Semua terbukti hanya dari cara Karasuma memandang gadis itu.
Hinata menggeleng-geleng keras. Tak perlu ia menambahkan bukti-bukti lain yang begitu jelas, itu hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Saat sadar. Rupanya ia sudah sampai di halaman rumah Shina. Sepertinya Hinata memang membutuhkan waktu untuk sendiri. Lantas ia meminta ijin untuk pulang, sebisa mungkin memaksakan seulas senyum. Tentu Yui dan Shina jadi bertanya macam-macam dan menyesal karena mereka tidak jadi bersenang-senang. Hinata meyakinkan mereka berkali-kali jika dirinya baik-baik saja dan ingin beristirahat karna sedikit lelah.
Lalu tanpa memedulikan Yori yang memandangnya. Ia pergi sendirian. Luka dalam dadanya seolah membesar, darah seolah menderas tanpa tawaran. Pikiran Hinata kacau balau. Hanya satu hal yang ia inginkan saat ini. Menyingkirkan semua kepedihan ini. Atau mungkin, Hinata menghentikan langkah tiba-tiba. Jika kepedihan ini tak bisa dihilangkan. Mungkin dirinya lah yang perlu menghilang.