Chapter 33

1607 Kata
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Hinata tidak merasa senang melihat wajah Karasuma. Wajah yang telah menjadi satu hal yang paling ia sukai selama beberapa tahun berakhir. Hinata menduga hari ini memang akan datang. Karasuma secara pribadi mengajaknya keluar bukan untuk membahas kelanjutan perjodohan mereka. Melainkan sebaliknya. Menjelaskan bahwa dirinya telah memiliki orang lain yang ia cintai. Hinata termenung sembari terus menunduk. Ia kini dalam perjalanan bersama Karasuma untuk makan malam. Terus-menerus meyakinkan diri untuk siap menerima segala hal yang akan Karasuma katakan sesuai dugaannya. Karena bahkan sampai detik ini, Hinata tahu Karasuma sama sekali tidak mencintainya. Bahkan tidak pernah. Rasanya menyakitkan. Sampai tanpa sadar ia mengeratkan genggaman kedua tangannya pada gaun biru gelap selutut yang ia kenakan. Sejak Karasuma menghubunginya sore tadi, tentu Hinata telah memikirkan berbagai cara untuk menghindarinya. Tetapi kemudian sadar, jika Karasuma tetap datang ke rumahnya. Maka sejauh apa pun ia pergi, orang tuanya pasti akan memaksa Hinata untuk pulang dan menemui Karasuma. Hinata meringis. Tidak kah orang tuanya mengerti apa yang dipikirkan laki-laki yang kini berada di sisinya? Tidak kah mereka mengerti bahwa sosok ini tak pernah sekali pun menunjukkan ketertarikan pada putri mereka? "Hinata," Suara Karasuma yang pelan namun dalam membuyarkan lamunan Hinata. Ia mengangkat wajah dan menoleh perlahan pada Karasuma. Dibandingkan yang sudah-sudah, ia terlihat lebih ramah. Tentu saja, hal itu tidak berarti apa pun karena Hinata sudah mengetahui semuanya. Ah, lagi-lagi ia teringat pada gadis itu. "Sekarang kita sudah sampai," Karasuma turun dan memberi isyarat pada gedung restoran di hadpan mereka. Dengan gerakan seolah tanpa tenaga, Hinata membuka pintu dan turun dengan sendirinya. Tidak membiarkan harapan kecil yang tersisa dalam dirinya mengembang semakin besar atau dirinya akan semakin hancur. Mereka berjalan tanpa suara. Hinata merasa dadanya serasa dicabik-cabik. Mau tidak mau bertanya-tanya dalam hati apakah Karasuma juga mengajak gadis itu? Rasanya menyakitkan sekali. Jika bisa. . . Hinata ingin pergi saja dari sini dan melupakan semuanya. Ia tidak membutuhkan penjelasan apa pun dari Karasuma seperti yang laki-laki itu katakan di telepon. Hinata merasa lebih mudah baginya jika mereka langsung mengakhiri rencana perjodohan ini dan pergi dari kehidupan masing-masing seolah tidak terjadi sesuatu. Dan meski tetap sulit. Tapi setidaknya bagi Hinata, mungkin ia bisa sedikit mengurangi kecemasannya untuk menghadapi semua orang setelah ini. Karena rasa malu atas antusiasnya menyambut perjodohan ini membuat Hinata merasa ingin mati saja. Kini mereka berhenti pada sebuah meja di sudut. Sudut terjauh yang dapat dijangkau dengar oleh siapa pun di sekitar. Karasuma terlihat gelisah sesaat. Tapi kemudian ia menarik kursi dan duduk. Hinata justru merasa sedikit lega karena tidak melihat keberadaan gadis itu di mana pun. Kemudian dengan enggan, ia menarik kursi di hadapan Karasuma dan mendudukan diri tanpa ingin melihat wajah laki-laki itu lagi. "Hinata kau ingin memesan apa?" Tanya Karasuma sembari memeriksa buku menu dan memanggil pelayan dengan melambaikan sebelah tangan. "Apa saja aku tidak terlalu lapar." Nampaknya Karasuma juga tidak ingin berbasa-basi lebih jauh lagi. Ia memesan menu pertama yang dilihatnya dalam beku menu untuk mereka berdua dan segera membuat pelayan pergi. Sama seperti saat dalam mobil. Hinata menjatuhkan pandangan dan menaruh kedua tangannya yang bertaut di atas kakinya. Sadar benar meski sekeras apa ia mencoba, rasa sakit itu tetap saja meremukkan dirinya perlahan. "Hinata," Karasuma memulai. Jika boleh, Hinata lebih memilih untuk tidak mendengarkan apa pun yang akan Karasuma katakan. Karena bahkan sebelum dia memulai, Hinata merasa seluruh dirinya sudah terlebih dulu hancur. "Sepertu yang aku katakan di telepon, aku mengajakmu bertemu malam ini karena ada beberapa hal yang perlu aku jelaskan." Hinata meremas kedua tangannya keras-keras, ia lebih memilih merasakan sakit secara fisik ketimbang sakit secara mental. "Sebelumnya aku meminta maaf karena sudah membuatmu terlibat dalam situasi ini. Tapi tenang saja, aku akan membereskan semuanya. Sejak awal aku juga tidak mengetahui apa pun mengenai rencana perjodohan kita..." Nah, ternyata tebakan Hinata memang benar. Hinata memaksakan seulas senyum dan mengangkat wajah meski tidak benar-benar memandang wajah Karasuma. "Jadi Hinata, sekali lagi aku meminta maaf karena membuatmu tidak nyaman dengan semuanya. Pasti lah rencana perjodohan ini memusingkanmu. Tak apa, aku mengerti dan berjanji akan membereskan semuanya." Kau mengerti apa? Dalam hati Hinata bertanya. Satu-satunya orang yang tidak mengerti hanya kau. Tidak tahukah Karasuma? Betapa Hinata bahagia pada rencana perjodohan ini. Dan dari kata-katanya, Hinata tahu benar bahwa Karasuma sendiri lah yang sangat ingin mengakhiri semuanya. Tetapi tidak ada pembahasan mengenai gadis itu, setidaknya membuat ini jadi sedikit lebih baik kan? Setidaknya, Hinata tidak mendengar kata-kata itu dari mulut Karasuma sendiri. Itu lebih baik kan? Dengan begitu, rasa sakitnya akan sedikit berkurang kan? Hinata tidak tahu. Karena sepanjang acara makan malam itu separuh kesadaran dirinya hilang. Ia bahkan nyaris tidak ingat bagaimana saat itu ia sudah kembali ke rumah dan berada di kamar tidurnya yang gelap dan sunyi. * * * Seolah baru tersadar dari tidur yang begitu panjang dan melelahkan. Hinata bangun dengan seluruh tubuh yang terasa menyakitkan. Namun saat ia melihat ke arah jam dinding di seberang tempat tidur. Bahkan tengah malam belum terlewati. Ia tidur begitu singkat tapi terasa begitu lama dan menyiksa. Orang tuanya pasti lah sudah terlelap. Keadaan rumah begitu sepi dan sunyi. Sudahkah mereka tahu tentang ini? Sudah kah Karasuma membicarakan hal ini pada mereka? Kenapa tidak ada seorang pun di antara orang tuanya yang setidaknya meminta maaf atas luka yang begitu besarnya yang Hinata miliki akibat tingkah mereka? Hinata menyentak tubuhnya bangun. Tanpa sengaja tepat berdiri di hadapan cermin meja rias. Ia benci apa yang dilihatnya sekarang. Lantas dengan segera melepas gaun biru yang dipakainya dengan kasar. Melempar gaun itu sejauh mungkin seolah tak ingin melihatnya lagi. Dibukanya lemari pakaian besar di hadapannya dan meraih apa pun yang dapat ia jangkau. Sebuah hodie hitam kebesaran yang sudah lama sekali tak pernah ia pakai. Hinata memakainya dengan tergesa-gesa. Hatinya sakit sekali. Dan air mata yang sudah ditahannya begitu lama mulai berjatuhan tanpa bisa dicegah lagi. Tubuhnya merosot ke lantai. Ia terisak tak terkendali. Segala rancangan indah yang ia bayangkan hancur bahkan sebelum semuanya dimulai. Ia mencintai Karasuma begitu lama dan tidak ada seorang pun yang mampu menggantikannya. Tapi kenapa? Kenapa justru hal ini yang ia dapatkan? Rasa sakit ini. . . Hinata tak mampu menangani semuanya. Ia sangat hancur sampai ke dalam bagian terkecil dalam dirinya dan ia merasa sangat, sangat ingin menghilang dari dunia saja. Andai saja. . . andai saja dirinya bisa menghilang. Hinata mulai berhenti terisak meski air matanya masih terus mengalir. Ia menarik dirinya untuk bangkit. Berjalan ke seberang ruangan menuju jendela dan membukanya. Angin dingin malam itu menyapu wajahnya bagaikan selimut es. Tetapi Hinata mengabaikannya dan mulai memanjat. Begitu berhasil keluar melalui jendela. Hinata tidak berbalik lagi. Ia tidak tahu apa yang ingin ia lakukan. Ia hanya berharap bisa menghilangkan semua pedih ini. Ia menyusuri jalanan sampai jauh sekali dan tidak peduli pada hal itu. Sejujurnya ia tidak memedulikan apa pun lagi. Rasa sakit di kakinya yang dipaksa untuk terus berjalan ditambah dingin yang menusuk-nusuk membuat rasa sakit hatinya sedikit mereda. Kemudian di saat Hinata yakin dirinya yang hancur tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi, saat itu lah ia melihat Yori. Dengan sebelah tangan yang masih dibebat, Yori keluar dari sebuah manga kafe. Tatapan mata mereka bertemu. Tak bisa dipungkiri betapa terkejutnya Yori melihatnya saat itu. Hinata membuang muka. Kedua tangannya masih berada dalam saku jaket. Orang terakhir yang ingin ditemuinya adalah Yori yang mengetahui segalanya tentang gadis itu dan Karasuma. Hinata hanya berharap saat itu, Yori tidak melihatnya. Atau mengabaikan dirinya saja dan berpura-pura mereka tidak pernah berpapasan dalam keadaan seperti ini. "Hinata-san?" Hinata langsung menyerah. Masih dalam posisi yang sama ia mengangkat wajah memandang Yori yang kini sudah mengahampiri dirinya. "Apa, kau baik-baik saja?" Hinata mengernyit. Bukankah akan lebih normal jika Yori seharusnya bertanya apa yang ia lakukan di sini saat nyaris tengah malam? Lantas, apakah dirinya terlihat sejelas itu? Hinata memaksakan seulas senyum yang samar sekali. Entah Yori dapat melihatnya atau tidak. Setidaknya ia sudah berusaha. "Aku baik saja-saja," sahutnya dengan tegas berharap Yori mengerti ia tidak ingin membicarakan hal itu. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?" "Oh," Yori terlihat terkejut lagi. "Aku biasa di sini bersama temen-temenku," ia menunjuk manga kafe di seberang. Hinata tersenyum lagi. Kali ini sudah bisa tersenyum dengan lebih baik. "Selarut ini? Bukankah Shina akan mengkhawatirkanmu?" Yori diam. Hinata sendiri tidak mengerti kenapa Yori diam saja dan memerhatikannya seperti itu. Seolah dari tatapan matanya, Yori tahu apa yang telah terjadi. "Ngomong-ngomong, Yori," ucap Hinata setelah keheningan panjang di antara mereka. "Terima kasih untuk yang waktu itu." Yori mengernyit bingung. "Saat kau berpura-pura sakit agar Shina dan Yui tidak melihat Karasuma," rasanya masih menyakitkan ternyata menyebut nama laki-laki itu. Keterkejutan sesaat melintas di wajah Yori. Tapi dengan cepat ia menyembunyikannya. Membuang wajah sesaat dan kembali memandang Hinata dengan canggung. Entah kenapa, sikap Yori ini membuatnya sedikit merasa nyaman. Karena dengan jelas, Yori menunjukkan tidak ingin membahas mengenai Karasuma juga. "Ini sudah larut," kata Yori setengah terbata-bata. Wajahnya kian memerah bersamaan dengan dirinya yang terus memberanikan diri menatap Hinata langsung. "Jadi, tolong biarkan aku mengantarmu." Hinata pasti lah sudah tertawa dengan kepolosan Yori jika saja ia sedang tidak dalam keadaan seburuk ini. "Tak apa, aku baik-baik saja. Kurasa sebaiknya kau juga pulang agar Shina tidak mencemaskanmu." "Tapi!" Sahut Yori terlampau keras yang segera saja disesalinya. "Tapi ini berbahaya untukmu, dan membiarkan kau sendirian akan membuat kakak cemas juga. Aku sudah terbiasa keluar di jam ini dan aku selalu bisa menjaga diri." Hinata menimbang-nimbang sesaat. Ia sudah pergi cukup jauh dan sampai saat ini belum menemukan tujuan untuk pergi. Mungkin Yori benar, sudah saatnya ia pulang. Lantas ia pun menerima tawaran itu dan membiarkan Yori mengantarnya pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN