Chapter 34

1527 Kata
Setengah bersyukur karena ia berhasil melewati hari ini dengan cukup ceria sehingga tidak membuat kedua temannya curiga. Hinata kini berpamitan dari rumah Shina. Dan nampaknya Yori sangat bisa dipercaya. Pastinya laki-laki itu tidak membicarakan kejadian semalam pada siapa pun. Hinata tersenyum tanpa sadar. Hanya beberapa kali pandangan matanya bertemu dengan tatapan Yori yang segera mengalihkan perhatian dan bersikap seolah tak pernah ada sesuatu di antara mereka. Lagi-lagi Hinata memuji sikap Yori. Karena mereka berdua sama-sama tahu, betapa mudah pekanya Shina menanggapi suatu keganjilan barang sedikit pun. Meski begitu, tentunya perasaan sakit ini masih ada. Masih begitu besar dan kuat. Dan Hinata tidak bisa menyangkal betapa rasa sakit ini terus menghancurkan dirinya. Sehingga tidak ada apa pun di dunia yang lebih ia inginkan ketimbang menghilang dari muka bumi. Hinata mendesah nyaris tak bertenaga dan mengangkat wajah. Ia kini menyusuri jalan kecil yang telah nyaris ia lalui setiap hari. Namun keningnya mendadak mengernyit begitu menyadari kehadiran papan penanda perbaikan jalan. Hinata mendesah lagi. Padahal ia merasa tak ada yang aneh dengan jalan yang akan ia lalui. Lantas dengan terpaksa ia berputar mengambil jalan lain sembari berusaha mengosongkan pikiran dan tidak memikirkan apa pun. Kemudian, sampai lah ia di depan rumah berpagar merah yang selalu dilihatnya dari jendela kamar Shina. Tidak mengetahui apa yang membuatnya berhenti. Hinata melempar pandangan ke halaman luas rumah itu. Hanya perasaannya atau memang rumah ini terlihat lebih bersih dari terakhi kali yang dilihatnya? Tiba-tiba pintu utama bercat merah itu mengayun membuka. Hinata melonjak dan cepat-cepat ingin menyingkir tepat saat matanya bertemu dengan sepasang mata cantik yang tidak pernah ingin dilihatnya. Walau terasa asing, tapi Hinata mengenali mata itu. Lantas tanpa bisa ia cegah, tubuhnya membeku. Gadis di ambang pintu itu awalnya tidak menyadari kehadiran Hinata. Ia berjalan tertatih-tatih untuk keluar dan kembali menutup pintu. Tentu dilihat dari sisi mana pun ia memiliki kekurangan pada kakinya yang mana membuatnya tak bisa berjalan dengan normal. Lalu saat itu lah ia melihat Hinata. Sama-sama terkejut atas apa yang dilihatnya. Hinata yang sadar kehadirannya sudah diketahui dan sudah cukup berhasil mengendalikan diri segera menyeret dirinya untuk pergi. Namun panggilan "tunggu" dari suara asing itu mencegah dirinya untuk bergerak. Hinata menoleh, melayangkan pandangannya kembali pada sosok cantik yang berjalan dengan susah payah menyeberangi halaman. Hinata benci melihatnya. Ia benci betapa besar usaha yang dilakukan gadis itu hanya untuk menemui dirinya. Lagipula untuk apa? Adakah sesuatu yang ingin dia bicarakan? Jadi sudah tahu siapa Hinata? Mungkin kah dia bersusah payah hanya untuk memeringatkan Hinata agar menjauhi Karasuma? Hinata secara terang-terangan menunjukkan raut wajah tak suka pada gadis itu. Jika memang itu yang akan dia lakukan, maka tidak perlu karena Hinata sudah memkasa dirinya untuk menyerah pada Karasuma dan hidup dengan cara yang menyiksanya setengah mati begini. "Oh, tunggu, kumohon..." Napasnya tersengal begitu sampai tak jauh dari tempat Hinata berada. Ia berhenti di sebelah pagar yang terbuka dan bersandar di sana. "Apa?" Tanya Hinata tanpa bersusah payah menunjukkan sedikit keramahan. Begini-begini ia sudah menahan lidahnya agar tidak mengucapkan segala sumpah serapah kasar yang serasa akan meledak dalam kepalanya. Dengan kedua tangan yang masih mencengkeram pagar, gadis itu menegakkan diri agar bisa menatap Hinata lurus-lurus. Raut wajahnya yang begitu cantik menunjukkan penyesalan. Membuat Hinata sesaat merasa aneh dan sedikit rasa bersalah melintas dalam benaknya. "Maaf sudah membuatmu menunggu," ia memulai, napasnya masih agak tersengal. Tapi senyum samar yang ia tunjukkan bukan lah kepalsuan. "Kau yang bernama Hinata kan?" Kerutan dalam kening Hinata bertambah dalam. Kebencian lagi-lagi menguasai dirinya. Ia merasa begitu terhina meski sebenarnya gadis itu tidak melakukan apa pun. "Ya," sahut Hinata dingin. Sesaat gadis itu terlihat cemas. "Aku... aku tahu mungkin ini terdengar menyebalkan dan terlalu tiba-tiba untukmu. Tetapi, aku hanya ingin meminta maaf. Kudengar kau akan dijodohkan dengan Karasuma dan... dan aku dan Karasuma," kekhawatiran terpampang jelas pada wajah cantik itu. Lagi-lagi melihat ketulusan pada wajah gadis itu membuat hati Hinata terenyuh dan perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Tapi kenapa? Ia bertanya-tanya sendiri. Sejurus kemudian untuk pertama kalinya Hinata bisa berpikir waras. Lantas jika memang Karasuma menyukai gadis ini, apakah menjadi salahnya jika kenyataan memang begitu? Lagipula jelas gadis itu hadir jauh sebelum Hinata masuk ke dalam hidup Karasuma kan? Hinata menunduk, merasa malu dan jijik atas kebodohan dirinya sendiri. Semua ini bukan salah gadis itu. Hinata tahu itu. "Jadi, aku, aku sungguh minta maaf atas ketidaknyamanan yang kau alami dan sebagainya-" "Tidak juga," Hinata menguatkan diri untuk menatap langsung mata cantik itu. Kemudian ia menyunggingkan seulas senyum yang diharapkannya terlihat cukup ramah. "Ini bukan salahmu, lagipula aku sama sekali tidak menyukai Karasuma-senpai. Dia hanya kebetulan menjadi seniorku. Dan sejujurnya aku bahkan tidak tahu tentang rencana perjodohan itu. Aku hanya menghormatinya sebagai seniorku." Dan kelegaan yang tulus terpancar dari mata cantiknya. "Syukurlah, aku takut kau akan salah paham denganku dan merasa tidak nyaman tentang semua itu." "Tidak, tenang saja," kemudian mendadak Hinata mengingat sesuatu. "Eh, tapi bagaimana bisa kau tahu aku?" "Eh?" Gadis itu terkejut dan mendadak terlihat gugup. "I-itu... sebenarnya aku melihatmu secara langsung hari itu, saat di pusat perbelanjaan, tentu saja sebelumnya Karasuma sudah menceritakan semuanya padaku dan karna aku penasaran jadi aku meminta padanya untuk menunjukkan fotomu." "Fotoku?" "Ya, di album foto sekolah. Aku melihat fotomu di sana." Hinata meringis. Benar juga, apa sih yang dia harapkan di saat semuanya sudah jelas begini? Karasuma memiliki foto dirinya? Rasanya seperti candaan saja. Candaan yang tidak lucu sama sekali. Tapi, tunggu? "Di pusat perbelanjaan?!" Hinata tanpa sadar menyuarakan pikirannya. Membuat sosok di hadapannya melonjak kaget dan mendadak diliputi rasa bersalah. "Iya, aku tidak sengaja melihatmu dan kau terlihat terkejut melihat kami, karena itu, sejak saat itu aku tidak bisa berhenti memikirkanmu," ia menunduk dan kesedihan melintasi matanya. Hinata mengernyit. Rasa bersalah itu semakin membesar. Ia mempertanyakan sisi kemanusiaan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia membenci sosok yang begitu murni macam gadis ini. Lalu kemudian, ia menyadari kenapa Karasuma bisa mencintainya. Dan kenapa Karasuma terlihat sangat-sangat mencintainya. Hinata menarik sudut-sudut bibirnya. "Tapi untungnya semua kesalahpahaman ini sudah diluruskan, benar kan?" Hinata tahu dirinya tidak akan sanggup menahan perasaan ini lebih lama lagi. Ia harus segera pergi sebelum kepedihan itu benar-benar membelah jiwanya menjadi dua. Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya kembali untuk menatap Hinata. Begitu melihat senyuman Hinata ia pun ikut tersenyum berterima kasih. Ungkapan yang bagi Hinata tak pantas untuk ia terima. "Kalau begitu aku harus segera pergi, ibuku mencariku dan dia cerewet sekali," Hinata mengedikkan bahu berlagak kesal. "Biasa lah, kurasa kebanyakan ibu-ibu memang begitu. Sangat merepotkan, bukan?" Lalu saat itu lah, untuk pertama kali Hinata melihat kesedihan yang pekat dalam wajah cantik itu. Eh? Apakah ada yang salah dari yang ia katakan? Namun tak lama Hinata mengingat satu hal. Rumah berpagar merah. Yang selalu diceritakan Shina ini. Jangan-jangan... gadis ini adalah anak dari pemilik rumah ini? Satu-satunya yang selamat? Menyadari Hinata mengingat sesuatu yang tepat, gadis itu segera menunjukkan seolah dirinya baik-baik saja dan tersenyum. "Baiklah kalau begitu, Hinata. Hati-hati di jalan." Hinata tidak langsung menjawab. Berharap pandangan ngerinya tidak disadari gadis itu. "Oh, namamu?" Ia bertanya tanpa berpikir. Gadis itu tersenyum lagi. "Kara, senang berkenalan denganmu Hinata." * * * Hinata memandang kedua tangannya yang kosong. Rasa bersalah dan jijik menguasai dirinya. Seolah ia kini terkurung pada sebuah gelembung besar yang hanya diisi kebencian. Bagaimana bisa? Ia bertanya. Bagaimana bisa ia membenci seorang gadis yang begitu tulus. Sosok yang bahkan memiliki masa lalu begitu kelam macam dia? Pantas kah dirinya di sebut manusia? Hinata mengangkat wajah pada cermin. Begitu benci pada apa yang dilihatnya di sana. Bukankah dirinya begitu egois? Ia membenci dan selalu menyumpahi seseorang yang bahkan tidak bersalah sama sekali. Ia jijik. Sangat Jijik terhadap dirinya sendiri. Lebih lagi perasaan cintanya pada Karasuma yang menolak untuk hilang, dan kebohongan menjijikkan yang sudah ia katakan pada Kara... Hinata menjerit frustasi dan menyingkirkan semua barang-barangnya dari meja. Bagaimana ini? Bagaiman ia bisa menceritakan semua ini pada Shina dan Yui? Lalu bagaimana jika semua orang sudah tahu? Pasti lah semua orang akan menghina dirinya! Tidak. Tidak. Tidak ada seorang pun yang boleh tahu! Tapi... Cepat atau lambat Shina dan Yui pasti akan menyadarinya juga... Jika hari itu datang, masih adakah sisa harga diri yang Hinata miliki? Mata Hinata membeliak. Saat matanya kembali melihat pada cermin. Rasanya seolah melihat sosok yang asing. Sosok pucat dengan rambut berantakan. Tidak. Hinata tidak siap menerima semuanya. Ia ingin menghilang saja. Benar. Seperti yang sudah pernah ia katakan. Jika rasa sakit ini tidak bisa ia hilangkan. Maka biar dirinya saja yang menghilang. Mendadak sosok dalam cermin itu tersenyum. Senyuman aneh dan sinting. Tapi Hinata tidak memedulikannya. Ya... Lagipula sejak awal, Hinata tahu benar ia tidak akan sanggup menahan semua rasa sakit ini. Sedetik kemudian, ia menarik laci meja hingga membuka. Mengambil sebuah pisau cutter, mengeluarkannya. Dan mengiris pergelangan tangannya tanpa berpikir lagi. Segalanya terjadi begitu tiba-tiba. Tidak ada kesempatan untuk menyesal apalagi mengurungkan apa yang sudah dilakukannya. Apakah Hinata menyesal? Entah lah? Ia tidak tahu. Hanya saja ia ingat. Hal terakhir yang ia lihat adalah sosok asing dalam cermin yang terjatuh. Dan harapan terakhir yang ia inginkan bukan lah keselamatan sosok itu. Melainkan cinta dari seorang pemuda yang tidak pernah ia dapatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN