"Semudah itu kau melakukannya?" Tanya Rui Inoue, nampak terkejut sekaligus kecewa.
Hinata menunduk dan menghindari tatapannya.
Mitsuri berdeham. "Kau tahu," ucapnya dengan suara yang dingin seperti biasa.
Yang Hinata yakini tetap dengan senyuman yang ia paksakan untuk terlihat ramah. Ia menunggu masih dengan kepala tertunduk tetapi Mitsuri tak kunjung melanjutkan kata-katanya, membuat Hinata merasa memang seburuk itu lah dirinya. Ia menunduk semakin dalam sembari meremas kedua tangan. Menahan diri semampunya agar tidak menangis. Apakah bahkan setelah kematiannya ia tetap harus merasakan seluruh kepedihan ini?
Mitsuri berdeham lagi. Kemudian melanjutkan. "Tentu kita semua tahu, setiap orang memiliki batas kemampuan mereka sendiri dalam menghadapi masalah. Dan kita tidak bisa menghakimi kelemahan itu sesuka itu."
Hening sejenak.
"Maaf," Rui Inoue berbisik pelan.
Hinata mengangkat wajah, laki-laki itu kini menunduk. Meski begitu kesedihan yang terpancar dari sorot matanya tak bisa ia sembunyikan. Hinata jadi bertanya-tanya, kehidupan apa yang dia jalani sebelum kematiannya. Dan juga, bagaimana cara dia mati? Dia tidak terlihat seperti seseorang yang mau membunuh dirinya sendiri.
"Dan untukmu, Hinata," perkataan Mitsuri menyeret perhatian Hinata kembali padanya. "Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan mengenai penyesalanmu?"
Hinata kembali bersedih begitu mendengarnya. Tentu saja ia menyesal. Baginya seluruh hidupnya tak lebih dari penyesalan. Ia bahkan merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Aku tak bisa memaksamu untuk berhenti menyalahkan diri sendiri. Tapi bagaimana pun juga aku harus mengatakan ini padamu."
Hinata menyeret perhatiannya sekali lagi pada Mitsuri. Mengabaikan yang lain-lain dalam ruangan itu. Termasuk Shinazugawa yang nampaknya berhenti membaca bukunya dan menatap mereka yang berada di meja.
"Yang kuyakini kau akan menyesal setelah mendengarnya, meski tak sebesar penyesalanmu pada Karasuma."
Jika Hinata masih memiliki jantung yang berfungsi, pasti lah jantungnya akan berdetak gugup mendengar penjelasan Mitsuri ini.
"Apa kau bahkan memikirkannya? Seseorang yang memedulikanmu melebihi bayangan terkecilmu sekali pun?"
"Siapa itu?" Hinata memiringkan kepala ke satu sisi tanpa sadar. Sejauh yang dia tahu tidak ada seseorang spesial yang menyukainya. Terlebih satu-satunya orang yang ia cintai, hanya Karasuma.
"Yori."
Hinata membelalak. "Apa?" Ia mengucapkan kata itu tanpa berpikir.
"Tentu kau tidak tahu, tapi selepas kematianmu Yori adalah seseorang yang memiliki penyesalan yang paling dalam. Dia seseorang yang paling menderita melebihi apa yang terlihat. Terlebih dia tidak bisa dan menolak untuk memberitahu siapa pun mengenai perasaannya. Dia menanggungnya seorang diri dan bahkan aku yakin dia hampir mati karena rasa bersalahnya."
"Mitsuri-san," ucap Katayama terdengar terkejut sekaligus mendesak. Nampaknya Mitsuri sudah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan.
Kemudian, dengan cepat Mitsuri kembali memperlihatkan senyum palsu yang tak pernah menyentuh matanya.
Masih diliputi kebingungan, Hinata mengerjap-ngerjapkan mata. Ia memandang Mitsuri lalu memandang Shinazugawa di belakangnya yang mendadak ia sadari bukan sedang memperhatikan semua orang di meja, melainkan tengah memperhatikan dirinya. Susah payah Hinata menelan ludah. Rasanya aneh karena kau sudah mati.
"Tapi... kenapa? Kenapa Yori harus seperti itu?"
"Kenapa? Tentu jelas karena dia mencintaimu."
Meski Mitsuri masih tersenyum, namun entah kenapa Hinata merasa Mitsuri marah pada dirinya. Tapi. Yori? Mencintainya? Mustahil! Yori itu adik Shina!
"Ya, Yori adik temanmu. Dan tak ada yang salah dengan itu."
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya lagi. Berusaha memahami semua perkataan Mitsuri. Sekali lagi mengumpulkan kepingan ingatan semasa hidupnya di mana Yori ada dan menemui satu kesimpulan yang membuatnya merasa sakit. Terkadang Yori memang bersikap berbeda hanya pada dirinya. Dia juga tanpa diminta melindungi rahasia itu dan bahkan mau membantunya di saat terdesak. Hinata tak pernah menyadari itu. Karena baginya Yori adalah adiknya juga.
"Yori..." Ucap Hinata tanpa bisa menahan air matanya lagi. "Yori tersiksa karenaku?"
Mitsuri tak langsung menjawab. Namun lambat laun ia mengangguk pelan.
Hinata terhenyak di kursinya. Tak pernah ia mengira akan ada seseorang yang memedulikan dirinya sebesar itu. Sebesar rasa pedulinya pada Karasuma. Mungkinkah?
"Hinata," ucap Mitsuri lagi. "Mungkin kau sudah lupa jadi aku akan mengingatkanmu sekali lagi. Tujuan kami di sini adalah untuk menuntaskan penyesalan kalian. Dan di akhir acara nanti kami akan memberikan jalan keluar untuk setiap masalah kalian. Jadi Hinata, berhenti menyalahkan dirimu sendiri karena Yori tahu itu dan sangat membencinya."
Ah, tentu saja Mitsuri tahu apa yang dipikirkannya. Sesaat Hinata melupakan bahwa Mitsuri adalah seorang dewa kematian.
"Terima kasih," kata Hinata tulus sembari bertekad untuk tidak membuat Yori lebih tersiksa lagi. "Tapi satu hal lagi yang ingin kuketahui, sebelumnya kau mengatakan Yori akan mati, apakah itu benar?" Kedua tangan Hinata mengepal erat karena rasa sakit yang begitu besar karena menanyakan pertanyaan itu.
Wajah Mitsuri berubah datar. "Tidak, maaf aku sudah mengatakan hal semacam itu. Aku terlalu terbawa suasana."
Hinata menghela napas dalam dan duduk dengan tenang kembali.
"Jadi sekarang, bisa kita lanjutkan?"
Kepala-kepala di meja saling menoleh. Kali ini bukan karena enggan bercerita, namun nampaknya mereka semua jadi berubah pikiran sejak mendengar perkataan Mitsuri mengenai membantu mereka.
"Kalau begitu aku," ucap gadis berambut panjang yang terlihat tidak tertarik pada apa pun sejak awal. Kali ini ia terlihat lebih baik.
Mitsuri menoleh padanya dan tersenyum. "Tentu kau boleh."
Akemi Haru tersenyum puas. "Bagus, dengan begitu aku bisa cepat-cepat menyingkirkan semua penyesalanku."
Dan selanjutnya, cerita masa lalu seorang Akemi Haru pun dimulai.