Akemi membuka matanya pada pagi itu setelah sinar matahari pagi menembus melewati celah-celah gorden. Hanya suara napasnya sendiri yang ia dengar kala itu. Sepi. Kosong. Tapi bukan sesuatu yang menyiksa. Hidupnya biasa-biasa saja. Ia kini berstatus sebagai mahasiswi di universitas yang cukup populer di Tokyo. Pun kehidupan perkuliahannya tidak terlalu menyedihkan, juga tidak terlalu menyenangkan. Semuanya biasa. Dan hal itulah yang memang ingin ia dapatkan. Kehidupan yang biasa.
Akemi mengangkat sebelah tangan menutupi kening. Menghalau sinar matahari. Mungkin sepuluh menit. Ia akan bangun sepuluh menit lagi.
Alarm berbunyi lebih awal dari yang ia duga. Akemi tahu ia salah perhitungan. Lantas ia terpaksa menyeret tubuhnya ke sisi lain ranjang dan meraih ponsel di meja. Mematikan alarm. Setiap hari ia selalu bangun lebih awal mendahului alarm yang ia buat. Meski begitu Akemi tak pernah memutuskan untuk berhenti menggunakan alarm. Alasannya? Yah, mungkin ia hanya bosan. Tidak banyak yang bisa ia lakukan dalam apartemen kecilnya ini.
Menghabiskan lima menit yang tersisa atau bangun dan bersiap-siap menuju kampusnya? Akemi menimbang-nimbang.
Pada kenyataannya Akemi menghabiskan waktu lima menit itu hanya untuk berpikir. Akhirnya ia bangun. Menyibakkan selimut tipis di kakinya, memakai sandal slip abu-abu dan mengikat rambut panjangnya yang tergerai dengan tali rambut hitam di pergelangan tangan.
Ia mengisi sebuah teko kecil yang memiliki ukiran bunga-bunga timbul dengan air dari wastafel. Mengambil sikat gigi dan pasta giginya di sebelah wastafel dan mulai menyikat gigi sambil berjalan keluar menuju balkon.
Tidak ada yang spesial dalam balkon kecil itu. Hanya ada sebuah kursi dan meja teh di sudut, lalu beberapa tanaman hias di sudut lain. Akemi menyirami tanaman hias itu dengan teko yang sudah ia isi. Begitu yang ia lakukan setiap pagi. Hanya keseharian yang biasa.
"Eh?" Mendadak ia menyadari sesuatu. Kaktus mungilnya terlihat layu. Padahal ia merawatnya dengan baik, selalu meyiraminya dua kali sehari tiap pagi dan sore. Bahkan menempatkannya pada posisi terbaik di mana ia mendapatkan banyak sinar matahari setiap harinya. Akemi membeli kaktus itu dua hari yang lalu. Di sebuah toko bunga di perempatan jalan. Berseberangan langsung dengan toko mochi favoritnya. Ada banyak mochi lucu yang di jual di sana.
Akemi memandang menerawang melewati awan-awan yang menggantung pada langit pagi itu. Sedetik saja ia memutuskan untuk membeli mochi sepulang dari kuliahnya nanti. Juga membeli kaktus baru. Ia suka kaktus mini. Oh, jangan lupa menanyakan pada pemilik toko bunga itu kenapa kaktusnya layu.
Tepat saat akan berbalik Akemi tidak sengaja menyenggol pot kaktus itu sehingga membuatnya terjatuh. Ia terkesiap dan segera melongok ke bawah, berharap tidak ada seseorang yang kebetulan lewat. Segalanya akan menjadi rumit jika sampai secara tidak sengaja ia melukai seseorang. Ah, harapannya tidak terkabul. Seorang laki-laki berdiri membeku di bawah sana. Ia membawa sepeda tetapi tidak menaikinya, memakai seragam SMA yang Akemi kenali tak terlalu jauh dari daerah ini. Ketika akhirnya si laki-laki mendongak dan pandangan mereka bertemu. Akemi langsung menyingkir dari balkon. Berkumur secepat yang ia bisa dan berlari keluar tanpa mengganti sandal. Ia bahkan lupa untuk sekedar membawa jaket, mengingat saat ini ia hanya memakai piyama tipis tanpa lengan dengan panjang jauh di atas lutut.
Akemi berlari sepanjang tangga, sepanjang lorong. Hingga ia sampai di depan gedung apartemen dan laki-laki itu masih membeku. Sepertinya terlalu terkejut pada apa yang barusan terjadi padanya. Akemi mengerti. Ia nyaris terluka parah jika pot keramik itu sampai mengenainya.
"Kau baik-baik saja?"
Laki-laki itu menoleh. Malah terlihat makin terkejut setelah melihat Akemi.
"Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkannya, kau baik-baik saja?" Ia melangkah mendekat. Menatap ke dalam mata gelap itu. "Kau tak apa?" Akemi baru saja akan menyentuh lengan laki-laki itu ketika ia tersentak sadar.
"Ya, aku baik. Tak apa-apa," ia menunduk menatap pecahan pot di dekat kakinya. "Tidak masalah, aku baik," ia bergumam entah kepada siapa.
Akemi bergeming. Jadi ikut bingung. Ia merasa bersalah, itu jelas. Dan pakaiannya membuat ia makin merasa bersalah karna wajah laki-laki itu kini memerah. "Aku bisa mengganti rugi atau semacamnya, kau yakin tidak terluka? Bagaimana pun juga, aku salah karna sudah ceroboh."
"Tolong perkenalkan! Namaku Lucas, rumahku tak jauh dari sini. Aku sering melihatmu. Belum lama ini kau pindah ke apartemen kami. Eh, maksudku apartemen milik orangtuaku."
Akemi terperangah. Dari mana keberanian laki-laki itu mendadak muncul?
Lucas menjulurkan sebelah tangan masih dengan wajahnya yang memerah. Akemi tersenyum kecil. Ia masih agak terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. Lantas tanpa menunggu lebih lama lagi ia menjabat tangan Lucas yang begitu besar dalam genggamannya.
Wajah Lucas jadi makin merah. Tubuhnya berubah kaku.
"Namaku Akemi, kalau begitu senang bertemu denganmu, Lucas-san."
Lucas tak langsung menjawab. Untuk sesaat ia terlihat seperti melupakan cara untuk bernapas.
"Kau bak-baik saja?"
Lucas segera mengangguk dan melepas genggaman tangannya.
"Kau yakin?"
Lucas mengangguk lagi. "Senang bisa bertemu denganmu juga, Akemi-san."
Akemi tersenyum, kali ini jauh lebih tulus. Sikap Lucas terlihat begitu polos, membuat ia gemas. "Benar, aku lebih tua darimu, kau juga boleh memanggilku dengan sebuatan kak."
Entah hanya perasaan Akemi atau memang kenyataannya begitu, sesaat tadi Lucas terlihat kecewa.
"Jika kau sebenarnya terluka kau bisa menghubungiku, aku akan bertanggung jawab atas kecerobohanku."
Mata Lucas membulat. "Aku boleh mendapatkan nomor ponselmu?" Sedetik kemudian ia menampar diri sendiri. "Ma-maaf, maaf sudah mengganggumu pagi-pagi sekali. Aku pergi dulu, sampai jumpa!" Ia berlari sambil menuntun sepedanya.
Akemi tidak menyangka dengan sikap Lucas yang penuh kejutan. Sejauh yang ia ingat ia belum pernah melihat laki-laki itu.
Tiba-tiba Lucas berhenti dan berbalik. "Itu, aku akan membantumu membereskannya," Lucas menunjuk pecahan pot di jalan.
Akemi menggelengkan kepala ringan. "Tidak, kau bisa terlambat."
Lucas mengangguk setuju dan berbalik lagi. Akemi tertawa kecil. Ia tidak menyangka ada manusia seperti Lucas di dunia ini. Lucu sekali.
Baiklah. Sebelum jalanan mulai ramai, sebaiknya ia membersihkan sisa-sisa pecahan pot itu. Akemi berjongkok dan memungutinya satu persatu.
"Apa yang kau lakukan, Akemi Onee-chan?"
Akemi mendongak dan memandang sepasang mata cerah yang memandang dirinya dengan heran. Ia tersenyum ramah seperti biasa setiap kali bertemu Hiko, anak dari pemilik apartemen yang ia tinggali. Tunggu. Akemi mendadak tersadar. Kalau begitu laki-laki barusan adalah kakak Hiko? Siapa namanya tadi? Luca? Oh, ya... Lucas. Salah satu kelemahan Akemi adalah mudah melupakan nama orang lain. Lebih lagi, Hiko sama sekali tidak terlihat mirip dengannya. "Aku tidak sengaja menjatuhkan potku dari balkon."
Hiko memiringkan kepala ke satu sisi, menggemaskan sekali. Ia memiliki rambut pendek yang dikuncir dua. Membuat ia makin terlihat menggemaskan. Dan kini ia tengah duduk di kelas lima sekolah dasar. Namun meski begitu Ara dibuat takjub dengannya sejak pertemuan pertama mereka. Karna meski mungil Hiko memiliki pemikiran yang tajam layaknya orang dewasa.
Akemi teringat lagi. "Aku bahkan nyaris mengenai kakakmu, Lucas!" Ia berseru di penghujung kalimat.
Hiko mengernyit, nyaris terlihat jijik. "Akhirnya manusia itu terkena karma juga," ia bergumam sendiri.
Kini giliran Akemi yang memiringkan kepala ke satu sisi, heran.
"Akemi Nee-chan, jika kau membersihkannya sambil berjongkok begitu celana dalammu bisa kelihatan."
Akemi tersentak, lantas segera menyeret diri untuk bangun. Wajahnya pasti memerah karena malu.
"Aku akan membantumu membereskannya," Hiko mengeluarkan sebuah buku dari dalam ransel dan menyobeknya di bagian tengah.
"Tapi kau bisa terlambat," ujar Akemi cemas.
"Tidak, aku masih punya banyak waktu. Sebaiknya Nee-chan mengganti pakaian dan mengambil kantung plastik, sementara itu aku akan membersihkannya," Hiko mengambil pecahan pot yang berserakan dan menaruhnya ke dalam kertas sobekan tadi.
Akemi tidak punya pilihan lain lagi. "Baiklah, pastikan kau berhati-hati, Hiko-chan."
"Mmm, meski agak tidak rela, tapi aku lebih tidak rela lagi calon kakak iparku menjadi perhatian orang-orang dewasa yang mesum."
Ah, barusan apa yang Hiko katakan? Ia sudah terlanjur berbalik menuju pintu masuk. Tak apa. Mungkin Hiko hanya bergumam sendiri saja.