Chapter 37

806 Kata
Dua bulan lalu, seperti yang sudah-sudah. Akemi pindah dari apartemen lamanya. Setidaknya ia pindah selama setahun sekali bahkan kadang dua atau tiga kali. Tergantung dari seburuk apa mimpi buruk itu mengikutinya. Tanpa sadar Akemi memperlambat langkah ketika mulai menaiki tangga. Benar. Mimpi buruk itu. Belum pernah berakhir sampai sekarang. Akemi menggeleng. Kembali teringat Hiko yang sedang menunggu. Ia mempercepat langkah lagi. Setengah berlari. Dua bulan lalu, saat pertama kali menginjakkan kaki di sini. Hanya Hiko dan orang tuanya yang Akemi temui. Ia tidak menyangka rupanya Hiko memiliki kakak. Ia tidak pernah menceritakan hal itu. Ah, tunggu. Bibi, begitu Akemi memanggil ibu Hiko. Sepertinya beberapa kali menceritakan tentang anak laki-lakinya. Entahlah, ia tidak terlalu yakin. Akemi pasti sudah lupa. Lagipula mereka sangat jarang bertemu. Akemi berusaha mengingat lagi wajah Lucas. Membandingkan wajahnya dengan wajah Hiko dengan ingatannya yang minim. Yah, percuma saja. Tapi mungkin jika dibandingkan dengan orang tua Hiko, barangkali Lucas mirip salah satu di antara mereka. Ia jadi penasaran. Hiko terlihat tidak terlalu menyukai Lucas. Kalau tidak salah juga Hiko mengatakan tentang karma. Karma apa? Sudahlah. Sebaiknya ia bergegas. Jangan sampai Hiko terlambat ke sekolah karena dirinya. * * * "Aku hampir membunuh seseorang pagi ini." Hana, seorang gadis berambut ikal pendek bermata cokelat, mengangkat wajahnya sekilas memandang Akemi. "Wah, aku terkejut," ujarnya dengan raut wajah yang berkata sebaliknya. Akemi tersenyum ringan dan meminum s**u pisangnya lagi. "Kau tahu," ia memulai. "Kenapa kau selalu membawa manga setiap hari dan membacanya di perpustakaan?" Tanpa menoleh lagi Hana menyahut. "Kau lebih parah lagi, selalu menyusupkan makanan dan minuman ke perpustakaan." Akemi tersenyum meminta maaf. Setiap mengunjungi perpustakaan di fakultas mereka, ia dan Hana tak pernah memiliki tujuan untuk belajar. Hanya mencari tempat sepi dan nyaman untuk bersenang-senang. Dan biasanya mereka bertiga bersama Yuma. Tetapi gadis itu mengabarkan pada mereka bahwa dirinya sedang demam. Menangis keras di telepon dan meminta, memaksa lebih tepatnya, untuk dijenguk sore nanti. "Paling Yuma ingin makan gratisan." Begitu kata Hana. Yah, Akemi tidak mengelak. Kenyataannya mereka bertiga memang suka makan gratisan, bahkan Yuma selalu mengumpulkan kupon agar bisa makan gratis. Ia juga sering ikut undian. Dan Yuma selalu mengajak ia dan Hana setiap kali menang. "Jadi bagaimana keadaannya?" Akemi mengangkat wajah, dengan tatapan yang menanyakan 'siapa?' dengan jelas. "Orang yang akan kau bunuh tadi pagi," ia menghela napas malas. Jika sedang membaca manga romance favoritnya ia memang tidak bisa diganggu sama sekali. Bahkan meski mendadak terjadi bencana alam sekali pun Akemi yakin Hana akan tetap duduk santai dengan manga romancenya. "Aku tidak sengaja menjatuhkan pot kaktus dari balkon. Tapi untungnya dia baik-baik saja, dan aku baru tahu ternyata dia adalah anak dari pemilik apartemen. Kau tahu, kan Hiko yang pernah kuceritakan padamu?" Hana terkesiap. Entah keajaiban dari mana ia sampai meletakkan manga romancenya di meja dan mengerahkan seluruh perhatian yang ia miliki pada Akemi. "Sebuah konspirasi," ia tersenyum licik. Bagi Akemi itu memuakkan sekali. Rasanya sampai ingin memuntahkan s**u pisang yang sudah ia minum. Sangat disayangkan. Hana memajukan tubuhnya pada Akemi. Akemi tidak tahu apa yang membuat Hana jadi begitu tertarik begini. "Pasti setelah ini kau akan dijodohkan dengan dia, siapa namanya?" "Lucas," Akemi bersyukur belum makan biskuit cokelat yang ia bawa. Jika tidak ia pasti sudah memuntahkan semuanya sekaligus. "Apa dia laki-laki dengan mata tajam dan dingin? Tubuhnya tinggi dan perutnya pasti berotot, kan?" Hana memekik. Terkejut dengan pemikirannya sendiri. "Dia pasti seorang CEO kaya yang menyamar jadi manusia biasa." "Kau ini terlalu banyak membaca manga romance." Hana mendecak tak setuju. "Bukankah sudah jelas semuanya sudah direncanakan? Dia pasti sengaja menciptakan insiden ini agar bisa berkenalan denganmu!" Baiklah. Sudah cukup khayalan manga romancenya. "Mana ada manusia waras yang menunggu di bawah balkon hanya untuk kejatuhan pot kaktus? Lagipula jika sial sedikit saja, ia mungkin tidak lagi memiliki kepala yang utuh," Akemi menyesal sudah mengucapkannya. Hal itu membuat ia ingin benar-benar muntah sekarang. Hana nyengir. "Tapi setidaknya dia tampan, kan? Dan beginilah takdir kalian. Aw, romantis sekali. Kapan aku bisa merasakan keindahan kisah semacam itu..." Menggelikan. Akemi berharap bisa melupakan apa yang dilihatnya saat ini. "Kurasa kau bisa mulai dengan melempari orang-orang dengan pot keramik." Hana mendecak lagi. "Yang ada aku akan berakhir di penjara," jeda sejenak. Pasti Hana sedang memikirkan hal-hal yang tidak Akemi sukai lagi. "Tapi mungkin saja aku akan bertemu polisi tampan. Tidak buruk juga." Nah, kan. "Ngomong-ngomong Lucas masih SMA." Senyum memuakkan itu mendadak hilang dari wajah Hana. "Siapa itu Lucas?" Hening sejenak. Kemudian secepat kilat Hana mengambil manga romancenya kembali dan duduk seperti semula. Bersikap seolah-olah pembicaraan tadi tidak pernah ada. "Mmm, itu," ucap Hana setelah diam cukup lama. Akemi menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuka bungkus biskuit cokelat. "Kisah cinta beda usia boleh juga. Aku pernah membacanya dan tetap romantis." Akemi langsung bangkit. "Aku akan menjenguk Yuma sekarang." "Hei, hei! Tunggu! Jangan tinggalkan aku, Akemi! Baiklah, aku hanya bercanda, oke?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN