Chapter 38

1164 Kata
Akemi baru saja mendudukan dirinya di sofa ketika terdengar suara ketukan pintu. Ia tidak langsung menyahut. Memastikan apakah benar pintu apartemennya yang diketuk. Ketukan pintu terdengar lagi. Sama pelannya dengan suara sebelum ini. Akemi pun bangkit. Bertanya-tanya siapa yang datang, karna kebetulan sekali ia baru pulang. Saat pintu terbuka Akemi melihat Lucas yang membeku. Sepertinya terkejut. "Oh, Lucas," ia bergumam setengah tidak menyangka. Mungkinkah Lucas berubah pikiran dan menyadari sebenarnya ia terluka? Lucas tersenyum. Meski terlihat cukup menggemaskan dengan wajahnya yang memerah. "Aku membawakan ini untukmu," ia mengulurkan tangan memberikan sebuah kotak biru dengan logo mochi yang dikenalnya. Akemi terkejut senang. Tapi ia sadar tidak boleh terlihat sesenang itu. Menggelikan, tahu. Ia mengingatkan diri sendiri. "Untukku?" Tanyanya memastikan. Lucas mengangguk. Kini terlihat dua kali lebih menggemaskan. Yah, Akemi jadi sadar dalam hal ini ia memiliki kemiripan dengan Hiko. Eh, tapi kenapa tiba-tiba Lucas memberinya mochi? Seolah bisa membaca kebingungan dalam raut wajah Akemi, Lucas segera berkata. "Anggap saja sebagai sambutan untuk tetangga baru," ia tersenyum lebar. Lucas terlambat dua bulan, pikirnya. Tidak masalah. Akemi merasa beruntung sekali. Sore ini ia tidak jadi membeli mochi karna menjenguk Yuma. Jelas ia senang mendapat mochi gratis dari Lucas. Kalau begitu, untuk sekedar beramah tamah Akemi rasa perlu menawari Lucas untuk mampir. Ia masih memiliki persediaan white tea. Mungkin Lucas akan menyukainya. "Terima kasih, Lucas-san, aku senang sekali. Senang memiliki tetangga baru sepertimu," dipikir-pikir lagi, menyebut Lucas sebagai tetangga terasa kurang tepat. Terlebih ia tidak tinggal di apartemen ini dan justru berstatus sebagai pemilik. "Mau mampir di tempatku? Aku akan membuatkan teh untukmu." Wajah Lucas mendadak berubah sangat merah. Apa sudah menjadi kebiasaannya terlihat seperti melupakan cara untuk bernapas? "Tidak," sahutnya terpaksa, terlihat jelas sekali. "Maksudku, aku tidak ingin mengganggu. Jadi semoga harimu menyenangkan. Sebaiknya aku pulang saja." Akemi diam. Lucas juga diam. Apa Lucas berharap ia akan mencegahnya pergi karena meski sudah berpamitan ia tidak kunjung bergerak juga? "Mmm, tidak mengganggu sama sekali," Akemi tidak bisa tidak tersenyum. Berharap senyumannya tidak terlihat mengejek. Ia sama sekali tidak bermaksud begitu. "Mungkin lain kali," ujarnya penuh harap. Akemi mengangguk. "Baiklah," ia harus memastikan lain kali mengajak Lucas mampir ke apartemennya. "Sampai jumpa," ucap keduanya bersamaan. Wajah Lucas memerah lagi. Tapi ia segera berbalik pergi. Akemi tertawa kecil. Menggemaskan. Seperti Hiko. Sekarang ia agak yakin mereka memang bersaudara. * * * Lucas merasa wajahnya panas sekali. Gawat. Jangan-jangan wajahnya memerah lagi. Tadi pagi ia tidak sadar semua orang memerhatikan dirinya. Sampai Gama, salah satu temen sekelasnya yang duduk tepat di sampingnya mengatakan, bahwa wajah Lucas sangat merah, ia juga tersenyum-senyum sendiri sepanjang jalan. Seperti orang m***m, begitu Gama bilang. Lucas mengusap wajah kesal. Pasti Gama mengada-ngada! Mana mungkin ia terlihat seperti orang m***m! Mustahil... Tapi jika benar, ia yakin sudah mati karena malu. Dan jangan sampai Akemi melihatnya. Akemi. Lucas memandang menerawang. Ia menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Lucas tidak suka memanggilnya kakak, walau hanya dalam pikirannya. Ia tahu usia mereka terpaut jauh, ah tidak. Paling hanya tiga tahun. Perbedaan usia mereka tidak bisa menjadi penghalang. Sontak Lucas terseyum-senyum sendiri. Eh. Ia tersadar. Beginikah dirinya sepanjang perjalanan menuju sekolah pagi ini? Lucas segera mengambil ponselnya dalam saku celana. Menggunakan benda itu untuk bercermin. Wajahnya memang memerah. Tapi ia tidak terlihat m***m. Sialan Gama! Lucas mengambil langkah cepat melewati halaman dan masuk ke dalam rumah. Sementara melepas sepatu dan mengganti dengan sandal slip abu-abu, ia berpikir keras. Sejujurnya ia tidak mau menerima ucapan Gama jika dirinya terlihat m***m. Tapi ia tetap takut. Bagaimana jika Akemi melihatnya begitu dan menganggap ia sebagai orang m***m aneh? Tidak! Sejauh ini Akemi selalu bersikap ramah. Bahkan ia begitu perhatian. Jangan-jangan Akemi juga menyukainya? Lucas menggigit kepalan tangannya, menahan teriakan yang akan meluap karena euforianya sendiri. Lalu saat mengalihkan pandangan matanya bertemu dengan tatapan Hiko yang seperti biasa. Tak memandangnya sebagai manusia. Lucas langsung bersikap biasa. Mengenyahkan seluruh kebahagian dari wajahnya. "Apa?" Hiko mengernyit jijik. "Kau pasti memikirkan hal-hal m***m tentang Akemi Nee-chan." Eh. "Tidak! Dari mana kau tahu hal semacam itu?" Ia memandang Hiko takjub bercampur kesal. "Lagipula aku tidak m***m!" Hiko tidak merubah tatapannya. Membuat nyawa Lucas seolah keluar dari mulut. "Bersikaplah yang sopan pada kakakmu," ujarnya tanpa tenaga sambil lalu. Lucas tidak memedulikan Hiko lagi. Ia bergegas menuju kamar tidurnya tanpa tenaga. Menjatuhkan diri di atas ranjang. Semangat hidupnya sudah hilang. Berakhir sudah. Jika Hiko mengatakan hal yang sama dengan Gama, maka dipastikan Akemi juga memandang dirinya begitu. Rasanya ingin menghilang saja dari muka bumi. Seperti kentut. Lucas bergeming. Tidak adakah hal lain yang lebih baik untuk diingat di saat-saat begini? "Ada apa? Apa kau ketahuan sudah menguntit Akemi Nee-chan selama ini?" Hiko mengintip dari balik dinding. Lucas lupa menutup pintu. "Ish, enak saja. Aku tidak pernah menguntit atau semacamnya. Kau pikir aku ini penjahat?" "Kau selalu berdiri di depan apartemen sambil memandang balkon Akemi Nee-chan. Kau pasti merencanakan hal yang tidak-tidak," Hiko berseru tidak mau kalah. Lucas sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berdebat. Ia akui ia memang menunggu setiap hari di depan gedung apartemen. Berharap bisa bertemu Akemi secara tidak sengaja. Dengan begitu ia bisa berkenalan dengannya secara alami. Ia menyesal sekali karna tidak ikut menyambut penghuni baru apartemen. Meski seumur hidupnya tidak pernah ikut melakukan hal semacam itu, tapi kali ini ia sudah melewatkan kesempatan berkenalan dengan Akemi. Baru dua hari setelah Akemi pindah, Lucas melihatnya. Kemudian Hiko mengatakan bahwa ia yang menjadi penghuni baru. Lucas langsung menyukainya. Ia memiliki rambut panjang yang indah. Semakin menonjolkan kecantikan wajahnya. Senyumnya juga menawan sekali. Membuat Lucas serasa meleleh. Dan matanya indah! Seperti boneka. Tubuhnya juga ramping. Eh. Lucas teringat. Orang m***m. Mungkin karena itu. Karena ia melihat Akemi memakai piyama itu. Tiba-tiba saja Hiko memukulnya dengan bantal. Membuat ia terkejut setengah mati. "Apa yang kau pikirkan?! Berhenti berpikir m***m tentang Nee-chan!" Ia tidak mau berhenti memukul. Lucas hanya bisa pasrah. Rasanya ia ingin menangis. Benar. Dirinya hina sekali. Akhirnya Hiko berhenti memukul. Ia memandang sebal dengan napas terengah. Lalu melempar bantal yang ia gunakan dan pergi. Lucas bergeming. Nyawanya pasti sudah terlepas dari tubuhnya. Ia yakin itu. Ia akui ia memang selalu memerhatikan Akemi. Tapi itu tidak berarti ia bisa disamakan dengan seorang penguntit atau semacamnya. Dan lebih lagi ia tidak m***m! Hari ini. Hari yang begitu ia tunggu di mana secara alami ia bisa berkenalan dengan Akemi. Bahkan Lucas sudah rela jika harus tertimpa pot setiap hari. Ia juga secara khusus membeli mochi kesukaan Akemi. Ia tahu benar sudah terlambat dua bulan untuk melakukan hal semacam itu, namun masih tetap ia lakukan. Tapi bukan kenyataan macam ini yang ia inginkan. Mana bisa ia menerima kenyataan pahit ini?! Akemi tidak boleh menganggap dirinya sehina itu juga! Cukup Gama dan Hiko saja! Lucas membenamkan wajah ke dalam bantal. Menyamarkan teriakannya. "Ada apa ini?" Ibu Lucas muncul dari balik pintu sambil membawa kantong belanjaan. "Kenapa anak-anakku menangis di sore yang cerah ini?" "Kenapa Hiko begitu kejam padaku," rengek Lucas dengan suara yang terdengar tak lebih dari sekedar gumaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN