Pintu menjeblak terbuka dan Akemi melonjak kaget dari tempat persembunyiannya. Ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Tubuh mungilnya menggigil hebat. Dari celah-celah lemari tempatnya bersembunyi dapat dilihatnya seseorang lewat. Berjalan pelan, memandang berkeliling dengan sebuah pisau di tangan.
Akemi menahan napas. Pandangannya mulai kabur karena air matanya yang berjatuhan.
"Keluarlah, Sayang," ucap perempuan itu. Dengan suara halusnya yang membujuk. "Aku tidak akan menyakitimu," ia berhenti bergerak dan dengan gerakan tiba-tiba menyibak selimut tebal di atas ranjang. Hanya ada bantal-bantal.
Ia memutar kepala. Tepat ke arah lemari tempat Akemi bersembunyi. Seketika Akemi memperkuat bekapannya. Ia nyaris tak bisa bernapas.
"Tidak ada di sini, ya," perempuan itu tersenyum. "Baiklah, ibu kalah. Sekarang keluarlah, sudahi saja petak umpetnya," langkah kakinya seperti diseret, setelah bicara begitu ia pergi.
Akemi melepas bekapannya. Bernapas. Bernapas. Ia mengingatkan diri. Setelah menunggu beberapa saat. Ia mengulurkan sebelah tangan. Tapi di saat yang sama, pintu lemari menjeblak terbuka dan perempuan itu muncul sambil tersenyum. Akemi berteriak keras sekali ketika pisau itu mengayun tepat di depan wajahnya.
Akemi tersentak bangun. Napasnya memburu. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Berlari menuju cermin dan memeriksa wajah.
Hanya mimpi. Barusan hanya mimpi. Ia memandang wajahnya lekat-lekat. Wajah tanpa luka yang basah itu. Tubuh Akemi merosot. Ia jatuh terduduk tanpa tenaga. Mengulurkan tangan memeriksanya juga. Tidak ada luka. Bekasnya juga tidak ada. Semua itu sudah berlalu. Ia hanya bermimpi. Ia hanya bermimpi.
Akemi memeluk diri sendiri sambil berusaha mengendalikan diri. Jangan menangis. Jangan terisak terlalu keras. Seseorang bisa mendengarmu. Seseorang. Perempuan itu.
Akemi tersentak. Pandangannya yang liar menyusuri jendela kaca yang terhubung dengan balkon. Ia bangkit. Menggeser pintu kaca itu dan melongok ke bawah. Lucas ada di bawah sana, melambaikan sebelah tangan pada seseorang di seberang jalan.
Akhirnya, Akemi menghela napas lega. Barusan itu suara Lucas. Hanya Lucas. Segalanya akan baik-baik saja. Akemi menenangkan diri sambil memeluk diri sendiri lagi. Mengusap-ngusap lengannya perlahan dan mengatur napas. Segalanya sudah baik-baik saja.
Suara alarm di ponselnya mengalihkan perhatian Akemi. Ia kembali masuk dan meraih benda itu. Ia akan bersiap-siap sekarang.
Akemi nyaris tidak mengingat seluruh kegiatannya pagi itu. Hanya saat ia berjalan turun dan menemui Lucas masih di depan apartemen, kesadarannya seolah kembali.
"Loh, Lucas?" Ia mengerjap heran. Apa yang ia lakukan sejak tadi? Hanya berdiri saja?
"Pagi, Akemi-san," Lucas tersenyum cerah dengan wajahnya yang merona merah.
Akemi balas tersenyum. Senyum Lucas terasa hangat. Ia senang. "Pagi, Lucas-san. Kau belum berangkat?"
"Belum, kebetulan sekali kita berpapasan di sini. Mau kuantar sampai halte?"
Kebetulan, ya? Akemi tersenyum geli. Jadi Lucas benar-benar sengaja melakukannya. Apa kemarin Lucas juga sengaja menunggu sampai membuatnya nyaris kejatuhan pot? Dasar Lucas ini...
"Aku senang sekali kau mau membantuku, tapi aku cukup berat, loh."
Lucas memiringkan kepala ke satu sisi dengan wajah heran. Jelas tidak percaya. "Tapi kau terlihat kurus sampai membuatku ingin mengingatkanmu untuk makan banyak."
Akemi memandangnya takjub.
"Hanya bercanda," Lucas menunjukkan senyum lebarnya. Kemudian ia menaiki sepeda itu yang sejauh ini Akemi lihat belum pernah ia naiki.
"Baiklah. Ayo naik! Aku akan mengantarmu dengan aman sampai tujuan."
Akemi tidak bisa tidak tertawa. Halte yang ia tuju hanya berjarak seratus meter dari apartemen. Bahkan mungkin kurang dari itu.
Akemi mendudukkan dirinya. Nah, ia jadi bingung harus berpegangan di mana. Jika menyentuh Lucas mungkin akan membuatnya makin gugup. Tapi jika tidak berpegangan pada sesuatu ia bisa jatuh mengingat Akemi memiliki keseimbangan tubuh yang buruk. Lagipula Lucas lebih muda darinya, ia tidak akan berpikir macam-macam. Akemi mencengkeram jaket yang Lucas kenakan. Laki-laki itu sempat tersentak. Akemi pun tersenyum malu.
Kenapa Lucas menggemaskan sekali? Rasanya ia tidak keberatan memiliki adik seperti Lucas.
Dalam waktu sebentar saja mereka sudah sampai. Benar, kan. Wajah Lucas jadi merah sekali. Akemi memandangnya sambil terus tersenyum
"Terima kasih, Lucas-san. Aku terbantu sekali."
Lucas menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Bukan masalah besar, kok," ia tertawa. "Mmm, apa aku boleh menemanimu di sini?"
"Eh? Apa kau tidak terlambat?"
Lucas nyengir. Sepertinya berharap Akemi tidak menanyakan hal itu.
"Kalau begitu apa aku boleh memanggilmu Akemi saja?"
Alis Akemi terangkat. Kaget bercampur heran. Ia tidak salah dengar, kan?
"Ah, tidak... Tidak, aku hanya bercanda," Lucas tertawa keras-keras. "Kalau begitu sampai jumpa," ia mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh.
Membingungkan sekali. Waktu itu Lucas juga kelepasan mengatakan ingin meminta nomor ponselnya. Sikapnya sangat aneh sekaligus menarik.
Bus datang lebih cepat dari biasanya. Setelah itu Akemi tidak memikirkan Lucas lagi. Ingatannya justru kembali pada mimpi buruk itu. Pada masa lalunya.
Tidak. Semua itu sudah berlalu. Hidupnya baik-baik saja sekarang. Hanya kehidupan biasa yang normal. Sebentar lagi ia akan bertemu Yuma dan Hana. Lalu ia akan melupakan semua ini lagi. Akemi memejamkan mata sesaat. Mengembuskan napas perlahan dan membuka matanya, memandang jauh ke depan. Ia sudah bertekad meninggalkan semuanya. Jadi, lupakan.
* * *
Akemi baru teringat belum mengunjungi toko bunga itu dan menanyakan perihal kaktusnya yang layu. Yang dengan terpaksa sudah ia buang juga. Kini ia berdiri di depan toko mochi favoritnya. Memandang ke seberang ke toko bunga itu. Mungkin nanti, ia memutuskan. Akemi baru akan masuk ke dalam toko ketika mendengar suara Hiko memanggil. Akemi menoleh ke arah suara. Gadis itu berlari-lari kecil menghampirinya sambil melambaikan sebelah tangan dan menggandeng Yuki di tangan yang lain, teman sekolahnya. Mereka berdua memang selalu bersama. Imut sekali.
Akemi balas melambaikan sebelah tangan dan tersenyum. "Hiko-chan, Yuki-chan, sedang apa kalian di sini?"
Hiko sampai di tempatnya berdiri dengan napas terengah. Begitu pun Yuki. Tapi gadis itu diam saja. Ia cenderung pemalu. Padahal Yuki terlihat sangat manis dengan rambutnya yang selalu dikepang. Ia juga memakai kaca mata, tapi benda itu sama sekali tidak menutupi keimutannya.
"Aku mengantar Yuki mencari hadiah untuk kakaknya yang baru pulang dari Jerman," jelas Hiko, khas dengan pembawaannya yang dewasa.
"Wah, begitu. Hebat sekali," Akemi masih ingat tentang kakak Yuki yang bekerja di Jerman. Meski tidak terlalu dekat dengan Yuki karena ia sangat pemalu, tetapi Yuki tidak keberatan Hiko menceritakan semua itu padanya. Jadi di antara mereka, seolah Hiko menjadi jembatan yang menghubungkan komunikasi mereka.
Yuki mengangguk kecil dengan pipi merona. Eh, jadi terlihat seperti Lucas. Akemi teringat. Kalau begitu, sekalian saja ia mentraktir duo imut ini makan mochi.
"Bagaimana jika kalian ikut aku makan mochi? Di sini banyak mochi lucu favoritku," Akemi menunjuk toko itu dengan bangga.
Hiko dan Yuki menggumam takjub bersamaan. Hiko memandang ke dalam toko. Meneliti dengan mata bulatnya. Lalu menoleh pada Yuki, memastikan apakah temannya yang satu itu mau. Ia sendiri tidak keberatan. Tapi hebatnya Hiko bukan tipe orang yang egois. Ia juga mementingkan teman. Akemi sering berpikir bolehkah ia menculik Hiko dan Yuki sehari saja. Mereka terlalu menggemaskan.
Butuh waktu lama bagi Yuki untuk mengangguk setuju. Itu pun ia menunduk tanpa berani memandang Akemi. Akemi tersenyum senang dan dengan penuh semangat mengajak keduanya masuk.
Hiko terlihat sangat antusias memandang mochi dalam etalase, namun meski begitu tidak pernah sekali pun ia melepaskan genggaman tangannya pada Yuki.
"Pilihlah yang kalian inginkan, yang mana saja."
Yuki memandang malu-malu. Kemudian sorot matanya berbinar cerah begitu memerhatikan semuanya. "Itu, sangat lucu," ia menunjuk sebuah mochi berbentuk karakter kartun berwarna merah muda.
"Kalau aku ingin yang itu," Hiko menunjuk sebuah mochi berwarna kuning. Sesaat kemudian ia menggeleng. "Yang itu saja," ia menunjuk mochi berwarna cokelat.
Pelayan dari balik etalase tersenyum ramah. Ia sudah hapal dengan Akemi yang menjadi langganan di sana.
"Tolong yang merah muda, kuning dan cokelat itu," katanya pada si pelayan. Yang langsung menyiapkan pesanannya.
Hiko nampak terkejut.
Akemi tidak menghiraukan keterkejutan Hiko. "Mau yang mana lagi? Pilih sesuka kalian jangan sungkan."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama mengenal Hiko, baru kali ini Akemi melihat wajahnya memerah.
"Terima kasih, Nee-chan, tapi aku tidak mau terlalu merepotkanmu."
"Tidak, kok. Aku senang ditemani kalian makan mochi favoritku."
Yuki tersenyum. Ingin mengucapkan sesuatu juga, tapi tidak berani. Akemi mengerti dan memilih untuk diam saja. Tidak ingin memaksanya untuk bicara. Ia tidak masalah dengan itu.
Akemi memberitahukan pesanannya, kemudian mengajak Yuki dan Hiko menunggu di meja bundar kecil di tengah-tengah meja lain. Hanya ada tiga meja yang tersedia di sini, dengan masing-masing terdapat empat kursi.
Hiko tersenyum senang, tidak sabar menunggu mochi dan minuman pilihannya datang. Ia memilih jus cokelat sama seperti Akemi. Sedangkan Yuki memesan jus stroberi. Akemi jadi mendapatkan pengetahuan baru bahwa Yuki sangat menyukai stroberi.
Tak lama pesanan mereka datang dan ia berseru senang. Tidak lupa bersamaan mengucapkan terima kasih pada pelayan yang membawakan pesanan mereka. Selain imut, mereka sangat sopan, pikir Akemi.
"Nee-chan baik sekali," ujar Yuki dengan suara lirihnya. "Aku jadi ingin menjadikan Nee-chan sebagai kakak iparku juga."
Eh? Dari mana anak sekecil ini mengerti hal semacam itu? Akemi menahan diri agar tidak tertawa. Jangan sampai Yuki mengira ia mentertawakan dirinya. Padahal Yuki sudah memberanikan diri untuk bicara.
"Sayang sekali tidak bisa," ucap Hiko dengan mulut penuh. Di saat seperti ini ia baru terlihat seperti anak seusianya. "Kau kalah cepat dari Onii-chan. Yah, meski sebenarnya aku tidak terlalu rela, sih. Tapi ia satu-satunya kakak yang kumiliki."
Yuki tersenyum dengan wajah merahnya yang imut.
Akemi ingin bertanya sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Tapi tidak ingin merusak kebahagiaan mereka. Jadi ia tersenyum saja menanggapi keduanya.
Hiko menelan seluruh mochi dimulutnya. Meminum jus cokelatnya sampai tinggal setengah dan mendesah lega. "Kau tahu, Nee-chan? Onii-chan selalu menunggumu di depan apartemenmu setiap hari. Aku yakin dia terkena karma nyaris kejatuhan pot itu."
"Ah... Benarkah, kurasa itu karena aku ceroboh," entah kenapa Akemi tidak merasa terkejut mendengar hal itu. Mungkin karena kejadian pagi tadi. Lucas memang jelas terlihat menunggu dengan sengaja.
"Lalu kemarin Nii-chan senang sekali karena akhirnya berkenalan dengan Nee-chan," Hiko menggelengkan kepala.
Akemi tidak bisa tidak tertawa. "Lucas Onii-chan orang yang baik, ya. Pagi tadi dia mengantarku sampai ke halte, loh."
Hiko mencibir. "Modus."
Akemi tidak menyangka. Pemikiran Hiko ini terlalu dewasa untuk anak seusianya.
"Lucas Onii-chan itu sangat menyebalkan."
Akemi memiringkan kepala ke satu sisi. Menimbang-nimbang. Ia penasaran kenapa Hiko sebegini sebalnya pada Lucas. "Hiko-chan, apa aku boleh tahu kenapa kau sangat sebal pada Lucas Onii-chan?"
Hiko terkejut. Tapi segera memasang wajah sebalnya lagi. "Pokoknya Nii-chan menyebalkan, aku benci dia."
Baiklah. Sebaiknya Akemi tidak memaksa Hiko bercerita.
"Mmm, itu," Yuki membuka suara. "Kurasa aku akan membelikan mochi untuk kakakku."
"Itu ide yang bagus, Yuki-chan. Kakakmu pasti suka. Aku yakin tidak ada seorang pun di dunia yang bisa menolak keimutan mochi ini. Benar, kan, Hiko,chan?"
Hiko mengangguk setuju.
"Kalau begitu, maukah Akemi Nee-chan mengantarku memberikannya pada kakakku?" Ia tersenyum malu-malu.
"Heh... Kau sungguh-sungguh mau bersaing denganku, Yuki?"
Tidak. Jangan sampai mereka ribut karena masalah sepele ini.
Yuki tertawa kecil. Hiko menghela napas. Sementara Akemi sudah cemas sekali.
"Yah, aku tidak bisa memaksakan perasaan seseorang, sih. Kurasa kita bisa bersaing secara sehat," ia tersenyum begitu cerahnya.
Akemi merasa sebagian dirinya menguap hilang. Ayolah, apa yang anak-anak ini pikirkan. Kenapa mereka bisa semenggemaskan itu?
"Tapi, Nee-chan," Hiko memandang Akemi dengan wajah serius sekarang. "Lucas Onii-chan sungguh menyukaimu. Dia tidak bercanda."
Akemi mengerti. Wajah Hiko juga menunjukkan keseriusan yang tidak main-main. Tapi bagi Akemi, semua ini hanya pembicaran anak kecil saja. Bagian dari imajinasi mereka. Ia tidak menanggapinya dengan serius.
Jadi sekali lagi. Ia hanya tersenyum simpul.