Tak bisa dipungkiri Akemi merasa sedikit gugup. Ia kini sedang berada di rumah Yuki, sesuai permintaan gadis kecil itu sewaktu di toko mochi. Ia ingin Akemi membantunya untuk memberikan mochi pilihannya pada sang kakak. Meski begitu, Akemi sangat menghargai permintaan Yuki. Terlebih meski dengan wajah memerah dan ucapan yang terbata-bata, ia jadi lebih banyak bicara sekarang. Yah, mana bisa Akemi mengabaikan keimutan semacam itu?
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki disusul suara "aku pulang" dari arah pintu. Ibu Yuki sebelumnya mengatakan pada mereka bahwa sang kakak sedang keluar ke minimarket. Ah ya, bahkan ibu Yuki juga terkejut dengan permintaan sang anak pada Akemi. Tapi begitu melihat kegigihan sang putri ia berhenti berkomentar dan berhenti meminta maaf pada Akemi karena sudah merepotkannya. Dengan begitu suasana canggung saat itu sedikit merenggang.
"Onii-chan!" Yuki berseru dengan kekuatan yang belum pernah Akemi lihat sebelumnya. Gadis mungil itu berlari dan melompat ke dalam pelukan sosok jangkung yang baru masuk.
"Onii-chan kenapa pergi, aku sudah menunggu lama."
Ibu Yuki menggeleng-geleng membuat Akemi nyengir, karena faktanya mereka belum menunggu terlalu lama.
Kakak Yuki tertawa. "Ah, ya maaf-maaf, habisnya Yuki keluar tanpa mengajak Nii-chan."
Oh, seolah teringat, Yuki turun dari gendongan sang kakak dan berbalik menatap Akemi dengan mata berbinar-binar. Ditatap begitu bagaimana bisa hatinya tidak meleleh?
"Ah, halo," Akemi bangun dari duduknya dan menyapa laki-laki itu seramah yang ia bisa. Setengah berharap tidak terlihat terlalu gugup juga.
"Oh, ya, halo," ia ikut membungkukkan badan dengan raut wajah bingung. Sekilas melirik sang ibu yang Akemi sangat mengerti sebagai pertanda menanyakan siapa.
Yuki masih menatap Akemi dengan matanya yang berbinar-binar penuh harap. Lantas seketika dengan gugup Akemi mengulurkan sebuah kotak mochi padannya. "Ini, aku membantu Yuki-chan untuk memberikan hadiah untukmu atas kepulanganmu dari Jerman," Akemi tersenyum aneh, sadar benar kata-katanya terdengar berantakan.
"Wah, benarkah?" Ia mengulurkan kedua tangan dan dengan sopan menerima kotak mochi itu. "Ah, terima kasih kalau begitu, maaf Yuki pasti merepotkanmu ya?" Ia tersenyum gugup sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Tidak, tidak, tentu tidak," diliriknya Yuki yang kini bergantian menatap dirinya dan sang kakak.
"Apa Onii-chan menyukainya?"
"Eh?" Ucap Akemi dan kakak Yuki bersamaan.
"Iya, apa kakak menyukainya?"
Semburat samar muncul di wajah laki-laki di hadapannya. Ia terlihat salah tingkah seketika.
"Mmm, itu sebelumnya apa aku boleh tahu siapa namamu?"
Dengan rasa gugup yang meningkat tiba-tiba Akemi berusaha bicara. "Namaku Akemi, namamu?"
"Aku Toji, senang berkenalan denganmu Akemi-san," ia tersenyum meski begitu terlihat jelas ia juga gugup dan salah tingkah.
"Jadi Onii-chan menyukainya kan?" Yuki berseru tak sabar.
"Ah, iya, Onii-chan menyukai apa pun yang kau sukai."
Senyum Yuki mengembang bak seorang malaikat. "Kan apa kubilang, mochi pilihan Akemi Nee-chan memang yang terbaik. Aku juga menyukainya!"
"Eh?" Ketiga orang dewasa dalam ruangan itu sama-sama terkejut. Karena mendadak sadar apa yang mereka kira tidak sesuai dugaan mereka. Seketika wajah Akemi dan Toji bersamaan makin memerah.
Yah, begitulah. Akemi yakin ia nyaris terkena serangan jantung karena terlalu malu.
* * *
Yuma tertawa terbahak-bahak setelah mendengar keseluruhan cerita yang Akemi ceritakan padanya. Hana juga tertawa meski tak sekeras Yuma, meski begitu Akemi tahu temannya yang kebanyakan membaca shoujo manga ini menyimpan pikiran yang tidak-tidak. Yah, kalau sudah begini ia jadi menyesal sudah menceritakannya pada mereka.
"Lalu setelah itu bagaimana?" Hana bertanya dengan rasa antusias yang ia sembunyikan. Tahu benar Akemi tak akan mau menjawab jika ia menunjukkan rasa antusiasnya yang sesungguhnya.
Akemi mendesah keras, seolah menunjukkan pada dua temannya itu betapa lelahnya dirinya.
"Tentu saja aku langsung pulang setelahnya. Untungnya Yuki cukup puas dengan itu dan tidak memintaku melakukan hal lain lagi."
Yuma tertawa makin keras. "Pastilah kalian berdua malu sekali, jika berada di posisi kalian aku lebih memilih menghilang dari muka bumi."
Akemi mendengus padanya. "Tentu saja, aku juga ingin menghilang saat itu."
Hana menggembungkan pipi pertanda kecewa. "Tidakkah kau berpikir untuk bertukar nomor ponsel dengannya?"
"Tidak!" Sahut Akemi tegas. "Aku bahkan tidak ingin mengingat kejadian itu lagi, dan seterusnya bahkan aku tidak ingin bertemu dengannya."
Hana mendesah kecewa. "Yah... padahal kisahmu bagus sekali, aku heran kenapa kau bisa seberuntung itu. Kemarin Lucas dan sekarang Toji, setelah ini siapa? Mungkin seorang CEO kaya yang menyamar menjadi pria miskin sederhana untuk menemukan cinta sejatinya?"
Baiklah, Akemi merasa ingin muntah sekarang.
"Hah! Siapa itu Lucas?" Yuma berhenti tertawa dan melayangkan pandangan penuh rasa ingin tahu.
Mata Hana berkilat dan segera saja menceritakan insiden yang dialami Akemi saat bertemu Lucas pertama kali.
Akemi bergeming sesaat. Beginikah kehidupan yang normal itu? Ia tersenyum samar sembari memandang langit. Merepotkan... Tapi jauh lebih menenangkan.