Akemi memeriksa arlojinya dengan gelisah dan mendesah. Lantas ia dengan langkah hati-hati turun dari bus terakhir malam itu. Malam yang pekat menyambutnya begitu bus pergi meninggalkan ia sendirian di halte. Akemi menghela napas sekali lagi sembari mengumpulkan keberanian. Gara-gara beberapa tugas yang harus ia lakukan hari ini juga di perpustakaan, ia jadi terlambat pulang begini. Rasanya menyebalkan.
Sambil terus menahan diri agar tidak berpikir macam-macam, Akemi melangkahkan kaki menyeberangi jalan. Saat siang hari tempat ini bahkan tidak terasa menakutkan ya? Tapi begitu malam tiba suasananya jadi berubah seratus delapan puluh derajat.
Menembus kesunyian malam itu. Akemi terus-terusan memaksakan diri untuk menyibukkan otaknya agar memikirkan banyak hal. Apa pun selain dugaan-dugaan buruk seperti sesuatu bisa melompat menerjangnya dari semak-semak atau tiba-tiba ada orang asing yang menikamnya dari belakang.
Ah, sial. Akemi mengutuk kebodohan dirinya sendiri. Bukankah sudah ia peringatkan untuk tidak berpikiran aneh-aneh?
Akemi mempercepat langkah. Mengabaikan napasnya yang mulai tersengal karena lelah ia terus menambah kecepatan. Makin lama ia makin merasa yakin ada orang lain yang sedang memperhatikan dirinya, dan dugaan itu membuat ia menjadi gugup sampai membuat kakinya beberapa kali tersandung. Akemi mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tenang. Karena jika ia sampai terjatuh siapa pun yang sedang mengawasinya saat itu pasti lah akan dengan mudah menyerang dirinya. Hei, tunggu! Sejak kapan dirinya setuju dengan dugaan bahwa memang ada seseorang yang mengikuti?!
Akemi terkesiap keras saat didengarnya suara ranting patah. Pastilah seseorang tanpa sengaja menginjaknya. Melawan keinginan dirinya untuk menoleh, Akemi mempererat pegangannya pada satu-satunya tas tangan yang ia bawa dan mulai berlari. Sedikit lagi ia akan mencapai pertigaan menuju apartemen. Tapi semakin dekat jarak yang dibutuhkan mencapai pertigaan itu, langkah-langkah kaki di belakang tubuhnya juga terasa makin jelas terdengar.
Tidak. Tidak. Suara-suara itu pasti hanya khayalannya sendiri karena terlalu cemas.
Sepuluh meter menuju belokan, muncul sosok tinggi memakai tudung hitam. Akemi tersentak dan sontak menghentikkan langkah. Yakin benar dirinya telah mati karena serangan jantung.
Sosok tinggi itu ikut berhenti begitu menyadari kehadiran Akemi. Akemi merasa seluruh tubuhnya gemetaran dan ia tidak bisa bergerak. Lantas sosok itu membuka tudung yang dipakainya, kemudian bisa dirasakannya udara kembali mengalir ke dalam paru-parunya begitu tahu sosok itu adalah Lucas.
Lucas tersenyum seramah biasanya, kemudian berlari-lari kecil ke tempat Akemi berada.
"Akemi-san..." Ia berseru ceria, membuat mau tak Akemi ikut tersenyum karenanya.
"Oh, Lucas-san, kupikir siapa... aku nyaris terkena serangan jantung karena melihatmu."
Lucas nampak terkejut dengan ucapan Akemi itu. "Eh? Begitukah? Maaf kalau begitu, aku tidak bermaksud mengejutkanmu."
Akemi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, aku justru lega kau ada di sini," ah, ya, Akemi jadi teringat tadi ia merasa diikuti. Ia pun menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapa pun di sana. Ia menghela napas lega. Benar kan, tadi itu hanya halusinasinya.
"Oh, ya, Lucas-san kenapa ada di sini malam-malam begini?"
Semburat kemerahan muncul di wajah Lucas seketika. Ia tersenyum salah tingkah dan menggaruk pipinya yang tak gatal. Sikap yang membuat Akemi merasa sepenuhnya aman.
"Sebenarnya jam delapan tadi ibu ingin mengajakmu makan malam bersama, tapi saat aku datang ke apartemen kau tidak ada."
Alis Akemi saling bertaut. "Makan malam?"
"Ya! Ibu memang sering mengadakan pesta kecil-kecilan semacam itu bersama penghuni apartemen."
"Ah, sayang sekali aku melewatkannya."
Lucas tersenyum sedih seolah merasakan kekecewaan yang sama. Kemudian Akemi menyadari, Lucas datang ke apartemennya dan mendapati ia tidak di sana. Lantas apakah sejak itu Lucas menunggu kepulangannya? Bahkan Lucas sengaja menjemputnya ke halte?
"Mmm, Lucas-san."
"Ya?"
"Kau bilang kau datang ke apartemen untuk mengundangku dan tahu aku sedang di luar, lalu apa sejak itu kau menungguku? Kau ada di sini juga apa karena ingin memastikan aku akan pulang atau tidak?"
Wajah Lucas langsung memerah bak tomat. Ia berusaha mengatakan sesuatu tapi segala kata-katanya tumpang tindih dan pada akhirnya dia tidak memberikan penjelasan apa pun.
Akemi tertawa kecil karenanya. "Terima kasih, Lucas-san," ucap Akemi sungguh-sungguh.
"Eh?"
"Aku senang sekali memiliki tetangga yang perhatian sepertimu. Sejujurnya juga aku memang takut gelap, karena itu rasanya lega sekali melihatmu tiba-tiba muncul."
Lucas tersipu dengan cara yang manis sekali. Membuat Akemi menegaskan sekali lagi bahwa dirinya tidak keberatan jika bisa memiliki adik seperti Lucas.
"Oh, ya, mungkin kau juga bisa memiliki nomor ponselku, dengan begitu aku tidak akan ketinggalan pestanya lagi," Akemi merogoh tas tangannya dan mengeluarkan ponsel.
Sementara Lucas dengan terburu-buru merogoh saku jaketnya mencari ponselnya juga. Raut wajahnya berubah semakin cerah. Matanya berbinar seolah baru saja mendapati mimpinya menjadi nyata.
Setelah itu, Akemi bisa sampai ke apartemen kecilnya yang nyaman dengan perasaan damai dan aman. Lucas dengan bersemangat mengantarnya sampai ke depan pintu dan berkali-kali meyakinkan Akemi bahwa dirinya kuat terus berjalan jauh dan tidak takut pulang sendirian ke rumahnya.
Begitu masuk ke dalam apartemen. Akemi segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Tadi itu benar-benar menakutkan. Ia tidak tahu bagaimana jadinya jika Lucas tidak datang. Ah, anak itu benar-benar baik sekali. Kemudian tiba-tiba terbersit sebuah pemikiran aneh yang beberapa kali diucapkan Hana padanya.
Mungkinkah? Akemi memiringkan kepalanya ke satu sisi. Mungkinkah Lucas menyukai dirinya? Seketika itu juga Akemi mengerutkan kening. Ia tahu benar tak baik menyimpulkan sendiri perasaan orang lain terhadap dirinya. Sampai beberapa menit kemudian, sebuah dentingan samar terdengar dari ponsel dan sebuah pesan dari Lucas muncul. Dia mengucapkan selamat tidur dan selamat beristirahat dengan emoticon yang lucu. Akemi mendesah, khas Lucas sekali.
Dengan berat Akemi menarik dirinya untuk bangun. Setidaknya ia harus mencuci muka dan menyikat gigi. Tapi sepertinya ia juga sedikit lapar. Mungkin ramen cukup menyenangkan. Yah, sudah diputuskan. Lagi pula Akemi tahu benar ia tidak akan bisa tidur dengan perut keroncongan.
Jadi begitu selesai memasak ramen dan menambahkan rumput laut banyak-banyak. Akemi duduk di sofa sebelah pintu kaca dan menonton film dari laptopnya. Tidak hanya sekali dua kali terlintas dipikarannya mengenai ucapan-ucapan Hana. Sial, ia mendesis dalam hati. Apakah ia mulai terpengaruh dengan kegilaan Hana dan shoujo manganya?
Akemi menggeleng-gelengkan kepala dan mengalihkan pandangan sembari berusaha melupakan kata-kata Hana yang berputar dalam kepalanya.
Tapi, jika pun Lucas memang menyukainya lalu kenapa? Lucas jauh lebih muda darinya. Dan menyukai laki-laki yang jauh lebih muda membuat Akemi merasa seperti seorang kriminal. Ah, sial. Lucas memang tampan sih. Dia juga tinggi. Hanya saja ia terlalu pemalu.
Hei, tunggu, tunggu! Kenapa ia jadi berpikir sejauh itu? Tidak, tidak, ini tidak bisa dibiarkan.
Akemi menundukkan pandangan dan memfokuskan dirinya sepenuhnya pada mangkuk ramen dan menolak untuk mengingat semua ucapan Hana lagi.