Esok paginya saat Akemi keluar menuju balkon untuk menyirami tanaman, ia melihat Lucas di bawah di seberang jalan dengan sepedanya seperti biasa. Untuk pertama kalinya Akemi merasakan sensasi aneh dalam dirinya saat melihat laki-laki itu.
Ah, benar. Pagi ini Lucas juga mengiriminya pesan, ucapan selamat pagi yang lucu, benar-benar khas dirinya. Bahkan dari pesan singkat itu Akemi merasa seolah bisa mendengar suara Lucas secara langsung.
Mungkinkah Lucas benar-benar menunggunya? Akemi cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, kembali bergegas masuk, meraih tas tangan dan beberapa buku yang telah ia siapkan dan berjalan keluar dengan kecepatan yang tak biasanya. Ia sendiri tidak tahu. Apakah dirinya juga bersemangat karena akan bertemu Lucas? Ah, rasanya benar-benar menyebalkan. Ia sudah terlalu tua untuk laki-laki itu. Begitu yang Akemi pikirkan.
Saat di lantai dasar, begitu menyadari kehadiran Akemi, Lucas langsung berseru riang dan menuntun sepedanya mendekat.
"Pagi Akemi-san, kebetulan bertemu di sini, mau kuantar sampai halte?"
Akemi tertawa kecil mendengar kepolosan Lucas. Ia sendiri bertanya-tanya kapan Lucas akan berhenti berpura-pura bersikap pertemuan mereka adalah ketidaksengajaan. "Tentu Lucas-san, bantuanmu sangat berharga bagiku," Akemi mengatakannya dengan sungguh-sungguh sehingga membuat orang yang dituju tersipu.
Mengabaikan fakta betapa memerah wajahnya saat itu, Lucas dengan senang hati mengantarkan Akemi ke tempat tujuan. Akemi juga tidak tahu, perasaan aneh ini membuatnya serba salah. Meski jika dipikirkan sekali lagi, maka akan terlihat jelas perasaan Lucas padanya. Karena semua itu, Akemi sadari, tergambar jelas di wajahnya yang selalu memerah namun tampak selalu ceria.
Kali ini perjalanan singkat itu terasa begitu singkat, anehnya Akemi merasa lega bisa berpisah dengan Lucas. Mungkin karena rasa bersalahnya atau apa, ia sendiri tidak benar-benar memahami perasaannya sendiri. Tetapi, ketika pada akhirnya Lucas berpamitan untuk berangkat ke sekolahnya, Akemi menyadari ada perasaan berat yang mengikuti kepergian laki-laki itu. Sikap Lucas yang pemalu dan selalu berusaha menutupinya dengan kecerobohan mendadak terasa lebih menyenangkan untuk dilihat.
Akemi nyengir sendiri. Sudahlah, Lucas sudah pergi. Lagi pula, jika sekali pun Lucas memang menyukai dirinya, Akemi tahu ia tidak bisa menerima perasaan laki-laki itu. Akemi mendesah, hampir-hampir seolah terlihat lelah. Benar, ia mengingatkan diri sendiri sekali lagi. Dirinya terlalu tua untuk Lucas. Dan jika sampai ia menjalin hubungan dengan seseorang yang lebih muda, belum apa-apa Akemi sudah merasa bertanggung jawab untuknya.
Untungnya bus datang tak lama kemudian dan Akemi bisa berhenti memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi mengenai Lucas dan dirinya.
* * *
"Kau terlihat aneh hari ini," celetuk Yuma sembari menatap Akemi yang duduk di hadapannya.
Saat ini Akemi, Yuma dan Hana sedang berada di kafetaria kampus, tempat favorit mereka untuk makan siang.
"Hah? Apa?" Akemi mengalihkan perhatian dari layar ponsel pada temannya yang satu itu.
Yuma mengerucutkan bibir serupa kau saat sedang kesal. "Kau aneh sekali seperti sedang memikirkan sesuatu, memikirkan apa sih?"
Hana yang mendengar ucapan Yuma itu, dengan sangat aneh mengalihkan parhatiannya dari shoujo manga yang sedang dibacanya dan menatap kedua temannya bergantian. Seakan hanya dengan begitu ia bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan mereka.
Akemi tersenyum aneh. "Oh, entahlah," yah, karena ia sendiri juga tidak tahu pasti apa yang sedang ia pikirkan.
Yuma kembali mengerucutkan bibir. Tak puas pada jawaban Akemi yang sama sekali tidak memberinya penjelasan.
"Jangan-jangan kau sedang jatuh cinta. Apa kau bertemu dengan CEO kaya atau bagaimana?" Kata Hana seenaknya.
Kalimat pertama Hana itu rasa-rasanya hampir membuat Akemi terkena serangan jantung. Pada detik pertama ia mengira Hana tahu apa yang ada dipikirannya, tetapi kemudian bersyukur karena temannya yang satu itu tak lebih dari korban cerita romance.
"Jika aku benar-benar bertemu CEO kaya untuk apa aku masih kuliah? Kurasa lebih baik untuk langsung menikahinya dan pindah ke Maldives," ucap Akemi berlagak mendadak lelah dengan segala aktivitas mereka sebagai mahasiswa.
Yuma mendenguskan tawa, sementara Hana mencibir sesaat lalu kembali memusatkan perhatian pada makan siangnya dan shoujo manga tercintanya.
"Jadi itu kah yang kau pikirkan, huh? Menemukan pangeran kaya atau semacamnya?" Kata Yuma dengan nada bercanda, sengaja mengacaukan ketenangan Hana dengan kegiatan membacanya.
Akemi baru akan menimpali candaan Yuma saat tiba-tiba sebuah dentingan kecil menandakan sebuah pesan masuk dalam ponselnya terdengar. Ia lantas kembali menunduk dan memeriksa benda itu. Ia sudah nyaris menduga hal ini akan terjadi, meski ia akui juga ia merasa kecewa karena Lucas baru menghubunginya lagi sekarang. Nah, kan. Apa yang sudah ia pikirkan?
Lucas mengucapkan selamat siang dan menanyakan apakah Akemi sudah makan siang. Ia sendiri mengirimkan foto makan siangnya, menggemaskan sekali. Akemi jadi menduga Lucas tidak memiliki bahan obrolan tertentu yang bisa ia gunakan untuk mengobrol dengan dirinya. Mungkin karena itu ia jadi menunggu hingga siang hari.
Tanpa menyadari bahwa Yuma dan Hana memerhatikan dirinya, Akemi memotret makan siangnya sendiri dan mengirimkannya pada Lucas. Setengah mengeluh padanya karena makanan di kafetaria hanya ini-ini saja.
Secara bersamaan Yuma dan Hana berdeham. Akemi segera tersadar dan mengalihkan perhatian pada dua orang di hadapannya itu yang sama-sama menunjukkan raut wajah penasaran.
"Tidak biasanya kau senyum-senyum sendiri begitu, dari siapa?" Tanya Hana dengan tatapan penuh selidik.
Dengan gerakan tiba-tiba Yuma menepuk meja dan menggumamkan "oh" seolah baru menyadari sesuatu. "Kurasa makhluk satu ini sudah mengkhianati kita," katanya dengan nada serius pada Hana. "Dia pasti diam-diam sudah memiliki pacar sekarang. Nah, ini jadi menjelaskan kenapa kau terlihat terus-terusan sedang memikirkan sesuatu seharian ini."
Dengan cara paling dramatis yang pernah ada, Hana berlagak terkejut sampai-sampai menjatuhkan shoujo manganya. "Astaga, aku terkejut sekali. Pasti Toji sudah mengambil langkah awal ya? Jangan-jangan diam-diam kalian bertemu di belakang Yuki?"
Akemi meringis dan menahan keinginan terbesarnya untuk menjitak kepala Hana. Lebih lagi mendengar nama Toji lagi seketika mengembalikan ingatan buruknya pada hari itu. Akemi mendesah keras-keras sengaja agar didengar mereka. "Kan sudah kukatakan aku tidak memiliki cukup harga diri yang tersisa untuk bertemu lagi dengannya. Selain itu, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia."
Hana dan Yuma saling pandang sesaat.
"Lalu apakah mungkin ini Lucas?" Tanya Yuma setengah tak yakin.
Hana menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi seolah menyangsikan pertanyaan itu dan reaksi Akemi yang disadarinya secepat kilat. "Kau sendiri juga bilang Lucas terlalu muda untukmu, apa kau berubah pikiran?"
Akemi berharap wajahnya tidak menunjukkan emosinya yang aneh. Lantas dengan berusaha tenang ia kembali menjelaskan. "Oke, ini memang Lucas yang mengirimiku pesan-"
"Oh, demi Tuhan, sudah kuduga!" Hana memekik sambil menyentak berdiri.
Yuma juga sama. "Tapi kukira ini akan menjadi Toji," ia berseru dengan sama kerasnya dengan Hana, membuat Akemi berharap bisa menghilang atau menguap saja menjadi udara.
"Hei, hei dengarkan aku dulu sialan," Akemi mengetuk-ngetuk meja berusaha menarik perhatian kedua temannya yang i***t itu. "Oh, baiklah aku tidak akan menjelaskan apa pun jika kalian tetap berisik."
Yuma dan Hana nyengir bersamaan lantas kembali mendudukkan diri.
Akemi menghela napas dalam sekali lagi sebelum memulai. "Jadi kemarin malam kita pulang terlambat, benar kan?"
Hana dan Yuma mengangguk serempak. Menekan rasa antusias mereka dengan mata berbinar-binar.
"Nah, jadi semalam itu bibi pemilik apartemen mengadakan acara makan malam bersama. Lucas mencariku ke apartemen tapi tidak ada, jadi kurasa dia menungguku. Dan saat aku ketakutan berjalan pulang dari halte dia tiba-tiba muncul. Tentu aku sangat bersyukur dengan itu karena dia aku bisa pulang dengan selamat. Lalu aku memberikan nomor ponselku agar lain kali bibi mengadakan pesta dia bisa mengundangku dan aku tidak akan ketinggalan acaranya."
"Oh... jadi tadi Lucas mengirimimu pesan karena ada undangan dari ibunya?" Tanya Yuma dengan mata disipitkan seolah menyelidik.
Entah kenapa, tapi Akemi tidak bisa tidak tertawa karenanya. "Tidak juga."
"Oh..." Seru Yuma dan Hana sembari bertukar tatapan penuh arti.
"Tapi tetap saja, meski Lucas memang menyukaiku sekali pun, dia tetap terlalu muda untukku."
"Dia memang menyukaimu," ucap Hana santai seolah ia sudah tahu faktanya.
Yuma juga memiliki pendapat yang sama dengannya. "Benar, segala buktinya sudah ada, apa lagi yang kau tunggu?"
"Yang kutunggu jidatmu," Akemi balas berseru sekaligus gagal menahan mimik serius di wajahnya. "Lantas jika aku tahu dia menyukaiku aku harus apa? Menembaknya lebih dulu? Sinting."
Akemi mendesah seolah lelah dan mengalihkan pandangan. Dalam kehidupan normalnya saat ini, ia bahkan belum memikirkan tentang itu. Tentang memiliki seseorang yang bisa diandalkan, seseorang yang bisa dijadikan sandaran dan seseorang yang bisa dicintai sepenuh hati. Tapi, mendadak Akemi teringat. Dengan mimpi buruk yang masih mengejarnya itu, apakah ia benar-benar bisa sepenuhnya menjalani kehidupan yang normal?