Sudah sebulan berlalu sejak Akemi bertukar nomor ponsel dengan Lucas. Sejauh ini, mereka setiap pagi bertemu dan Lucas akan mengantarnya ke halte. Bahkan sampai sejauh ini Lucas tidak lagi segugup dan sepemalu dulu dan hal ini membuat Akemi senang karena sesungguhnya Lucas adalah tipe orang yang menyenangkan. Sementara itu juga, Akemi tahu, dirinya tidak bodoh dan cukup dewasa untuk mengerti bahwa Lucas memang menyukai dirinya.
Terkadang Akemi merenung dan bertanya-tanya semenyenangkan ini kah kehidupan normal itu? Apakah dirinya pantas menerima kehadiran Lucas yang terasa bagai angin segar yang membawa banyak keceriaan? Entah dalam keadaan apa pun, baik disengaja mau pun tidak, Lucas selalu berhasil membuat Akemi terhibur. Bahkan termasuk melupakan mimpi-mimpi buruknya.
Akemi mendesah tanpa suara dan mengalihkan pandangan ke bawah balkon. Ia senang. Ia akui itu. Bahkan hari ini ia memiliki janji dengan Lucas untuk nonton film. Yah, seperti kencan saja. Tetapi Akemi sejak awal berusaha menunjukkan bahwa dirinya tidak berpikir demikian, walau ia sendiri ragu apakah usahanya berhasil. Karena sejujurnya dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak bisa mengabaikan cara Lucas memperlakukan dirinya. Sebaik dan semenyenangkan apa sikap laki-laki itu padanya.
Akemi mendesah lagi, kali ini sadar benar ia merasakan semangat yang aneh.
Lalu saat itu lah ia melihat Lucas, berjalan terburu-buru sembari merapikan coat cokelat panjang yang ia kenakan, mengusapnya di sana-sini seolah takut akan ada lipatan atau debu yang mengganggu penampilannya. Akemi tidak ingat tapi ia rasa ini adalah pertama kalinya ia terpukau pada penampilan laki-laki itu. Bahkan Lucas juga merapikan rambutnya membuatnya terlihat lima kali lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya. Akemi tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Tawa senang bercampur antusias yang serasa akan meledak-ledak. Ia berbalik masuk, menutup pintu kaca balkon, meraih tas tangan yang sudah ia siapkan di atas ranjang, memeriksa penampilannya sekilas di cermin dan melangkah cepat keluar.
Ia bertemu dengan Lucas di depan tangga. Lagi-lagi Lucas menunjukkan senyum dengan cara yang menakjubkan dan menular, membuat siapa pun yang melihat senyumnya tidak bisa tidak balas tertawa.
Dengan langkah ringan Akemi menuruni beberapa anak tangga terakhir dengan langkah lebih lambat. Hingga akhirnya ia menginjakkan kakinya di lantai dasar dan mereka berdua hanya saling bertukar pandang untuk beberapa saat. Lucas yang selalu terpukau setiap kali melihat Akemi meski sudah melihatnya setiap hari itu hal yang biasa. Tetapi Akemi yang terpukau atas penampilan Lucas saat ini adalah hal yang lain lagi. Sayangnya Lucas sama sekali tidak menyadari hal itu. Terlalu sibuk pada kecantikan Akemi yang selalu berhasil memguasai dunianya.
"Jadi, kita jadi pergi?" Akemi memiringkan kepala ke satu sisi dengan sikap yang lucu.
Lucas tersadar dari lamunan dan menepuk kening yang langsung disesalinya. Jelas ia sudah berusaha cukup keras untuk mengatur rambut dan tak ingin merusaknya. "Ya, tentu saja."
Akemi mendesah sembari tersenyum. "Aahh, irinya. Laki-laki hanya perlu mengubah gaya rambut mereka lalu mereka bisa terlihat begitu berbeda setelahnya," ucapnya berlagak iri.
Lucas mengerjap. "Apakah aku terlihat berbeda?" Ia menatap coatnya sendiri seolah berusaha menilai.
Akemi mendenguskan tawa kecil.
"Eh?" Lucas nampak makin bingung. "Apa kau tidak menyukainya?"
Akemi menggelengkan kepala. "Tidak, aku suka."
Wajah Lucas memerah seketika.
Akemi tertawa lagi lantas mengajak Lucas untuk bergegas agar mereka tak tertinggal bus.
Dan begitulah. Hari ini berjalan sangat menyenangkan jika Akemi boleh menilai. Dan keraguannya pada usia Lucas sekaligus dihilangkan hari ini karena sikap Lucas secara tak sadar telah membuktikan semuanya. Pada saat seperti itu, bahkan Akemi terkadang lupa bahwa Lucas lebih muda darinya. Terlebih, Lucas tidak terlihat seperti seseorang yang berpengalaman dalam berkencan. Jadi Akemi rasa, Lucas melakukannya berdasarkan keinginan hatinya sendiri. Tidak dibuat-buat.
Setelah menonton film mereka memutuskan untuk mampir ke game center. Saat itu Akemi baru menyadari betapa tidak pekanya Lucas pada lingkungan sekitar, atau mungkin dia hanya tidak peduli? Karena nampaknya Lucas benar-benar tidak mengacuhkan pandangan gadis-gadis padanya. Yah, hal itu lucu sekaligus menyebalkan sih. Toh Akemi yakin dirinya cukup cantik untuk disandingkan dengan laki-laki tampan.
"Ada apa?" Tanya Akemi saat mendadak saja Lucas terlihat gelisah.
"Mmmm, itu," Lucas menjatuhkan pandangan sembari mengusap tengkuknya, semburat merah tipis muncul di wajahnya yang baru kali ini Akemi akui memang benar-benar tampan.
Akemi merasa jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Apakah ini ada kaitannya dengan gadis-gadis yang memperhatikan mereka? Entah kenapa tetapi... Akemi merasa agak kecewa.
"Sejujurnya aku... aku ingin mencoba photo box bersama, itu jika, jika Akemi-san tidak keberatan."
Akemi mengerjap dengan wajah heran sekali. Hanya itu? "Astaga, Lucas-san! Kau membuatku terkejut saja."
Lucas mengangkat wajah menatapnya dan tersenyum malu.
Akemi memutar bola mata, menarik sebelah tangan Lucas dan mengajaknya ke photo box. "Katakan saja apa yang kau inginkan, jangan membuatku jantungan begitu tahu," kata Akemi berlagak galak sembari mendorong Lucas masuk terlebih dulu.
"Nah, kau ingin memakai stiker yang mana? Ini sangat lucu," kata Akemi antusias.
Pada dasarnya Lucas menuruti semua keinginan Akemi dan ia memang senang pada apa pun pilihan Akemi mengenainya. Dan raut wajah puas di wajahnya juga membuat Akemi mempercayainya.
"Astaga ini menyenangkan sekali," kata Akemi lagi setelah mereka selesai dan melihat hasil foto mereka.
"Ini sangat lucu aku juga ingin menyimpannya," kata Lucas dengan mata berkilat-kilat bahagia, seolah saat itu hanya foto-foto itu yang ada dalam dunianya.
Akemi tertawa geli melihat raut wajah Lucas yang lucu.
Lucas tersenyum dan mengalihkan pandangan dari foto-foto di tangannya. Memandang sebuah tawa yang paling ia sukai di dunia. "Bolehkah aku memanggilmu dengan Akemi saja?" Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa ia pikir terlebih dulu. Padahal selama ini ia sudah mati-matian menahan diri agar tidak sembarangan bicara karena takut Akemi akan membencinya.
"Eh?" Akemi berhenti tertawa dan menatapnya. Untuk beberapa saat mereka seolah sama-sama tertahan pada pandangan satu sama lain dan seolah tidak ada orang lain di sana selain mereka.
"Lucas?"
Akemi dan Lucas tersentak bersamaan dan seketika mengalihkan pandangan pada asal suara.
Lucas membelalak dan terkesiap keras begitu menangkap Gama dan beberapa temannya yang lain dalam pandangannya.
Akemi memandang Lucas dan beberapa laki-laki di seberang bergantian. Langsung tahu bahwa mereka adalah teman-teman Lucas. Nah, apa yang barusan terjadi pada dirinya sampai terpaku pada tatapan Lucas seperti itu? Dan apa yang harus ia lakukan sekarang? Dari kelihatannya Akemi tahu benar bahwa pertemuan ini tidak ada dalam rencana Lucas.
"Oh, kau benar-benar Lucas!" Gama berseru lebih keras, membuat beberapa laki-laki lain menoleh pada mereka.
"Woah, Lucas!"
Akemi mengerjap bingung. Setidaknya ada empat teman Lucas di sana dan kesemuanya melempar pandangan penuh arti pada Lucas.
"Eh, apakah aku mengganggu?" Tanya Akemi yang ia sendiri bingung pada pertanyaannya.
"Tidak, tidak, mereka yang meganggu. Kurasa kita harus pergi sekarang," sahut Lucas cepat, bahkan terlalu cepat.
Akemi mengernyit tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain menurut pada Lucas.
Namun sayang, Gama dan ketiga teman Lucas sudah lebih dulu menyergap Lucas dan membuatnya seolah terpenjara.
"Apa-apaan kau, sobat, mengkhianati kami dan berkencan diam-diam begini."
"Ugh, tutup mulutmu, aku harus pergi."
"Halo, maaf mengganggu waktunya tapi kami ini teman Lucas," kata laki-laki yang barusan memanggil Lucas sembari membungkuk dengan sopan.
Akemi balas tersenyum dan membungkuk sedikit. Apa-apaan ini, seketika ia merasa tua sekali berada dalam kumpulan anak-anak SMA.