Chapter 44

1143 Kata
"Pada awalnya aku heran kenapa Lucas berusaha keras untuk menghindari teman-temannya," kata Akemi sembari menghirup aroma ramen yang menyenangkan. "Tapi kurasa dia hanya cemas membuatku merasa tak nyaman. Toh, teman-temannya tidak bersikap buruk. Mereka ramah, ceria dan aku tahu mereka adalah orang-orang yang jujur dan apa adanya," senyum Akemi mengembang saat mengatakan kalimat terakhirnya. Senyum Hana mengembang semakin lebar, ia menumpukan dagu pada kedua tangannya yang terlipat di meja. Mengacuhkan mangkuk ramennya sendiri yang mulai dingin. "Lalu apa lagi yang kalian lakukan?" Ia bertanya dengan keantusiasan yang Yuma sebut tak perlu. Akemi menghela napas seolah menunjukkan bahwa itu bukan sesuatu yang terlalu menyenangkan meski raut wajahnya berkata sebaliknya. "Bukan tanpa alasan aku mengatakan mereka adalah orang-orang yang jujur dan apa adanya, tapi mereka tak segan menceritakan segala kekurangan dan kekonyolan Lucas padaku," Akemi mendengus tertawa, membuat suaranya terdengar aneh karena ia tahan. "Kau tahu, kelakuan lucu seperti anak laki-laki pada umumnya. Tetapi yang paling menarik perhatianku adalah saat Gama, teman Lucas yang paling kuingat karena dia yang paling banyak bicara dan berisik, mengatakan bahwa dia lega akhirnya Lucas bisa berkencan dengan perempuan, lalu teman-temannya yang lain menimpali bahwa akhirnya mereka tidak ketakutan lagi pada Lucas karena mengiranya gay." Hana ikut tertawa mendengar kekonyolan itu. "Irinya... pasti kalian bersenang-senang sekali, ya," keluhnya sembari tersenyum lebar. Akemi menggangguk kecil sembari menyembunyikan senyum. Berpura-pura menundukkan kepala dan menyibakkan helaian rambutnya yang jatuh. "Tapi bagian terbaiknya adalah melihat reaksi Lucas. Dia sangat tertekan dengan ekspresi yang lucu dan wajahnya merah sekali." Yuma yang saat itu tengah menggoreng beberapa sosis dan telur memerhatikan kedua temannya bergantian. Yang satu terang-terangan tertawa dan mengeluarkan terlalu banyak keantusiasan yang ia pikir tidak perlu. Dan temannya yang satu lagi bersikap malu-malu padahal mau. Yuma menggigit sosis ketiganya dan mengedikkan bahu. Yah, sejak awal ia lebih memilih Toji kakak dari Yuki yang pernah Akemi ceritakan dulu. Alasannya mungkin karena ia lebih logis. Dan dalam bayangan Yuma ia membayangkan sosok laki-laki bertubuh jangkung bermata hijau. Sama sekali salah karena kenyataannya Toji seratus persen keturunan orang jepang. Mungkin jika ia mengetahui faktanya ia akan berhenti mendukung Akemi untuk memilihnya. Setelah menghabiskan sosis keempatnya Yuma mematikan kompor, meniriskan sosis yang baru selesai digoreng, memindahkannya ke satu piring besar bersamaan dengan beberapa telur yang telah digoreng terlebih dulu dan membawanya ke meja rendah di tengah ruangan di mana Akemi dan Hana duduk bersama. "Wah, kau sungguh mengecewakanku, kenapa kau belum memakan ramennya sama sekali?" Ia menghela napas dramatis untuk menunjukkan kekecewaannya pada Hana yang terlalu antusias pada cerita Akemi. "Aku menunggu sosis," dalih Hana tak sabar, ingin cepat-cepat kembali mengobrol dengan Akemi. Ia praktis menanyakan begitu banyak pertanyaan termasuk rincian terkecil dari setiap kejadian dan membuat kesimpulan sendiri yang selalu mengarah pada hal-hal romantis. Yuma mendudukkan diri dan mengambil beberapa sosis dan telur sekaligus untuk dicampurkan dengan ramennya. Lalu mengalihkan pandangan pada Akemi yang masih tersipu, terus berusaha menyembunyikan fakta bahwa ia senang dengan kencannya bersama Lucas, sungguh sia-sia. Ia dan Hana sudah mengenal Akemi cukup lama, dan berusaha menyembunyikan sesuatu dari mereka sama saja bersembunyi dibalik tirai transparan saat kau sedang bermain petak umpat. Dari yang Yuma perhatikan mungkin Akemi telah tanpa sadar menyukai Lucas juga. Ah, ya. Ditambah selama ini hal yang paling Akemi permasalahkan belakangan ini adalah jarak usia mereka. Yuma sendiri tidak tahu rasanya karena ia belum pernah berkencan dengan seseorang yang lebih muda. Tapi dari sejauh yang ia tangkap dari semua keluhan Akemi, rasanya pasti tidak akan menyenangkan. Benar-benar berbanding terbalik dengan keadaannya sekarang. Nampaknya Akemi sudah selesai menceritakan segala detail tentang kencan kemarin. Hana nampak sangat puas sampai-sampai terlihat seakan bisa meledak kapan saja. Yuma melanjutkan makannya dengan tenang. Di saat dingin seperti ini ramen hangat memang sangat menyenangkan. "Ah, aku harap aku juga bisa berkencan sesegera mungkin..." keluh Hana dengan senyum lebar sembari mengaduk ramen yang bahkan belum ada setengahnya ia makan. Yuma memerhatikan ramen itu dan segera mengurungkan niat untuk merebutnya kembali. "Kalau begitu kau perlu menurunkan standarmu dan temukan laki-laki nyata alih-alih karakter fiksi dalam shoujo manga." Hana mendecak galak seketika. "Aku tidak terobsesi pada tokoh fiksi kok. Dan juga Aku hanya berpikir logis dan menentukan standar yang terbaik untuk diriku sendiri." "Tapi mafia tampan kaya raya yang akan jatuh hati pada rakyat jelata seperti kita itu tidak ada." Akemi tersedak karena tertawa. Hana menggembungkan pipinya, berusaha keras agar tidak tertawa dan mempertahankan raut wajahnya seserius mungkin. Namun pada akhirnya ikut mendengus tertawa juga. "Baiklah itu memang benar, tapi standarku tidak seperti itu," sayangnya kalimat ini terdengar ragu-ragu dalam telinganya sendiri. Yuma menelan sosisnya sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah." Hana menggembungkan pipi sekali lagi. Jelas berharap Yuma akan balik membuat argumen hingga mereka bisa berdebat. "Tapi aku serius," ucap Akemi setelah mampu mengendalikan diri. "Aku pernah bilang bahkan terlalu sering," ia meralatnya dengan cepat. "Bahwa berkencan dengan seseorang yang lebih muda akan terasa sangat tidak nyaman dan canggung. Tapi kenyataannya tidak seburuk itu, yah meski aku tidak mengakui ini sebagai kencan sih." Hana mengangguk-anggukan kepala seolah tengah mencerna hal paling rumit sedunia. "Karena itu kurasa aku bisa mengenalkanmu pada salah satu teman Lucas." "Apa?" Hana terkejut seolah kepalanya baru saja dipukul dengan keras. Lalu beberapa saat kemudian semburat merah samar muncul di pipinya yang putih. "H-hei kau bercanda kan? Kenapa aku terdengar begitu menyedihkan?" Yuma dan Akemi tertawa bersamaan. "Bukankah tadi kau bilang sendiri ingin bisa kencan secepatnya?" Tanya Akemi dengan nada menggoda. Hana mendengus dengan cara yang menurut Yuma dan Akemi lucu dan menggemaskan. "Aku hanya bercanda kok." Yuma mengusap ujung matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa dan berkata. "Tapi aku serius, kalau kau ingin mengenalkan aku pada seseorang kenalkanlah aku pada laki-laki tinggi bermata hijau seperti Toji." Seketika Akemi dan Hana berhenti tertawa dan memandangnya seolah baru pertama kali melihat Yuma. "Siapa yang kau maksud?" Tanya Hana dengan alis terangkat heran. Yuma berpikir sejenak. Mungkinkah ia salah mengingat namanya? "Toji," ulangnya. "Kakaknya si Yuki itu, kau masih ingat kan saat Akemi menceritakannya?" Hana menjentikkan jari karena teringat. Kemudian ia bertukar pandang dengan Akemi dan tawa mereka meledak lagi. "Siapa yang kau maksud tinggi dan bermata hijau?" Tanya Akemi susah payah disela-sela tawanya. "Mmm, Toji?" Ulang Yuma sekali lagi dengan perasaan tidak enak. Benar saja. Hana jadi tertawa makin keras setelah mendengar ucapannya. "Astaga, Yuma," Akemi mengusap perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. "Toji memang kuliah dan berkerja di Jerman, tapi dia keturuan jepang asli, bahkan dia tak lebih tinggi dibandingkan dengan Lucas." "Wah," Yuma nampak syok. "Tampaknya bayanganku tentang pangeran tampan bermata hijau memikat hancur sudah." Hana menarik napas panjang dan mengendalikan diri susah payah untuk berhenti tertawa. "Kurasa seharusnya kau yang perlu menurunkan standar, di dunia ini tidak ada pangeran sempurna yang mau jatuh cinta pada rakyat jelata seperti kita." Yuma mendengus berlagak marah, tapi toh akhirnya dia ikut tertawa juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN