Hari sudah gelap saat Akemi pulang dari apartemen Yuma. Selalu saja ia akan lupa waktu jika sudah berkumpul bersama dua temannya itu. Waktu seolah berjalan terlalu cepat sementara ada begitu banyak hal konyol menyenangkan yang bisa dilakukan. Seolah waktu di dunia tak akan pernah cukup untuk menyeimbanginya.
Jika saja ia tidak menyadari pesan dari Lucas yang memberitahukan pesta makan malam rutin yang diadakan ibunya, pasti lah Akemi akan lupa waktu dan pulang larut malam. Jadi lah di sini ia sekarang. Dalam perjalan pulangnya yang selalu sendirian. Tapi Akemi tidak lagi merasa khawatir, karena ia yakin Lucas akan selalu ada untuknya. Ya, setiap saat Akemi pulang pada malam hari Lucas akan selalu ada di halte menunggunya dan memastikan Akemi sampai di apartemen dengan aman. Lagi-lagi tanpa sadar, Akemi kembali tersenyum setiap saat mengingat laki-laki itu.
Akemi mendesah dan mengangkat wajah. Andai saja Lucas lebih tua darinya. Atau paling tidak seumuran dengannya.
Bus berhenti dua menit kemudian dan Akemi berjalan turun dengan perasaan senang. Namun mendapati halte bus yang kosong membuat Akemi merasa kecewa.
Bus telah pergi dan Akemi memeriksa jam tangan mungil di tangannya. Pukul tujuh kurang, masih termasuk sore, Akemi meyakinkan diri. Yang sejak terakhir kali kejadian tepatnya sebelum ia bertukar nomor ponsel dengan Lucas di mana ia merasa seseorang mengikutinya, Akemi jadi merasa cemas setiap kali harus berjalan sendirian saat gelap. Tetapi itu sudah lama sekali, seharusnya ia tidak perlu merasa takut lagi.
Akemi mengangkat wajah dari jam tangan itu dan memandang sekeliling. Sebal karena jalanan ini selalu terlihat sepi setiap ia pulang sendiri.
Dengan sebelah tangan ia membenarkan posisi tas selempengnya dan mulai melangkahkan kaki menyeberangi jalan. Mengabaikan degupan jantungnya yang kian kencang dan berusaha keras agar terlihat setenang mungkin.
Di mana Lucas? Ia bertanya-tanya dalam hati dan merasa makin kesal. Tidak. Tidak. Akemi menggelengkan kepala. Selama ini Lucas dengan sendirinya tanpa diminta selalu ada untuk menjaga Akemi dan membuatnya merasa aman, dan ketidak hadirannya saat ini sama sekali tak membuat Akemi berhak untuk kesal apalagi marah padanya.
Oh, sial. Jantung Akemi serasa akan melompat keluar saat didengarnya langkah kaki di belakang. Apa-apaan ini? Kenapa ini selalu terjadi tiap ia berjalan sendiri di malam hari?
Sambil berusaha tetap tenang Akemi menjaga pandangannya terfokus pada jalan di depan. Tanpa bisa berhenti berharap Lucas akan tiba-tiba muncul dengan senyum cerah seperti dulu. Lucas...
Lucas... Akemi menghentikan langkah tiba-tiba. Ia sendiri tak yakin tapi bagaimana jika seseorang di belakang adalah Lucas yang sengaja menjahilinya. Akemi mengernyit, tapi hal itu sama sekali tidak terdengar seperti Lucas.
"Siapa kau?"
Tubuh Akemi membeku tepat saat ia akan menoleh. Lantas kemudian secepat mungkin ia mengalihkan pandangan kembali pada arah depan dan melihat Lucas di sana. Pandangannya melewati puncak kepala Akemi. Rasa senang bercampur lega memenuhi dirinya begitu menyadari kehadiran Lucas. Tapi sekali lagi, sikap Lucas yang tidak menunjukkan keramahan seperti biasanya membuat Akemi menyadari memang ada orang lain selain dirinya di sini.
Waktu seolah berjalan lambat saat Akemi memutuskan untuk berbalik. Namun tepat saat itu, sosok tinggi dengan hoodie di belakangnya juga berbalik. Pada sosok itu lah tadi Lucas bicara.
"Akemi-san kau baik-baik saja?" Tanya Lucas sesaat kemudian. "Kau mengenal dia?"
Akemi segera menggeleng. Ia diam memerhatikan sosok yang mulai menjauh itu.
"Aneh sekali," Lucas bergumam sendiri.
Akemi setuju dengan pendapat Lucas.
"Tadi aku melihat dia mengikutimu tepat di belakang, jadi aku berpikir aneh mengenainya. Maaf ya, karena aku datang terlambat. Ibu menyuruhku ikut membantu mempersiapkan beberapa hal tadi karena ayah belum pulang. Tapi ayah sudah pulang jadi aku bisa segera ke sini."
Akemi memandang Lucas tepat ke dalam matanya. Membuat Lucas yang sadar di tatap begitu langsung tersipu.
"Terima kasih," Akemi mencengkeram lengan Lucas dengan sebelah tangan. Tahu benar tangannya bergetar keras dan dingin, tapi Lucas tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu dengan hal itu. Sebaliknya tatapan matanya melembut dan sebelah tangannya yang bebas terangkat dan menyibakkan helaian rambut Akemi yang menutupi wajahnya.
Sedetik kemudian Akemi tersadar dan segera mengambil selangkah mundur. Lucas ikut terkejut dibuatnya.
"Ah, maaf, maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana."
Akemi memaksakan seulas senyum gugup. "Tidak, ini salahku. Tapi aku serius, aku sangat berterima kasih karena kau datang. Aku sangat senang."
Hening sejenak.
Lucas nampaknya tengah mengumpulkan keberanian untuk bicara lagi. Ia tidak berhenti mengusap tengkuk lehernya untuk beberapa saat. "Apakah kau ingat pertanyaanku sewaktu kita baru keluar dari photo box kemarin?"
"Hmmm?" Akemi mengerjap dan memandang Lucas penuh perhatian.
"Saat itu aku bertanya apakah aku boleh memanggilmu dengan namamu saja?"
Hening lagi. Akemi merasa aneh karena mendadak saja segala perasaan takut dan cemasnya hilang. Tapi selain itu, ia meyakini satu hal. Sepertinya dirinya juga mulai menyukai Lucas.
"Baiklah, kau boleh memanggilku begitu."
Dan jawaban Akemi malam itu memberikan kebahagiaan yang tiada habisnya sepanjang malam. Lucas nampak berseri-seri dan tersenyum pada siapa pun di acara pesta makan malam itu. Akemi ikut senang. Terlebih acara makan malam ini menyenangkan. Ia jadi mengenal semua tetangga apartemennya yang berjumlah total lima belas orang termasuk dirinya. Ia juga tidak menyangka halaman belakang rumah orang tua Lucas sangat luas. Dan Hiko, yang sejak awal memandang curiga pada mereka sejak ia dan Lucas datang bersamaan, nampak tersenyum penuh kemenangan setelah nampaknya berhasil menyimpulkan keceriaan luar biasa dari sang kakak.
Akemi tersenyum dan mendesah senang. Mungkin ia harus bersiap-siap menjelaskan hal ini pada Hiko dan Yuki nantinya, yah, ia berharao Yuki tidak akan marah.
Dan di antara semua kesenangan yang Akemi rasakan, Akemi bertanya-tanya dalam hati. Semenyenangkan ini kah kehidupan normal itu?