Lagi-lagi waktu berjalan begitu cepat tanpa Akemi sadari. Tahu-tahu hubungannya dan Lucas sudah resmi selama seminggu ini. Atau lebih tepatnya genap delapan hari. Ah, Akemi juga tidak tahu. Segalanya terjadi begitu saja. Bahkan sebagian besar terasa tak nyata. Yang jelas Akemi sangat bahagia, ia tahu pasti itu.
Namun sampai sekarang ia masih belum memberitahu hal ini pada Yama dan Hana. Bukan tanpa alasan, sih. Akemi hanya merasa belum siap. Karena bagaimana pun juga ia merasa segala sesuatunya terjadi terlalu cepat. Ia belum mengenal Lucas terlalu lama tapi hubungan mereka sudah sampai sejauh ini. Salah satu hal yang baru pertama kali Akemi alami seumur hidupnya.
Mendadak Akemi jadi teringat pada mantan-mantan pacarnya. Akemi jelas tak bisa disebut tidak berpengalaman sementara Lucas sebaliknya. Tapi dari seluruh hubungan yang pernah Akemi jalani tidak satu pun berjalan semenyenangkan ini. Setiap hubungan yang ia jalani selalu dihantui perasaan cemas dan takut akan masa lalunya. Dan keseluruhan dari hubungan itu juga berakhir dengan tidak menyenangkan. Atau untuk lebih tepatnya, hubungan itu bisa disebut toxic.
Jelas sangat berbeda dengan hubungan yang ia jalani dengan Lucas sekarang. Semua hal terasa begitu alami dan apa adanya. Bahkan mimpi buruk yang menghantui Akemi seumur hidup sudah tidak pernah hadir lagi. Akemi menghela napas dan tersenyum, jelas ia merasa lega.
Akemi tersadar dari lamunan saat menyadari kehadiran Yuma dan Hana dari balik rak buku. Sekarang ia sedang berada di perpustakaan, sebelumnya mengatakan kepada mereka berdua untuk bertemu di sini setelah selesai kelas.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" Kata Yuma sembari melepas ransel dan mendudukan diri.
Hana mengikuti dan mengeluarkan beberapa makanan ringan dari dalam tas tangannya dan tak lupa sebuah manga shoujo baru.
Akemi mengembangkan seulas senyum, berharap senyumannya tidak terlihat terlalu bersemangat. "Well, yah... sejujurnya aku akan membuat pengakuan."
Seketika Hana dan Yuma menghentikan gerakan mereka. Bertukar pandang sejenak sebelum akhirnya sama-sama mengangguk.
Akemi mengatur napas lebih dulu. Sedikit tidak menyangka hal ini akan membuatnya gugup. "Well, sebenarnya aku dan Lucas sudah resmi berpacaran."
Baik Hana dan Yuma menunjukkan reaksi terkejut yang lucu. Yuma terlihat seolah baru saja mendapatkan sebuah pukulan keras di kepala, sementara Hana terlihat seperti seseorang yang sedang tersedak dengan mata membeliak lebar.
"Sungguh? Kapan tepatnya?" Tanya Hana dengan keantusiannya yang nampaknya sudah berusaha untuk ia tekan.
Yuma terlihat akan menanyakan hal yang sama juga. Ia memajukan tubuh ke arah Akemi dengan antusias dan tak sabar. Senyum lebar mengiasi wajahnya yang cantik.
Padahal Akemi berharap kedua temannya ini tidak menanyakan pertanyaan itu. Ia sendiri yakin jika mereka tahu hubungannya dan Lucas sudah berjalan cukup lama mereka akan kesal. "Sekitar seminggu lalu, delapan hari tepatnya."
"Nah, benar kan! Sudah kuduga begitu!" Hana menjentikkan jari lalu menyikut lengan Yuma dengan penuh kemenangan.
Akemi mengernyit heran, tidak kah mereka kesal karena ia terlambat memberitahu?
Yuma tersenyum senang seolah begitu puas pada jawaban Akemi. "Sejujurnya kami memang menduga hal ini akan terjadi," jelasnya. "Belakangan ini kau terlihat berbeda, kau tahu, seperti mendadak tersipu pada sesuatu, sering melamun dan tersenyum-senyum sendiri. Bukan kah itu gejala dari jatuh cinta?" Ia mengedikkan bahu pada Hana, mendefinisikan sikap Akemi belakangan seperti sebuah penyakit saja.
Akemi tidak bisa tidak merasa senang. Ia juga lega karena kedua teman baiknya ini tidak sebal padanya.
"Okey, jadi sekarang ceritakan padaku bagaimana Lucas menyatakan perasaannya padamu," Hana melipat kedua tangan di meja dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Akemi dengan mata berkilat-kilat bersemangat. Hal yang aneh adalah karena Yuma juga melakukan hal yang sama.
Akemi mendesah, tetap menunjukkan kesan tidak terlalu bersemangat meski ia yakin wajahnya sudah menunjukkan semburat merah yang jarang sekali terjadi.
"Well, waktu itu setelah acara makan malam yang diadakan orang tua Lucas, tentu kalian mengerti kan dia mengundang semua penghuni apartemen."
Hana dan Yuma mengangguk bersamaan dengan bersemangat.
"Setelah acara selesai Lucas mengantarku, aneh sekali kan padahal jaraknya sangat dekat. Dan sewaktu di depan pintu apartemen dia menyatakan perasaannya, ah jika saja kalian bisa melihat raut wajahnya saat itu," Akemi tertawa kecil. "Wajahnya merah sekali. Meski begitu dia menyatakannya dengan yakin dan sungguh-sungguh. Yah, jadi begitulah, mungkin kedengarannya agak konyol... eh?" Akemi baru menyadari wajah kedua temannya yang ikut memerah lantas tertawa terbahak-bahak.
Di sudut kecil yang di apit rak-rak buku besar. Akemi merasa, dirinya telah menemukan kebahagiannya yang sesungguhnya.
* * *
Akemi merintih ketika samar-samar ia bisa merasakan seluruh inderanya kembali bekerja. Tubuhnya terasa begitu berat untuk digerakkan, lantas dengan sama susah payahnya ia berusaha memandang sekeliling. Tempat itu gelap, kotor dan pengap. Seketika kepanikan menyergap dirinya bagaikan selimut kelam. Akemi berusaha menghentakkan tubuhnya untuk bangun tapi mendadak sadar tangan dan kakinya terikat.
"A-apa?" Ia terus berusaha bergerak, setidaknya mengusahakan dirinya untuk duduk. Napasnya memburu dan tenaganya habis namun seluruh usahanya tidak membuahkan hasil. Pada akhirnya dengan napas terengah Akemi kembali memejamkan mata untuk menenangkan diri.
"Kau sudah bangun..."
Akemi tersentak dan kedua matanya seketika membuka, ia tahu benar itu bukan pertanyaan dan kenyataan bahwa ia mengenal pemilik suara berat itu membuatnya merasa seolah ditenggelamkan ke dalam air dingin saat itu juga.
"Adikku," sosok tinggi itu menjulang di atas Akemi, meski dalam gelap sekali pun Akemi dapat dengan jelas melihat seringai di balik tudung yang menutupi nyaris seluruh wajahnya.
"Yohan," suara Akemi tercekat. Apa maksudnya ini? Yohan adalah mimpi buruk terbesar setelah orang tua angkatnya. Mimpi buruk yang selalu mengejarnya dan membuat Akemi terus berpindah-pindah untuk menghindarinya. Tapi bagaimana... bagaimana bisa Yohan berada di sini sekarang?
Hingga kemudian Akemi menyadari sesuatu. Apakah selama ini dirinya sudah lalai? Ia lalai karena seluruh kebahagiaan yang ia dapatkan belakangan membuatnya bisa melupakan semua mimpi buruk itu. Karena Lucas...
Tunggu! Lucas! Itu benar. Akemi mengingatnya sekarang. Setelah ia membicarakan hubungannya yang telah resmi dengan Lucas pada Yuma dan Hana kemudian ia memutuskan untuk pulang. Lalu saat itu Lucas mengatakan ia juga baru akan pulang dari sekolahnya. Karena itu lah Akemi memutuskan untuk menunggu Lucas di halte.
Setetes demi setetes air mata mulai berjatuhan dari mata Akemi bersamaan ingatannya yang berangsur pulih. Saat hanya ada dirinya sendirian di halte. Bahkan Akemi belum menunggu terlalu lama saat ia melihat Lucas dari kejauhan mengayuh sepedanya dengan penuh semangat sembari melambaikan sebelah tangan. Lalu... Lalu saat itu lah mendadak pandangannya berubah gelap. Seseorang telah menariknya dengan paksa memasuki sebuah mobil. Ya. Yohan telah menculiknya.
"Apa maksudnya semua ini Yohan?" Akemi bertanya dengan suara berat.
Yohan mendudukan diri dengan santai pada sofa di dekat sana. "Yohan?" Ulangnya dengan santai. "Kau melupakan fakta bahwa aku adalah kakakmu?"
Meski air matanya masih berjatuhan Akemi tetap melemparkan pandangan marah dan benci padanya. Bagaimana bisa ia melupakan masa lalu itu? Masa lalu di mana ia diangkat oleh orang tua psikopat yang selalu menyiksa dirinya. Ditambah kehadiran seorang kakak yang juga sama gilanya.
"Kenapa kau melakukan ini?!" Nada suara Akemi meninggi sarat emosi. "Kau sudah tidak ada hubungannya denganku! Lepaskan aku!"
Yohan menopang dagunya dengan sebelah tangan yang terlipat pada lengan sofa. Seolah tengah menimbang-nimbang perkataan Akemi di kedua tangannya. "Apa kau sudah melupakan sopan santunmu pada kakakmu?" Sekilas wajahnya berubah. Dari santai dan seolah acuh tak acuh menjadi dingin dan matanya yang gelap berkilat berbahaya.
Akemi terdiam dengan gigi bergemelutuk. Tidak ada yang lebih ia khawatirkan timbang keselamatan Lucas sementara Lucas melihat kejadiannya secara langsung. Akemi sama sekali tidak yakin Lucas akan diam saja dan hal itu membuatnya khawatir. Ia berharap Lucas tidak perlu terlibat dalam hal ini.
"Ah, ya," Yohan menjentikkan jari seolah baru saja mengingat sesuatu. "Hidupmu berubah sekarang," ia menunjukkan seringaian lebar. "Aku tidak habis pikir berani-beraninya kau melupakan aku, keluarga satu-satunya yang kau miliki, kau hidup senang dengan laki-laki asing dan melupakan kakakmu sendiri. Apakah itu bisa disebut pantas?"
"Kau bukan kakakku!" Teriak Akemi susah payah.
Seringaian itu mendadak hilang. Yohan bangkit mendekati Akemi, kemudian berjongkok dan melayangkan sebuah tamparan keras di wajah itu.
"Bicara yang sopan pada kakak," ucapnya serius sembari mencengkeram puncak kepala Akemi.
Akemi bergeming menahan sakit.
"Lihat dirimu, menangis seperti ini setelah sekian lama bertemu denganku. Padahal kau selalu bisa tertawa saat bersama laki-laki itu."
"Dia tidak ada hubungannya denganku," kata Akemi penuh penekanan.
Yohan mendengus mengejek dan tersenyum. "Dia pacarmu sekarang, kau pikir aku tidak tahu? Padahal dia masih kelas tiga SMA, tapi dia juga anak pemilik apartemen yang kau tinggali. Lucas," Yohan menyeringai puas saat menyebut namanya.
Akemi membelalak kaget, namun segera menyesalinya karena dengan begitu Yohan jadi tahu bahwa semua yang dikatakannya memang benar.
Sedetik kemudian Yohan mendadak diam dan melepas cengkeramannya. Seolah ia sedang berusaha mendengarkan sesuatu. Namun tak lama ia bangkit dan berbalik, berjalan menjauh menuju jendela yang sedikit terbuka. Yohan tertawa, tawa yang mampu membuat siapa pun merasa ngeri.
"Lihat, pangeranmu datang menyelamatkanmu," ucapnya masih terus tertawa-tawa. Mendadak saja ia terlihat begitu bersemangat dan berjalan ke sudut lain ruangan.
"Tidak!" Pekik Akemi sekeras yang bisa ia lakukan. Separuh wajahnya terasa sangat menyakitkan akibat tamparan Yohan tadi.
Yohan kembali dari sudut lain ruangan dan kembali ke jendela. Dan satu hal yang membuat Akemi terkesiap dan seolah berhenti bernapas adalah fakta bahwa Yohan membawa sebuah senjata api dan mengarahkannya keluar sembari tersenyum lebar.
"TIDAK!" Dengan mengerahkan segala kekuatannya Akemi berteriak. Namun Yohan yang terlihat begitu senang dan bersemangat tidak mengacuhkannya. Hingga terdengar suara tembakan sekali dan Akemi yakin, jantungnya telah berhenti berdetak.
Yohan tertawa keras. "Pangeran sekarang tidak menaiki kuda," ucapnya dengan santai. "Tapi aku sedikit terkesan dia mampu mengejarku dengan sepeda itu. Terlebih jaraknya jauh sekali," Yohan berpikir sejenak.
"Nah, sekarang tunggu saja adik, dilihat dari kesungguhannya pangeranmu akan segera mencarimu kemari."
Tunggu... Lucas belum mati... Mungkinkah... Mungkinkah tembakan Yohan meleset? Tapi tak mungkin, Akemi tahu pasti itu. Atau jangan-jangan Yohan sengaja hanya melukai Lucas saja lalu menyiksanya kemudian seperti kebiasaannya sejak dulu? Tidak. Itu tidak boleh dibiarkan. Lucas bodoh, kenapa dia datang sendirian. Seharusnya ia menelepon polisi bukannya malah mengejarnya sendiri seperti ini...
Akemi mengerjapkan mata dan berusaha mengatur napasnya kembali. Pandangannya kabur terhalang air mata. "Yohan, kumohon..." Ucapnya sungguh-sungguh.
Yohan berpaling padanya.
"Kumohon... tolong lepaskan Lucas, aku berjanji akan lakukan apa pun yang kau mau asal kau bebaskan dia. Kumohon, Yohan... Kumohon... Aku janji..."
Perlahan Yohan melangkah mendekat ke arah Akemi. "Yohan," ucapnya dengan suara dingin. "Yohan katamu..."
"Kakak!" Ucap Akemi cepat. "Maksudku adalah kakak, kau kakakku dan aku adikmu. Jadi kumohon, kumohon beri aku kesempatan."
Yohan tidak bereaksi. Hingga kemudian keheningan di antara mereka terpecah oleh suara langkah kaki yang diseret paksa menaiki tangga di luar.
Tidak! "Kumohon! Kumohon, Kak! Kumohon..."
Yohan berbalik dan tidak mengacuhkan tangisan Akemi. Tepat saat pintu terbuka dan sosok Lucas muncul dengan kakinya yang terluka, Yohan melayangkan sebuah pukulan keras dengan senapan panjangnya tepat ke kepala Lucas.
Akemi berteriak keras. Yohan mencengkeram kepala Lucas yang tergeletak di lantai dan menyeretnya menuju Akemi lalu menjatuhkannya tepat di samping gadis itu.
Lucas masih sadar meski nampaknya bisa pingsan kapan saja. Dengan sebelah tangannya yang lemah ia berusaha meraih Akemi.
"Maafkan aku," ucapnya dengan napas tersengal menyakitkan. "Maafkan aku, Akemi..."
Akemi berharap ia sanggup mengatakan sesuatu. Tapi ia seolah kehilangan kemampuannya untuk bicara dan hanya bisa menangis. Dengan tangannya yang terikat ia bahkan tidak bisa menjangkau tangan Lucas yang terulur padanya.
"Kau senang sekarang, adik?" Yohan bertanya.
Gerakan tangan Lucas mendadak berhenti. Yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaan Akemi. Ia tidak tahu dari mana datangnya kekuatan Lucas kembali. Tahu-tahu ia sudah kembali berdiri dan menyerang Yohan. Lucas hampir berhasil. Terakhir, ia memukul kepala Yohan dengan senapan miliknya sendiri dan ia jatuh tersungkur di sudut ruangan.
Dari cara Lucas bernapas terlihat begitu menyakitkan. Darah tak hentinya mengalir menuruni pelipis dan kakinya yang terluka juga terus mengeluarkan darah. Meski begitu Lucas tetap memaksakan diri untuk menyelamatkan Akemi. Ia melepas seluruh ikatan Akemi dan menariknya untuk pergi sesegera mungkin.
Namun, tepat saat ia akan melangkah keluar bersama Lucas. Tiba-tiba Yohan sadar kembali dan meski ia tidak mampu kembali berdiri, ia mengambil senapannya yang tergeletak dan mengarahkannya pada Lucas. Lucas tidak menyadari hal itu. Dan Akemi bergerak maju untuk melindungi Lucas dan peluru itu tepat menembus jantungnya.
Segalanya berubah menjadi samar seketika. Tetapi Akemi masih dapat mendengar suara Lucas yang menangis dan memanggil-manggil namanya.
Apakah Lucas selamat? Apakah dia baik-baik saja? Akemi hanya berharap, Lucas bisa terus hidup...
* * *
Akemi Haru, sosok yang sejak awal terlihat dingin dan tidak tertarik pada apa pun kini menangis dengan kepala tertunduk di hadapannya.
Mitsuri mengalihkan pandangan sesaat pada Katayama yang untuk pertama kalinya tidak mengeluarkan suara. Sekilas Mitsuri melihat keterkejutan di wajah Katayama. Pedih dan kecewa menyatu menjadi satu.
"Tepat saat kurasa hidupku bisa berubah dan kebahagiaan akhirnya bisa kuraih, aku kehilangan segalanya."
Mitsuri kembali memandang Akemi Haru. Baru pertama kali ini ia menyaksikan arwah-arwah lain ikut menangis.
"Dan karena itu lah kau ingin membalaskan dendammu pada Yohan," ucapnya.
Akemi memejamkan mata sesaat, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan mengangkat wajah memandang Mitsuri. "Ya. Tapi lebih dari semua itu, aku hanya ingin tahu apakah Lucas selamat. Apakah dia baik-baik saja..." Nampaknya sulit untuk menyelesaikan kata-katanya.
"Kau tidak perlu khawatir, di akhir sesi ini seperti yang sudah kukatakan sejak awal. Aku akan membantumu, aku akan membuatmu memastikan sendiri keadaan Lucas."
Akemi tidak bicara lagi, meski begitu Mitsuri tahu dia sangat berterima kasih.
"Jadi, sesi ini akan terus berlanjut. Untuk selanjutnya, siapa yang akan melanjutkan?"
"Aku," ucap Rui Inoue. Satu-satunya arwah laki-laki di meja.
Mitsuri tahu ia menawarkan diri karena satu arwah lain yang tersisa tengah menangis dan nampaknya tidak akan mampu untuk bercerita sekarang.
Meski terlihat sedih Rui menunjukkan seulas senyum tipis. "Namanya Ara, dia seseorang yang sangat aku sayangi, dan dia akan menikah dengan ayahku sendiri."
Eh. Semua perhatian mendadak teralih pada Rui Inoue. Dan dengan begitu, kilas balik cerita semasa hidup Rui Inoue pun dimulai.