Selva terduduk di lantai tepat di antara meja dan sofa ruang keluarga, menekuk lutut dan menyembunyikan wajahnya di sana. Suara tangisnya terdengar begitu menyakitkan. “Maaf, Sel. Gara-gara aku Mama jadi pergi,” ujar Belva yang ikut menangis di samping Selva. “Ki–kita nggak punya Mama lagi, Bel. Hiks … Kita nggak punya Mama. Hiks … hiks,” Selva berkata lirih dan terbata-bata. “Nggak ada lagi yang nemenin kita belajar. Nggak ada yang masakin kita lagi. Nggak ada lagi orang yang merhatiin kita. Kita sekarang sendiri. Nggak punya siapa-siapa. Hiks … hiks,” Belva kehilangan kata-kata. Tenggorokannya tercekat dan bibirnya terkunci rapat. Hanya air mata yang menunjukan bagaimana ia begitu menyesali semua perbuatannya hingga membuat orang yang paling peduli dengan mereka pergi. Saat menyetuj

