Rindu yang Tesalurkan (21+)

1609 Kata

Selva terduduk di lantai tepat di antara meja dan sofa ruang keluarga, menekuk lutut dan menyembunyikan wajahnya di sana. Suara tangisnya terdengar begitu menyakitkan. “Maaf, Sel. Gara-gara aku Mama jadi pergi,” ujar Belva yang ikut menangis di samping Selva. “Ki–kita nggak punya Mama lagi, Bel. Hiks … Kita nggak punya Mama. Hiks … hiks,” Selva berkata lirih dan terbata-bata. “Nggak ada lagi yang nemenin kita belajar. Nggak ada yang masakin kita lagi. Nggak ada lagi orang yang merhatiin kita. Kita sekarang sendiri. Nggak punya siapa-siapa. Hiks … hiks,” Belva kehilangan kata-kata. Tenggorokannya tercekat dan bibirnya terkunci rapat. Hanya air mata yang menunjukan bagaimana ia begitu menyesali semua perbuatannya hingga membuat orang yang paling peduli dengan mereka pergi. Saat menyetuj

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN