Bagi Kirana benci adalah level tertinggi dari rasa tidak suka. Jika sudah benci, sebaik apapun sesuatu itu akan tetap terlihat buruk di mata si pembenci. Begitu pula dengan dirinya dan Belva. Sebaik dan setulus apapun perasaannya pada gadis itu, ia tetap dinilai negatif. Padahal, beberapa hari lalu ia dibuat terbang tinggi karena bungsu Satya itu mau memanggilnya Mama walau tidak secara langsung. Tapi, ucapan yang baru saja terlontar dari mulut gadis itu berhasil mematahkan sayapnya dan membuatnya terhempas ke bumi. Ada sesuatu yang remuk di dalam dirinya saat melihat sorot kebencian yang terpancar dari dua mata Belva. Perjuangan yang ia lakukan selama ini terasa sia-sia. Harapan yang baru ia bangun sebulan terakhir pun runtuh tak bersisa. Mungkin sudah saatnya dia menurunkan ego dan me

