Delapan puluh hari berlalu, tidak ada kemajuan dari usaha Kirana untuk mendekati Belva. Perhatian yang Kirana berikan seakan tidak berarti apa-apa untuk gadis remaja itu. Belva menganggap apa yang dilakukan Kirana adalah sebuah kewajiban sebagai seorang ibu. Jadi, tidak perlu memberikan apresiasi yang berlebihan. Bahkan, Kirana merasa jika kembaran Selva itu semakin membencinya karena Satya menyita ponsel dan juga laptop miliknya, serta memangkas uang saku sebagai hukuman atas perbuatannya beberapa hari lalu. Bukan hanya kepada Kirana, Belva juga bersikap sinis pada saudara kembarnya. Gadis itu tidak segan berbicara ketus pada Selva dan tak jarang keduanya terlibat keributan. Seperti pagi ini, saat mereka sedang menikmati sarapan. "Nih, kamu satu, aku satu." Selva meletakkan piring be

