Harapan

2302 Kata

"KIRANA! KELUAR, SAYANG." teriak Satya sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan dua pria yang berjaga di depan pagar. "Tolong jangan membuat keributan!" Salah satu diantaranya berujar tegas. "Saya cuma mau bertemu dengan istri saya!" Suara Satya tak kalah tinggi. Ia menepis tangan yang ada di bahunya. "Tapi Pak Bima melarang Anda untuk bertemu dengan Mbak Kirana." Satya mundur selangkah. Ia meraup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang mulai mengempis. Tatapan matanya masih tertuju pada dua pria berbaju hitam dengan otot lengan yang terlihat kekar, sembari berpikir bagaimana caranya menembus blokade mereka. Subuh tadi, Selva masuk ke kamarnya—yang tidak pernah lagi dikunci—tanpa permisi. Gadis itu naik ke tempat tidur dan membangunkannya yang baru saja terlelap d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN