Raiyen" Cih!.. untuk apa aku berbicara dengan orang seperti mu! Lion! Cepat cari keseluruh tempat! Kau memimpin Arah barat dan utara! setelah nya aku!" ujar Raiyen bergegas pergi."
Kemarin Malam setelah Raiyen pergi dari kediaman Lion." Kau.. Dengar Itu Tuan Xuan? Kita harus membuat rencana matang bagaimana pun juga Jika kita salah dalam mengambil langkah bisa saja Rara akan tertangkap" ujar Lion berbicara pada Tuan Xuan yang dari tadi berada di ruang Rahasia di balik Lemari Kamar Lion." Aku mengerti.. besok kau hanya perlu pura pura mencari Rara, aku akan Sembunyikan dia dalam Ruang rahasia keluarga Dira aku yakin Raiyen tidak mengetahui Itu Karna Itu hanya di ketahui oleh penerus keluaga Dira." ujar Xuan dira." Ah! Dan satu lagi Taruh Ravit dalam penjagaan Wilayah depan mu." ujar Lion." Kenapa? Sehebat apa pun Ravit Ia akan kalah jika bertarung dengan Raiyen." Saut Xuan Dira." Itu memang tujuan ku! Apa kau tau Ravit juga ikut dalam penculikan Lilia waktu itu dan Raiyen mengetahui Ravit adalah tangan kanan Rara, sebaiknya sebelum semua Terbongkar bukan kah lebih baik Ia terbunuh oleh Raiyen? Saat ini Raiyen seperti Api neraka Ia tak akan perduli siapa pun orang yang berada di depan nya! Dalam fikirannya hanya ada kata membunuh!" ucap Licik Lion." Kau benar juga! Raiyen pasti akan terus menggeledah Rumah ku besok, bagaimana jika kita membuat Bukti Lain? Kau siap kan surat penerbangan palsu untuk Rara keperancis, Bagaimana pun juga pihak Raiyen akan langsung memakan Umpan itu." ucap Xuan Dira." Rencana Bagus Tuan Xuan aku akan menyiapkan nya Dari sekarang, dan aku berharap kau tak menyerah kan Rara kepada Raiyen besok Tuan Xuan Dira! Walaupun dia anak yang terlahir dari wanita yang tak kau cintai bagaimana pun juga Rara tetap Darah daging mu." ujar tegas Lion." Hehehe.. aku tak mengerti kenapa Rara tergila gila pada Raiyen! Padahal di samping nya ada pria seperti kau! Tenang lah bagaimana bisa aku membiarkan satu satu nya calon penerus Keluarga Dira mati? Aku pergi dulu." ujar Xuan Dira sembari menepuk pundak Lion dan bergegas pergi melewati jalur Rahasia Ruang bawah tanah." Satu satu nya penerus Keluarga Dira? Untung saja Ia hanya memiliki Rara Jika Ia memiliki anak Lain mungkin saja Situasi ini akan sangat merugikan Rara, Rara aku akan berusaha keras Melindungi mu! Walaupun sekarang aku lebih terlihat sebagai Orang tak tahu di untung karena sudah mengkhianati Orang yang sangat berjasa bagi hidup ku ini." Gumaman Lion yang kini menatap wajah nya Dari jendela kaca kamar nya.
Drapp.. drapp.. drapp suara langkah lari pasukan Raiyen Qin yang terus menggeledah seisi rumah Xuan Dira namun masih tak menemukan Keberadaan Rara." Cepatt cari di sana!.. trangg.. brak!.. buk.. " Cari bahkan sampai di Ruang Penyimpanan Bir sekali gus!." ujar Heboh seluruh pasukan Raiyen yang kini sedang sibuk menggeledah bahkan sampai menghancurkan Barang barang di kediaman Xuan Dira. 35 menit kemudian." Kau sudah menemukan?" ujar Lion yang kini berada pas di depan Batu besar." Belum.. seperti nya Rara tidak ada di sini! Bagaimana jika Ia pergi ke Prancis? Disana bukan kah ada kenalannya?" ujar Lion.
Rara" Ugh!.. bagaimana ini! Itu suara kak Raiyen! Aku tak ingin tertangkap! Ibuu... ibu! Brrrrr.. brrrrrr." gumaman Nya yang kini menggigil ketakutan di bawah batu besar Itu bersama Bloson Kapten terpercaya Tuan Xuan Dira.
"Tuan! Kami mendapatkan Informasi Dari bandara Taoxian, Terdapat Identitas Rara menjalani penerbangan ke perancis Kemarin malam.. Selanjut nya apa yang harus kami lakukan?" ujar Andreh." Cih!.. Wanita itu sungguh licik! Cepat kirim pasukan 1 dan 2 untuk mencari nya di Prancis! dan sebarkan Siapa saja yang berhasil menangkap Rara Akan mendapat kan Imbalan 1 Ton berlian." ujar Raiyen bergegas Pergi menuju Xuan Dira Yang kini masih berada di Ruang Tamu. Tuk! Suara Alat Kuno yang bisa berfungsi Seperti telephone sengaja di jatuhkan Lion Agar bisa berbicara dengan Rara, Setelah itu pun Lion menyuruh semua Prajurit Qin keluar dari taman itu dan mengawal nya menjauh dari taman. Setelah melihat keadaan sekitar yang terlihat Aman Bloson pun segera mengambil Alat Perekam suara itu dan kembali bersembunyi bersama Rara.
Ruang Tamu Keluarga Dira.
Xuan" Kenapa wajah mu tertekuk begitu? Seperti seekor singa yang gagal mendapatkan mangsa nya?" ujar Nya yang melihat Raiyen berjalan ke Arah nya dengan wajah tertekuk kesal.
Raiyen" Jangan mengejek ku! Dimana pun kau menyembunyikan Nya! Walaupun di ujung dunia sekali pun aku akan mencari nya sampai titik darah penghabisan!" Ucap Raiyen menatap tajam Xuan Dira.
"Silahkan Saja! Tapi bagaimana ya? Seseorang tak di undang datang dengan pasukan penuh dan seenak nya membuat Rumah ku Hancur berantakkan! Bukan kah kau tau? Kau sendiri yang mencari musuh Tuan Raiyen Qin." ucap ketus Xuan Dira." Apa kau lupa? Kita memang sudah lama bermusuhan! Dan lagi.. aku akan menerima dengan senang hati jika kita berperang Nanti Tuan Xuan! Karna saat itu akan ku pastikan pedang ku ini akan menyayat mu berkeping keping." ucap Kembali Raiyen bergegas pergi beserta pasukannya." Hehehe.. Apa kau Tau Diana? Pria kecil yang dulu menangis saat aku hancurkan Rumah pasir nya, sekarang Ia menjadi Pria Kasar yang akan menyayat ku dengan pedang, Tapi jika itu keinginan nya Aku Rela! Aku merindukan mu Diana! Sangat.. sangat merindukan mu!" Gumaman Xuan Dira sembari melihat Raiyen yang kini berjalan Gagah sembari memegang pedang.
Keesokan Hari nya Di kota Shenyang Rumah Sakit Lintang7." Aku ingin pulang! Pokok nya ingin pulang!" Teriakan Lilia sembari mencoba keluar dari kamar Pasien nya namun Raiyen berdiri di depan Pintu itu dan menghalangi Lilia." Tidakkkk! Kau masih sakit! Kau harus di rawat! Dokter cepat suntikkan obat bius." ujar Raiyen yang terlihat kewalahan akibat Dorongan dari Lilia." Jika berani menyuntik kan itu aku akan menggigit kalian semua! Awassss!" Teriakan Kesal Lilia kembali mendorong Raiyen." A.. anuh saya harus Turuti yang mana?" ucap Bingung Dokter Haris." AKU!" ucap bersamaan Raiyen dan Lilia." Tidak bisa kau itu masih sakit! Kau harus di rawat selama 3 hari lagi." Teriakan Raiyen seketika membuat Lilia tekejut." Hiks.. hisk.. kau meneriaki aku? Huhuhuhu.." Tangisan Lilia yang membuat Pertahanan Raiyen melemah." Eh? Jangan menangis! Ma.. maaf Ya Ini kan demi kebaikan mu." ujar panik Raiyen namun Lilia masih menangis dan membuat Raiyen tambah panik." I.. itu memang sudah sering terjadi, biasa nya kalau orang sakit kondisi mental nya Naik turun jadi sering terbawa Emosi itu wajar kok." ujar pak Haris mencoba menenangkan Raiyen." Ini kesempatan yang bagus! HEHEHE!" fikiran Lilia yang dari tadi pura pura menangis agar memperlemah Pertahanan Raiyen. Plak! Drap!.. drap!.. drap!" Ee?.. LILIA!" ujar tekejut Raiyen." Wahahhahahah.. Yuhuuu! Bebass Tangkap aku jika bisaaa! Rumah sakit memang tak cocok untuk ku!" Tertawaan Riang Lilia yang kini berhasil kabur. 7 menit kemudian di depan Rumah sakit Lintang7." Apa boleh seperti ini?" Ucap khawatir Raiyen berbicara dengan Dokter Haris." Hehehe.. tenang saja selama Nona Lilia baik baik saja di rumah dan terus kontrol itu tak akan terjadi masalah.. dan ini semua obat nya." Saut Dokter Haris." Bisa kah kau suntik saja obat bius itu sekarang?" Ucap bisik bisik Raiyen. Taps..!" Hahaha.. ada yang sedang merencanakan sesuatu Ya?" ucap Lilia Tiba tiba datang dan membuat Raiyen beserta Pak Haris Terkejut." Hayoo.. apa itu? Katakan!" Teriakan seram Lilia serentak membuat Raiyen dan pak Haris hanya bisa menggelengkan kepala nya saja." Hohoho.. kalau begitu Sampai jumpa pak Haris Lilia pamit dulu! Dan kau Cepat Antar aku!" ucap Ceria Lilia seketika berubah menjadi tatapan sengit saat berbicara dengan Raiyen. Cekrittttttt.. suara Mobil berhenti di depan kediaman Luz." Drapp.. drapp.. drap suara langkah lari Ibu Lilia dan Ayah Lilia yang kini memeluk Lilia dengan kencang dan berkata" SAYANGGG!" Hehehe.. Lilia kembali! Sudah sudah! Ayo masuk." ujar Lilia sembari menepuk nepuk pundak Ayah dan Ibu nya.
Ruang Tamu Kediaman Luz.
Vivia" Nak Raiyen makanlah Ini.. bukan kah ini kue kesukan Mu.." ujar Ibu Lilia sembari menyodorkan Kue Pei.
Raiyen" Hahaha.. Bibi masih mengingat Nya, kukira Bibi Lupa." saut nya.
Luziang" Bagaimana mungkin kami melupakannya! Pria kecil Nakal Yang ketika datang hanya merengek di buatkan Kue Pei! Dan sekarang kau pria sebesar Kudanil! Kali ini kedatangan mu untuk apa?" ucap Ayah Lilia.
"Suasana Ini.. Sangat menyenangkan, Orang yang pernah aku lupakan berada di depan ku sekarang dan tak menyangka Ia Teman pertama Ku saat di Festival itu.. Ayah dan ibu pun sudah mengenal nya dari kecil, apa ini yang di namakan Takdir? Namun kenapa saat aku lupa ingatan ibu dan Ayah tidak memberitahukan Yang sebenarnya? Malah pura pura baru mengenal Raiyen saat pertama kali bertemu?" fikiran Lilia yang kini melihat ke akrab pan Orang tua nya dengan Raiyen." Ayah.. Ibu, Aku ingin menannyakan sesuatu, Sejak Lilia Hilang ingatan kenapa kalian tak berusaha mengembalikan ingatan Lilia? Dan kenapa kalian malah berpura pura baru mengenal Raiyen?" ucap Lilia serontak membuat Raiyen beserta Orang tua nya terdiam." Li.. Lilia soal itu aku akan menjelaskannya Lain kali." ucap tiba tiba Raiyen." Tidak Nak Raiyen! Bagaimana pun cepat atau lambat Lilia akan mengetahui ini, Saat itu kami lah yang sengaja Menghilangkan Ingatan mu dan membawa mu Ke Singapur kami pun mengarang cerita kau memang dari SMA sudah tinggal di sana, Itu kami lakukan karena Kami takut jika kau mengingat kenangan Mengerikan itu kau akan langsung koma dan jika Fisik mental mu tidak kuat kau bisa saja mati, Tentang Raiyen, Ibu dan Ayah awal nya ingin menghentikan Raiyen mengembalikan ingatan mu, namun Raiyen memohon untuk bisa mengembalikan Ingatan mu dan kami pun bekerja sama berpura pura di depan mu, ibu tau kau pasti akan marah jika mendengar ini namun percaya lah Raiyen melakukan ini karena ia tulus mencintai mu Ia hanya ingin kau mengingat nya dengan perlahan agar kau tak mengalami Depresi, Maaf.. maaf kan Ibu." ujar khawatir Vivia Luz Ibu Lilia. Drap.. drap.. drap! Pluk!" Huhuhuhu.. kenapa minta maaf! ibu kenapa menanggung semua ini sendiri? Pasti ibu sangat menderita, seharus nya ayah dan ibu mengatakan saja sejujur nya bukan kah kalian tau Lilia Itu kuat? Lilia adalah putri ibu dan Ayah." Tangisan Lilia sembari memeluk Ayah dan Ibu nya." Huhuhuhu.. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk mu! Ibu dan Ayah sungguh minta maaf tak bisa menolong mu saat itu." Tangisan Vivia Dan Luziang kembali memeluk Lilia.
Rumah Sakit Lintang7.
Davit" Aneh Ya.. belum sempat menyatakan Cinta namun sudah menyerah begitu saja, aku ini memang payah! Dari awal perasaan ku ini hanya bertepuk sebelah tangan! Apa yang kau harapkan Davit! Apa?" Gumaman Lirih Davit sembari memandang Pemandangan dari luar jendela Kamar Pasien nya.
Loveta" Kau suka sekali Berbicara dengan Angin ya? Berbaring lah! Dan perhatikan kondisi Badan mu yang lagi melemah ini." ujar tiba tiba Loveta sembari memapah Davit ke tempat Tidur nya.
"Sedang apa di sini? Bukan kah kaka mu sudah pulang." Saut Davit." Ah! Ada barang ku yang ketinggalan." ucap cepat Loveta." Hmmm.. begitu Ya, apa itu? Makanan?" ucap Davit yang melihat sekotak Makanan berserta buah buahhan yang berada di samping Loveta." Eh ini! Tentu saja untuk mu, jangan baper aku membawakan ini karena kau tidak mempunyai keluarga atau krabat Jadi makan lah ini bagus untuk tubuh mu." ucap malu Loveta Sembari membuka sekotak makanan yang berisi 4 sehat 5 sempurna." Aku sedang tidak ingin makan! Kau bawa saja lagi." ucap dingin Davit sembari memalingkan wajahnya. Greb!" Jangan coba menolak! Ini aku yang membuat nya sendiri dengan susah payah! Dan kau itu lagi sakit! Kau harus lebih sering memakan makanan seperti ini! Bukan kah kau dulu yang meminta aku membelikan mu makanan? Toh sekarang pun kau tak usah bilang sudah aku berikan." ujar Loveta mencengkram Dagu Davit Yang kini membuat wajah mereka terlihat sangat dekat." Dheg!! A.. Itu jika kau tak ingin memakan Ya sudah aku akan membawa nya kembali." ujar tersadar Loveta Yang kini wajah nya terlihat sangat merah sembari merapihkan makanan itu kembali.
Taps!" Aku lapar! Aku ingin memakan ini, toh sudah ada yang susah susah membuat nya, sayang kan kalau tidak di makan! Hehehe.. gratis pula." ujar Davit langsung mengambil makanan Yang berada di tangan Loveta." Ya, sudah untung kau mengerti cepat lah makan aku akan pergi keluar sebentar." ujar Loveta." Bagaimana dengan ku?" Ujar tiba tiba Davit." Ada apa dengan mu?" Saut cepat Loveta." Aku kan pasien dan aku sedang sakit apa aku harus memakan makanan ini sendirian?" ujar Davit." Kan yang terluka perut mu! Bukan tangan mu! Masa harus di Suapi." ujar Cepat Loveta." Namanya lagi sakit ya semua badan ku juga ikut sakit! Kalau kau tidak mau menyuapi aku tak akan makan." ujar Davit dengan wajah cemberut nya. Drkkkkkk.. suara dorongan Kursi yang berada di samping Davit Loveta pun duduk kembali disana." Aaaaaaa.. Helicopter Meluncurrrr." ujar Loveta sembari menyodongkan makanan Dan ingin menyuapi Davit." Hehehe.. kau pikir aku masih anak anak?" ujar Davit dengan senyum kecil nya." Jangan komen sudah mangap saja! Tangan ku pegal tau!" ucap malu Loveta. Hap!" Mmmmmm.. Enak! Sekarang kau juga Aaaaaaa.. putri ku." ujar Davit kembali ingin menyuapi Loveta." A.. apa nih! Masa putri ku! Walaupun aku lebih muda 3 tahun dari mu aku juga sudah cukup dewasa tau." ucap kesal Loveta." Kau seorang putri tidak? Cepat buka mulut mu." ujar Davit." Loveta! Nama ku Lovera! Dan Aku memang perempuan, bagaimana pun kata putri ku Harus kau buang." ucap kesal Loveta." Iya iyaaa.. cepatt buka mulut mu sayang kuu.." ujar Davit dengan senyum tampannya." Hap! Bagaimana pun juga jangan menyuapi wanita seperti itu! Bisa saja wanita itu akan baper karena ucapan mu." ujar Loveta sembari melahap makanan itu." Jangan jangan kau baper ya?" Saut Davit." Tidak! Untuk apa aku baper dengan orang seperti mu! Sudah kau lanjut saja makan aku akan menunggu." ucap Santai Loveta." Bagus jika begitu!.. karena mungkin aku tak akan bisa membuka hati ku pada siapa pun lagi." ujar Davit dengan senyum lirih nya.
Loveta" Seberapa besar Dia menyukai Kaka ku? Kaka ku memang pantas di cintai namun Kau juga pantas untuk di cintai.. aku tau perasaan mu sedang Larah karena Kak Raiyen adalah kekasih kaka Ku dulu dan mereka sekarang bertemu kembali, itu cukup menyakitkan bagi seseorang yang memendam perasaan nya, salah mu kau tak mengatakan perasaan itu sejak dulu, walau Aku akan terluka karena itu." Fikiran Loveta sembari menatap senyum Lirih Davit.
Pada malam Hari di kediaman Xuan." Ayah! Ini semua tidak akan terjadi jika pria itu tidak menghalangi Lilia Di tusuk pisau! Kalau saja saat itu Lilia mati aku tidak akan bertekad menabrak Lilia!" ujar Rara." Jangan salah kan orang lain Rara karena mu Ayah rugi besar! Banyak nyawa para mafia Ayah mati! Itu pun karena ulah mu yang sangat sembrono itu!" ujar Xuan Dira." Ayah lebih memperdulikan Nyawa Para mafia ayah dari pada diriku? Kalau begitu biarkan aku bunuh diri sekarang agar ayah tidak sama sekali memiliki penerus keluarga Dira!" teriakan Rara." Kau mengancam Ayah! Jangan berani berani kau melukai diri mu Rara! Buang pisau itu!" ujar Xuan Dira yang melihat Rara sedang memegang pisau buah dan ingin menggorok Lehernya.