39. Ingatan

2219 Kata
"Aku.. Raiyen Lili ! Bukan kah kau dulu Lili kecil yang berusia 5 tahun tak menyangka kita bertemu kembali di depan Toko ini juga!" Grep! ucap Raiyen dengan senyum mirisnya tiba tiba mendapatkan pelukan hangat Dari Lilia. 2 menit kemudian "Hehe.. Maaf Ya, aku tak mengenali mu aku sungguh Tak Mengingat Nama Raiyen, Ah.. maksud ku Presiden Qin." ujar Lilia yang kini duduk di dekat Wahana Bianglala Sembari Memegang Eskrim Stoberi yang Raiyen belikan." Mmm.. sebenarnya aku sedikit terluka kau tak mengingat nama ku!" ucap Raiyen dengan wajah sedih nya sembari menjilat Es krim Coklat di tangannya." EH! bu.. bukan begitu! Kan sa.. saat itu kita hanya bertemu sebentar, Ma.. maaf Ya." ujar Panik Lilia." Raiyen! Nama ku Raiyen sekarang panggil aku dengan sebutan itu mengerti?" ucap cepat Raiyen." Ta.. tapi Itu terlalu.. untuk kita yang hanya Rekan bisnis jika Orang tau aku memanggil mu begitu apa yang akan di pikirkan Orang lain.. "ucap Lilia." Aku tak peduli.. pokoknya aku ingin kau memanggil ku seperti itu! Dikantor pun harus! Aku tak akan mau menengok ke Arah mu jika kau memanggil dengan sebutan Presiden Qin!" ucap Raiyen." Baiklah aku mengerti.. Oh ya boleh ku tau kau dapat dari mana Foto itu? Kurasa aku tidak pernah menghilangkannya!" ucap Lilia menatap Raiyen dan terdapat tetesan Es krim di Bawah bibir." Saat SMA.. kau menjatuhkan Dompet mu dan aku mengambil nya." ucap cepat Raiyen." SMA?.. mengapa aku tidak mengingat apa pun?" ujar bingung Lilia." Hehe.. tak perlu mengingat terlalu keras, cukup kau ada di sini aku sangat bahagia.. aku berjanji akan mengembalikan ingatan mu! Hehe.. ngomong ngomong ada kabar gembira loh.. mau tebak?" ucap Raiyen sembari mengelus kepala Lilia." Ng..? Kabar apa? ..? Aku menyerah!" ucap Lilia." Nggak seru! Kau tau kan tempat ini sudah lama terblangkalai namun aku merawatnya demi kau dan sekarang kau sudah kembali bersama ku jadi aku ingin membuka tempat Festival Ini kembali agar semua orang dapat menciptakan kenangannya! Seperti kita." ujar Raiyen sembari tersenyum." A.. anuh jadi maksud.." ucap Lilia tiba tiba berhenti karena mendengar suara." Kakaaa! Hahaha.. Loveta datang! Hihiyy!" Ucap girang loveta langsung memeluk Lilia." Eh? Loveta? Kenapa ada di sini? Davit juga ya?" Ujar Lilia yang kini melihat Loveta dan Davit berada di Festival Itu." Cih! Kenapa tuh orang! Ada juga si! Jatuhin bom kaya nya bakal tenang." fikiran Raiyen yang kini menatap tajam Davit. Drapp.. drap.. drap! Suara langkah kaki Penjaga pagar." Pak.. pak Presiden Qin! Maaf kami tidak bisa menghalangi mereka! Setelah kami usir mereka memanjat pagar dan lari begitu cepat." Kembalilah dan minta Bayaran mu ke Lion." ucap tidak senang Raiyen." Hehe.. seperti nya kau tak ingin di ganggu sampai menaruh penjaga itu." Ucap ketus Davit." Ada pepatah yang mengatakan sepasang kekasih memiliki Dunianya sendiri, jadi.. bukan kah tidak layak untuk kedatangan seorang pengganggu?" ucap kembali Raiyen. Lilia" Sepasang kekasih! Sepasang kekasih? A.. apa maksud nya?" Fikiran syok nya mendengar ucapan Raiyen. Loveta" Duh! Lagi lagi Debat! Apa Asik jika kita mengabaikan Wahana Yang menunggu kita mainkan? Ayoo.. kaka tinggal kan saja Mereka!" Ucap loveta menarik Lilia yang masih syok dengan perkataan Raiyen. Di depan wahana Bianglala "Lilia Ayo naik aku akan menjaga mu, kau kan takut ketinggian." Ujar Davit sembari memegang tangan kiri Lilia." Kalau soal menjaga aku pun bisa melakukannya.. ayo berama ku saja!" ujar Raiyen sembari memegang tangan kanan Lilia." sayang nya itu tugas ku mohon pak Presiden Qin tidak usah ikut campur." ujar Davit melepaskan Pegangan Raiyen dari Lilia." Hehe.. tugas? Namun jika itu juga kewajiban ku? Apa yang bisa kau lakukan?" ujar ketus Raiyen kembali memegang tangan Lilia yang membuat Lilia kesal dan berteriak." Hentikan! Aku ini manusia! Bukan barang! Dan buah jauh jauh Sifat kalian itu! Jika tidak akan ku usir kalian berdua dari Sini!" Teriakan Amarah Lilia seketika membuat Raiyen dan Davit terdiam." Ini.. kan punya ku yang harus di usir tuh dia! Cih pengganggu!" Gumaman Raiyen masih tidak terima. "Akuu.. dengar! Jadi sebagai hukumannya kalian akan menaiki Bianglala ini berdua! Aku bersama Adik ku! Cepat naik!" ucap tegas Lilia." Dengan Dia! Engakk!.. enggak!" Ucap berbarenngan Raiyen dan Davit sembari saling menunjuk." MAU MEMBANTAH HAH?" ujar Lilia dengan wajah menyeramkannya seketika membuat dua pria itu bergegas memasuki Bianglala" Itu lebih baik.. Ayo kita naik!" ucap Lilia. 4 menit kemudian brrrr.. brrrrr suara sekujur tubuh Raiyen dan Davit yang masih ketakutan karena tatapan Lilia tadi." Kaki mu bisa diam nggak sih! Cemen banget!" ucap Raiyen yang melihat Kaki Davit menggigil." Kau juga sampai ke bibir bibir!" Ucap kembali Davit." Ini gara gara mu tahu! Coba saja kau tak datang!" saut Raiyen." Makanya itu aku harus datang Hahaha.. Mana rasa terimakasih mu.. toh kita tak perlu berbicara formal saat di luar kerja." Ucap Davit." Hehehe.. terimakasih Davit Lain kali aku akan memberimu sesuatu." ujar Raiyen." Huft.. terkadang wanita itu menakutkan ya." Gumaman Raiyen dan Davit." Bicara apa kau? " kau bicara! Dasar foto Copy!" Debatan kembali Davit dan Raiyen, sementara itu." Woahhh.. cantik sekali ya! Walaupun saat ini siang hari pemandangannta cukup indah pantas saja kaka sering kesini." Ujar Loveta." Bagus kan? Wkwkwk.. Tentu saja ini salah satu rumah bagi kaka.. banyak kenangan yang kaka buat di sini." ujar Lilia." Ahh! Seharus nya dulu aku ikut kaka! Salah ku terlalu asik dengan Kecantikkan dan aku menyadari Sebagus apa pun aku ber makeup Oranf orang akan menganggap ku jelek karena Kulit ini." Ujar Loveta yang kini menatap wajah nya dari kaca Bianglala." Kenapa kulit mu? Budukkan? Hehehe.. bercanda kok! Dengar ya, sejelek apapun wanita akan tetap cantik di mata orang yang tepat! Menurut kaka kau itu memang sudah cantik makanya orang banyak yang sirik pada mu! Bukan kah mereka berkulit putih namun wajah mereka jelek? Namun kau berkulit Sawo mateng tapi memiliki paras Dewi! Dan soal Makeup itu memang di ciptakan untuk mempercantik bukan memperburik! Jika kau mau kaka akan keluar rumah sehabis mandi lumpur bagaimana?" Ujar Lilia yang mencoba menghibur Loveta." Benar! Aku selama ini Terlalu banyak Insecure, sampai lupa cahaya ku sendiri! Entah mengapa ucapan yang keluar dari mulut kaka sangat menenangkan hati sang pendengarnya, apa itu keistimewaan kakak.. yang membuat Davit menyukai nya? Iri.. sangat iri." fikiran Loveta yang kini terus memandangi Lilia yang sedang asik melihat pemandangan. Ruang lain di Bianglala." Hei! Sepertinya aku ingin berhenti." ujar Davit tiba tiba kebelet ingin Buang air kecil." Sudah takut ya? Haha.. pengecut!" Ucap Raiyen dengan nada ngeledeknya." Kau kali dari tadi kaki mu gemetar tuh!" Ucap kembali Davit yang melihat kaki Raiyen terus bergemetar." Akh! Sial! Padahal aku ingin buang Air kecil! Kenapa tadi tidak bilang Iya!! Kapan sampai.. kapan sampai.." fikiran Raiyen yang mencoba menahan Kebeletnya." Mampus! Pengen keluar! Nggak tahan! Sumpah! Hah!." Fikiran Kesal Davit mencoba menahan kebeletnya sembari mengepal keras bangku Bianglala Itu. 13 menit kemudian.. kreekk.. krekkk.. suara Ruang Bianglala yang ditepati Lilia dan Loveta pun mendarat." Seru ya Hahahaha.." Tertawan Lilia dan Loveta tiba tiba merasakan Aura dingin dari belakang nya dengan sekejap Raiyen dan Davit pun Lari mencari Tempat Ia bisa membuat Air kecil." Hah! Nikmatnya.." ucap bersamaan Davit dan Raiyen yang tak sengaja membuang Air kecil di tempat yang sama namun terhalangi Pohon." Mm..? Akkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!" Teriakan Davit Dan Raiyen. Keesokan Hari nya. Lilia" aku kan hanya ingin sendiri! Kenapa kalian ikut!" ucap Lilia yang kini di samping kanan kiri nya Ada Raiyen dan Davit." Kebetulan kami juga ingin belanja kok." ucap Raiyen." Ohh.. benar kah? Dan kau Davit bukan kah kau tak suka belanja? Dan kau Raiyen bukan kah kau bisa mengurus Asisten mu?" ucap tegas Lilia sengaja memojokkan Davit Dan Raiyen." So.. soal itu kami lagi ingin aja." ucap cepat Davit Dan Raiyen." Tidakk! Aku hanya ingin dengan Adikku Loveta! Kalian berdua! Jangan mengikuti kami! Jika ketahuan.. aku akan berikan hukuman!" ujar Lilia Keesokan hari nya. Tinn.. tinnnn! Suara kebisingan Dijalan depan pagar khawasan perusahan Wollden Qin." Akhh.. Gila kali! macet macet begini mau rapat! Dimana dia biar ku cabik cabik sampai habis." Gumaman Lilia yang kini Terlihat sangat merah sembari memasuki Kantor Wollden Qin. Tap.. tap.. tap.. suara langkah kaki Raiyen menuju kearah Lift." Itu dia! Tunggu! Presiden Qin! Presiden Qin!" Teriakan Lilia namun Raiyen sengaja tidak mendengar nya." Sial! Si k*****t itu! RAIYEN QINN!" Teriakan Lilia seketika membuat semua orang yang berada di tempat itu terkejut." Eh? Lilia? Sudah datang? Hahaha.. Ayo masuk." ucap Raiyen langsung menengok ke arah Lilia dan berjalan ke arah nya." Cih dasar orang ini benar benar bikin jengkel!" Gumaman kesal Lilia yang kini berjalan cepat ke arah Raiyen dan menarik Dasi nya dengan kencang dan berkata" KAUU! MATI SAJA!" Hehe.. jika kau terus begini semua orang yang ada di sini akan salah paham loh." bisikan Raiyen di telinga Lilia." Ah! " tiba tiba Lilia pun terdasar dan bingung harus berbicara apa." Hahaha.. Nona Lilia memang sangat memperhatikan Rekan bisnisnya! Terimakasih karena sudah membenarkan Dasi ku yang mencong! Ayoo.. Rapat! Memang Stylist Fashion ku yang bodoh." ujar Sengit Raiyen dengan senyumannya sembari menggandeng tangan Lilia menaiki Lift. "Wahhh.. Apa kau lihat tadi? Pak presiden Qin dan CEO Lilia mesra sekali!" Kyaaaa!.. menurutku ada sesuatu yang tidak kita ketahui." Kalau di pikir memang mereka berdua cocok kok!" Tidak! Aku lebih memilih CEO Lilia dengan Sekreataris nya Davit!" Benar juga.. tapi aku Tim Presiden Qin!" Dengan berat hati aku tim Pak Davit." ucap Para kariyawan. Kediaman Rara. Gubrak! Suara meja Ruang tamu yang terjatuh akibat tendangan dari Rara." Arggggggg! Sialan! Jadi mereka sudah mesra mesraan! Sedangkan aku, sibuk dengan pekerjaan!" ucap kesal nya yang mendapat Foto Raiyen dan Lilia seakan Lilia sedang merapihkan Dasi Raiyen." Kebiasaan buruk mu itu harus kau buang Rara." ujar Lion." Lion! Kau sudah dengar kan? Soal Lilia dan Raiyen! Aku tak terima.. pokoknya tidak! Aku harus melakukan sesuatu." ucap Rara sembari menarik kerah Lion." Jangan lakukan apa pun.. apa kau tak cukup puas? Sekarang Raiyen mulai mencurigai kita!" ujar Lion." Aku tidak peduli! Jika kau tak ingin membantu pergilah sana! Aku bisa melakukannya sendiri!" ujar marah Rara." Huft! Kau itu sungguh keras kepala! Baiklah aku akan melakukannya! Tapi aku mohon kau jangan ikut campur kali ini! Serahkan saja padaku!" ucap Lion bergegas pergi." Aku serahkan kepada mu! Namun jika tidak berhasil aku sendiri yang akan membunuh! Dengan tangan ku ini!" Gumaman Rara sembari mengepal kencang kedua tangannya. Sore hari di depan kantor Wollden Qin. " Waktu itu tarasa cepat jika kita berdua! Tak asik bukan? Padahal aku ingin masih berbicara pada mu." ujar lesu Raiyen mengantar Lilia." Haha.. bisa saja! Toh masih ada waktu, Mmm.. Soal perkataan mu Waktu itu.." ujar Lilia namun di sela Davit." Lilia! Tunggu disana.." teriakan Davit sembari menuju ke arah Lilia." Eh? Davit sudah datang aku pulang dulu." ucap Lilia sembari berjalan ke Arah davit yang sedang berjalan ke arah Lilia di tengah tengah Keramaian." Kau tunggu Saja di sana!.." Teriakan Davit Yang kini melihat silauan pisau yang terpancarkan Dari salah satu Orang yang berada di Keramaian itu.. Davit yang menyadari Orang itu mendekat Ke arah Lilia Ia pun berlari dengan Cepat." Eh? Jangan Lari!" Teriakan Lilia, Greb! Sembari memeluk Davit. Tes.. Tes.. tess suara tetesan Darah dari perut Davit sehabis terkena Tusukan." LILIAAAAAA!" Teriakan Raiyen yang hanya melihat Tetesan Darah Yang mengalir di tempat Lilia berdiri." Tidak!.. Lilia tak boleh mati! Tidaak!" Ujar Raiyen berlari ke arah Davit Dan Lilia." Kau baik baik saja?" ujar Davit yang kini masih berada di pelukan Lilia dan Ingin terjatuh namun Lilia memeluk nya dengan Erat dan merasakan Dingin di punggung Davit." Da.. darah! Kau berdarah!" ucap panik Lilia sehabis melihat darah di tangannya sehabis Memegang punggung Davit. Drapp.. drapp.. drap suara langkah lari Raiyen." Lilia! Kau baik baik saja?" ujar Raiyen." Huhuhuuu.. Raiyen Da.. Davit! Berdarah! Tolongg selamatkan Diaa." Isakan Lilia yang kini masih memeluk Erat Davit yang sudah tak sadarkan Diri. Jam 7 malam Di rumah sakit Lintang7 terjadi keributan yang sangat hebat." Ini semua gara gara mu tau! Jika saja kau tak menyenggolnya duluan! Ini tak akan Tumpah!" ucap Raiyen dengan nada marah nya Duduk di samping tempat tidur Davit." Kalau kau tidak disitu aku juga tak akan menyenggolnya!" Ucap kesal Davit yang kini berada di Tempat tidur rumah sakit Dokter Haris" A.. anuh Jangan berantem.. saya takut jaitannya akan terbuka lagi." ucap Nya yang masih berada di ruangan pasien Davit. Lilia" Hehe.. Maaf kan sifat kekanak kanakan mereka, ja.. jadi bagaimana dengan Davit?" ucap nya yang merasa tidak enak. Dokter Haris" Seperti nya butuh rawat inap selama 3 hari untuk memastikan Jaitannya benar benar Sembuh." Ujar nya. Lilia" Hehe.. kalau begitu terimakasih, jika ada yang kami butuhkan kami akan memanggil anda.. sampai jumpaa." ucap Sopan Lilia langsung menutup pintu kamar pasien Davit. " Hei! Berhenti memarahi ku Ludah mu mulai membasahi baju ku tau!" Ujar Raiyen yang tidak marasa bersalah padahal Ia lebih dulu membasahi Baju Davit dengan Jus nya yang tumpah." Kau mengataiku? Lihat baju ku! Jadi bau mangga karena mu!" ujar kesal Davit." Brak! Suara tendangan Lilia yang menendang Pintu." Kalian masih ribut! seharus nya kalian sudah berfikir dewasa! Akh! Kepala ku hampir mau pecah! Apa kalian tak malu Dokter Haris melihat kalian bertengkar? Aku jadi seperti seorang ibu yang tidak bisa menjaga dua putra nya tau! Aku akan pergi mengambil baju Davit dan kau Raiyen jangan memulai pertengkaran dengan Davit! Jika aku kembali kalian masih bertengar! Akan ku jitak satu satu dengan kaki ku! Brak!" ucap kesal Lilia bergegas keluar sembari membanting pintu." Aku ikut!" ucap cepat Raiyen." Diam atau ku lempar ke sumur!" Teriakan Lilia seketika membuat Raiyen terdiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN