12 menit yang Lalu saat Raiyen dan Lilia menjenguk Davit sembari membawa Jus Mangga." Kami datang.. kukira kau akan koma, tak menyangka kau sangat kuat Ini aku bawakan jus mangga kesukaan mu." ujar Lilia Sembari memegang Jus Mangga kesukaan Davit." Jadi kau mengharapkan aku koma Ya! Dasar jahat! Kau bisa berkata seperti itu untuk sang penyelamatmu!" ucap Davit." Hahaha.. bercanda kok, Hmm.. Menurut mu Kenapa seseorang itu ingin membunuh ku? Dan apa Alasan nya melakukan Itu? Kenapa? Apa aku pernah melakukan Hal yang Senonoh?" ucap Lesu Lilia, Davit dan Raiyen pun setelah mendengar Ucapan Lilia seketika Ia saling menatap." Hahaha.. tidak kok, kau itu di kenal Dewi Berkarisma mungkin dari itu ada seseorang yang Iri kepada mu." ujar cepat Raiyen." Begitu ya? Aku kan tidak pernah meminta di lahirkan berparas cantik! MAAF.. Karena aku Kau jadi terluka! Andai saja saat itu kau tak berlari! Mungkin kau akan baik baik saja! Kenapa saat itu kau menolong ku?" ujar Lilia langsung menatap Davit." Haha.. jangan baper Ya! Aku melakukan ini karena jika kau yang terluka aku akan sangat Sibuk! Kau itu manusia paling merepotkan sedunia!" Saut Davit." Begitu ya.. Lalu siapa orang itu? Ap seterusnya aku akan di teror?" Ucap Lilia dengan Wajah khawatirnya." Aku akan melindungi mu!" Ucap berbarengan Raiyen dan Davit yang membuat Mereka berdua Malu." Ekhemm." Eh? Nih! Minum lah tangan ku pegal memegang nya." ujar Lilia sembari menyodorkan jus mangga itu ke Davit." Hiks.. hiks.. suara isakan Davit saat memlihat Lilia memberikan minuman Itu." Sudah lah tak usah terharu begitu! Mumpung lagi baik nih! Nyoh! Cepat." ucap Lilia dengan nada sombong nya.
Davit" Bukan begitu.. aku ingin sekali minum itu Tapi.. aku takut Ia akan mengalir dan keluar dari tubuh ku lagi." Ujar nya sembari memegang bekas jaitan baru nya yang masih basah.
Lilia" Benar juga jika kau masukkan lalu akan keluar lagi.. kan sayang jus nya, tapi aku belum melihat yang seperti itu." ujar konyol Lilia yang tak sengaja melukai perasaan Davit.
Raiyen" Taps!.. Ya sudah buat ku saja! Aku haus tau!" ucap Raiyen langsung mengambil jus itu dengan cepat.
"Hiks.. Lilia lebih peduli pada jus, dari pada perut ku yang bolong seperti lobang tikus, aku merasa kesepian Ibuuu. hiks.. hiks." Isakan Davit yang sengaja mencoba di perhatikan Lilia." Duh.. ma.. maaf bukan begitu jangan marah ya, biar aku temani." ucap Lilia Ingin duduk di kursi samping tempat tidur Davit namun.." Dasar Mahluk bertopeng! Bisa bisa cari kemanisan dalam ke paitan! Tak bisa!" Fikiran kesal Raiyen langsung menduduki tempat yang ingin Lilia duduki." Maaf seperti nya aku ingin duduk disini kau duduk di sana saja." ujar Raiyen." Argh! Tidak! Pergi sana! Itu kursi Lilia! Awas!" ucap Davit mencoba mendorong Raiyen." Tidak! Tidak mau!" ucap Kekeh Raiyen." Awassssss!!.. Tiydakkkkkk!.. Byur! Akhirnya Segelas Jus itu pun tumpah dan mengenai Celana Davit." Akkkkkkkk!.." Teriakan Davit yang membuat Dokter Haris datang. Itu lah mengapa Baju Davit basah Dan Lilia kembali kerumah mengambilkan baju Davit namun siapa sangka Ia akan mendapat Hadiah Dari masa Lalu.
Jam 05:00 sore di kediaman Rara Ayundira" Apa! Jadi kau Gagal membunuh nya? Apa mata mu picek? Kenapa kau malah menusuk pria itu bukan Lilia! Bodoh terlalu bodoh!" ucap Amarah Rara yang kini sedang memaki Lion." Maaf.. Saat itu Entah dari mana Davit datang dan saat itu aku melihat Raiyen jadi aku salah menusuk." ucap Lion yang kini masih memakai baju hitam dan tangan yang masih terkena darah Davit." Tak patut di andalkan! Bisa bisa nya kau! Arghhhhhh.. pergi sana! Sebelum aku muak melihat Mu." Teriakan kesal Rara." Aku pergi, aku akan mencoba nya lain kali.. Serahkan saja pada ku aku pasti akan mengabulkan keinginan mu walaupun akan membuat ku seperti iblis yang haus darah." ujar Lion bergegas pergi dari Rumah Rara." Serahkan? Itu jika kau bisa! Manusia lemah seperti mu sungguh memuak kan! Aku tak bisa menunggu lama aku akan melakukan sesuatu!" Ujar Rara sembari mengerutkan Dahi nya.
Diruang pasien Davit setelah Lilia pergi.
Davit" Menurut mu siapa yang mencoba membunuh Lilia, Aku memang sudah mencurigai seseorang.. Inti nya aku dan Loveta, beberapa hari yang lalu ada seseorang yang mencoba menggali Identitas Lilia. Bahkan sampai mencari kelemahannya! Kami sudah menyelidik Orang itu dan saat kami lacak Ia memakai Alamat Palsu! Dan seketika saat kami menyelidiki itu semua hubungan seketika mati." Ujar Davit.
Raiyen" Hmm.. begitu ya, Aku juga mencurigai seseorang namun tak mungkin jika Ia yang melakukannya.. Dia orang terdekat ku! Aku berfikir mungkin saja Ia sedang di jebak."
"Bodoh! Jika bukti mengarah kepada nya! Tentu saja dia orang nya! Jadi dalang yang melecehkan Lilia waktu itu adalah orang dekat mu! namun kau masih mengabaikannya? Benar benar otak mu sudah teriris Abis!" ucap Davit dengan nada Marah nya." Aku tau aku bodoh! Tapii.. Itu tak mungkin Dia karena." ujar Raiyen dengan nada Ragu ragu nya." Karena Ia Lion! Benarkan!" ucap tiba tiba Davit." Bagaimana kau bisa tau?" ujar Raiyen langsung menatap Davit." Karna setelah kuamati Lion paling sering berada di dekatmu! Jika dia benar pelakunya maka kau harus memberinya Pelajaran! Bukan kah kau mencintai Lilia? Jika kau benar benar mencintai nya aku akan menyerah sampai sini tapi jika suatu saat Ia terluka atau menangis karena mu, aku akan maju dan tidak akan pernah mundur." Ujar tegas Davit." Jadi benar ya kau menyukai Lilia, Hah! Gitu dong kau memang harus mundur, dan soal Lion Aku akan memberinya pelajaran jika Ia memang dalang nya." ucap Raiyen." Hah.. aku jadi tak ingin menyerah! Sungguh tak adil bukan? Aku yang menanam buah itu namun kau yang memetiknya." ujar Davit." Aku tidak menyuruh mu menanam apa pun tuh, dan ya bagaimana kita bekerja sama menyelidiki siapa yang mencoba Membunuh Lilia, kudengar Loveta Ketua FBI Legendaris kan? Mungkin kita bisa meminta bantuannya." ujar Raiyen." Tentu jika itu untuk Lilia.. dan menurutku kau harus meletakkan Beberapa orang di sekitar Lilia tanpa Lilia ketahui, Mengingat kejadian Tadi Sore itu sangatt.." ujar Davit tiba tiba mengingat ada yang terlupakan." Lilia!" ujar bersamaan Raiyen dan Davit.
Didepan Rumah Sakit Lintang7
" Mmm.. Aku lupa membawa sesuatu! CD Davit ketinggalan! Ah sialan masa balik lagi! Apaa boleh buat!" ujar Lilia berdiri di terotoan jalan yang kini terlihat sepi." Sepertinya Tidak ada mobil yang lewat aku menyebrang tak apa kan." Ujar Lilia langsung menyebrangi tol itu." Tringgg.. tringgg tiba tiba telephone Lilia berbunyi." Raiyen? Halo..?" ujar Lilia langsung mengangkat telephone itu tiba tiba tersapat sebuah mobil sedan Hitam melaju cepat ke Arah Lilia "A..!!" Brakk!.. suara mobil itu menabrak Lilia yang membuat Lilia terpental dan terbentur." Suara itu!.. Liliaaa!" Teriakan Raiyen langsung bergegas pergi dari kamar Davit." Blsssssss.. suara Asap yang keluar dari mobil itu dan terdapat satu orang memakai baju Hitam yang kini sedang mengangkat Telephone Lala.. la.. lala" Halo! Katakan kau sedang di mana!" Ujar Lion." Sudah selesai! Aku berhasil Hahahahahaa.." ujar Rara sembari semeringai." Lala.. la.. lala.. Na.. nada Ini." Ujar Lilia yang kini teringat semua kenangan 6 tahun yang lalu." Rara.. Rara.. itu kau." Ujar Merintih Lilia sembari terpapar lemas di aspal." Kau masih hidup juga rupanya! Nyawa mu sungguh banyak Lilia! Cetak!.. Aku akan mengakhiri mu dengan ini." ujar Rara sembari menodongkan pistolnya dari dalam mobil mengarah ke Dahi Lilia."
Kakaaaa! Teriakan Loveta yang melihat Lilia terbaring di Aspal dengan sebuah mobil sedan Hitam yang terlihat juluran tangan yang kini memegang pistol. Rara pun yang mendengar Teriakan Loveta terkejut dan langsung menancap Gas bergegas pergi." Kaka.. kaka! Sadar lah kumohon bangun! Huhuhuhu.. tolong!" isakan Loveta sembari mengangkat tubuh Lilia di pangkuannya. Drap.. drap.. drapp suara Lari Raiyen ke arah Lilia." Lilia! Bagaimana ini bisa terjadi!" Ujar panik Raiyen." Kak.. tolong kaka ku! A.. aku takut! Tadi ada seseorang yang menodong kaka dengan pistol dann.. dan" ujar gugup Loveta.
"Bicara nya Nanti saja aku harus membawa Lilia! Lilia kau harus selamat! Lilia Kumohon.." Drapp.. drapp.. drap, ujar khawatir Raiyen bergegas membawa Lilia ke Rumah sakit Lintang7.
20 menit setelah Lilia di masukkan Ruang Asiu." Bodoh! Jika saja aku menyadari Ini! Lilia maaf kenapa aku membiarkan kau sendirian! Bodoh! Bodoh!" Fikiran kesal Raiyen sembari memukul mukul tembok yang membuat tangan nya berdarah." Drap.. drap.. drapp suara langkah lari Davit." Apa benar Lilia tertabrak! Dimana Lilia! Mengapa diam saja! Dasar bodoh! Kau bodoh mati saja kau!" Teriakan Davit sembari menarik kerah Raiyen." Sa.. saya mohon tenang lah! Saya yakin Lilia akan selamat! Sebaik nya Pak Davit memikirkan Kondisi Anda Sendiri dan kembali lah ke Ruang mu" ujar Pak Haris Dokter Handal di rumah Sakit Lintang7." Bagaimana saya mengkhawatirkan kondisi saya jika Lilia sedang sekarat! Ini semua salah mu!" Teriakan kencang Davit yang membuat Jahitan yang berada di perut nya terbuka dan berdarah." Akh!" Kalian cepat rawat pak Davit." ujar pak Haris yang menyuruh perawat dan membawa Davit untuk di Obati." Tenang lah! Aku akan berusaha menyembuhkan Lilia dia pasti akan sembuh, sebelum itu obati dulu tangan mu." ujar Pak Haris bergegas ke Ruang Asiu Lilia." Bruk! Arghh! Kau harus selamat!" ujar Raiyen.
20 menit kemudian keluarga Lilia pun datang dan menunggu bersama Raiyen di ruang tunggu." Huhuhu.. bagaimana ini Lilia ku! Dia akan baik baik saja kan Yah?" isakan Vivia Luz Ibu Lilia Sembari memeluk Suami nya Luziang." Dia akan baik baik saja Bunda Harus Kuat!.. kita tunggu saja." ucap Luziang Yang kini mencoba menenangkan Vivia Luz." Ibu.. Bukan aku tak cocok memanggil itu lagi! Bibi maaf kan Saya! Lagi lagi saya tidak bisa menjaga Lilia dengan benar! Saya memang bodoh! Berikan saya hukuman." ujar Raiyen yang kini Berlutut di depan kedua Orang tua Lilia." Apa maksudmu! Kejadian sekarang dan dulu bukan lah salah mu! Berdiri lah!" ujar Vivia Luz langsung memeluk Raiyen." Huhuhu.. Ibu, Maaf.. maaf!" Tangisan Raiyen di pelukan Ibu Lilia." Keluarkan semuanya! Ibu tau ini susah untuk mu dan juga kami." ujar Ibu Lilia yang mencoba menenangkan Raiyen." Ceklek.. suara pintu ruang Asiu Lilia terbuka." Lilia sudah sadar! Ia memanggil manggil Raiyen!" Ujar panik Dokter Haris." Aku kesana." ucap Raiyen bergegas memasuki Ruang Asiu Lilia." Liliaa.. Lilia.. Maaf.. ini semua salah ku! Ma.." Ucap panik Raiyen tiba tiba di peluk Lilia." Maaf.. Huhuhu.. maaf selama ini aku melupakan mu! Kau pasti sedih ya? Huhuhu.." Tangisan Lilia yang kini memeluk Erat Raiyen." Hiks.. hiks! Akhirnya kau mengingat ku! Apa kau tau betapa aku mengharapkan Momen ini! Aku mencintai mu Lilia! Sangat sangat mencintai mu." Isakkan Raiyen kembali memeluk Lilia." Terimakasih!.. terimakasih sudah mencintaiku Selama ini! Terimakasih!." ucap Lilia sembari tersenyum Lebar.
Dokter Haris" apa perlu kita hentikan Ini? Nona Lilia tidak boleh banyak bergerak." Ujar nya yang terpatung melihat Lilia dan Raiyen.
Vivia Luz" Jangan! Momen ini sungguh langka! Dan butuh 6 tahun untuk mendapatkannya.
"Ekhemmm!" Suara Ayah Lilia seketika membuat Lilia dan Raiyen terkejut." Walaupun begitu kesehatan Anak ku lebih penting." Hahahaha.. benar silahkan Tuan Raiyen menunggu di Ruang tunggu setelah Lilia istirahat setengah jam kami akan memperbolehkan menjenguknya." ujar Dokter Haris." Aku berjanji akan diam dan tidak mengganggu Lilia!" ucap cepat Raiyen." Tapi jika ada dirimu aku tak bisa istirahat." ujar Lilia sembari menatap Raiyen." Bluss!.. A.. aku akan di luar, jika kau perlu apa apa panggil saja aku." ujar malu Raiyen bergegas pergi Keluar. Ruang tunggu depan Kamar Asiu Lilia." Jadi apa yang terjadi?" Ujar Raiyen." Saat itu aku melihat sebuah mobil sedan hitam berada di samping Kaka dia menyodorkan Pistol lewat Jendela mobil nya! Setelah aku lihat lihat pistol itu sangat jarang di temui! Aku akan berusaha menyelidiki Semua Cctv yang berada di Tempat Kaka di tabrak." ujar Loveta.
"Bagus.. jika menurut mu pistol itu sangat langka, pasti pemilik Pistol itu Orang yang berkuasa, mungkin saja kita bisa mendapat kan petunjuk dari itu." ujar Raiyen." Kalau begitu aku harus pergi menyelidiki nya sekarang! Tolong jaga Kaka ku." ujar Loveta bergegas pergi.
Tap.. tap.. tap suara langkah kaki Raiyen dengan pelan pelan Agar Lilia tidak terbangun." Ini Anugrah atau apa? Kau mendapat kan ingatan mu dengan cara Tragis ini! untung kau selamat Lilia jika tidak mungkin saja aku akan ikut mengakhiri hidup ku juga." Gumaman Raiyen ikut terlelap di samping Lilia." Lilia sudah sadarkan diri?" Ujar Davit yang mendengar Kabar dari Dokter Haris tanpa butuh waktu lama Davit bergegas ke Ruang Asiu Lilia. Ceklek.. suara pintu terbuka dan Davit pun melihat Lilia yang kini sedang tertidur pulas dan Raiyen yang terlelap di samping Lilia seketika membuat Davit berfikir" Apa masih ada Tempat untuk ku di sana? Hah! Kau memang tak layak dari awal Davit! Cepat kembali dan jangan sampai membuat Lilia terbangun." Fikiran Davit bergegas pergi."
Tik.. tok.. tik.. tok suara jam yang terdengar jelas di Ruang Asiu Lilia
"Mmm.. Eh? Raiyen? Dia menunggu ku sampai tertidur ya? Aku tak menyangka Dia anak Kecil yang aku temui di Festival tapi setelah aku mengingat ingatan yang aku lupakan ternyata benar dia, apa ini takdir?" Gumaman Lilia yang kini melihat Raiyen tertidur pulas di samping nya." Sringgggg.. Tiba tiba sinar matahari menyinari Wajah Raiyen yang sedang tertidur pulas." Hmmm!" Eh? Seperti ini?" Ujar Lilia menghalangi sinar itu dengan Tangannya." Jika melihat Ia tertidur seperti ini.. seperti pangeran kecil! Hihihihi.. aku ingin menyentuh pipi nya." Gumaman Lilia." Sentuh saja! Hehehe.. aku tak keberatan kok." ujar Raiyen seketika membuat Lilia tersipu malu." Blusss!!.. I.. itu aku hanya bergurau kok!" ucap gugup Lilia. Greb! Tuk!" Sudah! Hehehe.. gimana rasa Pipi pangeran Kecil ini?" ujar Raiyen tiba tiba meletakkan tangan Lilia di Pipinya."
Dheg! Lilia pun setelah mendengar ucapan Raiyen Ia terdiam namun wajah nya menunjukkan dengan jelas apa yang Ia pikirkan sekarang." Ceklek! Suara pintu terbuka." Ah! Maaf Ibu salah waktu ya?" ujar Vivia Luz." Ayoo.. sayang masuk jangan menghalangi pintu dong." Ujar Luziang." Ibu pergi Ha.. ha.. ha" ucap Vivia Luz kembali menutup pintu." Tu.. tunggu! Ibuu!!" teriakan Lilia." Kenapa? Lagian ibu mu juga mengerti keadaan kok." ujar Raiyen dengan wajah m***m nya." Me.. memang nya kita sedang apa! kita kan hanya.. Akhhhhh! Hentikan wajah m***m mu itu cepat!" ujar Panik Lilia." Siapa yang m***m? Wajah ku memang seperti ini!" Ucap cepat Raiyen." Tidak! Wajah mu tidak begitu! Cepat hentikan." ucap Lilia." Begitu ya? Berarti wajah ku akan berubah jika berada di depan mu! Bagaimana ya.. kau itu selalu membuat ku berdebar." ujar Raiyen sengaja menggoda Lilia." Kau bisa berhenti menggoda ku? Jantung ku tak bisa ku kendalikan." ujar Lilia dengan wajah memerah nya." Biarkan Aku ingin selalu membuat mu berdebar! Agar kau hanya selalu mencintai ku." ujar Raiyen." Kalau begitu lepaskan tangan ku! Aku takut nanti jika ada yang lihat." ucap Lilia semakin berdebar." Tak mau! Apa kau tau tangan mu ini sangat indah setiap kali melihat nya aku ingin selalu memegang nya dan tak mau melepaskannya." ujar Raiyen sembari mengelus elus tangan Lilia.