37. Dimana Dewi

2411 Kata
Tik.. tok.. tik.. tok suara Jam bergema Di kamar Rara. Tringgg.. tringg tiba tiba terdengar Handphone Rara berbunyi." Lion! Lion! Apa kau sudah meyakinkan Raiyen! Bagaimana ini.. Pasti Kak Raiyen akan Membunuh ku! Dan.. dann" ucap Rara yang kini menggigil ketakutan." Tenangkan dirimu.. sekarang kau ada di mana?" ujar Lion yang terlihat khawatir." Rumah, A.. aku di rumah" ucap cepat Rara." Bagus!.. dengarkan aku.. anggap saja Raiyen percaya kalau kau bukan pelakunya dan jaga sikap mu agar tidak di curigai Dia!" ucap Lion." Ka.. kau yakin? Maksud ku, Kak Raiyen percaya? Ini semua karen Si b******k Evan! Aku bersumpah akan membunuh nya sekarang." ucap Rara dengan nada marah nya." Sudah ku katakan jangan bertindak sekarang Rara.. Aku sudah mencoba nya namun Pembunuh bayaran ku kembali dalam keadaan mati di dalam mobil! Dan di sana Terdapat tulisan" Ku kembalikan Untuk sang pengirim." Aku pun takut identitas ku ketahuan Tapi melihat Seseorang belum mendatangi ku, mungkin saja Kita masih Aman! Sebaiknya sekarang kita jangan melakukan apa pun! kau cukup bersikap seperti biasa saja! Dan ya.. coba lah jangan mengganggu Lilia, karena Raiyen pasti akan ceriga pada mu." ucap Lion langsung mematikan Telephone. Rara" Sial! Ck.. sumpah Kenapa Rencana ku tidak ada yang berjalan mulus! Ini semua berawal Dari aku bertemu kau Lilia! Aku bencii! Benci!!" Teriakan Rara yang kini bergema Di Kamar nya. Lalalalaa.. La.. la suara Handphone Rara jika mendapat pesan." Ada sesuatu yang harus aku tanyakan pada mu! Temui aku di Cafe Samdu 10 menit lagi." Isi pesan Dari Raiyen." ..! Aku harus bagaimana! Pokok nya ikuti kata Lion! Yaa.. Bersikap seperti biasa nya." ujar Rara langsung bersiap siap. Lilia" Sedang Apa? Siapa itu? Aku rasa belakangan ini kau suka sekali memasang Wajah musam, benar bukan aku kan?" Raiyen" Bukann Anak Comel, ini bukan karena mu kan sudah aku jelaskan" ucap Raiyen mencubit Pipi Lilia. "Ouch.. Yaudah Si nggak usah nyubit sakit tau! Jadi masalah Mu belum selesai?" ujar Lilia." Hehe.. maaf maaf, Sebenarnya aku sudah mengetahui itu namun semua bukti membuat ku Enak dan Tidak bisa aku percaya!" ucap Raiyen tiba tiba mengingat malam Hari sehabis melakukan Penyekapan Evan. "Jadi.. maksud mu semua bukti mengarah Terhadapnya?" ucap Raiyen yang kini Duduk di meja kerja nya Sembari melihat Kertas kertas yang berisi bukti sebenarnya atas kejadian yang menimpa Lilia Saat di Toilet." Awalnya kami tak mempercayai nya namun dengan di tambah Rekaman Cctv Saat Ia menghapus Sidik jari di Ruang Analisir di tambah munculnya Dua Orang pembunuh bayaran Yang di tugas kan membunuh Evan, Kami sangat Yakin Lion lah Yang mengirim Orang itu, saat di perjalan kami menemukan satu Handphone yang di buang salah satu pembunuh bayaran itu Kami meyakininnya karena ada Bekas sidik jari nya di Handphone Itu, dan terdapat Nomor Tidak di kenal yang di berinama Z, Kami Yakin Itu adalah Lion Ziling Karena Ia sering menggunakan Miliknya dan di berinama Z. Kami menyimpulkan itu karena Saat Pembunuhan Berantai keluarga Yiang Yang pak Qin tugas kan Lion Membantai keluarga nya dan saat itu aku juga ikut Dalam kelompoknya Saat di akhir Lion memberikan simpul Z di tembok dengan Darah Tuan Yiang." ujar Dalix kapten pasukan 1 kemiliteran Qin." Hmm.. lalu di mana Dua orang pembunuh bayaran itu?" Ucap Cepat Raiyen." Mereka sangat setia dengan Pengutus nya.. walaupun kami sudah menyiksa nya Ia tetap tidak mau memberitahu siapa penyuruhnya namun Satu pembunuh lagi mengatakan" aku akan mengatakan Tempat dimana kalian harus menaruh Mayat kami Dan setelah itu kalian mencari sendiri, tapi aku mempunyai Syarat Tolong kirimkan ATM ini kepada Putri ku Ini alamat nya Xxxxxx.. dan beritahu Dia Ayah nya Meninggal karena Mendonorkan Jantung nya dan Siapkan Satu tempat untuk Ia bisa berduka Cita.. Kumohon kabulkan putri ku sangat Lemah karena Ia akan hidup Seorang diri." Ucap salah satu pembunuh bayaran itu." Dia mengatakan tempat dimana kami bisa mengirim mayat nya dan kami mengirimnnya tempat itu berada di balik batu besar dekat Laut." Ujar cepat Dalix. Raiyen" Bagaimana dengan Permintaan Pembunuh bayaran itu? Pasti kau tak melakukannya kan? Kau kan berhati batu." ucap Cemooh Raiyen. Dalix" Aku melakukannya! bahkan aku membuat tempat Berduka Cita untuk nya aku menukar mayat Pria itu dengan pria lain tapi tenang saja pihak sana tidak akan tahu karena Wajah nya sudah babak belur, Walaupun aku terkenal memiliki sifat batu! Gini gini aku mengerti perasaan Seorang Ayah! Aku kan juga memiliki putri." ucap Cepat nya. "Hahaha.. benar juga, kau kan sudah mempunyai putri Dan saat Lahiran Istri mu kau malah pingsan karena melihat Darah! Hahaha.. apa kau tau Cerita itu masih berbekas di kalangan para Militer Loh! Banyak yang bilang kau sering membunuh Orang tapi takut akan darah Istri mu! Wahahahhaa.. batu apa nya? Yupi Iyaa!" ucap Raiyen dengan nada menghinanya." Tertawa mu puas sekali! Yaa.. itu memang cukup memalukan! Namun kau akan mengerti jika mempunyai istri nanti, Sekuat kuat nya kita, kita tak akan kuat melihat darah yang keluar dari tubuh seseorang yang kita cintai." Ucap menghayat Dalix Yang gila bucin namun Raiyen cuman menjawab "Ohhh.." Itu saja? Makanya punya istri dong! Cih! Cepat lah menikah mumpung naga mu masih kuat jika sudah kendor kan malu Wkwkwk." ujar konyol Dalik Sembari mesam mesem." Aku sudah mengalami itu saat 6 tahun lalu, memang Rasanya sangat menyakitkan! Tapi soal mencari istri aku sedang berusaha kok!" ucap Raiyen yang kini tersipu malu dan menutupi wajah nya." Wuhahahahaha.. Wajah tomat! Apaan tuh merah merah? Wkwkwkwk.." tertawaan puas Dalix Sembari menunjuk wajah Raiyen." Akhhh.. sana Ah pergi Dasar bapak bapak! Duak.." Teriakan Kesal Raiyen sembari menendang b****g Dalix." Wahahaha.. siapa suruh meledek ku duluan! Iyaa.. iyaaa aku pergi! Kuharap Usaha mu akan mendapatkan Hasilnya." ujar Dalix Berjalan pergi." Ukh! Aku harap itu akan terkabulkan! Tapi.. soal bukti ini! Apa benar benar Lion pelakunya? Entah mengapa walaupun di depan ku Terdapat bukti kuat Lion, aku masih saja tidak mempercayai nya! Kenapa! Semoga saja bukti ini salah! Pasti ada yang keliru." Gumaman Raiyen yang kini melihat Bukti bukti yang ada di meja kerjanya. Dalix" Akhirnya berhasil meringankan pikirannya! Aku tau perasaan Raiyen yang mengetahui Lion Adalah pelakunnya pasti sangat berat di terimanya.. namun apa boleh buat jika aku tak memberitahu Ini Mungkin selama nya Raiyen akan percaya pada bayang bayang Licik itu!" Fikiran Dalix. Lilia" Kenapa melamun? Maaf jika pertanyaan ku tadi membuat mu seperti ini." ujar nya sembari memegang Jas Raiyen. Raiyen" Tak apa.. kau ini selalu menyalahkan Dirimu Terus ya! Aku pulang dulu ada sesuatu yang aku mau kerjakan." ucap halus Raiyen Bergegas pergi dan mulai memanjat tembok saat di Atas Tembok Tiba tiba Raiyen berhenti karena Ucapan Lilia." Semangat! Aku yakin kau bisa! Dan cepatlah seperti Raiyen Yang dulu! Hehehe.." Teriakan Lilia dengan senyum Cantiknnya. Cafe Samdu di Siang hari. Raiyen" Rupanya kau sangat Bersemangat Rara.. padahal baru saja lewat 8 menit. Atau aku yang terlambat?" Ujar Raiyen duduk di depan meja Rara. Rara" Kak Raiyen? Hehehe.. mana mungkin Rara telat jika kak Raiyen ingin bertemu Rara.. Oh ya kak Raiyen mau minum apa?" ujar Rara sembari memeriksa Daftar menu. "Rupanya kau mudah melupakan hal yang baru saja terjadi! Maksud ku.. bukankah kau marah karena aku menuduh mu tadi? Dan sekarang sikap mu seperti ini seperti tidak terjadi apa apa sungguh Aneh!" Ujar ketus Raiyen." Aku tidak marah kok! Aku hanya sebal kak raiyen menuduh ku! Padahal kak Raiyen Tahu bahwa Lilia itu teman ku! Tak mungkin aku melakukannya." Ucap cepat Rara." Teman ya? Kalau begitu.. cepat katakan di mana Dewi berada? Toh Jika kau mengataknnya itu akan benar benar aku melihat mu sebagai sahabat nya Lilia!" ucap Raiyen menatap Rara." A.. aku, tak bisa mengatakannya!" Ujar Rara langsung memalingkan Wajahnya." Ck!.. jadi ini yang kau bilang sahabat? Apa alesan mu tidak mau memberitahunya! Bukan kah kau sahabat Lilia! Kau sendiri tau jika Dewi di temukan itu akan membantu Lilia! Tapi kau malah menyembunyikan nya? Kau waras!" Ujar Raiyen. Rara" Kau butuh Alesan? Karna aku ingin selalu berada di dekat mu! Tapi kau selalu menjaga jarak dengan ku Raiyen! Kau membuat tembok Kokoh yang susah sekali aku Tembus! Ja.. jadi Aku berbohong soal aku mengetahui keberadaan Dewi! Maaf!" Teriakan nya seketika membuat Raiyen terdiam. Raiyen" Tak menyangka kau sampai melakukan Hal ini Rara! Berani nya kau membohongi ku selama ini dan bodoh nya aku mempercayaimu! Apa kau tau? Kau satu satu nya harapan ku Untuk Lilia? Seketika Cahaya yang menunjukkan jalan ku padam! Mulai sekarang menjauhlah dari ku dan jangan pernah muncul di hadapan ku! Jika aku melihat mu sekali saja aku akan membuang mu dari Industri Ku!" Ujar ketus Raiyen bergegas pergi meninggalkan Rara. Rara" Lagi lagi di tinggal kan! Lagi lagi di usir! Apa tubuh mu itu akan selalu membelakangi ku Raiyen? Aku sungguh dalam mencitaimu tapi seenak nya kau menjadikan aku petunjuk untuk Lawan saing Cinta ku? Asal kau tau! Aku lebih memilih mati Dari pada membantu Lilia! Seperti Dia bukan? Ahhh.. ngomong ngomong sudah berapa lama aku tidak datang ke makamnya?" Gumaman Rara. 4 tahun Yang Lalu di kediaman Rara. "Jadi bagaimana Rencana mu kali ini?" ucap Lion." Aku akan meminta Raiyen untuk menjadikan aku salah satu Artisnya!" Ujar Rara." Kau bercanda? Mana mungkin Ia menerima mu? Kau salah satu Orang yang paling di curigainya!" ucap Lion." Bukan aku saja!.. Dewi! Dia juga salah satu orang yang di curigai Raiyen! Kita tinggal saja membuat bukti kalau Dewi Dalang nya!." Ucap cepat Rara." Aku bisa saja membuat itu! Tapi bagaimana dengan Dewi? Aku yakin Raiyen tak akan membiarkan Dia." Rara" bagaimana pun binatang buas tidak akan menjadi binatang jinak walaupun sudah kita pelihara dari kecil! Maka dari itu sebelum Ia bertambah besar bukan kah Kita harus membunuh nya? Agar tidak berbahaya!" ucap Santai nya sembari melihat ke arah Luar jendela. Lion" Jika itu yang kau butuhkan aku akan membantu mu! Tapi bisa kah kau berjanji ini yang terakhir kali nya?" ujar nya sembari memegang tangan Rara. Hah! Hup!.. tiba tiba terdengar suara Seseorang dari belakang pintu kamar Rara." Siapa itu!." Ucap Lion sembari berteriak." Sudahlah palingan kucing ku Momy.. Oh ya.. aku ingin berterimakasih karena telah membantuku waktu itu dan menyiap kam bukti seolah olah aku memang tidak terlibat dalam penculikan Lilia." ujar Rara yang kini teringat 2 tahun yang Lalu saat Terjadi nya Penculikan Lilia dan Lion berhasil menyelamatkan Rara dari kejaran Militer Raiyen Qin." Rara! Ini pasti Rara! hanya dia yang bisa melukai Lilia! Rara kau! Diman! Cepat keluar atau ku Bom Rumah ini!" Ucap marah Raiyen ketika mendengar saat itu Lilia di jemput teman Wanitanya. Drap.. drap.. drap tiba tiba terdengar suara langkah lari menuruni tangga." Kak Raiyen? Ada apa kak dateng dateng marah marah begitu?" ucap Panik Rara yang kini memakai Celana pendek dan Tan top saja." Kau! Kan! Yang merencanakan penculikan Lilia! Katakan! Jika kau berani Bohong akan ku Iris Lidah mu!" ucap Raiyen dengan nada marah nya." Yaa.. ampun Raiyen! Nak Raiyen! Non Rara saja tidak keluar Rumah dari tadi pagi karena Sibuk belajar bikin kue dengan Bibi jika kau tak percaya Lihat saja Cctv Yang rumah ini beserta kue kue itu!" Ucap Bibi Julin Juru masak Rara. Setelah itu pun Raiyen melihat rekaman Cctv Dan Raiyen pun mempercayainya juga melihat kue kue yang sudah matang itu." Bisa kah Kak Raiyen berhenti bersikap Negatif pada ku? Hah!.. sudah lah Apa tadi? Lilia di culik? Trus bagaimana keadaannya sekarang?" Ucap Rara yang terlihat pura pura khawatir." Dia menjalani pengobatan di Singapur.. aku pergi dulu." Ucap ketus Raiyen bergegas pergi." Hah!.. untung saja Kak Raiyen tidak curiga!" ujar Rara yang kini terlihat lega." Bukan kah itu karena aku? Jadi apa ucapan untuk ku?" ucap Lion keluar dari persembunyian nya." Terimakasih karena sudah mengatur Cctv Itu dan Bibi Julin makasih Ya mau membantu Rara." ucap Rara sembari memeluk Bibi Julin yang sejak dulu selalu menjaga nyaKarena wasiat dari Raiva Dira Ibu Rara yang telah meninggal saat umur Rara baru berusia 4 tahun. " Hehehe.. jika begini kebenaran Itu akan terus tersembunyi! Sungguh nikmatnya Hidup ini! Si pengganggu sudah pergi, memiliki bidak Catur paling kuat, dan bisa Selalu dekat dengan Kak Raiyen! Ahhhhhhh.. Aku memang pantas bahagia." Fikiran Rara Yang kini terlihat sangat senang. Itu lah Kejadian yang sebenar nya mengapa Raiyen mempercayai Rara bukan lah Dalang nya. Hah! Hup!.. tiba tiba terdengar suara Seseorang dari belakang pintu kamar Rara." Siapa itu!." Ucap Lion sembari berteriak." Sudahlah palingan kucing ku Momy." ujar Rara. Drap.. drap.. drap tiba tiba terdengar suara langkah kaki menuju ke arah kamar Dewi." Hah!.. betapa nikmat nya Hidup ini.. biaya hidup di tampung Rara tinggal di rumah mewah! dan Sudah tak ada Lilia! Suatu saat nanti aku akan mengatakan Rara dalang di balik Penculikan Lilia! Dan saat itu aku akan Perlahan lahan membuat Raiyen menyukai ku!" Gumaman Dewi sembari Bercermin dan memegang foto Rara yang memegang Pisau saat penculikan Lilia." Dewi.. dewi! Hos.. hos." ucap tiba tiba Bibi Julin yang terengah engah karena Lari." Bibi? Bibi kenapa Terengah engah begitu? Pelan pelan saja." ucap Dewi Sembari memegang pundak bibi julin yang kini menatap wajah Dewi dengan tatapan sedih." Dengar walaupun Tanggung jawab Bibi Itu Rara tapi bibi tak bisa melihat nya melakukan hal jahat! Kau cepat lah pergi dari rumah ini secepatnya! Rara! Dia berencana membunuh mu!" ucap Bibi julin." Apa? Dasar Ular berbisa! Cih.. ke khawatiran ku menjadi nyata, bibi aku akan pergi dari pintu belakang!" Ucap cepat Dewi sembari membawa barang seadanya sekaligus bukti foto itu. pintu belakang kediaman Rara yang terdapat hutan sangat lebat namun jika berjalan 50 meter ke Arah Utara Akan Tembus ke jembatan Velivora. Ceklek! Suara pintu belakang terbuka." Hah! Untung saja tidak ada yang melihat! Maaf Rara! Kau duluan yang mau mengkhianati ku! Aku akan memberitahu Raiyen dengan foto ini." Gumaman Dewi sembari mengepal keras Foto itu." Dewi? Jadi kau di sini.. Huft apa kau tau betapa jantungannya aku ketika mengetahui kau menghilang Dari rumah ini?" Ucap Rara tiba tiba keluar dari balik pohon." Rara? Aku hanya sedang mencari angin segar dan jalan jalan melihat sekitar." ujar Dewi yang kini terlihat sangat Gugup." Ohh.. Jadi kau telah mendengar semua nya Ya? Dan ingin kabur?" ucap Rara menatap tajam Dewi." Ti.. tidak! Aku tidak mendengar apa pun." Ujar Dewi sembari melangkah mundur." Aku tidak mengatakan Kau dengar apa Loh.. jadi kau sudah tau ya? Tentang aku mau membunuh mu? Ah.. tak seru! Cetakkk!" ucap Rara Sembari mengeluarkan pistol. Duar! Tiba tiba Satu peluruh mengarah ke tangan kanan Rara." Kau kurang cepat Rara!" Ucap Dewi berlari ke Arah dalam Hutan." Dasar bodoh! Justru kau masuk ke dalam hutan tambah bahaya! Halo!.. cepat bunuh wanita memakai baju warna Biru Ia sedang masuk ke dalam hutan! Dan tinggalkan saja jasat nya di sana." ucap Rara menelephone Ravit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN