36. Tersembunyi

2397 Kata
Kediaman Luz pada pagi hari di Ruang Tamu." Mampus.. canggung bangat sumpah! Sebenarnya apa yang aku lakukan semalam! Terkadang aku meragukan otak ku yang cerdas ini! Gimana dong mau bicara apa dengan dia? Dari tadi memasang wajah musam dan diam terus tidak seperti biasa nya, apa semalam aku membuat nya Marah..?" fikiran Lilia yang kini melihat Raiyen Terdiam." A.. anu! Aku inginnn.." ucap Lilia namun tiba tiba di sela Vivia Luz." Kupikir kau sudah pulang! Untung deh belum, ini minum jus Timun nya ini bisa membuat kulit tubuh mu tidak keriup loh! Oh ya ini tanpa gula." ucap Vivia Luz." I.. ibu! Apaan sih! Itu jan jus untuk orang tua apa lagi tidak makai gula! Anak muda mana yang tidak suka manis!" teriakan Lilia langsung mengambil jus itu. Taps.. Glek.. glek.. glek" Ini sangat Lezat Bibi Terimakasih atas minumannya." ucap Raiyen Langsung menegak Segelas Jus timun pait itu." Haha.. sudah ku duga kau menyukai nya.. mau Bibi ambilkan lagi? Masih ada untuk paman mu, tapi untuk mu saja lah! Dia biar buat sendiri." ucap senang Vivia Luz yang ingin mengambil jus namun di halangi Raiyen." Hahaha.. tak sopan kan jika aku mengambil minuman paman? Kebetulan sekali aku mempunyai pekerjaan yang harus aku urus, Saya izin pulang dulu Bibi.. Cup! Sampai jumpa nanti." ucap Hangat Raiyen sembari mencium tangan Ibu Lilia dan bergegas pergi." Akhhhh.. bisa bisa ibu jatuh cinta padanya! Putriku.. cepatlah ikuti dia Dan antar sampai ke depan pagar! Kau mengerti kan? Lakukan dengan sopan MENGERTI?" ujar Vivia Luz dengan tatapan tajam nya. Tap.. tap.. tap suara langkah kaki Lilia yang kini sedang mengejar Raiyen." Tanpa ibu suruh pun aku akan melakukannya! Aku ingin.. Drap.. Drap Brak! Karena Sibuk memikirkan Sesuatu Lilia pun tak sengaja menabrak punggung Raiyen." Aww.. A.. du.. duh! b****g ku! Sakit sekali! Enggak gepeng kan? Uhh.. perih perih." Ocehan Lilia Yang masih duduk di bawah." Kau itu kurang kerjaan Ya duduk Di Bawah situ?" ucap Raiyen langsung mengulurkan tangan nya." Makasih.. A.. anu! Yang aku ingin katakan Tadi.." ucap Lilia tiba tiba di sela Raiyen." Tak apa jus Ibu mu enak kok! Tak usah kau pikirkan." ujar Raiyen yang kini berjalan ke Arah mobil nya. Lilia" Bagaimana aku tak bisa memikirkannya padahal itu mengganggu mu! Aku hanya ingin minta maaf! Kau pasti Diam dan memasang wajah musam mu itu karena perbuatan ku semalam kan? Aku memang benar benar tidak ingat! Tapi aku janji akan berusaha mengingat nya! Jadi jangan.." Teriakan Lilia yang membuat Raiyen memberhentikan Langkah nya dan berjalan ke arah Lilia sembari mengelus ngelus kepalanya. Raiyen" Maaf? Untuk apa? Hehe.. jadi kau khawatir aku marah pada mu kan? Ternyata Lilia ku ini takut aku marah Ya? Asal kau tau aku diam karena ada urusan yang sangat mengganggu pikiran ku dan aku harus pergi sekarang untuk menyelesaikan nya. Cups!.." ucap Raiyen mencium hening Lilia berjalan menuju mobilnya." Dan Ya! Tak usah bersih keras mengingatnya jika kau melakukannya aku akan menghukum mu." ucap Raiyen bergegas pergi dengan mobilnya. Grep!" Aku berjanji tak akan mengngingat nya! Eh? Untuk apa sikap ku ini! Kenapa aku merasa makin lama makin dekat dengannya? Sadar lah Lilia dia sudah mempunyai Wanita! Aku tak boleh terbawa perasaan! Hus.. hus!" Gumaman Lilia. Brmmmmmmm.. suara mobil Raiyen berhenti di depan Gudang Yang kini di jaga Pasukan Tim 3 Andreh kemiliteran Keluarga Qin. "Akhhhhh! Aku mohon hentikan! Brrrrrr.. brrrrrrr." Suara Teriakan Evan Yang kini terdengar sampai Luar." Rupa nya kau masih punya tenaga untuk berteriak! Atau kalian melakukannya dengan lembut?" ucap ketus Raiyen melirik ke Arah para Pasukan Tim tiga." Kalian Dengar! Cepat Cambuk dia! Dan siram dengan Air panas." ucap Andreh Serontak membuat para pasukannya bergegas." Brrrrrrr.. Brrrrrrr.. aku tak ingin mati! Aku tak ingin mati! Hentikan aku akan mengatakannya!" ujar Evan yang kini menggigil ke takutan." Hehehe.. pilihan bagus! Kenapa Tidak dari tadi, tak menyangka kau sangat menyukai Luka!" ucap Raiyen sembari menarik kursi nya dan duduk pas di depan Evan yang kini sedang di ikat 28 menit kemudian di kantor Wollden Qin. Tap.. tap.. tap suara langkah kaki Raiyen bergema di Lorong dan menuju ke Arah Ruangannya. Rara" Ah! Kak Raiyen! Kau sudah datang? Aku sudah menunggu mu dari lama tahu! Ini kue Aku bawakan untuk mu." ucap nya yang terlihat sangat bersemangat sembari memberikan Kue. Prakkk..!" Apa aku terlihat menyukai ke hadiran mu Rara?" ujar nya langsung menepas Kue itu sampai Terjatuh." Jika kau tak suka dengan kehadiran ku, bisa kah kau tidak membuang buang kue ku seperti itu? Aku hanya ingin kau mencicipi kue buatan ku!" ucap Rara langsung menjawab." Aku muak! Seperti nya semakin lama kau semakin Melonjak Rara!" Tap.. tap.. tap! Tap! Suara langkah kaki Raiyen memojokan Rara sampai ketembok." Sekarang katakan yang sebenar nya! kau kan Yang menyuruh Evan Untuk melakukan itu!" ujar Raiyen Menatap tajam Rara." A.. aku tidak melakukannya! Apa kau lebih percaya pada orang yang baru kau kenal, dari pada aku?" ujar Rara. Buk..! Buk..! Raiyen yang mendengar perkataan dari Rara pun tak bisa mengendalikan Emosi nya Ia mulai memukul tembok, pas di dekat kepala Rara yang membuat Rara Terkejut dan menggigil ketakutan." Baiklah! Jika kau punya bukti nya, cepat tunjukkan pada ku sekarang!" ucap Raiyen." Kau ingin bukti kan? Lihat ini! aku berfoto dengan Tuan Karius dan Nyonga Eli! Saat itu aku terus bersama mereka Agar Repotasi Mu dan perusahan Wollden Qin akan Tetap Stabil! Dan saat aku melihat mu berlari tak sengaja aku menumpah kan Gelas itu dan meminta Tolong pada mu! Aku sama sekali tidak menyuruh Ecan melecehkan Lilia." ujar Rara sembaro menunjukkan Foto itu dan sekejap membuat Raiyen terdiam dan berkata." Cepat keluarlah! Aku butuh kesunyian!" ucap Raiyen berjalan ke arah kursi kerja nya, Rara yang mendengar ucapan Raiyen pun langsung pergi karena kesal. Brakkk!.. suara Terjatuh nya barang barang dari meja kerja Raiyen." Sialan! Dia benar pelakunya! Kenapa! Kenapa! Kalian berdua berbohong! Apa tujuan kalian menyakiti Lilia! Kenapa!" ujar Raiyen Yang kini terlihat kesal namun meneteskan Air mata dengan tangan yang berdarah akibat Memukul tembok. 8 menit yang lalu saat mobil Raiyen menuju ke Arah kantor Wollden Qin namun terhentikan karena adanya Lampu merah." Halo.." ujar Raiyen yang kini sedang menelephone seseorang." Raiyen? Akhir akhir ini kau jadi suka menelephone ku ya? Gimana dengan Kemarin malam apa beres?" ujar santai Lion." Sikap nya yang seperti ini.. sulit bagi ku mencurigai dia." Fikiran Raiyen Yang kini tidak mejawab Perkataan Lion." Haloo? Dasar! Kau menelephone ku untuk seperti ini? Dasar bisu! Aku matikan Ya." Teriakan Lion dengan nada kesal nya." Apa kau sudah mendapat kan siapa dalang di balik Kejadian kemarin?" ucap tegas Raiyen." Ah! Aku belum menemukannya Namun aku sudah mendapatkan Handphone yang di pakai pelaku saat mengirim foto itu! Tetapi Naas tidak ada Sedikit pun Sidik jari yang tertinggal!" ujar Lion langsung menjawab." Rara! Menurut mu apa dia pelakunya?" Ucap Raiyen serontak membuat Lion terdiam Lama." Dia tidak mungkin melakukannya, untuk apa dia melakukan itu kepada sahabat nya sendiri lagian jika Rara pelakunya pasti itu akan sangat mudah kita ketahui.. Apa Evan mengatakan Kalau Rara Pelakunya?" ujar Lion dengan serius. 28 menit yang Lalu masih di Gedung penyekapan Evan. Evan" Rara! Rara pelakunya, Ia menyuruh ku untuk melakukan itu dan memberiku imbalan dengan kedudukan ke 5 yang bisa kudapat kan sekarang! Aku juga tak menyangka ku pikir Ia hanya berbohong saat mengatakan itu namun jelang 3 hari Bisnis ku berkembang pesat dan berhasil menduduki Peringkat Lima! Aku pun tak tau Sebenarnya Siapa dia Sampai bisa seperti itu, Dia wanita Iblis!" ucap cepat Nya langsung menjawab Raiyen. Raiyen" Jadi.. kau mau melakukannya dengan wanita yang kau anggap Iblis.. dan mau melakukan Hal yang menjijikan Itu! Apa kau tau betapa menderitanya dia jika Dia mengetahui Hal itu!" Teriakan Raiyen sembari menjambak Rambut Evan. "Akhh!.. Aku benar benar minta Maaf! Saat itu Kau sendiri tau Bisnis Ayah ku sedang Terombang ambing karena Pria b*****t itu! Dan saat itu aku terlena dengan tawaran yang di berikan Rara, namun aku berani bersumpah aku sama sekali tidak menyentuh tubuh Lilia! Ia sendiri yang melepaskan baju! Jika kau tak percaya bukan kah ada Cctv?" ucap kesakitan Evan." Aku sudah tau kau tidak menyentuh Lilia, jika kau benar benar menyentuhnya Kau akan jadi santapan Anjing ku yang kelaparan Evan!" ucap Raiyen sembari menyeringai dan melepaskan tangan nya dari kepala Evan." Jadi! Kau masih menyiksa ku padahal kau sudah tau aku tidak menyentuh nya?" ucap kaget Evan." Aku hanya memberikan Pelajaran untuk orang yang berani menyentuh wanita ku! Hah! Setidak nya kau berterimakasih karena kau tidak ku bunuh!" ucap Raiyen." Jadi.. aku harus berterima kasih? Dengan Hadiah ini Tuan Qin?" ujar Evan sembari menggertakkan giginya." Sama sama Evan.. Dan Ya! apa kau punya bukti kalau Rara memang benar pelakunya?" ucap Raiyen yang kini tersenyum Melihat Evan yang terlihat babak belur." Hahahaha! Kau masih tak percaya pada ku! Baiklah! Kembalikan Handphone ku pada ku! Di sana terdapat Rekaman suara Rara Saat aku bertemu dengannya Di Cafe Dainemin! Saat itu aku merekamnya untuk jaga jaga." ujar Evan dan setelah itu Raiyen mendengarkan Rekaman Suara itu dan menyimpannya Di Phonesel nya." Kau cukup cerdik Evan! Kau tau akan terjadi seperti ini bukan? Aku suka pemikiran mu.. bagaimana jika kita berbisnis." ucap Raiyen." Kau mau berbisnis dengan ku? Padahal aku ini musuh mu?" ucap cepat Evan." Ada pepatah yang mengatakan jaga lah musuh dari dekat agar bisa melihat gerak gerik nya! Kurasa itu bagus juga.. bagaimana? Cepat aku tak punya banyak waktu." ujar Raiyen sembari melihat jam tangannya." Tak mungkin jika aku bilang tidak bukan? Apa kerjasama yang kau katakan itu?" ucap Evan." Hahaha.. pentar juga! Lepaskan Ikatannya, jadi Aku ingin Kau terus bekerja untuk ku dan menjadi salah satu Orang ku! Rara pasti tau kau sudah tertangkap Oleh ku, dan kau menanyakan Siapa Rara? Dia itu putri tunggal Tuan Xuan Dira Bos Mafia Yang memimpin Kota Beijing! Jika Ia memohon untuk membunuh nyawa mu mungkin saja kau akan mati tanpa satu orang pun yang tahu! Jadi aku akan melindungi mu dengan Pasukan Militerku! Aku melakukan ini untuk menjaga bukti berupa nyawa! Jadi jangan salah paham." ucap Santai Raiyen." Ahh.. Soswett! Jadiii apa imbalan ku?" ucap Evan." Cih! Menggelikan! Kau tanya soal imbalankan? Tentu saja nyawa mu dan keluarga mu bodoh!" ucap ketus Raiyen." Aihhh! Aku merasa lepas dari mulut ular namun masuk ke Tenggorokan Singa! Hidup ku segan sekali Hiks.. hiks.. aku kangen Ibu ku yang di kuburan." ucap Evan yang kini memeluk Andreh sembari menangis palsu." Baiklah! Imbalannya Bisnis mu akan tetap berada di peringat 5 agar Orang tidak curiga Kau akan Kerja sama Bisnis dengan ku! Kudengar Kau memiliki Toko butik kan? Mulai sekarang Kau akan membuat baju untuk Artis Artis ku!" ucap Raiyen bergegas pergi dari Ruangan itu." Hahaha.. kurasa hidup ku akan Mulai Stabil sekarang." Gumaman Evan Sembari mesam mesem. Cetakk!" Itu hukuman untuk kau berani macam macan tadi! Dan ini untuk menyambut Kau bergabung." ucap Andreh menjitak Hening Evan sembari menjulur kan Tangannya. Di taman kediaman Luz "Walaupun Dia tak boleh aku mengingat nya, tapi aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi! Huh! Jika saja aku bisa mengingat nya! Akhhhhhhhhh.. Sial!" Teriakan Lilia yang terlihat kesal Sendiri" ngomong ngomong taman ini banyak berubah Ya.. Namun pohon sakura ini tetap sama, walaupun di tambah Ayunan Ini! Haaaaaa.. Angin nya tetap segar Walaupun Di siang hari!" Gumaman Lilia Yang kini menikmati Udara sembari Bermain Ayunan di bawah pohon Sakura." Taps!.. tiba tiba terdengar suara seseorang melompat dari Luar Dinding pagar dekat taman." Hap! Hah!.. ternyata pendek sekali padahal dulu tinggi! Apa sekarang aku sudah bertambah tinggi? Hehe.. bangga nya!" Gumaman Raiyen yang kini terlihat bangga sendiri. Plak..! Tiba tiba melayang Sendal kearah Wajah Raiyen. "Copett!.. Copet! Cepat pergi tolong" Teriakan Lilia yang kini mengumpat di belakang pohon bunga sakura." Hei! Sebelum melempar lihat dulu dong siapa yang datang! Nih sendal mu!" ucap kesal Raiyen langsung menjatuh kan Sendal itu di depan Lilia." E.. eh Presiden Qin Rupa nya.. Lagian kan bisa lewat pagar, kenapa milih nya tembok si?" ucap malu Lilia sembari memakai sendal nya." Lihat nih wajah tampan ku ada ceplakan Sendal mu! Tanggung jawab Huh!" ujar Raiyen sembari menuding nuding wajah nya." Iya iya.. maaf deh, Eh?.. Tangan mu kenapa Berdarah? Duduk di sana aku akan mengambilkan Obat." ucap Lilia yang melihat tangan Raiyen terluka akibat memukul tembok. Taps!" Aku tau obat nya mari duduk di sana saja." ucap Raiyen menarik tangan Lilia dan membawanya Duduk di ayunan." Gimana obatinya? Aku belum membawa obat nya.. biar ku ambil dulu yaa?" ujar Lilia." Kau tau Alesan aku memanjat Tembok? Untuk menghindari ibu mu tau kalau aku datang! Dan soal obat.. ada kok Hehehe.." ucap Raiyen yang kini terlihat cengir cengir Aneh." Bukan kah kau suka bertemu ibu ku? Kau sendiri yang mengatakannya." ucap cepat Lilia." Siapa yang mengatakan tidak senang? Tentu saja aku senang bertemu Calon makmer! Tapi jika ada Ibu mu kita tiba bisa berduaan tau! Lagian tujuan ku ke rumah mu hanya untuk kita bisa berduaan." ucap Raiyen yang membuat Lilia tersipu malu." A.. apa sih! Kau tak boleh berbicara manis seperti ini bisa bisa aku Luluh tau!" ucap Lilia langsung memaling kan Wajah merah nya itu." Luluh, luluh saja! Toh itu memang tujuan ku!" ucap Raiyen sembari memegang tangan Lilia." Pleyboy! Hentikan ini, aku tau mungkin kau sedang Frustasi karena Wanita yang kau sukai tidak mengingat mu! Tapi itu tidak ada hubungannya dengan ku! Dan kumohon jangan membuat aku menjadi wanita jahat yang akan merembut Cinta Orang lain!" ucap tegas Lilia langsung melepaskan pegangan Raiyen." Aku tidak mengubah mu! Aku hanya sedang berusaha seperti saran yang kau katakan Dulu." Ujar Raiyen kembali memegang tangan Lilia." Apa maksud Berusaha itu? Entah mengapa perkataan yang keluar dari mulut nya selalu membuat ku bingung! Seperti teka teki yang berbelit belit." Fikiran Lilia kembali duduk di Ayunan itu." Jadi bagaimana dengan luka ku ini? Apa akan di biarkan saja?" ujar Raiyen sengaja mencairkan ke adaan." Mana ada! Aku hanya bingung mengobati nya pakai apa!" ucap cepat Lilia." Dengan mantra nyanyian! Yang biasa kau katakan Dulu." ucap Raiyen sembari tersenyum dan tanpa sengaja Lilia memegang Tangan Raiyen yang Terluka dan bernyanyi." Pergilah rasa sakit, hilanggg.. dan menjauh, Cium lah lukanya Agar tak akan terasa sakit! Hehehe.. sudah!" ucap Lilia yang kini di ikuti dengan senyuman Yang indah." Ingatannya bisa hilang.. namun Reaksi badan tak mungkin Hilang! Aku berjanji akan mengembalikan  ingatan mu pelan pelan Lilia." fikiran Raiyen. Lilia" Entah mengapa Aku seperti pernah mengalami ini! Aneh ya?.. apa kau juga seperti ku Raiyen?" Raiyen" sering! Sangat sering sampai membuat ku merasa Itu sangat nyata bukan sekedar Pernah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN