SEVENTEEN

1728 Kata
Previously on Call Your Name...   Untuk yang tak terhitung lagi jumlahnya, Elkansa dibuat kesal oleh semua ucapan orang-orang di sekitarnya.             Semua orang selalu mengatakan bahwa dirinya sudah menyukai Ravina Aulia Maladewa tanpa cowok itu sendiri sadari. Elkansa terusik. Dia kehilangan ketenangannya yang selama ini selalu menjadi poin plus dalam dirinya. Sifat utamanya. Ketika dia memutuskan untuk pulang setelah bertemu dengan Ravina di rumah sakit, cewek itu rupanya mengejarnya sampai ke pelataran parkir.             Ravina meminta waktu Elkansa sebentar saja untuk berbicara empat mata. Cewek itu berkata bahwa dia sama sekali tidak ada niat untuk menghancurkan hubungan Rado dan tunangannya. Dia dan Rado hanya ada di masa lalu, bukan di masa sekarang terlebih masa depan. Ravina juga mengatakan bahwa sebenarnya, dirinya sangat sedih dan sakit hati akan semua tuduhan dan kata-kata menyakitkan yang sellau dilontarkan Elkansa kepadanya. Ravina tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadap dirinya, tapi dia paling tidak suka dan paling benci jika dituduh melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sama sekali dan hal itu membuat Elkansa merasa sangat bersalah.             Setelah menjelaskan semuanya kepada Elkansa dan Elkansa bisa menerima semua penjelasan Ravina, cowok itu menjadi lega sekaligus takut. Takut jika dia tidak memiliki alasan lagi untuk bisa bertemu dengan Ravina. Tapi,ketika Ravina bertanya apakah Elkansa tidak berniat untuk mencoba menjalin pertemanan dengannya, Elkansa merasa sangat senang dan bersemangat. Dia sampai berpikir bahwa Tuhan sedang mengasihininya hingga membuat Ravina memutuskan untuk menawarkannya sebuah pertemanan.             Tiba-tiba, seseorang datang menginterupsi pembicaraan Elkansa dan Ravina. Elkansa tidak mengenali siapa cowok tampan yang baru saja tiba dan memanggil nama Ravina dengan nada yang sangat akrab itu, tapi dia berani bersumpah dia sangat tidak menyukai pemandangan yang tersaji tepat di depan matanya. Cowok itu, yang baru saja tiba dan memanggil nama Ravina, yang Elkansa ketahui bernama Kean karena Ravina balas menyapa cowok tersebut, langsung memeluk tubuh Ravina dengan erat. Ravina sendiri kelihatan tidak keberatan dan justru balas memeluk Kean. Entah kenapa, darah Elkansa mendidih melihat kedekatan keduanya.             Di sisi lain, di lobby rumah sakit, Virgo dan Leo yang sedang mengawasi langsung menatap dengan waspada. Virgo dan Leo sama-sama tidak menyukai kedatangan Kean yang berpotensi besar membawa badai di sekitar Ravina. Keduanya sepakat untuk selalu mengawasi gerak-gerik Kean dan Elkansa, juga berjanji akan selalu menjaga dan melindungi Ravina dari kedua cowok tersebut.   ### “Oh, kenalin,” kata Ravina begitu dia melepaskan pelukannya dan teringat akan kehadiran Elkansa di belakangnya. Cewek itu menoleh dan tersenyum. “Dia Elkansa, teman gue.”             Meskipun merasa senang dianggap sebagai teman oleh Ravina, tapi tetap saja Elkansa merasa tidak senang dengan kehadiran oknum bernama Kean tersebut yang sudah seenak jidatnya memeluk Ravina-nya.             Wait a minute!             Ravina-nya?!             Elkansa menggeleng dan menarik napas panjang. Lo sudah gila, Elkansa Altair.             “El, kenalin. Ini Kean, sahabat gue yang lain. Gue sama Kean pun bersahabat dari kecil, sama seperti gue dan Virgo.”             Elkansa mengulurkan tangan kanannya dengan malas. Namun, dia langsung bersikap waspada kala jabatan tangannya digenggam dengan sangat tegas dan kuat oleh Kean. Begitu Elkansa menatap wajah dan tatapan mata Kean, cowok itu bisa melihat isyarat yang dilemparkan Kean kepadanya hanya dengan melalui tatapan mata Kean.             Ravina milik gue! Scram, b******k!             Elkansa langsung mengangkat satu alisnya dan menyeringai misterius. Heh, cowok ini menantang gue rupanya. “Elkansa Altair. Salam kenal.”             “Kean Whisnutama. It’s nice to meet you.”             Yeah, right! ‘Nice to meet you’ my ass! Elkansa membatin dan menarik tangan kanannya kembali. “Mau jenguk Ravina?”             “Iya. Gue baru dapat kabar dari orang tuanya Ravina kalau dia dirawat di rumah sakit.” Tatapan Kean beralih dari Elkansa ke Ravina. “Lo pasti banyak pikiran lagi, Rav. Kenapa lo malah di sini dan bukannya istirahat di kamar?”             Cara Kean menyebutkan orang tua Ravina barusan merupakan bukti lainnya secara tersirat untuk Elkansa bahwa cowok itu tidak akan bisa masuk ke dalam hubungan Ravina dan Kean. Dan Elkansa menerima pesan itu dengan jelas. Teramat jelas. Tapi, sekali lagi Elkansa hanya menyeringai dan mendengus. Dengusan yang pelan tapi masih bisa terdengar oleh Ravina.             “El? Kenapa?”             “Hah? Oh, nggak apa-apa,” jawab Elkansa kalem. Cowok itu melirik Kean dan tersenyum miring. “Cuma ada serangga yang mengganggu dan mencoba kasih tau musuhnya kalau dia berada di atas angin. Untuk saat ini.”             Kean diam. Cowok itu mengepalkan sebelah tangannya. Cari mati sekali cowok bernama Elkansa Altair ini. Dia mungkin terlihat lebih tua darinya dan Ravina, tapi Kean bersumpah, dia tidak akan menyerahkan Ravina pada Elkansa atau cowok mana pun.             Tidak akan pernah!             “Kean.”             Panggilan itu membuat Ravina, Elkansa dan Kean menoleh. Virgo dan Leo datang dengan wajah dan tatapan serius mereka. Leo langsung menarik Ravina ke arahnya, sedikit menyembunyikan tubuh mungil Ravina di antara dirinya dan Elkansa. Elkansa yang paham dengan tindakan Leo, kontan mengerutkan kening.             Ada apa? Kenapa cowok bernama Leo ini seperti nggak mau kalau Ravina berada di dekat Kean? Bukannya Ravina dan Kean bersahabat?             “Virgo, Leo,” sapa Kean sambil tersenyum lebar. “Lagi di sini juga? Mana Fitri? Biasanya lo sama Fitri selalu berantem kan kalau ada kesempatan. Gue juga kangen sama dia. Udah lama nggak ketemu.”             “Fitri lagi dirawat juga di sini.”             “Oh ya? Asmanya pasti kumat lagi, ya?”             Virgo mengangguk. “Lo ngapain di sini? Jenguk Ravina? Tau dari mana kalau Ravina masuk rumah sakit?”             “Tadi gue ke rumah Ravina. Niatnya mau ngajakin dia main, tapi gue malah dapat kabar dari om Elang dan tante Septi kalau Ravina dirawat di rumah sakit. Mereka juga bakalan ke sini nanti katanya.” Kean bersedekap. “Kenapa gue dapat kesan kalau lo dan Leo nggak mau gue berada di sini, ya?”             Virgo melirik sekilas ke belakang, tepatnya ke arah Ravina. Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan mata Elkansa dan terlihat jelas kalau cowok berusia dua puluh dua tahun itu pun penasaran dengan jawabannya atas pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh Kean.             “Cuma perasaan lo aja.” Virgo tersenyum tipis. “Gimana kalau lanjutin obrolannya di dalam aja? Di kamar inap Ravina? Kebetulan, gue udah minta suster supaya Fitri pun dirawat di kamar yang sama dengan Ravina, biar kita enak jagainnya.” Virgo menatap Leo. “Yo, antar Ravina ke kamar, ya. Ajak Kean sekalian dan gue titip Ipit sebentar. Gue mau cari burger di depan.”             Leo mengangguk dan membawa Ravina masuk. Sebelum benar-benar pergi, Ravina menatap ke arah Elkansa, membuat Leo mengangkat satu alisnya dan mendengus.             “El, nggak ikut?”             “Hah? Oh, nggak usah. Gue harus pulang, masih ada urusan. Makasih buat yang tadi, ya.”             Ravina mengangguk dan tersenyum lembut. “Jangan sungkan dan ragu kalau mau ketemu sama gue atau mau main sama gue. Kita udah berteman, kan?”             “Oke.”             Setelah Leo, Ravina dan Kean menghilang dari pandangan Elkansa dan Virgo, Elkansa langsung berdeham untuk menarik perhatian Virgo. Cowok itu menghela napas panjang dan memutar tubuh untuk berhadapan dengan Elkansa.             “Don’t ask.”             Alis Elkansa terangkat satu. “I didn’t say anything,” sahut Elkansa kalem. “Yet,” tambahnya.             Virgo berdecak. “Jangan kepo.”             “Kenapa? Gue teman Ravina.”             “Kalau situ nggak lupa, situ baru aja berubah status dari orang b******k jadi temannya beberapa detik yang lalu.”             Elkansa memutar bola matanya. “Kenapa lo dan Leo seolah melindungi Ravina dari Kean? Bukannya kata Ravina, Kean itu sahabatnya, seperti lo dan Leo?”             Virgo mendesah berat dan memijat pelipisnya.             “Virgo?”             “Ya, sahabat. Kean itu sahabat Ravina.”             Ketika mulut Elkansa terbuka untuk merespon ucapan Virgo, cowok itu telah lebih dulu berbicara.             “Sayangnya, sahabat yang terobsesi. Sahabat yang posesif. Dan kemungkinan besar, Rado, mantan pacar Ravina sekaligus adik lo itu, dulu pernah menjadi korban dari keposesifan Kean terhadap Ravina.” ### Lilian menelan ludah dan mengintip ke dalam kelas.             Sudah beberapa hari terakhir ini, semenjak kejadian di rumah sakit yang melibatkan kehadiran Gendis, Lilian menghindari Leo. Bukan hanya karena itu saja, melainkan juga karena hatinya yang mendadak menjadi aneh. Dia tidak lagi memikirkan Virgo, mengingat dulu dirinya sangat menyukai cowok itu, melainkan memikirkan Leo.             Dan, rutinitas mengintip dahulu ke dalam kelas sebelum masuk sudah menjadi kebiasaan bagi Lilian. Dia tidak mau hanya berada di dalam kelas berdua saja dengan Leo. Jantungnya pasti akan berdebar keras dan Lilian akan merasa sesak.             “Gue perhatiin dari lama, sikap lo ini benar-benar aneh. Selalu aja ngintip ke dalam kelas. Kenapa, sih?”             Pertanyaan itu membuat Lilian menjerit dan langsung memutar tubuh. Kakinya terantuk dan Lilian pasti akan terjungkal ke belakang kalau saja sebuah lengan kokoh tidak melingkari pinggangnya. Lilian dan si pemilik suara langsung menghela napas panjang.             “Kenapa sih lo hobi banget ngagetin gue?” sungut Lilian. Matanya yang agak sipit dibulatkan. Namun, bukannya terlihat sangar, cewek itu justru terlihat lucu.             “Dih, lo sendiri kenapa hobi banget ngintip ke dalam kelas sendiri?” Leo, oknum yang sudah mengagetkan Lilian dan menolong Lilian sibuk menahan senyum.             “Suka-suka gue, dong! Kenapa lo yang sewot?”             “Soalnya lo mengganggu jalanan dan menghalangi orang yang lewat.”             “Maksud lo gue ini gendut?!”             “Kok lo nge-twist omongan gue?”             “Maksud ucapan lo barusan emang gitu, kan?!”             “Ih! Lo dengar nggak gue bilang lo gendut? Nggak, kan?”             “Itu! Barusan lo bilang gue gendut!”             “Gue kan barusan bikin pembelaan karena lo nuduh gue ngatain lo gendut!”             “Hei.”             Suara itu membuat Leo dan Lilian menoleh. Keduanya sama-sama menatap Virgo yang menatap mereka dengan tatapan malas.             “Bisa nggak, Romeo dan Juliet kita ini berhenti dulu mesra-mesraan dan biarin kita masuk ke dalam kelas?”             “Romeo dan Juliet?” ulang Leo dan Lilian nyaris bersamaan.             Saat itulah, kepala Narsya menyembul dari balik punggung Virgo. “Iya, Romeo dan Juliet. Soalnya kalian mesra banget. Tuh, pelukan di depan kelas.”             Kalimat Narsya itu membuat Leo dan Lilian mengerjap. Keduanya saling tatap dan baru menyadari bahwa tangan Leo masih melingkari pinggang Lilian dengan sempurna dan terlihat seperti sedang memeluk cewek itu. Langsung saja Leo melepaskan pelukannya pada pinggang Lilian.             Sialnya, karena terlalu cepat, keseimbangan tubuh Lilian menjadi goyah karena memang sedari tadi, beban tubuhnya sepenuhnya bersandar pada Leo. Sigap, Leo segera menahan lengan Lilian supaya cewek itu tidak jatuh terduduk di lantai.             “Hati-hati, dong!”             “Lah, kan elo yang main seenak jidatnya aja lepasin gue!” seru Lilian.             “Jadi, lo nggak mau gue lepasin?”             “Ya nggak, lah!”             Hening.             Narsya yang mendengar hal itu langsung menutup mulut dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan yang lain menarik lengan kemeja Virgo. Teman-teman sekelas mereka yang sudah datang pun mengintip dari dalam kelas. Kepo dengan keributan yang tercipta.             “Halo? Pit? Si Leo nih lagi ngerayu Lilian di depan kelas.”             “NGGAK!” teriak Leo dan Lilian berbarengan. Keduanya saling tatap dan membuang muka.             “Gue masuk dulu, ya. Mau ngegosip sama Ipit mengenai kalian berdua. Bye.”             Sepeninggal Virgo dan Narsya, Leo dan Lilian saling lirik. Keduanya kembali membuang muka dan Lilian memutuskan untuk langsung masuk ke dalam kelas karena tidak kuat menahan debaran jantungnya yang meliar.             Ya Tuhan! Gue kenapa? Kenapa gue deg-degan banget berada di dekat Leo?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN