Mas Akbar?! Naomi?!

2128 Kata
"Mas Akbar?! Naomi?!" ucap Ditha setengah menjerit, tak percaya dengan pemandangan menjijikkan di depan matanya. "Mas Akbar sialan! Mas kurang ajar! Apa yang kamu lakukan? Keluar kau, Mas Akbar, buuka pintunya! " teriak Ditha sekencang-kencangnya. Tangan Ditha yang mengepal kuat pun tak ragu menggedor daun pintu itu sekuat tenaga. Kepalan tangan yang bercampur amarah meledak di dalam jiwa. Saking kuatnya, sampai-sampai daun pintu itu seperti mau rontok dari tempatnya. Sontak saja Akbar terkejut. Tubuhnya bahkan mencelat dan handphone ios di genggaman tangan pun terjatuh ke atas lantai. Miliknya yang menegang seketika lemas. Gairah dan nafsu yang menggebu langsung pucat berlari ke tempatnya karena shock mendengar suara gaduh yang dibuat oleh Ditha. Akbar ketangkap basah. Segera lelaki itu merapikan diri, memungut kembali handphone ios-nya yang terjatuh lalu memutuskan sambungan video call itu. "Ada apa…" Plak! Tamparan keras didapatkan langsung di pipi Akbar setelah lelaki itu muncul dari balik pintu. "Suami kurang ajar! Mas jahat! Berani-beraninya kau selingkuh di belakangku!" Ditha berteriak marah dan tanpa ragu mengeluarkan kata-kata umpatan pada lelaki yang berdiri tegak di depan mata. Layangan keras telapak tangan Ditha kembali mendarat sempurna di sisi pipi Akbar. Layangan tangan Ditha begitu keras hingga menimbulkan suaranya yang khas, irama tepukan sadis. Tatapan lurus Akbar membalas tatapan Ditha seketika berpaling ke sisi sebelah, menoleh dengan cara dipaksa oleh layangan tangan Ditha yang dikuasai oleh amarah. Senyar panas sontak dirasakan pada kulit pipi Akbar, merayapi hingga menghantarkan gelombang perih. Seolah rombongan ribuan semut merah menyerbu kulit pipi Akbar lalu menggigiti tanpa ampun, tanpa rasa kasihan. Tetapi, Akbar masih saja tenang. Tak langsung menghakimi amukan kemarahan Ditha. Lelaki bertubuh tinggi itu malah memilih meresapi senyar perih bercampur panas pada kulit pipi yang memerah. Tangan satunya pun bergerak naik lalu melabuh di sisi pipi yang terasa sakit, menyentuh dan memeriksa hasil kekasaran tangan Ditha. Wajah Akbar kembali bergerak, memposisikan wajahnya lurus. Kedua mata berbola matakan cokelat tua miliknya menatap datar Ditha yang dikuasai ledakan amarah penuh rasa kecewa. "Apa-apaan kamu Ditha?" si pengkhianat masih saja berkelit tak mau mengaku. "Jangan berpura-pura menjadi orang bodoh, Mas. Lelaki berpendidikan sepertimu tak pantas menjadi orang bodoh," sindiran menohok Ditha dengan suara paraunya agak bergetar. Kedua mata yang berkaca-kaca bahkan tak berkedip demi menahan genangan air mata yang terbendung di pelupuk mata. Jangan tanya bagaimana keadaan hati Ditha yang hancur berkeping-keping, tercerai-berai terbang melayang tak tahu arah. Namun, wanita cerdas itu berusaha menghadapi Akbar dengan tenang, menahan ledakan amarah yang sudah carut-marut di dalam jiwa. "Aku tidak tuli, Mas. Kedua telingaku ini masih sehat dan masih bekerja dengan baik. Bahkan suara hujanan air shower saja masih bisa aku perdengar dengan baik." Ditha mendesak Akbar dengan sindiran tajam. "Aku tak mengerti dengan apa yang kau ucapkan. Tamparanmu ini aku anggap sebagai bukti betapa kurang ajarnya kau sebagai seorang istri." Akbar begitu tak mau mengakui kesalahan yang jelas-jelas ia perbuat. Ditha tercengang. d**a Ditha kembali teremas paksa oleh rasa kecewa bercampur sakit hingga menyesakkan d**a. Sejenak wanita cantik berkulit seputih s**u itu lupa bagaimana caranya bernapas. "Kau selingkuh, Mas!" Ditha langsung menuduh tanpa ragu. "Kedua telingaku ini mendengar jelas kau sedang ‘bermain’ di dalam sana dengan Naomi,Mas. Kamu sadar tidak dia adik tiri ku sekaligus adik iparmu! Aku mendengar semua obrolan menjijikkan kalian berdua yang tak pantas aku sebutkan!" sambung Ditha berteriak histeris sambil telunjuknya menunjuk-nunjuk ke telinga. "Hahhh! Kau sudah tahu ternyata. Sudah sejak kapan, Ditha Anelka Maureen?" Akbar tak menyangkal. "Benar kau selingkuh dengan Naomi?" tanya Ditha memastikan dengan suara datar yang melemah. "Karena kau sudah mengetahuinya, maka aku jawab ‘ya’! Aku dan Naomi memiliki hubungan lebih dari sekadar adik ipar." Akbar mengakui dengan ketengannya. Tak menyangkal tuduhan Ditha sedikit pun. "Mas Akbar. Bagaimana bisa kau melakukan ini semua? Kita menikah sudah tujuh tahun…" "Aku pria normal, Ditha. Kau tahu sendiri Naomi seperti apa. Intensitas waktuku bertemu Naomi lebih banyak ketimbang kita berdua. Hampir separuh waktuku lebih banyak aku habiskan di kantor. Naomi yang begitu menggoda di depan mata, menggoyahkan imanku dengan mudah." 'Sialan aku izinkan dia bekerja di kantor suamiku tapi kamu malah mengkhianati kepercayaanku, Naomi!' Hati Ditha semakin hancur ketika begitu lancarnya suami tercinta mengakui tipisnya iman yang dimiliki. "Bahkan waktu tujuh tahun yang kita lalui bersama tak bisa menguatkan imanmu dari Naomi?" Ditha tertunduk, tak mampu lagi menoleh dalam pada kedua mata Akbar. "Pria manapun tak akan menolak jika disuguhkan segumpal daging segar. Ibarat sebah makanan, pastilah orang-orang memiliki keinginan mencoba lauk-pauk berbeda dari yang biasa dinikmati." Kiasan kata menyakitkan dari Akbar semakin merusak hati wanita di depan mata. "Haruskah kau merusak rumah tangga yang kita bina? Haruskah kau mematahkan pilar-pilar bangunan rumah yang dua tahun kita tegakkan? Kamu yang sering menuduhku berselingkuh tapi apa nyatanya, Mas. Justru kamu yang telah mengkhianati ketulusan ku" bibir Ditha tergigit kecil oleh barisan gigi putih akan getaran di bibirnya saat menyuarakan isi hati. "Kau tidak merasa ada yang kurang dengan pernikahan kita?" Akbar balik bertanya, begitu tak ingin disalahkan seutuhnya oleh situasi yang bermula dari dirinya. "Maksudmu apa?" Ditha tak paham. "Kau selalu sibuk dengan karier kamu. Kau tidak pernah bisa membagi waktu untuk ku. Sedangkan Naomi dia selalu bisa kapan saja aku mau." Akbar pun to the point pada alasan dari keputusan sepihak yang berujung menyakiti istri sahnya. Ditha tercengang. "Aku selalu mengubungi kamu kemanapun aku pergi bahkan dengan siapapun juga aku selalu bilang. Bahkan disaat libur aku selalu menyempatkan waktu untuk kamu tapi kamu yang selalu ga bisa. Apa itu kurang? Bahkan dengan teganya kamu Mas, mengapa kamu mendua?" "Kau menyalahkan ku?" Akbar membentak Ditha. "Aku tidak menyalahkan kamu. Aku hanya ingin kamu juga mengerti, Mas. Jangan terus-terusan aku yang disalahkan juga!" Ditha mendesak. "Terserah!" Akbar enggan menjawab. "Karena kau sudah tahu. Maka aku tak akan lagi menutupi-nutupi semua ini darimu. Aku dan Naomi sudah berpacaran lima bulan bahkan sudah melalukan hubungan intim layaknya hubungan kita. Aku mencintai Naomi. Naomi mengerti aku dibandingkan istri yang sudah aku kenal lama. Naomi lebih memuaskan aku dibandingkanmu, Ditha. Aku yang lelah saja bisa langsung b*******h ketika Naomi memainkan adikku." Darah Ditha mendidih mendengar pengakuan kurang ajar dan menjijikkan Akbar yang tanpa rasa dosa ia ucapkan. Begitu lancar tanpa ada takut apalagi memikirkan perasaan Ditha. "k*****t! Kau tega, Mas." Ditha menggeram, rahangnya yang mengeras saling beradu dan bergesekan. "Begitu mudahnya kau menghancurkan semua mimpi dan cinta kita demi w************n itu." "Naomi bukan w************n. Dia adalah pelangi yang memberi warna baru dihidupku. Jika kau menyebut Naomi dengan sebutan seperti itu, aku bisa menam...” "Aku minta cerai." Ditha menyela cepat sebelum ancaman dari Akbar terdengar oleh kedua telinganya. Karena suara cekcokan mereka begitu keras sehingga membuat Govin terbangun dari tidurnya. "Mamiiiiiiii kenapa menangis," panggil Govin yang baru saja gabung dengan mereka. Ia langsung memeluk Ditha. Sementara Akbar pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. "Mami ga papa sayang. Ayo kita masuk kamar lagi. Malam ini Mami tidur sama Govin yaa," kata Ditha mengalihkan perhatiannya. "Horeeeeee," jawab Govin kegirangan. Konsentrasi Ditha pecah pada sejenak kelopak mata Ditha yang sedikit terpejam, buliran air mata pun jatuh. Namun, hanya sejenak. Tak mungkin Ditha terlihat lemah di depan anaknya itu. Sekujur tubuh Ditha lemas. Wanita cantik itu memejam mata lemahnya di atas kasur bersama Govin anaknya. Hawa dingin di depan mata semakin melemahkan ritme jantungnya. "Kenapa harus Mas Akbar, Naomi…?" ratap Ditha. Ia terlelap begitu saja malam itu dengan rasa sakit yang luar biasa. * Kedua tangan saling menyatu. Setiap ruas dari jemari saling bersentuhan dan mengudara di depan d**a. Mata terpejam rapat. Tubuh ramping yang berada di atas matras berbahan karet duduk dengan posisi bersila. Sang pemilik tubuh sedang berkonsentrasi. Mencoba menemukan titik ketenangan dengan alunan musik lembut pemancingnya. Kelopak mata agak berkedut. Bibir yang merapat pun ikut berkedut. Sepertinya konsentrasi mulai pecah akan sesuatu hal masuk menghampiri pikiran. "Arrrgghhhhh! Akbar kurang ajar! Katanya ga akan bikin aku sampai hamil, tapi kenyataannya apa?" Naomi berteriak frustasi. Mata Naomi masih terpejam rapat. Wanita cantik berkulit seputih s**u itu mencoba kembali merengkuh ketenangan. Memulainya dengan mengatur ritme pernapasan. Dada Naomi naik saat tarikan nafas dalam dilakukan. Lalu turun saat hembusan nafas dikeluarkan perlahan lewat mulutnya. Beberapa kali Naomi melakukan hal serupa demi mengusir sesuatu yang mengganggu pikiran sejak siang. Bisikan Akbar kembali menyinggung kejadian malam itu sungguh membuat Naomi khawatir. Apalagi ucapannya yang mengatakan akan bertanggung jawab bila nantinya membuahkan hasil. Pada kenyataannya hal itu mustahil terjadi. Tak mungkin hanya penyatuaan saliva berhasil menumbuhkan benih di rahim Naomi? Tak mungkin hanya penyatuan kulit bisa menghadirkan janin di rahim Naomi? It’s impossible! "Argghhh! Akbar pengecut kenapa tak mau pergi dari ingatanku!" Naomi kembali berteriak histeris. "Harusnya aku tak melakukan yoga. Harusnya aku zumba saja untuk menggagalkan benih itu itu tumbuh di rahimku. Iya, aku zumba saja!" Naomi bangkit setelah yoga pun tak berhasil menenangkan dirinya dari bualan bisikan Akbar yang penuh kepalsuan. Wanita cantik itu menghidupkan musik energik dan menari mengikuti irama musik. * Kantor Akbar. "Batalkan semua pertemuan dengan klien!" Perintah Akbar pada asisten pribadinya. "Baik Pak!" Hari ini Dia sedang ingin sendiri tidak ingin direcoki. Pikirannya saat ini betul-betul kacau sekacau-kacaunya. Dan yang Akbar inginkan hanya sendiri tanpa gangguan apapun. Akbar memijit kecil pelipisnya dengan siku tertopang ke meja. Kepalanya yang berdenyut terasa bertambah berat. Bukan apa-apa, sejak telponan dengan Naomi kemarin malam, Akbar merasa hatinya yang sudah tenang kembali terusik. Mengingat Ditha sudah mengetahui hubungan terlarang mereka. Ada kekhawatiran dalam diri Akbar ia tak ingin lagi berhubungan dengan perempuan itu. Tapi semesta masih belum sepakat. Hal itu pun terbukti saat ini ketika tiba-tiba Naomi kembali muncul di hadapannya. Naomi menarik kursi di depan Akbar dan mendudukkan diri di sana. Matanya yang bulat dan besar memandang lurus pada lelaki itu. "Jadi gitu ya, Mas? Kamu melarangku agar aku harus menjaga sikap di kantor. Apa maksudnya Mas?" "Aku harap kamu mengerti," jawab Akbar terang-terangan. Naomi tertawa menampakkan gigi putihnya yang rapi. “Kamu nggak akan bisa lepas dari aku Mas, percayalah!" "Keluarlah dari ruangan ku sekarang, aku sibuk!" usir Akbar tidak ingin meladeni ocehan Naomi. Selain itu kepalanya yang semakin sakit membuatnya tidak bisa berkonsentrasi. "Mas, aku hanya ingin mengajak kamu makan siang." "Aku nggak bisa, Naomi. Aku sibuk," ulang Akbar sekali lagi. Keduanya lalu terdiam dengan tatapan saling mengunci. Akbar menahan nafas, juga perasaannya. "Mas aku nggak bermaksud minta yang macam-macam sama kamu, aku tau kamu sudah menikah, aku hanya ingin kita makan siang bareng. Sekali… aja." Mata Naomi jatuh di jari manis Akbar. Tepat pada cincin berlian yang melingkar di sana. Akbar ikut memandang cincinnya sendiri. Cincin polos yang sekilas terlihat biasa itu adalah cincin nikahnya dengan Ditha. Entah kenapa Akbar tidak ingin melepas dan membiarkan melekat erat di jarinya. Akbar menunduk, menatap cincin nikahnya sekali lagi. ‘Aku sudah berkhianat.' "Kamu tahu kan. Ditha sudah tahu dengan hubungan kita!" "Ya bagus dong berarti ga usah ada yang ditutup-tutupi lagi dari kita" "Tapi…" "Sudahlah ngapain mikirin Mbak Ditha. Mendingan kita makan siang. Ayolah Mas, please! Sekali ini saja…" Suara Naomi yang penuh permohonan meruntuhkan pertahanan Akbar. Lelaki itu mengangguk perlahan yang disambut oleh Naomi dengan senyum mesra. Sebut saja Akbar lemah, tapi cinta yang menjadikannya demikian. Naomi memamerkan senyum kemenangan saat dia melewati karyawan yang lain mereka melongo heran melihatnya bergelayut manja di lengan Akbar. "Pak Akbar!" seru salah satu karyawannya Ingin mengingatkan pada Akbar kalau perempuan yang berjalan disebelahnya tidak sepatutnya bersikap demikian. Dua puluh menit kemudian mereka sudah berada di sebuah restoran Jepang. "Seperti biasanya kan, Mas?" ujar Naomi sebelum memesan menu makan siang hari itu. Akbar mengangguk dan menyerahkan pilihannya pada Naomi. Hanya menunggu tak lebih dari sepuluh menit, hidangan dari selada dan roti panggang yang dipotong kecil lalu ditambahkan keju parmesan, juice lemon, minyak zaitun, telur, saus worcestershire, bawang putih, serta lada hitam itu tersaji di depan mereka. Naomi tersenyum puas melihat Akbar yang menikmati dengan lahap makanannya. Apa yang disukainya, Naomi juga suka. Dan sebaliknya, dia juga akan menyukai pilihan Akbar untuknya. "Kenapa, Mas?" tanya Naomi kala melihat Akbar mengerjap berkali-kali di sela-sela makan siang mereka. "Aku agak pusing," jawab Akbar jujur. Matanya dia rasa juga tidak seterang biasa. "Mungkin kamu terlalu sibuk dan kurang istirahat. Habis ini kita ke apartemenku saja ya!" Akbar mengangguk pelan. Mungkin Naomi benar. Dia kurang istirahat. Barangkali setelah tidur sebentar dia akan kembali segar. "Mas ada yang mau aku bicarakan juga dengan kamu," ucap Naomi dengan memberikan sebuah kotak pada Akbar. "Apa ini?" "Buka saja," kata Naomi. "Apa? Kamu hamil? Gak. Gak Naomi. Ini gila gugurkan kandungan itu secepatnya sebelum Ditha tahu!" "Aku ga bisa Mas!" "Ah sialan kenapa jadi begini sih urusannya!" umpat Akbar kesal dia berdiri lalu memukul meja itu dengan kerasnya. Akbar tidak bisa menerima kabar ini. Sontak semua mata pengunjung cafe itu seketika menatap mereka karena suara gebrakan Akbar. Dan tanpa disadari oleh Naomi Akbar ternyata malah pergi begitu saja meninggalkan Naomi. "Mas tuuuu-nggu, Mas Akbaaaaaar," panggil Naomi sedikit berteriak seraya mengentikan langkah Akbar tapi usaha Naomi sia-sia karena Akbar tidak menoleh sedikitpun keadaan Naomi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN