Part 5 Nakalnya Bira Begitu membaca nama pasien berikutnya adalah Lunar, maka Bira kalang kabut membersihkan ruangan periksanya. Satu kotak alat kontrasepsi ia buang ke dalam tempat sampah. Minyak gosok juga ia tuang ke telapak tangan, lalu ia ciprat-cipratkan ke seluruh ruangan. Ia bergerak cepat, seperti detak jantungnya saat ini. Tidak, ia belum siap kalau Lunar mengetahui pekerjaannya. Baru dua tahun lebih delapan bulan ia seperti ini dan baru saja asyik dengan mainan barunya. Tentu ia tidak mau diganggu oleh siapa pun termasuk Lunar. “Silakan pasien berikutnya!” seru Bira dari dalam kamar periksa. Tangannya yang gemetar, terpaksa ia kepalkan dengan kuat agar kegugupannya tidak terlihat oleh sang Istri. Ceklek! “Permisi, Bang Bira. Saya Sunar.” Bira melongo saat seorang pria yang

