Adiba yang mulai sadar merasa sedikit pusing mendengar tembok sebelah yang terus dipukul-pukul. Adiba pun segera memanggil ibunya yang berada di luar. Tak lama kedua orang tua Adiba datang dan bertanya kepada Adiba apa yang terjadi. Adiba pun menjelaskan kepada orang tuanya ia mendengar tembok sebelah di pukul dengan sangat keras padahal kedua orang tuanya yang diluar tidak mendengar apapun. Kedua orang tua Adiba pun berusaha menenangkan Adiba. Tak lama Adiba pun mendengar suara perempuan yang menanggis tersedu-sedu sambil mengatakan kembalikan anakku kembali kan anakku yang terus berjalan mondar-mandir menurut Adiba penampilan permpuan itu sangat aneh. Bagaimana seorang wanita bisa berpenampilan begitu lusush dengan rambut panjang yang terurai tanpa menyisirnya serta mengenakan pakaian putih yang compang-camping dengan banyak bekas darah di pakaianya. dan darah pun berceceran di lantai rumah sakit. Bagaimana perawat dan para Staf dirumah sakit tidak menghentikan perempuan itu dan terus berjalan mondar-mandir di depan kamarnya.
Adiba pun bertanya kepada ibunya mengapa ada wanita yang berkeliaran dengan banyak darah berjalan mondar-mandir di depan kamarnya. Dengan terkejut ibu Adiba merasa kebingungan karena sejak tadi ia tidak melihat apa-apa dan tidak mendengar suara apapun. Dengan pelan ibu Adiba menutup pintu kamar Adiba karena ia menyadari jika sekarang ia berada di rumah sakit tentu suasana rumah sakit bukanlah suasana yang tenag seperti di rumah. Adiba pun kemudian berisitirahat karena dokter mengatakan ia besok boleh pulang karena kondisinya memang baik-baik saja.
Namun harapanya untuk istirahat sia-sia tiba-tiba ada tangan yang begitu dingin yang tiba-tiba menyetuh kakinya. Tangan kecil itu begitu mengejutkan Adiba. Lalu adiba melihat kedua orang tuanya yang tidur sangat lelap karena kecapekan pun membiarkan keduanya tidur. Suasana rumah sakit yang bertambah sunyi ketika malam menjelang. tepat pukul 23.00 WIB. Tangan kecil itu adalah milik anak kecil laki-laki yang sangat tampan dengan banyak luka di wajahnya dan baju nya yang robek-robek seperti bekas kecelakan. Adiba sama sekali tidak memikirkan bagaimana anak itu bisa masuk ke kamarnya yang ia berpikrian sangat sederhana bahwa anak kecil tersebut masuk ketika pintu kamarnya terbuka karena ia melihat pintu kamar tersebut yang sedikit terbuka.
Anak kecil itu mengatakan membutuhkan bantuan Adiba untuk menemukan ibunya karena ia kehilangan ibunya saat berada diluar. ia tidak tahu kemana arah ibunya karena hari sudah semakin malam. Anak itu pun kemudian menuntun Adiba untuk keluar dan menyusuri lorong yang ada. Namun bocah kecil itu tidak menemukan ibunya . Adiba pun menyaran untuk anak itu keluar mencari sekuriti untuk membantu menemukan ibunya.
Ia pun menyusuri lorong bersama anak kecil itu hingga sampailah ia di lorong yang paling ujung. Dan anak itu pun berteriak memanggil mamahnya .Adiba yang terkejut bahwa yang ia liat disekitar kamarnya tadi adalah ibu dari anak itu. Namun kenapa ia tidak menemui dokter untuk memberikan perawatan kepadanya karena sejak tadi ia banyak mengeluarkan darah. Anak kecil itu pun berlari mengejar ibunya dan memeluk ibunya.
namun begitu terkejutnya Adiba melihat ketika ibunya menoloh terdapat muka yang datar dan berlumuran darah Adiba yang terkejut pun berteriak sejadi-jadinya namun karena suasana lorong yang di ujung dan sangat sepi tidak bisa di dengar oleh siapa pun. Adiba kemudian berlari sekencang-kencangnya hingga ia terjatuh dan pingsan suasana yang sepi tidak ada orang membuat Adiba tergeletak di lantai.
Orang tua Adiba yang terbangun dari tidurnya pun kebingungan mendapati Adiba yang sudah tidak ada di atas tempat tidurnya. Ibu Adiba segera membangunkan Ayah Adiba mereka pun bergegas mencari Adiba di bagian lorong-lorong rumah sakit . Ayah Adiba pun memanggil sekuriti untuk membantu menemukan dimana Adiba.
Mereka pun mencari kemana Adiba berada ibunya yang kebingungan mulai menteskan air mata dan menanggis sejadi-jadinya .Sekuriti berjalan menuju ujung lorong dan menemukan anak perempuan yang tergeletak disana. Ayah Adiba yang mendapati bahwa itu putrinya pun segera mengedong putrinya menuju kamar ICU karena ia melihat darah segar mengucur dari kening putrinya. Dengan berlari dan tergesa Ayah Adiba memanggil-manggil dokter untuk segera menanggani putrinya. Dokter pun segera menanggani Adiba kemudian dokter pun bertanya apakah yang terjadi apakah Adiba habis jatuh dari tempat tidurnya. Ayah Adiba pun menjelaskan apa yang terjadi kepada Dokter tentang anaknya. Dokter pun menjelaskan jika luka Adiba tidak terlalu parah ia pingsan karena terlalu lelah dan sangat ketakutan. Dokter pun menjelaskan jika memang bangunan rumah sakit ini adalah bekas pemakaman umum jadi tidak heran jika banyak mahluk yang muncul dihadapan mereka.
memang di antara yang lain ibu dan anak inilah yang paling sering mengganggu .Tidak hanya Adiba saja yang dinganggu namun juga para staf rumah sakit. Dokter pun bercerita tentang berbagai hal bahwa awalnya rumah sakit ini menjadi sengketa dan menjadi rebutan antara pewaris. Yang pemilik sah dari rumah sakit ini adalah bapak Yohan .Ia dokter yang sangat masyur. Ia memiliki istri bernama Alexa namun nyonya Alexa ini tidak memiliki anak dengan dokter Yohan karena ia memiliki kanker rahim. Kemudian dokter Yohan pun berusaha memberikan perawatan yang terbaik untuk istrinya ia pun mengangkat anak dari panti asuhan yang masih satu yayasan dengan rumah sakit tempat dokter Yohan bekerja dulu hal itu dilakukuan dokter Yohan agar istrinya tidak kesepian. Ia pun bekerja sangat keras untuk mendirikan rumah sakit ini demi memberikan pelayan yang terbaik untuk orang yang sangat ia cintai. Namun pada tahun 2012 keduanya meninggal dengan selisih 30 hari . Pada awalnya rumah sakit ini hanya menangani kanker namun semakin kesini semakin berkembang pesat . Dan terjadi perebutan kekuasaan dari kedua anak angkat dari dokter Yohan. Mereka pun saling beradu taktik dan Argumen untuk mendapatkan rumah sakit ini. Hingga salah satu dari mereka memaksakan untuk memperluas lahan rumah sakit dan memakan lahan pemakaman kuno yang ada di belakang rumah sakit. Kami yang sudah bekerja lama di sini sebenarnya sudah mengingatkan kepada mereka karena dokter Yohan pernah berpesan jika kekurangan lahan kita tidak perlu menggunakan lahan pemakaman kita bisa membangun cabang yang lebih luas. Namun karena ketamakan mereka tetap rumah sakit ini yang menjadi korban. Sebenarnya masing -masing dari mereka sudah mendapatkan hak hanya saja mereka merasa kurang dan rumah sakit ini sebenarnya sudah diserahkan 50% untuk yayasan dan sisanya untuk mereka.
Sampai saat ini mereka masih berebut bahkan mereka menggunakan ilmu hitam untuk saling mengalahkan satu sama lain. Hingga membuat suasana di rumah sakit tidak lah tenang.
Setelah dokter bercerita panjang lebar kemudian meminta kepada Ayah Adiba untuk menjaga putrinya baik-baik ketika di rumah sakit dan Adiba diperbolehkan pulang besok.