Hari ini adalah hari kelahiran Adiba yang ke 12 tahun. Seorang gadis kecil yang berperawakan cantik dan manis pembawaan yang ceria menambah daya tariknya dan keunikan didalam dirinya. Namun karakteristik yang dimilikinya ini hanya sebuah ilusi untuk menutupi kepribadianya. Tepat saat usianya 12 Tahun ia mengalami hal-hal yang diluat nalar. Ia sering mengalami kesurupan, setiap berjalan selalu merasa ada yang mengikuti hidupnya seperti diburu dengan hal-hal yang tidak kasat mata, ia menjadi mudah terpancing emosi dan meledak bahkan ia beberapa kali harus masuk ruang konseling karena sering berkelahi dengan teman-temanya, bahkan dari beberapa temanya Adiba mulai mengalami beberapa perubahan sifat ia sering merasa ketakutan saat berkumpul dengan teman-temanya.
Menurut orang-orang disekitar Adiba ia sering sekali mengalami perubahan sifat yang awalnya ceria sekian detik kemudian berubah menjadi orang yang sangat menyeramkan. Yang awalnya menyenangkan bisa berubah mengerikan semua dapat dilihat jelas dari pandangan semua orang. Hingga suatu ketika mata pelajaran matematika dikelas. Tiba-tiba berteriak -teriak dan menanggis hingga suasana kelas yang awalnya tenang berubah menjadi kacau. Guru perempuan yang mengajarnya pun segera meminta bantuan kepada guru lain untuk membantu membawa Adiba ke ruang UKS. Teman-teman sekelasnya yang merasa ketakutan pun ikut berhamburan keluar.
Di dalam ruang UKS Adiba ditemani oleh guru konseling karena guru matematika harus kembali ke kelasnya. Di dalam ruangan UKS guru konseling meminta Adiba untuk menjelaskan semuanya. Adiba pun menceritakan apa yang terjadi terhadapnya. Ketika menatap keluar ruangan ia melihat seorang wanita yang memiliki rambut panjang dengan wajah mengerika berada tepat didepan pintu kelas dan tiba-tiba ketika ia mengedipkan mata wajah wanita tersebut berada tepat di depanya hal ini mengejutkan dia. Hingga ia berusaha berteriak sekencang-kencangnya.
Mulai dari sini kehidupan Adiba mulai berubah drastis ia mulai sering melihat penampakan dari berbagai bentuk namun masih menyerupai manusia .Adiba tidak menyadari jika itu bukanlah manusia karena pada dasarnya sifat Adiba yang cuek dan tidak pernah peduli dengan hal-hal semacam itu. Baginya kejadian disekolah adalah hal mistis yang pernah dia alami sekali saja dihidupnya. Namun kenyataanya ia setiap hari harus berhadapan dengan berbagai mahluk yang tidak ia sadari. Hal ini membuat Adiba tidak pernah mengatakan hal apapun terhadap keluarganya.
Suatu ketika ia berantem hebat dengan kedua orangtuanya karena ia dilarang untuk pergi bersama teman-temanya. Ia pun sangat marah terhadap kedua orangtuanya. Ketika ia mengalami emosi yang meledak maka mata batinya akan terbuka dengan jelas dan jika tanpa pengawasan akan sangat berdampak buruk pada dirinya. Ketika emosinya muncul ia takkan bisa mengontrolnya bahkan melukai diri sendiri menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan . Saat itu ketika ia marah ia mengunci kamarnya dari dalam terdengar suara seperti benda-benda berjatuhan dan berserakan terdengar juga suara kaca yang sudah dipecahkan. Kemudian orangtuanya sangat terkejut dengan suara yang bersumber dari dalam kamar Adiba . juga terdengar suara-suara teriakan namun tidak seperti suara Adiba. Suara tersebut berubah-ubah dan semakin aneh. Tak lama Ayah Adiba pun mendobrak pintu kamar Adiba dengan sangat keras. Ia pun sangat terkejut melihat putrinya yang sudah berlumuran darah. Dan wajahnya pun tidak terlihat seperti Adiba. Ayah yang Panik langsung memeluk Adiba dan membawanya kerumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit dokterpun langsung menangani Adiba namun dokter mengatakan tidak perlu ada yang dikwatirkan dengan kondisi Adiba ia hanya mengalami luka-luka di tangan akibat pecahan kaca, Namun Adiba belum sadar diri hingga beberapa jam. Orangtuanya yang cemas terus mendampinginya hingga dokter pun bertanya kepada orangtua Adiba apa yang sebenarnya terjadi kepada anak mereka menggapa luka di tangan Adiba seperti luka yang memang disengaja dilakukan untuk melukai diri sendiri. Ayah Adiba pun berusaha menjelaskan semuanya kepada dokter tersebut. Dokterpun menyarankan untuk keluarga Adiba membawa Adiba kepenangganan kejiwaan karena dikwatirkan perasan ingin mengakhiri hidupnya ini akan sering muncul sering dengan pertumbuhannya yaitu masa-masa pubertas untuk para remaja. Pada usia remaja anak cenderung mudah emosi. Orangtua Adiba pun berusaha untuk mendengarkan saran dari dokter. Merekapun dengan sabar menunggu Adiba sadar.
Setelah tiga jam berlalu Adiba pun sadar. Ia sangat terkejut dengan keadaanya kenapa ia bisa berada di rumah sakit padahal seingatnya tadi ia hanya tidur di kamar dengan amarah .Ia marah dan melihat potret idolanya BTS ia merasa sudah mendingan dan pergi tidur bahkan didalam mimpinya ia terbayang wajah idolanya tersebut.Namun kenapa dia sekarang berada di rumah sakit. Ketika ia bergegas berdiri ia merasa tangannya sangat sakit. Ia pun sangat terkejut mengapa dengan tanganya ia pun bertanya kepada orangtuanya apa yang sebenarnya terjadi kepadanya kenapa semua tubuhnya terasa sangat lelah kekurangan tenaga dan terasa sangat sakit. Orangtuanya pun menjelaskan jika 3 jam yang lalu ia pingsan.
Adiba yang merasa aneh pun menjelaskan kepada kedua orangtuanya bahwa ia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Dan di saat Adiba belum selesai menceritakan apa yang terjadi tiba-tiba ia merasakan sakit kepala yang sangat dalam bahkan sangat terasa seperti martil yang sedang dipukulkan dikepalanya. Ia pun berteriak-teriak kesakitan dan memukul - mukul kepalanya sambil berteriak -teriak kesakitan orangtuanya yang panik segera memanggil dokter.
Adiba kembali tiba-tiba pingsan. Dokter pun dengan cepat memeriksa kondisi Adiba .Ia pun segera memeriksa kepala Adiba dengan metode CT-Scan orang tua Adiba yang panik pun masih menunggu putri semata wayang mereka. Selama ini mereka tidak pernah menyadari apa yang terjadi dengan Adiba karena sebelumnya Adiba tidak pernah seperti ini. Ketika hasil pemeriksaan keluar dokter menyatakan tidak adak yang perlu dikwatirkan dengan Adiba semua baik-baik saja dan normal-normal saja. Namun dokter tetap menyarakan orangtua Adiba untuk mengajak Adiba berkonsultasi dengan pskiater.
Adiba pun dibawa kembali ke kamar pasien sebelumnya. Namun dokter menyuntikan obat penenang sementara untuk Adiba. Orangtua Adiba pun berdiskusi untuk melakukan tindakan apa yang harusnya ia lakukan untuk menyelamatkan anaknya. Karena dokter menyarakan ke psikiater orangtua Adiba pun merasa sangat kwatir dengan kejiwaan anaknya apakah anaknya mengalami gangguan kejiwaan hal ini membuat ibu Adiba menanggis tidak karuan karena memikirkan nasib anaknya bagaimana bisa anaknya yang masih muda menggalami gangguan kejiwaan. Suaminya pun memeluknya dan berusaha menjelaskan bahwa psikiater tidak hanya mengatasi kejiwaan orang yang sakit jiwa tapi juga untuk menjaga dan mendeteksi kenalan remaja. Karena Adiba masih remaja perlu bagi kita untuk melakukan pengawasan untuk menjaga Adiba karena selama ini selalu dimanjakan oleh orangtuanya hingga menimbukan kenakalan remaja. Namun yang sebenarnya terjadi adalah Adiba sedang berkenalan dengan dunia yang berbeda.