Sekarang minggu tenang sebelum uas, kegiatan kampus seluruhnya diliburkan agar Mahasiswa bisa belajar uas dengan tenang.
Tentu saja kalo libur begini, rata-rata anak kosan pada pulang kampung. Toh lumayan banget liburnya sekitar semingguan, bisa temu kangen sekalian belajar di rumah.
Tapi itu sih cuman berlaku buat mereka yang punya rumah untuk pulang, Chan enggak. Lelaki itu memang pulang ke Bandung, tapi bukan ke rumahnya.
Dia pulang ke rumah kosong yang sempat ditinggali sang nenek dan dirinya, rumah kosong yang memiliki banyak kenangan untuknya.
Ya, Chan pulang tapi bukan untuk temu kangen, dia hanya pulang untuk beristirahat.
Sebenarnya sih kalo boleh, Chan mau di kosan aja. Gpp toh dia ga bakal ngebikin kosan jadi kapal pecah karena dia bukan Tristan. Tapi sayang sekali Bapak Jaelan tidak mengijinkannya untuk tinggal karena katanya sih Bapak Jaelan mau ngebenerin kosan yang sempet bocor.
"Hahh," Chan mengucek matanya yang sipit. Dadanya sesak karena tiba-tiba terbayang teriakan sang nenek yang membangunkannya di pagi hari begini, katanya sih biar enggak jadi kelelawar.
'Ya terserah orangtua aja ya.'
Dulu pas SMA Chan pikir begitu sembari misuh-misuh ga terima, tapi sekarang dia malah kangen digituin.
Sayang Chan bukan doraemon yang bisa kembali ke masa lalu buat meluk neneknya lagi.
"Chris, move on," katanya lalu membuka tirai merah yang menutupi kamarnya, membiarkan cahaya matahari memasuki kamarnya yang kemarin sudah ia bereskan.
Karena hari ini minggu, Chan memberanikan diri untuk pergi ke alun-alun kota. Niatnya sih mau sepedahan, joging, dan kuliner. Chan kangen kuliner di kota yang cuman dia kunjungi di akhir semester seperti ini.
Ya mumpung jam ke gerejanya masih lama, seengaknya Chan pengen makan ketoprak dulu.
Chan yang sudah selesai memarkirkan sepedanya lantas berjalan menuju alun-alun, ya meskipun dia harus menyebrang dahulu karena tempat dia parkir cukup jauh.
"Bu awas!" berhubung Chan itu refleksnya tinggi banget dia menarik perempuan tua yang hampir keserempet motor untuk kembali ke trotoar. Untung aja Chan tarik, kalo enggak bisa keserempet mungkin.
Chan menatap perempuan yang sepertinya udah berumur setengah abad itu dengan khawatir. Meskipun masih berdiri tagak dan tidak terlihat seperti berpenyakit, Chan tetap khawatir pada perempuan yang memakai baju serba hijau itu. "Ibu ga apa-apa?"
"Ah iya," perempuan yang ditolong Chan tersenyum sekarang. "nenek ga apa-apa, makasih ya Nak."
"Nenek mau kemana?" tanya Chan, maniknya menatap lekat perempuan tersebut. Ah sial, dia jadi merindukan Omanya. Nenek ini cukup mirip dengan neneknya Chan. "biar Chris antar ya?"
"Ga usah, nenek cuman mau nyebrang ke alun-alun, nyari si kakak sama adek."
Chan meringgis dalam hati, kok anak-anaknya bisa tega bener ngebiarin nenek ini nyebrang sendirian? "Chris anter ya? Kebetulan Chris juga mau ke alun-alun."
Untungnya nenek itu menyetujuinya, Chan juga menawarkan diri untuk membantunya mencari anak-anak dari sang nenek tersebut. Iya lah, mana tega dia ngebiarin nenek-nenek sendirian ditengah keramaian? Chan masih manusia.
Nenek yang sedang berjalan disampingnya bernama Ii Surhati, namanya unik seperti orangnya yang terlihat ceria 24/7 bahkan tak ragu menceritakan tentang kehidupannya kepada Chan.
Dari ceritanya, Chan menyimpulkan nenek ini pensiunan guru SD. Mempunyai anak yang sudah menikah dan menjadi guru pula dengan suaminya, tapi dia tinggal bersama suami dan kedua cucu dari anak pertamanya.
"Emak kepisah sama si Kaka dan Adek itu karena katanya mereka mau beli cilor pas Emak ke toilet," jelas perempuan yang kini duduk disamping Chan itu. Chan yang mengajaknya duduk setelah satu putaran mengelilingi alun-alun tidak menemukan orang yang dicari sang nenek.
Chan juga membelikan air mineral pada nenek tersebut, karena pasti dia haus sudah berjalan cukup jauh.
"Nak Chris SMA dimana?"
Pertanyaan nenek itu membuat Chan tertawa renyah. Oh iya, maklum sih Chan itu babyface, sering disangka anak SMA padahal mah, "Chris kuliah nek. Sekarang semester 3."
Nenek itu menganggukan kepalanya. "Sama kaya si Kakak berati, tapi dia baru semester 1. Kamu kuliah dimana?"
"UI nek."
Setelah mengatakan hal itu Chan juga menceritakan tentang kehidupan kuliahnya—sekalian curhat juga karena jujur aja nenek ini enak banget buat diajak curhat. Chan jadi iri sama cucunya, pasti cucunya sering banget curhat sama sang nenek.
Padahal sih kehidupan kuliah Chan ga seru-seru amat, malah lebih ke capek karena diisi dengan kuliah rapat kuliah rapat. Chan emang orang yang kaku, kehidupan kuliahnya jarang di isi acara nongkrong apalagi open table di club meskipun dirinya mampu melakukan hal itu.
Waktu pacaran pas semester 1 pun dia ga punya waktu berduaan sama pacarnya, makannya dia bisa putus cepet sama Yolanda. Tapi lagian Chan nerima Yolanda jadi pacarnya karena kasian sih, abisnya Yolanda ngejar dia terus dari SMA.
"Oh iya, Chris juga lagi suka sama seseorang, cuman sayang beda agama."
Nenek itu cuman diam mendengarkan ceritanya Chan, hanya membalas seperlunya. Terlihat sama sekali tidak keberatan saat lelaki yang memakai kalung salib itu bercerita padanya, menganggapnya seperti kedua cucunya sendiri padahal nenek itu memakai hijab.
"Suka tapi beda agama ya," nenek itu menanggahkan kepalanya, menengok ke arah langit biru yang berawan. "sulit sih, tapi ga ada salahnya juga karena yah mencintai itu hak semua orang."
Chan mengangguk, ternyata nenek itu memiliki pemikiran yang sama dengannya. "Iyaa, Chris juga bingung. Mana gebetan Chris banyak yang suka, sayang dianya ga pernah peka."
Nenek itu terkekeh pelan. Jadi teringat ucapan teman cucunya yang pertama ketika berkunjung ke rumah, "Cucu Emak juga seperti orang yang nak Chris suka."
Chan ikut terkekeh mendengarnya. Kok bisa ya? Tapi ga mungkin dong Hana itu cucunya nenek ini? Dari karakter aja udah beda. Hana itu emang friendly, tapi tipikal pendengar dan bukan pencerita seperti nenek ini. Hana juga cuek banget orangnya, ngeliat Aji tisoledat aja Hana mah tetep anteng makan koaci, bukannya nolongin.
Simpulan Chan sih Hana bukan cucu nenek ini.
Tapi, takdir berkata lain ...
"Emak!!" Chan kini melihat Hana dengan seorang lelaki jangkung tengah menghampiri nenek ini dan langsung memeluk sang nenek, lelaki jangkung itu juga melakukan hal yang sama. Raut khawatir terlihat jelas di wajah Hana, Chan malah melihat matanya berkaca-kaca.
Kesimpulan, Hana dan cowok itu adalah cucunya Nenek Ii.
'Kok dunia sempit amat?' batin Chan menangis, padahal dia tuh kemarin-kemarin ngehindarin Hana dengan menyibukan diri karena masih mikirin perasaannya dan mikirin Jeyhan juga.
Chan takut Jeyhan ngelakuin simulasi bunuh diri lagi kalo tau dirinya dekat dengan Hana.
Tapi sekarang, semesta mempertemukannya kembali dengan objek kegalauannya secara tidak sengaja.
Lucu bukan?
"Eh kak Chan," setelah puas memeluk neneknya, Hana baru menyadari kehadiran Chan yang lagi duduk di sebelah Hanif. "kak Chan disini juga? Bukannya kakak orang Aussie?"
Chan menggarukan kepalanya. "Udah jadi WNI kok, Aussie mah cuman numpang lahir." dan lagian di Ausie ga ada siapa-siapa selain keluarga Ayahnya yang tidak begitu akrab dengannya.
Makannya Chan ga pernah balik ke Aussie, kecuali kalo ada pamannya yang ngajak dia buat kesana. Pas libur panjang doang tapi.
Hana ngangguk aja. Chan baru sadar Hana makin lucu aja pas rambutnya diiket dua. 'Jadi makin pengen milikin, tapi beda agama.'
"Loh, kakak kenal sama nak Chris?" tanya neneknya Hana, bingung.
Hana dan Chan kompakan ngangguk. Terus Hana ngejawab, "Iya, kak Chan itu katingnya Kakak. Terus satu kosan juga sama kakak."
Neneknya masih menyerit bingung. "Chan? Bukannya namanya Chris?"
Sekarang giliran Chan yang menepuk kepalanya sendiri. g****k juga dia, lupa sedari tadi nyebut dirinya sendiri pake nama Chris. "Nama saya Chandra Immanuel, tapi dulu nama saya Christopher Bang. Jadi yah suka kebiasaan manggil diri sendiri Chris, apalagi Nenek mirip banget sama Oma saya. Jadi berasa ngobrol sama Oma sendiri."
Hana cuman nganggukin kepalanya. Mulutnya membentuk huruf O besar.
"Wah Nak Chris pasti akrab banget sama Omanya, lain kali bisa kali ajak Emak ketemu Omanya Chris. Sekalian bilang makasih karena Chris udah nolongin Emak tadi."
Chan menundukan kepalanya. "Pengennya sih gitu, tapi maaf Chris ga bisa."
"Kenapa?"
"Oma udah jadi abu."
Hana pikir dunia itu beneran sempit, bisa-bisanya pas dia pulang kampung ketemu sama Chan.
Padahal kemarin-kemarin Chan ga bilang dia pulang kemana di grup chat. Bahkan ga pulang bareng naek travel sama golongan orang Bandung kaya Hana, Syila, Ashiel, Elsa, Jamin, Imma, Ong, dan Jeyhan.
Tau-tau ketemu aja.
"Kok kamu kenal orang sebaik Chris ga pernah cerita sama Oma sih Kak?" tanya neneknya Hana sembari menghampiri Hana yang lagi asik makanin cendol.
"Ya ga semua hal harus di ceritain kan," sahut Hana.
Neneknya menghela napas, Hana memang bukan tipikal anak yang suka menceritakan segala hal kepadanya. Padahal Neneknya juga ingin tahu tentang cucunya yang kini udah menjadi anak ibu kota.
"Chris orangnya baik?" Neneknya bertanya lagi.
"Kalo ga baik, ga bakal nolongin Emak lah."
Iya juga sih.
"Kakak suka sama Chris ga? Kan dia ganteng tuh," goda sang nenek kembari mengelus rambut panjang cucunya.
Hana menolehkan kepalanya, menatap mata sayu sang nenek. "Suka sih," ucapnya pelan, teramat pelan sehingga terdengar seperti bisikan. "tapi emang ga apa-apa? Maksudnya, dia beda sama Kakak."
"Ya ga apa-apa, cuman suka doang mah. Kecuali kalo nikah, kamu musti mikir 1000 kali."
Bener juga sih, toh cuman suka. Lagian bukan cuman Chan cowok yang Hana sukai karena visualnya. Di kosan teramat banyak cowok ganteng.
"Tapi Kak, Emak seneng kamu kenal baik sama Chan."
"Kenapa gitu?"
"Chan itu orang baik, dia kayanya bisa jadi penjaga baik buat kamu," neneknya tersenyum lalu menatap Hana. "bahkan saat emak udah ga ada disini."