11

1454 Kata
Chapter 11   Apa yang salah dengan mencintai orang yang agamanya berbeda denganmu?   Chan rasa tidak ada yang salah dengan itu. Sekalipun agamanya berbeda, orang yang ia cintai masih berwujud manusia dan layak untuk dicintai. Mencintai seseorang adalah hak setiap individu yang tidak bisa diganggu gugat.   Kecuali oleh Dia yang menciptakan semesta, yang mungkin tak setuju atau mentakdirkan hal lain untuk umatnya.   "Lo mesti inget love different religion itu ujungnya cuman dua ... ganti kepercayaan atau ganti pacar."   Chan hanya bisa menghela napas, ucapan Jeyhan di makrab kemarin berdengung lagi di telinganya, berputar kembali seperti kaset rusak di film horor.   Dia ga bego, Chandra Immanuel Bang tahu jelas ujung dari cinta beda agama karena dia telah nerasakan sendiri akibat dari LDR itu. Namanya bahkan sampai berubah karena cinta berbeda agama yang datangnya terlambat.   Chandra Immanuel bukan nama asli Chan. Ketika lahir Chan diberi nama Christopher Bang oleh sang Ayah, namun namanya harus berubah ketika kedua orangtuanya bercerai. Tepatnya karena sang Ibu yang terlalu sakit hati tak ingin pemberian suaminya tersisa pada anak sulungnya, sekalipun itu hanyalah nama. Maka beliau mengubah nama Chan secara hukum menjadi Chandra Immanuel sejak Chan memasuki kelas dua SMP.   Ah sial, mengingat semua hal itu membuatnya mual padahal dirinya enggak hamil.   Chan kembali mengacak rambutnya, dia bingung, sangat. Dia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ucapan Jeyhan kemarin seolah mewakili suara dunia agar dirinya berhenti mencintai Hana.   Masa lalunya sendiri sudah buruk karena cinta berbeda agama ini, dan logikanya ga mungkin dong Chan mau membuat masa depan yang dia impikan jauh lebih buruk.   Seharusnya Chan memang tidak perlu  tertarik pada Hana, jika dirinya tidak ingin berakhir seperti Ayahnya yang membawa sang adik pergi dan membuat keluarga kecilnya di Australia berantakan hanya karena seorang perempuan berhijab.   Namun sayang, manusia tidak bisa memilih kepada siapa dia akan jatuh cinta, dan tidak bisa menghentikan perasaannya begitu saja.   "Tuhan," Chan mengusap kembali wajahnya yang lelah karena terus-terusan memikirkan hal yang sama. "aku harus apa?"   "aku dan dirinya memang sama, sama-sama ciptaan-Mu. Tapi kita tetap memiliki perbedaan, perbedaan keyakinan. Apakah mencintainya merupakan sebuah kesalahan?"   Helaan napas kembali terdengar, Chan melirik jam di ponselnya yang ternyata sudah menunjukan pukul 00.49 waktu Indonesia bagian Barat. Untuk menenangkan dirinya, Chan memilih membukakan jendela kamar kosnya, membiarkan angin malam yang sejuk masuk kedalam kamarnya.   Chan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Walaupun yah itu berakhir sia-sia karena hidungnya merasa gatal dan akhirnya dia bersin dengan keras. "HACHUUUU!"   Semoga bersinmu enggak membangunkan Dajal nak Chan.   "Ternyata gua masih ga kuat angin malem," ucapnya sembari mengosokan jari telunjuk dihidung mancungnya. Tapi tetep aja, Chan tak kunjung menutup jendelanya. Lelaki itu menyukai sensasi dingin dari angin malam yang menusuk kulitnya. Meskipun dirinya tetap harus bersin untuk kedua kalinya. Namun kali ini Chan berpikir positif. "ah kayanya ada yang ngomongin gua." Serah Bambank.   "Oma, Chris harus gimana?" Chan mengandahkan kepalanya, melihat ke arah bulan yang ternyata sedang bersinar terang.   Chan kalau sudah bingung dan tak kunjung mendapat jawaban pasti akan bermonolog sendiri, bertanya kepada angin malam seolah itu adalah neneknya yang masih hidup, yang masih menyentuh pipi Chan dengan tangan dinginnya, yang masih belum menjadi abu.   Orangtua Chan adalah workaholic, Chan lebih banyak menghabiskan waktu dengan sang nenek daripada Ibunya. Biasanya Chan bercerita apapun pada sang nenek, meskipun tanggapannya tidak akan sebagus ketika dia bercerita dengan Mario Teguh ataupun Dedy Cobuzer. Tapi sejujurnya Chan tidak butuh tanggapan bagus berupa kata motivasi atau apapun, yang dia butuhkan sekarang adalah didengarkan.   Matanya mulai berkaca-kaca, Chan kini rindu dengan sang Nenek yang dulu selalu memeluknya sebelum tidur, nenek yang selalu mendengarkan keluh kesahnya tentang apapun, nenek yang selalu memberinya hal baik tentang dunia yang bahkan tidak bisa dia dapatkan dari siapapun.   'Oma Chan rindu.' Kalau saja neneknya masih ada, pasti sekarang Chan akan menelponnya atau bahkan pulang ke Daerah Bandung setiap minggu hanya mengoceh sampai berbusa tentang banyak hal. Sekarang dia bingung harus bercerita kepada siapa.   Ibunya? Hah, Chan jamin wanita itu tidak akan mendengarkannya karena lebih sibuk mengurusi aktingnya yang kini sedang bersinar semenjak membintangi film horor terbaru. Dan lagian Chan udah jarang berbicara kepada sang Ibu, kecuali kalau uangnya habis dan dia butuh sesuatu. Ia terlalu malas menghubungi Ibunya, apalagi semenjak Ibunya menikah dengan lelaki yang hanya berbeda dua taun diatas Chan.   Ayahnya? Semenjak bercerai dan Chan harus ikut ibunya ke Indonesia Chan tidak pernah ingin tahu tentang sang Ayah. Katanya sih, mau modar pun Chan ga bakal peduli. Chan masih bisa hidup dengan uang pemberian sang Ibu, tanpa sosok Ayah pun Chan masih bisa meraih IPK 3,8.   Bukannya Chan ga punya teman untuk bercerita, Chan hanya belum bisa mempercayai siapapun sekarang. Bisa saja kan yang hari ini orang menjadi orang yang paling akrab dengannya dan besok akan menjadi orang yang ada di garda depan untuk menjatuhkannya.   "Hahh gimana dong?" Chan mengacak rambutnya sendiri, frustasi. Yang ia inginkan hanya kebahagiaan tanpa mengorbankan apapun di akhir cerita cintanya, meskipun dirinya tahu ... Itu tidak akan terjadi. Akhir yang bahagia itu butuh pengorbanan.   Di pagi hari seharusnya setiap individu mendapatkan kebugaran tubuh setelah bangun dari tidurnya.   Namun Chan tidak ...   Pagi ini ia patah hati tatkala netranya melihat gadis yang dia sukai memeluk lelaki lain. Sungguh, Chan tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat adegan dramatis di kosannya ini dengan tatapan kosong.   Di lantai satu, Hana terlihat memeluk Jeyhan yang sedang menangis.   Chan tidak tahu penyebabnya apa, tapi patah hatinya benar-benar tidak bisa dicicil ketika melihat adegan itu.   Apalagi Fathur—sosok paling agamais di kosan ini—tidak berbuat apa-apa. Padahal kan dia termasuk kedalam komunitas 'Indonesia tanpa pacaran'. Harusnya dia memisahkan Hana dan Jeyhan dong?   "Ada apa ini?" tanya Tristan dengan wajah bantalnya. Keliatan banget kalo lelaki itu baru bangun dari tidurnya untuk sholat subuh. Soalnya ini masih pukul empat lebih sepuluh menit, Adzan aja belum.   Abin yang kebetulan melihat ini lebih dulu lantas menjelaskan. "Jeyhan mau bunuh diri, masalah keluarga lagi."   Tristan sebagai kating yang cukup akrab dengan Jeyhan lantas mengangguk. Ia tahu betul masalah keluarganya Jeyhan yang bisa membuat otaknya pecah andaikata dirinya adalah Jeyhan.   "Terus kenapa dia meluk Hana?" tanya Kenta yang kayanya otaknya masih ketinggalan di mimpi.   Dengan sabar Abin menjawab lagi, "Hana yang pertama kali nemuin Jeyhan lagi nyayat tangannya sendiri pake pisau di ruang tamu. Terus ya dia nenangin Jeyhan gitu."   Chan mengikuti Kenta yang terlebih dahulu menganggukan kepalanya. Ia ngerti sekarang, rasa sebalnya terhadap Jeyhan sedikit berkurang mengingat dulu lelaki asal sunda itu pernah berkata kalo dia berasal dari keluarga yang rusak. Pisah enggak, berantem terus. Bahkan Jeyhan bilang kalau dirinya merupakan anak haram yang merupakan hasil dari perselingkuhan ibunya sendiri.   Chan pernah ada di posisi Jeyhan, meskipun dirinya bukan anak haram, tapi yah dia tahu ... Broken home itu lebih menyakitkan ketimbang broken heart, meskipun konteksnya sama-sama rusak.   "Shh kak Jey tenang," Hana mengelus surai hitam milik Jeyhan yang masih terisak dalam peluknya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk Jeyhan yang tadi tangannya sempat terluka. Untungnya Elsa cepat mengobati luka pada lengan Jeyhan dan sigap menjauhkan segala benda tajam dari Jeyhan.   Jeyhan pelan-pelan melepaskan pelukannya sendiri, mungkin dia pegel nunduk mulu soalnya kan Hana lebih pendek dari Jeyhan dan posisinya mereka lagi duduk di lantai. Namun liquid bening masih saja mengalir di sekitar matanya, hidungnya masih memerah.          Pelan-pelan Hana menyentuh tangan Jeyhan. "Kak Jeyhan, janji sama aku, jangan pernah ada pikiran buat bunuh diri lagi," digengamnya tangan Jeyhan yang ukurannya lebih besar dari tangannya sendiri. "kalau kakak sedih lagi nangis aja, teriak aja, lakuin apapun sampai kesedihan itu hilang. Tapi jangan pernah ada pikiran buat bunuh diri. Aku dan yang lainnya bakal terus ada buat kakak, so please jangan mikir kalo kakak ini ga layak hidup di bumi."   Jeyhan hanya bisa menganggukan kepalanya untuk merespon ceramahan Hana.   Bersamaan dengan itu, adzan berkumandang.   Para muslim yang menghuni kosan dan kebetulan tidak sedang berhalangan langsung bersliweran untuk mengambil air wudhu, meninggalkan Hana dan Jeyhan.   Fathur sudah berbisik pada Hana agar nanti Jeyhan menyusul saat lelaki itu sudah tenang.   Tinggalah Hana, Jeyhan, dan kecanggungan diantara mereka sampai akhirnya adzan berhenti. "Makasih," ucap Jeyhan. "makasih udah ngehentiin aku buat ga nyia-nyiain pemberian Allah."   Hana mengangguk, senyumnya lantas merekah. "Iya," dia menyodorkan jari kelingkingnya di depan wajah Jeyhan. "tapi janji sama Hana, jangan bunuh diri sekalipun cuman percobaan. Be joyful, be sad, laugh, cry and live everyday to it’s fullest. Let your emotions remind your mind that you are alive."   Lelaki itu mengangguk, meskipun agak ga mudeng otaknya dipake buat ngeterjemahin quotes yang Hana ucapkan yang entah didapat dari mana. "Iyap," Jeyhan menautkan jari kelingkingnya dengan milik Hana, senyumnya mulai merekah sekarang. "tapi kamu juga harus janji Han."   Hana kini menatap mata Jeyhan. Tatapannya seolah bertanya, janji apa? "Tetap ada disampingku, jangan pernah tinggalkan aku dalam keadaan apapun, bahkan ketika saat terburuk pun."   Hana hanya mengangguk sebagai balasan. Pikiran sederhananya menyipulkan bahwa seorang teman memang tidak boleh meninggalkan temannya dalam keadaan apapun.   Namun maksud Jeyhan tidak kesana. Lelaki itu bermaksud menjadikan Hana sebagai miliknya, untuk selamanya. Menjauhkan apapun yang dapat merebut Hana darinya.   Termasuk lelaki yang masih setia berdiri di lantai dua dan melihatnya dengan tatapam kosong. Diam-diam bibir Jeyhan membentuk seringai. 'Gua selangkah lebih maju sekarang,' Jeyhan juga bersyukur dulunya dia mengikuti ekskul theater, 'ilmu aktingnya ga sia-sia ternyata.'  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN