10

1653 Kata
Chapter 10 Hana dan Januar saling tatap sekarang, kedua wajah anak sosiologi itu sama-sama menampilkan ekspresi bingung, kusut pula. Kegiatan makrab udah dimulai sejak tiga menit yang lalu, Haris dan Felix selalu MC malam akrab fakultas FISIP malah udah ngebacot di atas panggung aula barat ini.   Ngebuat kedua anak manusia ini tambah stress karena kelas A sosiologi bingung mau nampilin apa.   "Anjer gimana dong?" tanya Januar pada teman sepernistaanya sejak ospek itu, Hana. Menurut Januar cuman Hana yang bisa diandalkan untuk kelas, kalo anak kelas yang lain udah bodo amat sama makrab, ga peduli mau nampilin apapun juga. Udah capek bor!   Soalnya anak sosiologi itu baru selesai observasi lapangan. Jadi boro-boro inget makrab lah, yang diotak adanya cuman praktek sama nyusun laporan yang berjibun. Waktu satu bulan yang disediakan guna mempersiapkan makrab rasanya ga cukup.   Hana memijit kepalanya, dia pusing mamen. "Ga tau Nu, emang harus tampil pisan ya?"   "Iya lah harus Hanaa, kalo enggak nanti kelas kita di hujat kating. Lo mau berurusan sama kating mulu?" tanya Januar yang udah gemes sama Hana. Pengen banget rasanya nakol Hana sampe ngajengkang.   Gadis itu akhirnya menghela napas. "Gua kepikiran, tapi yang tampil ga seluruh anak kelas, maksudnya gakaya kelasnya Haris," ujar Hana sembari memijit pipinya sendiri yang empuknya udah mirip squishy. "emang boleh kalo gitu?"   "Boleh kali," Januar menganggukan kepalanya. "daripada enggak. Yaudah bisikin idenya."   Hana mendekatkan kepalanya dengan Januar. "Emm ide gua lo tampil solo di pang—"   "Sinting lo!" padahal Hana belum selesai ngomong, tapi Januar udah motong gitu. Kan sebel. "Serius anjir."   "Yaudah gua serius. Siniin telinga lo pea."   Chan yang memakai kemeja hitam dan celana bahan hitam sudah bersedekap di bangku yang ada didepan panggung. Ya bener-bener depan. Doi menjadi salah satu panitia yang nonton berlangsungnya makrab.   Meskipun rada maksa dikit sih ya. Soalnya diawal perjanjian, yang fix jadi panitia itu bukan Chan, nama Chan bahkan ga ada di list panitia   Tapi karena Chan inget ada Hana, dia jadi maksa Jefri cuman buat jadi panitia, nonton doang pun ga apa-apa lah, toh yang penting dia bisa ngeliat Hana hari ini—padahal tiap hari juga ketemu mulu di kosan. Untungnya Jefri baik hati dan tidak ngeh maksud dan tujuan Chan pengen liat makrab ini, jadinya Chan diijinin datang ke makrab sebagai penonton dan bukan panitia yang mengevaluasi.   Kalo dijadiin panitia yang bagian evaluasi, ntar banyak yang makin trauma. Padahal seperti yang diketahui banyak natizen, Chan itu orangnya mageran, dia mau pulang malem dari kampus kalo ada tugas atau projek bukannya acara makrab ecek-ecek. Lagian biasanya kalo ga ada jadwal, tugas, atau projek, Chan pasti ngegame sampe pagi.   'Hana tampil ga ya?' batin Chan bertanya-tanya. Dirinya sih berharap gebetannya tampil di makrab meskipun dia tau ga semua orang berkewajiban tampil di makrab kecuali panitia yang jadi divisi acara. 'Semoga tampil.'   Dewi fortuna sedang berpihak pada Chan sekarang, tak lama setelah berdoa begitu, kelas Sosiologi A dipanggil dan Chan melihat Hana, Januar, dan Aji naik ke atas panggung sembari membawa alat musik masing-masing. Hana dan Januar menenteng gitar, sedangkan Aji membawa galon kosong.   Iya kawan, kalian ga salah baca, Haryono Aji Firdaus membawa galon kosong yang entah apa faedahnya.   Mata Chan tidak bisa berpaling kearah manapun setelah melihat Hana yang memakai kemeja berwarna biru langit, rambutnya yang panjang satu kesamping kanan layaknya Elsa di kartun Frozen. Gadis itu memakai riasan tipis di wajahnya, kecantikannya semakin terpancar dan Chan semakin jatuh cinta.   Awalnya Chan menebak kelas sosiologi A akan menampilkan lagu akustik ceria karena alat musik yang mereka bawa, tapi tidak begitu Ferguso ...   "12 in the morning Pop shells for a living And berry gon' smell blood trail every minute Rogue wave on you niggas no fail when I hit 'em."   Instrumen yang dimainkan ketiga anak itu memang akustik, tapi Aji ngerap. Chan tau yang Aji nyanyikan sekarang itu lagunya Rich Brian tang berjudul dat stick. Penonton kaget, Chan juga. Ini penampilan yang diluar dugaan banget!   Chan kira Hana bakalan ngegitar doang, ga kaya Aji dan Januar yang udah ngerap gantian diawal lagu.   Tapi ternyata Chan salah untuk kedua kalinya. Hana menyanyikan bagian chorus. "Man I don't give a f**k about a mothafuckin' po I'mma pull up with that stick and hit yo motherfuckin' door."   Lancar bener nyanyinya, padahal kemarin Hana ngeluh sama Imma kalo dia tuh ga berani speaking, tapi sekarang ...   Chan benar-benar dibuat cengo oleh ketiga mahluk itu. Kalo tidak salah dengar, Januar bilang kalo dia dan kedua temannya nyiapin ini semua 10 menit yang lalu. Tapi atuh lah, kalo 10 menit doang rap Aji ga akan sebagus ini, suara Hana dan Januar juga ga bakal pas sama Aji, dan harmonisasi ketiga anak itu juga ga bakal sebagus ini, mengingat Aji mahiwal sendiri alat musiknya.   "KEREN!" penampilan kelas A Sosiologi memang sepertinya pantas dipuji begitu, karena memang mereka begitu—ah enggak, sangat keren! Cuman bertiga dan tampil dua menit sih, tapi bisa menguasai panggung dan mampu membuat penonton yang asalnya ngantuk bertepuk tangan.   "ENCORE! ENCORE!" bahkan ga sedikit juga orang yang meminta ketiga anak itu untuk menyanyi lagi. Setelah ketiga anak sosiologi itu berdiskusi sebentar, mereka akhirnya setuju melakukan encore.   Walaupun dengan lagu yang berbeda dan Aji ga ikutan—katanya sih lidahnya keseleo pas ngerap tadi, ya wajar sih keseleo orang Aji ngerap hampir setengah lagu. Hana dan Januar mah cuman jadi bahan pelengkap penderitaan aja.   "Ketika ku mendengar bahwa Kini kau tak lagi dengannya Dalam benakku timbul tanya."   Kali ini Hana dan Januar menyanyikan lagu Siapkah Kau Untuk Jatuh Cinta punya Hivi dengan versi akustik. Namun Hana yang mengambil banyak bagian karena Januar bilang dia ga jago nyanyi.   Maklum sih Hana jago nyanyinya, seengaknya lebih jago ketimbang Januar. Hana kan dulunya anak Padus, terus lagi keluarganya Hana hobi karokean. Nyanyi kek gini mah gampang buat Hana.   "Meski bibir ini tak berkata Bukan berarti ku tak merasa Ada yang berbeda di antara kita Dan tak mungkin ku melewatkanmu Hanya karena diriku tak mampu untuk bicara Bahwa aku inginkan kau ada Di hidupku."   Chan sebenarnya suka suara Hana yang khas. Namun lelaki itu tidak menyukai penampilan Hana dan Januar yang keliatan kaya orang pacaran banget, apalagi tatapan Januar sama Hana itu benar-benar menjiwai lagu ini. Seolah lelaki itu baru putus dengan pacarnya dan memberikan Hana kesempatan untuk mencintainya.   Ah sebel. Chan menekuk wajahnya sekarang. Andai tadi Chan tau lagu yang akan dibawakan, dia pasti ga akan minta encore.   Sekali lagi netranya Chan melihat ke arah Hana, berharap gadis itu menemukannya diantara penonton yang kagum akan suaranya. Namun sayangnya sampai lagu berakhir pun Hana tidak menatapnya balik. Dia malah membalas tatapan Januar dengan senyuman manisnya. 'Han, kamu ga jatuh cinta beneran sama Januar kan?'   Malam akrab fakultas FISIP menyunsung tema Porm Night, makannya diakhir acara ada dansa, perpasangan pula.   Chan pengen nangis aja ngedengernya, untung dia kesini, kalau enggak Hana bisa diambil orang kali.   Setelah cukup lama melatih bicaranya ditoilet, Chan lantas menghampiri Hana yang ternyata lagi duduk di kursi, sendirian pula.            "Hai," sapa Chan sembari berlari kecil menghampiri Hana.   Hana menoleh. "Tayo."   "Ye anjir," Chan menggelengkan kepalanya, ga habis pikir apa yang terjadi dengan otak Hana yang masih aja hobi ngeprank Tayo. "ga lucu."   "Lagian siapa juga yang ngelawak."   Kenapa sih si Hana kalo ngomong gitu mulu. Chan jadi lupa kan susunan kata yang harusnya dia ucapkan untuk mengajak gadis itu berdansa.   "Sendirian?"   "Enggak kok, gua berdua sama bayangan."   Chan sweatdrop, 'Untung sayang.'   "Ga dansa?"   "Kak Chan mines berapa emang? Keliatannya gimana?"   Si kampret. Sekarang Chan menggaruk lehernya yang sebenernya ga gatel. "Enggak sih."   "Nah itu tau. Kak Chan sendiri kenapa ga dansa?"   "Enggak soalnya pengen sama kamu," yah keceplosan si Chan. Telinga cowok itu sudah merah aja sekarang, malu banget anjir!   Eh sialnya, Hana malah ketawa. "Lah apaan sih, jangan ngelawak deh. Masa sama aku?" Kok jadi aku kamuan gini? Hmz.   "Serius," Chan ngulurin tangannya, dia udah ga berani banget liat mata Hana, jadi ngeliatnya ke arah lain. "ayo dansa sama aku."   Hana senyum, tapi ada unsur ga enaknya gitu. "Enggak kak, mager. Hehehe."   Yah. Kaki Chan lemes sekarang, kalo ga malu mah sih dia pasti udah ngejatuhin dirinya ke lantai, terus guling-gulingan. "Kok mager?"   "Ya mager aja."   "Atau ada cowok yang kamu tungguin buat diajak dansa?" tanya Chan dengan hati-hati setelah dirinya duduk disamping Hana.   Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, lagian aku ga ngegebet siapa-siapa jadi enggak nungguin siapa-siapa juga."   'Tapi aku ngegebet kamu Hanaaaa!' batin Chan lagi-lagi menangis. Hana itu manusia apa bukan sih? Kok ga peka amat?!   Tak lama Jeyhan tiba-tiba saja muncul dihadapan keduanya. Lelaki yang seharusnya ga disini itu tampak ngos-ngosan sekarang, tapi tetap tangannya terulur ke arah Hana. "Hana, can you dance with me?" tanyanya setengah mendesah.              Hana jadi merinding sendiri. "Um, i can't," Chan bahagia mendengar Hana merespon dengan hal yang sama pada Jeyhan. Itu artinya bukan cuman dia yang ditolak. "aku ga mau dansa sama siapapun, mager hehehe. Sorry ya."   Jeyhan memanyunkan bibirnya, masih tidak percaya akan hal yang dia dengar barusan. Hana menolaknya ajakannya.   Padahal Jeyhan udah mohon-mohon sama anak fakultas FISIP yang ngejaga pintu buat masuk ke acara makrab ini. Tadi juga pas masuk ke ruangan ini banyak maba yang ngajakin dia dansa, sampe-sampe Jeyhan harus lari sekenceng mungkin buat kabur.   Dan orang ini, menolaknya begitu saja.   Babangus!   "Yaudah sih kalo kalian mau dansa," tangan mungil Hana menarik lengan Jeyhan dan Chan yang warna kulitnya nampak agak kontras. Jeyhan putih langsat, sementara Chan putih banget b*****t. "kenapa enggak kak Jeyhan sama kak Chan aja yang dansa?"   Chan dan Jeyhan kemudian saling tatap. Diotak keduanya jelas ditulis tolakan, tapi mulut Jeyhan malah mengiyakan.   Jelas Hana seneng bukan maen, senyumannya tambah lebar saja. Chan jadi takut bibir Hana sobek kalo tersenyum begitu.   Padahal Chan dan Jeyhan hanya berpengangan tangan dan berdansa. Hanya, tapi kan dimata fujo laknat beda.   "Chan, lo ga cinta sama Hana kan?" disela acara dansanya Jeyhan bertanya begitu. Chan menyiritkan dahinya, bingung. Sejujurnya jawaban dari pertanyaan Jeyhan itu jelas iya, namun mata Jeyhan seolah tidak menginginkan Chan berkata begitu. Lelaki asal Australia itu jadi ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.   "Lo tau kan, gua cinta banget sama Hana, dan ini ga main-main," ucap Jeyhan lagi tapi Chan masih diam. Enggan membalas. Iya di tau, semua anak kampus tau malah. Orang keliatan banget. "gua ga minta elo ngejauhin Hana, karena mencintai orang merupakan hak semua manusia. Tapi sebelum lo ngejadiin Hana pacar, lo mesti inget kalo love different religion itu ujungnya cuman dua ... ganti kepercayaan atau ganti pacar. Dan semuanya balik lagi ke elo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN