17

1501 Kata
Chapter 17   Chan melihatnya dengan mata sendiri adegan dimana Jeyhan memojokan dan membentak Hana. Telinganya masih normal, Chan juga tau namanya disebut saat itu terjadi. Namun Chan enggak bisa muncul sebagai pahlawan kesiangan yang menarik Hana pergi dari Jeyhan lalu membawa gadis itu kedalam pelukannya yang hangat.   Chan terlalu pengecut, jadi ia memilih untuk bersembunyi dibalik tembok dan menonton semua seperti orang lain.   Sampai akhirnya dia sadar Hana sudah berlari, Jeyhan tidak mengejarnya dan malah mengeluarkan rokok dari sakunya. Padahal semenjak Hana ada di kosan, Jeyhan udah jarang merokok, malah hampir ga pernah.   "Hahh."   Chan memutuskan untuk tidak mengejar dua-duanya karena Hana dan Jeyhan pergi ke arah yang berbeda. Hana sepertinya pergi ke kosan, dan Jeyhan mencari tempat yang tepat untuk menghilangkan stressnya karena Hana.   Sejak hari itu Chan sadar cinta segitiga lebih menyulitkan ketimbang kena friendzone. Padahal Chan merasa hal yang dia lakukan dengan Hana hari itu hanya mengobrol ringan, tanpa gombalan, tanpa sentuhan. Benar-benar murni mengobrol penghilang rindu. Tapi kenapa Jeyhan begitu?   "Argh kenapa sih?" Chan mengacak-acak rambutnya sendiri, lagi-lagi otaknya harus bertanya-tanya tanpa ada yang menjawab. "Kenapa Jeyhan cemburu?"   Sebenarnya sih wajar kalo Jeyhan cemburu karena kedekatan Hana dengannya, Chan juga sering merasakan hal yang sama ketika melihat Hana dengan lelaki lain, walaupun rasa cemburunya lebih banyak dikandaskan oleh kenyataan.   Kenyataan yang berkata bahwa Chan bukan siapa-siapanya Hana, kenyataan yang juga berkata Chan dan Hana akan sulit bersama karena perbedaan agama. Sad.   "Tapi kenapa Jeyhan harus marah sama Hana? Kenapa ga ke gua aja?" tanya Chan lagi. Chan emang ga masalah kalo berantem sama Jeyhan, toh dia tau seperti apa ngamuknya Jeyhan semasa ospek dulu. Chan cuman enggak mau Jeyhan nyakitin Hana, ngebentak kesayangannya dengan seenak jidat disaat Chan harus berpikir dengan keras cara untuk menjaga gadis itu walaupun dari jarak yang dibilang agak jauh.   "Apa gua nyerah lagi?" Chan kembali bersuara, dan lagi-lagi berujung dengan Chan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "enggak, gua ga mau nyerah, ini bukan waktunya untuk nyerah."   Chan ga mau nyerah gitu aja, tapi Chan juga ga mau Jeyhan ngebentak Hana gara-gara dirinya. Sial, sekali lagi ... Chan kembali galau. Hari ini jadwal Hana masak, itu artinya dia harus ketemu Jeyhan nanti sore.   Dan sialnya Hana belum siap. Hubungan Hana dan Jeyhan masih rengang akibat kejadian dua hari lalu. Jeyhan tidak berinisatif meminta maaf dan Hana terlalu takut untuk berbicara dengan Jeyhan lagi.   Toh semenjak kejadian itu Jeyhan agak berubah, lelaki asli sunda itu tidak seceria dulu. Wajahnya banyak ditekuk. Kan jadi makin canggung.   Hal terbaik ya menghindari Jeyhan untuk beberapa waktu.   Tapi untuk Chan, Hana masih bersikap biasa aja. Toh lagipula Chan enggak memiliki hubungan apa-apa dengan masalah ini.   Ini hanya tentang Hana, Jeyhan, dan kesalahpahaman mereka.   "Hari ini bolos dulu deh masaknya," kata Hana pada akhirnya. Karena pulang kampus jam 3 an, Hana ga langsung pulang takutnya ketemu  tim masak. Kalo ketemu timas, berati ketemu Jeyhan juga dong.   Enggak, Hana ga mau ketemu Jeyhan!   Hana memutuskan untuk jalan-jalan dengan angkot sendirian sekarang. Iya sendirian karena Imma ada kelas sampe jam 5. Elsa, Syila, dan Ashiel yang juga ngekos di kosan bapak Jaelan pulangnya sore juga. Malah Syila bilang dia ada kelas malam.   Ga mungkin kan Hana nungguin mereka. Mendingan jalan-jalan sendiri. Menaiki angkot sendirian emang agak bahaya sih, apalagi Hana itu buta arah. Tapi yah daripada harus naek becak tanpa arah, mendingan naik angkot ngikutin jalur. Siapa tau kan Hana bisa nemuin sesuatu yang menarik.   Hana duduk didekat pintu angkot, sengaja biar bisa ngerasain angin sepoi-sepoi menerpa tubuhnya. Telinganya ditutup oleh earphone putih miliknya. Hana mendekap tas miliknya seperti sedang memeluk boneka, hal ini dia lakukan untuk melindungi diri dan barang bawaanya.   Dengan lagu yang bergunta-ganti setiap tiga menit sekali, Hana benar-benar menikmati pemandangan diluar dan juga kesendiriannya. Kesendirian ini membuatnya merasa bebas dari segala beban, meskipun rasa sepi tetap saja tidak menghilang.   Sampai akhirnya pemandangan jajanan diluar sekolah menarik perhatian Hana, membuat gadis itu berucap, "Mang, disini."   Tentu saja setelah membayar Hana langsung turun dari angkot dan menghampiri para penjual jajanan khas sma yang menarik perhatiannya. Terutama seblak makaroni yang kini digerumuni banyak orang. Dari baunya saja udah sedap.   "Mang, seblak makaroninya satu ya. Sedeng, jangan terlalu pedes—"   "Loh, kak Hana?"   Hana menoleh kesamping, "Alin?" Sumpah demi duit 80 juta, Hana ga nyangka bisa ketemu anak kosan disini.   "Kak Han ngapain disini?" tanya Alin bingung, setau Alin Kegiatan sosialisasi kampus udah bener-bener kelewat.   Hana nyengir dengan polosnya. "Jajan, hehehe. Btw gua baru tau kalo Lilin sekolah disini." "Alin astagaaa!" yang lebih muda lantas mengacak-acak poni Hana, antara gemas bercampur kesal karena Hana selalu memanggilnya Lilin. "kok lilin sih?! Jauh!!"   "Suka-suka dong," Hana menjulurkan lidahnya lalu menepis tangan Alin. "jangan diacak-acak napa, ntar disangka gembel."   Alin malah membalikan ucapannya. "Suka-suka dong."  Hilih!   "Ga pulang lo?"   "Bareng aja sama Kak Han. Takutnya kak Han nyasab, kan berabe."   "Dih tai." "Jadi Kak Han musuhan sama kak Jeyhan?" tanya Alin ketika angkot sudah jalan. Hana udah selesai ngeborong, buat dia dan juga anak kosan. Ga sih, tepatnya Alin yang bayarin. Maklum, Alin kan holkay. Walaupun yah sebenernya, Alin ga suka amat ama jajanan-jalanan kek gini.   Tapi yah demi liat Hana bahagia, why not? Lagian Hana ga kurang ajar kok, jajanan yang Hana beli ga nguras dompetnya, bahkan 50 ribu aja enggak, ga kaya temen-temennya yang lain.   "Enggak," Hana lalu memakan cilornya. "cuman ada masalah dikit doang."   "Tapi keadaan kosan sampe berubah gitu," kata Alin sembari menatap Hana. "serem tau."   "Udahlah, kelas 12 mah fokus belajar aja," balas Hana seenak jidatnya, keliatan banget dia ga mau Alin ngungkit masalahnya. "ga usah mikirin apapun yang ga berpengaruh buat nilai."     "Tapi tetep aja," Alin menghela napas. "aneh anjir pas ngeliat Kak Han sama kak Jey yang biasanya bareng terus jauhan."   Bukan cuma Alin kok, Hana juga ngerasa gitu. Tapi tetep aja, Hana bingung untuk memperbaiki keadaan selain dengan menjauh dari sumber masalah itu. Hana pikir Jeyhan butuh meditasi agar pikirannya kembali jernih.   "Yah lo ga sendiri, gua juga ngerasa gitu kok," Hana lalu menghela napasnya. "dan gua bingung buat ngeperbaikinya. Ini sebenernya spele banget, tapi susah diperbaiki, ya namanya juga masalah."   Alin menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Hana, dia lalu mengelus rambut Hana. "Yang sabar ya kak."   Hana ngangguk-ngangguk doang lalu nyenderin kepalanya dibahu Alin. "Iya."   Sialan banget emang si Hana ini. Udah mah dia bikin beberapa anak perawan cemburu karena kedekatannya dengan Alin, dia juga ngebuat jantung Alin berdetak kencang.   Siapa juga cowok yang ga salting dan degdegan parah kalo disenderin cewek? Apalagi kalo cewek itu cantik kaya Hana? Alin masih cowok, wajar kalo dia salting kaya begini 'Gusti, kuatkan hamba, jangan sampe mimisan.'   "WAAA SERBUUU!" Aji, Haris, Felix dan Jovan selaku manusia-manusia miskin di kosan langsung berlari ala-ala ninja ketika melihat banyak makanan yang dibawa Hana di ruang tamu. Anak kosan lainnya juga melakukan hal yang sama, meskipun kadar excited-nya masih diambang batas wajar dalam artian ga separah empat manusia kelaparan itu.   "Oh iya, jangan lupa bilang makasih sama Alin," ujar Hana yang bikin Haris yang lagi makan cilor keselek. "ini makanannya dibeliin Alin."   Alin senyum bangga sekarang, ini yang dia senangi dari Hana ... Ketika orang lain dengan mudahnya melupakan kebaikan Alin—mengangap semua perlakuan baik Alin termasuk dalam ambang kewajaran karena Gualin itu atm berjalan, Hana justru tidak begitu. Hana mengingat semua kebaikan Alin, sesederhana apapun itu. Poin yang paling Alin suka dari Hana adalah gadis itu tidak melihatnya sebagai atm berjalan, melainkan sebagai manusia biasa yang kini jadi anak SMA.   "Wajar kali Alin naktir," Aji kini berbicara. "dia kan atm berjalan, ngapain coba berterimakasih? Ucapan terimakasih dari kita ga bikin duit Alin balik, Na."   "Tapi Alin juga manusia kan, dia udah berbaik hati mau ngebayarin makanan yang elo makan. Ngomong makasih doang mah ga butuh biaya kan?" Hana senyum sampe matanya ngilang, Aji lantas dibuat merinding karenanya.   "Ok-oke makasi—"   "Bukan cuman Aji doang, semuanya dong. Say what?"   "MAKASIH ALINNN."   Hana senyum lebar, seneng aja ngedengernya. Dia lalu nyenggol Alin. "Bales apa Lin?" "Iya sama-sama," ucap Alin dengan gummy smilenya yang bikin cowok asli Taiwan itu makin gemash saja. Uwuuuu.   Senyuman Alin benar-benar menghidupkan suasana kosan yang semula suram. Tidak sampai Jeyhan dengan wajah kusutnya menghampiri Hana. "Han, gua mau ngomong."   Hana nelen ludahnya dengan susah payah. Dia ga berani natap Jeyhan karena masalahnya belum selesai. "Y-ya ngomong aja, itu tadi udah ngomong."   "Gua pengen ngomong berdua doang," kata Jeyhan dengan suara beratnya, matanya menatap Hana intens. "bisa?"   "Enggak," Hana mundur satu langkah, wajahnya nampak panik. Diotaknya kini kembali terputar kejadian beberapa hari lalu, Hana takut hal itu terulang, mana lagi sobatnya Hana belum balik. "disini aja."   Jeyhan menganggukkan kepalanya, dia nyerah. Toh dia ga bisa maksa Hana. "Oke."   "Mau ngomong apa?"   Jeyhan mengigiti bibirnya sebelum bicara, sampai akhirnya dia menghela napas. "Gua mau minta maaf, soal kejadian yang gua ngebentak elo dan bikin lo takut. Harusnya gua ga ngelakuin itu kala itu gua terlalu emosi. Jadi gua mi—"   "Ga usah minta maaf sih," potong Hana dengan cepat. "lo ngerasa salah dan ga bakal ngulangin kesalahan lo yang lalu aja udah cukup buat gua, Kak."   Jeyhan menatap Hana tidak percaya, kok anak ini cepet banget maafin semua kesalahannya? "Serius?"   Hana ngangguk pelan, kemudian tersenyum tipis. "Iya."   Jeyhan lantas tersenyum lebar, lelaki itu lalu menarik Hana kedalam pelukannya. "Makasihh. Makasih banget."   "Iya," Hana menghela napasnya, dia senang bisa berbaikan dengan Jeyhan karena yah temen ga boleh musuhan lebih dari 3 hari kan? "oh iya, gua boleh minta sesuatu ga?" tanya Hana setengah berbisik.   "Boleh, apaan?" balas Jeyhan antusias. Ya siapa tau Hana meminta dia jadi pacarnya. "Kak Jeyhan jangan perang dingin sama kak Chan lagi ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN