Bukan suatu hal yang aneh buat Hana ketika mendapati Jeyhan yang sedang berdiri didepan kelasnya.
Namun kali ini Jeyhan nampak berbeda. Lelaki itu bersender dengan tembok, tangannya dilipat didepan d**a, tatapannya menjadi galak sekaligus dingin.
Entah kenapa Jeyhan sekarang terlihat seperti pacar yang sedang ngambek.
Padahal Hana dan Jeyhan enggak pacaran.
"Kak Jeyhan kenapa?" tanya Hana.
Jeyhan memalingkan muka. "Gapapa."
Hana kan jadi bingung. Jelas Jeyhan kenapa-kenapa, kalo Jeyhan baik-baik saja lelaki itu pasti akan tersenyum kepadanya dan mengoceh seperti biasa. Hana curiga, pasti ada sesuatu yang ga beres.
"Mau beli makanan ga, kak?" tanya Hana lagi.
"Ga," lagi-lagi Jeyhan menjawab dengan singkat.
Hana jadi kesel sendiri, udah mah tadi dia gagal ngejawab pertanyaan dosen sekarang Jeyhan bikin dia bingung. "Kak Jeyhan kenapa sih? Kalo ada apa-apa bilang do—"
"Lo ada apa sama Chan?" potong Jeyhan dengan cepat, kini matanya menatap Hana dengan penuh intimidasi.
"Kak Chan? Cuman temen kok," balas Hana. Sebenernya dia ngerasa ga nyaman ditatap begini, apalagi ini masih di area kampus. Nanti bisa digosipin macem-macem.
"Cuman temen?" Jeyhan mengangkat satu alisnya. Sumpah ini tatapan Jeyhan nyeremin banget, dia beneran kaya orang yang lagi nyiduk pacarnya selingkuh. "cuman temen tapi ngobrol berdua ya di kantin, makan berdua, ketawa-ketawa. Itu cuman temen?"
Hana menelan ludahnya, belum lagi dia baru sadar kalau tubuh Jeyhan kini memojokan tubuhnya dengan tembok.
"Ya emang kenapa? Gua sama kak Jeyhan juga kan sering gitu, kan sama aja—"
"BEDA!"
Hana kaget banget Jeyhan tiba-tiba ngebentak dia gitu. Selama satu semester Jeyhan belum pernah ngebentak Hana. Oke, ini kenapa?
"Gua beda sama Chan, kenapa lo ga sadar sih?!"
Jelas Hana bingung lah, apa yang beda? Mereka sama-sama temen Hana. Hana harus sadar dari sisi apa lagi coba?
"Ga tau ah," Hana akhirnya ngedorong Jeyhan agar badannya biar keluar dari himpitan ini. Untung saja berhasil dengan satu kali dorongan.
Setelah itu Hana segera mengambil tasnya dan lari sekencang mungkin.
Jeyhan sedang mode berbahaya, dan Hana tidak sedang dalam kondisi baik—otaknya panas, abis kuis, jadi ia tidak mungkin dapat menenangkan Jeyhan dengan kepala dingin.
Daripada mendapatkan hal yang enggak diinginkan, Hana memilih untuk kabur.
Ini pertama kalinya Hana pergi dari hadapan orang lain dengan cara yang enggak sopan.
"Hah-hah," Hana cepat lelah tapi kakinya terus berlari. Sesekali dia menoleh kebelakang, untungnya Jeyhan tidak mengejarnya.
Atau mungkin belum.
Hana baru bisa bernapas lega ketika sampai di kosan, meskipun dia membuat Alin dan Jusuf yang sedang belajar auto bingung karena keadaan Hana yang berantakan akibat lari-larian. Bajunya basah, rambutnya lepek pula.
"Kak Han, dikejar anjing ya?" tanya Jusuf polos. Soalnya yang Jusuf tau, Hana itu cuman lari kalo telat dan dikejar anjing doang.
Yang ditanya cuman haha hehe, ngeiyain aja biar cepet terus pergi ke kamar Imma, satu-satunya tempat teraman yang terpikirkan oleh Hana.
Untungnya Imma udah pulang.
Hana jadi bisa langsung tiduran diatas kasur Imma. Ngebuat si anak manja itu natap Hana bingung.
"Napa dah lo?"
"Tutup pintunya dulu, ntar baru gua cerita," kata Hana yang bikin Imma misuh-misuh. Hana emang agak kurang ajar. Yang ngebukain pintu kan dia, tapi yang disuruh nutup pintu Imma. Kampret.
Ujungnya sih tetep, Imma nutupin pintu juga. Soalnya dia penasaran sama keadaan Hana sekarang. Ga biasanya Hana kaya gini, gini-gini Imma peka juga loh. "Lo kenapa?"
Hana ga punya pilihan selain bercerita pada Imma tentang hal yang membuatnya berlari seperti ini, tentu saja dari sudut pandangnya, membuat Imma yang kini duduk diatas kasur menggelengkan kepalanya. "Kok bisa gitu sih?"
"Ga tau Im, gua juga bingung."
Imma menghela napasnya, sebenarnya dia tau Jeyhan dan Chan sama-sama menyimpan rasa pada Hana. Dia juga udah pernah ngasih tau Hana meskipun diselipkan dalam candaan.
Tapi Hana itu batu, dia ga percaya.
Hana yakin palingan Jeyhan sama Chan suka dia sekilas gara-gara fisiknya doang, dan itu hal yang wajar buat Hana yang juga selalu melihat visual terlebih dahulu. Namanya juga manusia.
Awalnya Imma pikir juga begitu, namun setelah satu semester terlewati, Imma sadar kalo rasa suka Jeyhan dan Chan enggak sesederhana pikiran Hana.
Dari pengamatannya Jeyhan dan Chan memikiki cara yang berbeda untuk menunjukan bahwa mereka mencintai Hana. Kalo Jeyhan tipikal orang yang suka ngegas, Chan lebih suka menunjukkannya dengan cara sembunyi-sembunyi.
"Gua musti gimana?" tanya Hana lagi. "gua ga mau ujungnya kaya pas SMA dulu."
Imma ngangguk, soalnya dia tau betul urusan percintaan Hana. Tentang Hana dengan mantannya yang bikin Hana agak males buat menjalin hubungan lebih dari teman dengan lelaki lain.
"Yaudah, jauhin keduanya dulu."
"Lah g****k, kita satu kosan sama keduanya gimana caranya buat ngejauhin anjir?" Hana mengacak rambutnya, bingung.
Bukan cuman Hana yang bingung, Imma juga, walaupun yah ini urusan Hana sih. "Hindarin aja sebisa mungkin Han. Cari aman pokoknya, jangan memihak siapapun."
Hana mengangguk, mungkin itu adalah jalan yang terbaik meskipun Hana sendiri ga tau caranya gimana. Kalo Chan masih bisa dihindarin karena biasanya Chan menyibukan diri, tapi untuk Jeyhan Hana enggak yakin.
Hana kini menatap Imma. "Bantuin gua sampai keadaan aman, jangan tinggalin gua sendiri."
"Pasti."