Petikan senar gitar pertama mengalun lembut di udara, menciptakan nada manis yang menggelitik telinga. Beberapa pasang mata di dalam ruangan yang sama langsung menjatuhkan fokusnya pada sosok Vadi. Tepat di atas pangkuannya, sebuah gitar lusuh dengan stiker warna-warni menjadi objek kedua yang tampak paling menonjol. Jari milik Vadi secara lihai memetik senar gitar sebelum kemudian dirinya bersenandung pelan.
She is dreaming
And she has no voice
In her dark room she will made a conversation with her own shadow
Mendadak, dentingan sendok yang beradu dengan piring serta desas-desus suara asing milik pengunjung W's cafe pagi itu terhenti. Fokus mereka sepenuhnya dijatuhkan pada Vadi. Di atas sebuah panggung kecil, Vadi memejamkan matanya. Mencoba meraba setiap nada serta lirik yang dirinya ciptakan. Pun, semua orang seolah-olah paham kalau Vadi sedang sedang menghayati tiap bait lagu yang ia nyanyikan.
Vadi yang katanya diciptakan dari matahari dan debu itu berkisah melalui suaranya.
She may think that God is alive
She may think that home will be find
But she’s too pretty
And I can’t take my eyes off her
She is dreaming
But she lost herself
And she has no voice
Petikan sinar gitar kembali mengalun secara teratur, mengikuti ke mana arah nada mengudara. Ini adalah salah satu kisah yang Vadi ciptakan di dalam kamar kontrakannya yang berdebu dan sempit. Ini adalah salah satu kisah yang sedang coba Vadi untuk kenang. Ada rindu yang Vadi ceritakan. Ada rasa takut serta gairah untuk jatuh cinta.
I wanna paint her blue
Or even red
She is the summer that I want
She is the summer that I’m dreaming of
Did she made your heartbeart faster? Or am I dreaming?
Iris cokelat terang serupa madu itu pada akhirnya menampilkan bagaimana warnanya.
Hangat adalah salah satu pendeskripsian yang cocok di tunjukkan untuk iris itu. Entah bagaimana iris itu mampu membius siapapun yang melihatnya. Ada sesuatu yang asing, lebih dari sekadar kagum yang dipancarkan olehnya.
Rindu. Satu rasa asing itu seperti bentuk emosi rindu yang mengakar dan tumbuh kokoh tanpa tahu kapan tepatnya dimulai. Unik.
Decak kagum dari para penonton bercampur bersama aroma khas kopi serta manisnya red velvet. Warna-warni tak kasat mata tersebut membumbung tinggi seiring dengan lantunan lagu. Ditambah ritme hujan yang menyentuh bumi secara teratur.
Awan mendung di luar sana rupanya sangat berbanding terbalik dengan keadaan W's cafe. Dingin yang sedari subuh tadi sudah menyelimuti sebagian kawasan di daerah Bandung terkesan tak sedikit pun menyentuh ke dalam bangunan bergaya klasik tersebut.
She is dreaming
Or am I dreaming?
But who cares?
Because she is too pretty
Sepasang bola mata lelaki itu fokus pada satu titik. Titik di mana seorang wanita dengan sweater peach tengah duduk dan berkutat bersama bukunya. Menggerak-gerakkan pena pada lembar kertas secara tidak teratur. Ingin sekali Vadi bertanya, apa yang tengah wanita itu tulis?
Atau ingin sekali Vadi bertanya, apakah suaranya begitu buruk sampai-sampai ia enggan sekedar mengangkat kepalanya barang sebentar dan melihat bagaimana seringnya Vadi memperhatikannya?
She, who always seems so sad in every moment
She may thinks that she is not precious
She may thinks that she is the worst
Oh I wanna tell her that she is amazing
She is the miracle that I want to take
And keep it on my pocket
Vadi mengalihkan fokusnya saat lensa ponsel mengarah padanya. Tersenyum ramah, lantas teriakan heboh dari kaum hawa menggema.
Selalu begitu.
She is dreaming
But she is too pretty
Oh God, could you give her more strenght?
So she could wake up and I will tell her
I will tell her about everything
Kenapa dari sekian banyaknya pasang mata yang menyorotnya tak satupun dari mereka yang memiliki warna itu?
I will tell her, I will make you safe
Untuk sesaat pegangan Vadi pada gitarnya menguat ketika pada akhirnya wanita itu mengangkat kepalanya. Onik sejernih telaganya dapat Vadi lihat jelas, tidak termakan oleh jarak.
Warna itu. Vadi menemukan warna yang selama ini ia cari namun, tampak lebih redup. Itu adalah kemaraunya.
But, she is dreaming
Untuk beberapa alasan, Vadi kemudian memilih penasaran pada sosok di dekat jendela itu. Ada nyali yang coba Vadi pertaruhkan. Dan, memang selalu ada hal yang Vadi pertaruhkan. Seperti ketika bagaimana ia akhirnya memutuskan pergi alih-alih menjalani kehidupan yang bukan mimpinya.
Vadi mulai berharap, semoga kali ini semesta merestui jalannya.
Sebab, sekalipun tidak, Vadi tetap akan mencari jalannya sendiri.