I - Secangkir Cokelat Panas

1529 Kata
Untuk beberapa saat, Azka melirik pemandangan di luar kaca. Bangunan tempatnya bernaung kali ini merupakan sebuah cafe sederhana dengan dinding kaca tebal nan jernih. Apabila Azka menoleh ke samping, ia akan menemukan adegan bumi yang dihujani basah. Lalu, apabila Azka menoleh sedikit ke kanan, ia akan menemukan adegan di mana orang-orang mulai berlari tanpa payung.  Suasana seperti ini masihlah asing bagi Azka. Bandung masihlah menjadi sesuatu yang asing baginya.  Tidak lama dari itu, seorang pramusaji meletakkan sesuatu di atas mejanya. Tidak lama dari itu, aroma bubuk cokelat yang diseduh mulai tercium di sekitar Azka. Azka menunduk untuk menemukan secangkir cokelat panas di atas mejanya. Kepulan asap tipis bahkan masih terlihat ketika Azka menghentikan gerakan sang pramusaji yang hendak pergi meninggalkannya. "Lho tapi saya nggak pesen hot chocolate, Mbak," kata Azka sambil menunjuk cangkir putih berisi cairan kakao.  Pramusaji dengan name tag Milla itu tersenyum sopan lantas menunjuk seorang lelaki yang tengah memangku gitarnya, tepat di atas sebuah panggung mini milik W'cafe. Kerutan tipis di dahi Azka muncul diiringi dengan fokusnya yang mau tak mau tertuju pada lelaki itu. Kaos polos serta celana jeans panjang yang bagian lututnya sobek-sobek itu, tak sedikit pun menggugah ingatan Azka mengenai siapa lelaki tersebut. Asing. Kehadirannya betul-betul janggal bagi Azka. Azka kembali mengalihkan tatapan dan melanjutkan kalimatnya, "Saya nggak kenal sama dia. Mungkin Mbak salah meja." Azka sangat yakin kalau sebelumnya baik ia maupun lelaki itu belum pernah sekalipun bertemu. Azka jadi sangsi kalau laki-laki di sana merupakan orang aneh yang sepatutnya tidak diberikan kesempatan apapun. Entah apa yang laki-laki itu inginkan darinya. Azka merasa apa yang laki-laki itu berikan bukanlah sesuatu yang gratis. Tidak ada kebaikan yang gratis di dunia ini. Selalu ada harga atas sesuatu. Oh, apakah ini bisa disebut sebagai kebaikan alih-alih cara untuk mengusik ketentraman hidupnya? Lagipula ini kali pertama bagi Azka menginjakkan kaki di W'cafe setelah satu minggu menetap di Bandung bersama kedua orangtuanya. Tak ada jejak-jejak masa lalunya di kota Kembang tersebut selain, jabang bayi yang tengah menggeliat dalam rahimnya. Pun, Azka enggan menganggap janin itu sebagi keping dari masa lalunya melainkan, sebuah anugerah yang pantas ia syukuri kendati terdapat darah Daniel yang nantinya mengalir di setiap pembuluh darah bayi mereka. Tak apa. Azka tidak bisa menolak fakta tersebut. Bayinya tetap berharga. Anaknya. "Nanti Mbak juga kenal," kata Milla tuntas sebelum kemudian pamit untuk kembali bekerja. Menutup bukunya, Azka memperhatikan cangkir besar berisikan cairan hangat nan manis tersebut. Ragu, jari-jemari Azka menelusup memasuki kuping cangkir. Di sana ia menggantungkan tiga jarinya pada kuping cangkir berbahankan keramik tersebut. Merasakan hangat yang ditransfer dari konduktor panas cokelat. Asap putih mengepul kemudian membumbung tinggi hingga pada akhirnya menguap ditelan alam. Aroma manis serta menenangkan itu menggelitik indera penciuman Azka. Ia selalu suka cokelat. Tetapi, Azka tidak suka orang yang memberikannya. Hanya saja, pada detik kelima Azka memutuskan untuk mendorong cangkir tersebut agar lebih mendekat. Mensejajarkan letaknya dengan hidung hingga aromanya lebih kuat tercium. Menghantarkan deburan-deburan energi positif yang lama tak menyapa dirinya. Mirip keajaiban. Aroma tipis ini membawa rindu yang berkecipak pelan di dadanya, di dalam kepalanya. Entah hal apa yang membangkitkan salah satu emosi tersebut. Mungkinkah Daniel? Azka menutup matanya. Dalam diamnya, Azka menggeleng. Bahkan perasaan tersebut sudah lama mati. Rindu yang sempat menggunung itu entah kapan tepatnya tapi, yang jelas sudah lama terkikis tanpa sisa. Tergantikan oleh sekat semu nan dingin yang Azka sendiri tak mampu hancurkan. Perasaan Azka seharusnya sudah lama mati. Rasa cinta dan kasih yang dahulu sempat Azka curahkan untuk Daniel kini sudah dikubur jauh dan meninggalkan Azka. Hatinya terlanjur dibelai pedih serta terkurung kecewa.  Rasa-rasanya Azka tidak bisa memaafkan Daniel. Tidak bisa memaafkan dirinya juga. Atas perselingkuhan laki-laki itu. Atas pengkhianatan sahabatnya. Atas Azka yang lalai pada banyak hal. Azka menunduk. Azka sadar kalau akhir-akhir ini dirinya jadi banyak menyalahkan orang lain. Padahal mungkin saja semua tragedi dalam hidupnya tidak akan terjadi seandainya Azka lebih peka. Seandainya Azka lebih hati-hati. Dengan jari-jemarinya, Azka meremat badan cangkir. Mencoba menarik dirinya kembali ke dalam realita saat ini. Dalam bisunya, Azka menebak-nebak kapan semuanya akan berakhir dalam arti sesungguhnya? Bukan berada di posisi seperti sekarang. Posisi di mana dirinya berada dalam lorong waktu. Antara detik di mana masa lalunya menjerit-jerit atau detik masa depan yang pintunya masih terkunci rapat. Seolah-olah tidak membiarkan dirinya maju satu langkah menjauhi jengkal abu-abu. Pun, Azka enggan kembali ditelan masalalu. "Suka?" Buru-buru Azka mengangkat kepalanya lalu menjauhkan cangkir agar ia dapat melihat pasti siapa pemilik suara bas itu. Senyum lebar yang menebarkan pesona sehangat mentari pagi itu langsung menyorot Azka. Sulur-sulur rambut kecokelatannya yang ditata asal itu jatuh membentur sebagian keningnya. Di mata Azka, figur laki-laki ini terlihat sama sekali tidak menarik. Ia lebih mirip seorang penganggu yang kehadirannya tidak Azka inginkan. "Nggak ada jawaban, kayaknya kamu suka," kata laki-laki itu terkesan tidak ingin menunggu jawaban dari Azka lebih lama lagi. Dan, sepertinya Azka memang enggan membuka suaranya untuk Vadi yang tahu-tahu sudah duduk pada kursi di seberang meja Azka. Tunggu dulu, sejak kapan ia duduk di sana? Dua tangan Vadi dilipat di atas meja sembari menunggu respon Azka yang selalu lama. Vadi agak khawatir kalau Azka akan pergi alih-alih duduk lebih lama lagi di sini guna meladeni pertanyaanya. "Ini dari kamu?" tanya Azka akhirnya. Ia merasa sedikit tidak enak hati manakala menemukan raut wajah Vadi yang menunggu. Lelaki itu mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh bibir Azka. Dari jarak sedekat ini Vadi tahu kalau wanita di depannya memiliki senyum serupa biskuit yang wujudnya tak dapat ia lihat sekarang. Manis. Azka manis di mata Vadi. Atau mungkin Vadi hanya berhalusinasi. Ia tidak tahu. Azka memiringkan kepalanya. Mencoba mengorek sedikit info tentang lelaki itu. "Maaf, tapi kamu siapa? Atau kita pernah ketemu sebelumnya?" "Belum," jawab Vadi yakin. Azka mengetuk-ngetukkan jarinya pada permukaan meja. Seharusnya ia takut pada orang asing di depannya ini. Bagaimana mungkin seseorang yang sebelumnya belum pernah bertemu tiba-tiba saja memberinya secangkir cokelat panas. Terkecuali dengan niat tertentu. Terkecuali jika ia memang bukan orang jahat dengan banyak skenario buruk di dalam kepalanya. Azka mencoba menepis ketakutannya sedikit. Bagaimana pun ia harus mendengar penjelasan laki-laki itu. Atau apapun. Azka tidak ingin langsung menempatkan Vadi dalam stigma yang ia buat dalam kepalanya sendiri. Karena pada satu sisi, anehnya Vadi terlihat sedikit bisa dipercaya. Katakan Azka sudah gila atau mungkin pemikiran tersebut timbul dari perasaan sepi di dadanya? Terkekeh geli, Vadi menjulurkan tangan kananya "Vadi," ucapnya mengenalkan diri kemudian. Azka terlihat menimang-nimang. Haruskah dirinya menerima uluran tangan Vadi atau menepisnya jauh? Azka agak ragu sebelum memilih untuk membiarkan tangan Vadi menggantung kosong begitu saja di udara. "Well, nama yang unik." Menyadari satu hal, Vadi menarik kembali tangannya. "Ya, betul. Ayahku yang kasih namanya. Kamu pengunjung baru di cafe ini?" Azka berdehem guna memanipulasi suaranya agar terkesan lebih meyakinkan. "Saya langganan." "Oh ya?" "Ya. Lagipula apa urusan kamu dengan itu?" Vadi menganggukan kepalanya. Merasa setuju sekaligus tidak dengan kalimat Azka tadi. "Sayang sekali, padahal kalau pengunjung baru biasanya dapet diskon dengerin laguku." "Yah, sayang sekali." Azka mengatakannya dengan ekspresi bosan. Vadi di seberang sana tahu kalau Azka di hadapannya sama sekali tidak tertarik dengan apapun yang menyangkut Vadi. "Kamu suka nulis?" Karena merasa obrolannya dengan Azka mulai terasa alot, Vadi bernisiatif untuk menciptakan obrolan dengan topik lain. Seraya menunjuk buku di samping siku kanan Azka, Vadi bertanya.  Azka menyunggingkan senyum tipis sebelum memasukkan buku serta pena ke dalam tasnya. Sebelum pergi Azka sempat berkata, “Terima kasih atas traktirannya.” Vadi ditolak. Ia menyadarinya. "Maybe next time?" Azka bangkit. "Ya, maybe next time or maybe never." Lalu pergi begitu saja meninggalkan aroma stroberi yang tetap bertahan kendati menit telah berdetak berulang kali. Mungkin Vadi sudah gila. Hanya saja, bayangan wajah Azka belum hilang sampai ia kembali bertemu dengan perempuan itu pada suatu pagi yang cerah. *** Azka melihatnya sendiri. Lelaki itu tumbang setelah menerima beberapa kali pukulan telak di tulang rahang serta perutnya. Kemeja putih yang membalut tubuh jangkungnya tampak agak kotor lantaran terkena cipratan darah. Sementara itu, dua orang berbadan kekar berdiri kokoh tepat di hadapan Daniel lalu pada sisi yang lain berdiri Brata, ayahnya. Brata memasang raut wajah yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Rahang Brata mengetat. Sepasang bola matanya menatap Daniel rendah seolah-olah menantunya itu berasal dari kasta berbeda. Seolah-olah Brata siap meludahi wajah Daniel ketika waktunya tiba. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Azka mampu mendengar suara ayahnya. Murka. "Aku tidak akan pernah membiarkan puteriku kembali bersama lelaki yang tidak tahu caranya berterima kasih sepertimu dan ya, aku menyesal telah menyetujui perjodohan dua tahun lalu," ucap Brata tenang namun juga tegas secara bersamaan. "Papa," panggil Azka sontak membuat Brata dan Daniel menoleh. Susah payah Daniel bangkit meskipun tiap gerakan yang ia lakukan menimbulkan nyeri di beberapa bagian. Daniel tahu dirinya salah jadi, ia tidak berniat untuk melakukan pembelaan apapun selain diam menunggu Azka. Ayo pulang, Azka. Bersamaku, kerumah kita. Daniel berkata dalam bisunya. Apabila boleh, Daniel juga ingin mengatakan rindu pada perempuan itu. Azka menelan ludahnya gugup. Sepasang lututnya mulai bergetar lemas. Daniel berjarak sepuluh langkah dari tempatnya, lelaki itu menatapnya dengan sorot yang sukar untuk dibaca. Sementara itu, bibir Azka terkatup rapat. Enggan mengatakan apapun pada Daniel. Tidak ada sambutan baginya. Malam itu Azka memilih untuk memalingkan wajahnya, enggan menatap figur Daniel lebih lama. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN