Azka membiarkan Fira, ibunya mengalungkan syal berwarna merah hati itu pada lehernya. Mengenyahkan dingin yang sempat bernanung di permukaan kulit tipis milik Azka. Rajutan halus benang wol serta sensai hangat yang melingkupi area leher nyatanya tak merubah apapun. Pandangan Azka kosong seolah jiwanya sedang mengembara meninggalkan raga yang terpaku bersama bumi.
Tanpa sadar sedari tadi Azka menautkan jari-jemarinya pertanda wanita itu sedang dilanda gundah serta cemas. Ketika Fira meraih jemari Azka, bagian tubuh tersebut terasa dingin dan lembap. Puterinya sedang risau. Tangan Fira kemudian beralih guna menangkup pipi puterinya, membuat Azka kembali tersedot ke dalam realita.
Disunggingkan senyum keibuan itu, lantas telapak tangannya bergerak lebih jauh menyusuri jengkal kulit Azka. Ada haru serta pilu yang berdentum keras manakala Fira mengingat-ingat momen bagaimana seorang Haifa Azka Ellysa tumbuh.
Tangis pertama milik Azka. Langkah pertama Azka. Juga kalimat pertama yang meluncur dari bibir mungilnya. Masih terekam jelas detik-detik emas tersebut oleh Fira. Bayi mungil yang 25 tahun lalu ia lahirkan telah lama ditelan waktu. Menyisakan sajak-sajak tawa serta rewel khas putrinya.
Jika boleh, Fira ingin kembali pada detik pertama itu. Detik di mana Azka hanyalah sosok bayi mungil yang sedang rakus-rakusnya menyedot ASI. Detik di mana untuk pertama kalinya Fira dapat merasakan kulit rapuh Azka menyentuh kulitnya.
Fira mendesah, betapa waktu begitu cepat dan jahat. Menciptakan jutaan memori yang tak dapat ia rasakan kembali. Puterinya sudah besar. Azkanya juga sedang terluka.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Fira tulus. Dirinya mencoba meyakinkan Azka bahwa tidak ada hal apapun yang harus Azka khawatirkan. Padahal, Fira tahu betul kemelut puterinya belum selesai.
Iris sebening mutiara itu menatap Azka redup, berharap kebahagiaannya dapat dipindahkan pada Azka. Agar esok tak ada lagi goresan tinta kelabu yang menetes pada lembar kertas hidupnya. Berharap puteri kecilnya akan tetap menjadi gadis kecil polos yang diselimuti suka.
"Aku takut ...," suara Azka lirih. Lebih menyerupai rintihan kesakitan.
Fira meraih jari-jemari Azka yang ujung-ujungnya memucat. "Apa yang Azka takutin? Di sini ada Ayah, ada Bunda."
Tanpa perlu menunggu jawaban dari Azka, Fira sudah lebih tahu. Kehadiran Daniel tadi sore cukup mengguncang psikis puterinya.
Azka memeluk Fira. Menenggelamkan wajahnya pada bahu wanita yang dulu pernah melahirkannya. Wanita yang sampai kapanpun akan berdiri paling depan kala ia terjatuh. Wanita yang paling memahami betul bagaimana detil perasaannya. Wanita yang juga paling terluka setelah Azka.
"Aku takut," ucap Azka di sela-sela isak tangisnya. Ia takut pada banyak hal.
Fira balas memeluk Azka. Sembari mengelus punggung putri tunggalnya, ia mendengarkan kendati mati-matian dirinya menahan agar tak ikut menangis.
Malam itu, Januari membawa angin dingin baginya. Dan, di dalam rengkuhan ibunya, Azka paham bahwa perasaan mencintai sepihak sangatlah buruk. Ada banyak hal yang harus Azka pertaruhkan. Perasaanya. Harga dirinya. Martabat keluarganya.
***
Azka menengadah. Di atas sana langit bersinar sangat pongah. Gambaran langit malam yang beku mendadak pergi, seolah-olah lebur dan hanya menyisakan hari baru untuk Azka. Deru mesin kendaraan bersahut-sahutan seiring dengan lajunya yang mengoyak waktu. Derap-derap langkah kaki menghujam bumi yang mereka pijaki.
Ini Bandung. Tempatnya melarikan diri. Tempatnya tinggal.
Dengan beralaskan sepatu tali, Azka berjalan menepi di pinggiran trotoar jalan Braga. Sesekali lensa basokanya membidik bangunan atau pedagang yang ia lewati.
Rambut panjang sepunggungnya bergerak halus lantaran menyentuh angin. Polesan make-up tipis sedikit menutupi pucat pasi warna wajah Azka. Tempat ini terasa baru baginya. Ada banyak wajah yang tidak Azka kenal. Ada banyak derap langkah kaki yang menjauhi tubuhnya.
Perasaan seperti ini untuk beberapa alasan terasa menyenangkan di mana tidak ada orang-orang yang mengenalnya. Hanya Azka di sini.
Pada satu kesempatan segerombolan manusia menyedot perhatian Azka. Petikan senar gitar samar-samar terdengar. Dalam kurun waktu dua detik mata Azka terbelalak. Bukan karena ada adu jotos atau sesuatu yang berbau negatif lainnya.
Senyum kemenangan timbul di bibir Vadi. Masih sambil memainkan gitar serta menyenandungkan lagu, lelaki yang tahun ini berstatus mahasiswa semester 3 di salah satu universitas daerah Bandung itu pura-pura tidak menyadari kehadiran Azka, wanita yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya.
Kencringan uang logam yang mendarat mulus ke dalam wadah bekas kaleng biskuit itu beradu bersama tepuk tangan penonton dadakan ketika Vadi selesai menyanyikan lagu bertajuk When My Mother Cursed milik Emily Kim.
Usai merapikan segala t***k bengek ngamennya, lelaki itu melangkah lebar-lebar menghampiri Azka yang masih berdiri mematung.
"Ms. Chocolate," celetuk Vadi tiba-tiba.
Azka mundur satu langkah. Bibirnya spontan bertanya, “Maksudnya?”
Vadi memperhatikan penampilan Azka sembari mengetuk-ngetukan jarinya di pipi, membuat pose berpikir ala seorang pakar fashion yang sedang menilai sebuah busana.
"Kayaknya kamu bukan orang asli Bandung." Lantas menjentikan jari telunjuk serta jempol. "Aku bisa jadi pemandu wisata yang baik."
Azka menyerngit heran. Memang tampangnya mirip turis yang sedang kelimpungan sebab tak tahu seluk-beluk jalan?
"Nggak butuh," tukas Azka ketus.
Vadi meringis. "Kata ibuku, niat baik dari orang lain itu nggak boleh ditolak lho."
Azka menaikan alisnya. "Saya nggak butuh pemandu wisata. Kalaupun butuh, saya bisa sewa jasa yang lebih berpengalaman."
Mendadak Azka kehilangan sifat ramahnya.
Alih-alih tersinggung dan menyerah, Vadi justru mengikuti langkah Azka yang berjalan menjauhinya. Ia mirip penguntit sekarang ini.
Tapi, Vadi tidak merasa sedang melakukan hal yang salah. Ia tahu Azka dan dirinya masihlah orang asing. Hanya saja, apabila boleh jujur Vadi tidak memiliki niat apapun kepada Azka. Vadi hanya merasa kalau mungkin ia dan Azka bisa menjadi kolega yang baik.
Vadi mensejajarkan langkahnya dengan Azka. "Aku lahir dan besar di Bandung. Bagiku Bandung adalah rumah. Kamu nggak akan menyesal menjadikan aku sebagai pemandu wisata. Meskipun, tampangku mirip penguntit di samping kamu, tapi aku tepercaya."
Azka tidak menyahut. Wanita itu tidak menghiraukan kehadiran Vadi dan memilih untuk terus melangkah. Selama Vadi tidak bertindak macam-macam maka, Azka pastikan laki-laki itu akan baik-baik saja.
“Kamu tau nggak kalau kita jalan sedikit ke Asia Afrika akan ada banyak lukisan yang dipajang di trotoar. Kalau kamu menoleh ke kanan, itu ada bangunan lama yang jual lukisan print.” Tanpa banyak diminta, Vadi mulai bercerita. Sesekali tangannya menunjuk beberapa bangunan yang mereka lewati.
Azka menoleh, "Saya nggak butuh pemandu wisata, ini Bandung bukan London yang kemungkinan saya tersesat itu sampai delapanpuluh persen."
Vadi mengangguk-anggukan kepala. Merasa setuju. Sekarang ia mengubah mimik mukanya menjadi lebih serius. "Tapi, tetep aja bisa nyasar ms.Chocolate."
"Jangan panggil saya begitu," Azka mencebik.
Entah kenapa, mood-nya berubah agak mendung. Kamera basoka yang sedari tadi menggantung di lehernya sudah tak menarik lagi.
“May I know your name then?” Vadi tersenyum ketika mengakhiri pertanyaanya.
Azka mendengus keras-keras sebagai respon. “Saya nggak suka memberikan informasi pribadi sama orang asing kayak kamu.”
“Betul. Tapi, kamu sudah tau namaku. Aku kuliah di Universitas Merah Putih dan mengambil jurusan musik. Seandainya kamu masih berpikir kalau aku asing.”
“Tapi saya nggak pengen tau tuh? Kamu cuma akan berakhir sia-sia kalau terus mengikuti saya lho. Saya nggak bisa kasih apapun ke kamu,” balas Azka sengit. Berharap dengan begitu Vadi dapat memahami batasan di antara keduanya dan pergi meninggalkan Azka.
Sayangnya, laki-laki itu sepertinya tidak paham. “Aku tau. Aku nggak akan minta apapun juga dari kamu. But, can we be friend?”
Azka menghentikan langkah kakinya. Ia menatap Vadi tepat di mata, mencoba mencari apapun yang dapat membuatnya memahami maksud Vadi. “Why? Tell me why we should be friend?”
“Because I see summer on your eyes.”
Sejujurnya Azka tidak memahami ucapan Vadi. Hanya saja, laki-laki itu tampaknya tidak berbohong. Entah Azka yang tidak pandai membaca kebohongan atau justru Vadi yang terlalu lihat bersembunyi di balik kebohongan itu sendiri.
Akan tetapi, pada akhirnya Azka membiar Vadi berjalan di sisinya.
***
“Lagu seperti apa yang kamu suka?” Vadi bertanya untuk pertama kalinya setelah mereka berdua saling membisu selama hampir duapuluh menit.
Untuk sesaat Azka termenung. Lagu yang ia suka lebih banyak mengisahkan soal Daniel. Terlalu banyak nama laki-laki itu di dalam kehidupannya. Jadi, dengan asal Azka menyebut satu judul lagu.
“To You Who Has No Smile milik Gianna Lee.”
Vadi tahu lagu itu. Ia pernah menyanyikannnya sekali. “She looks so pale. She doesn’t even smile when the neighboor come to her house.”
Dan, Vadi bernyanyi. Pelan. Mirip bergumam. Akan tetapi, Azka mampu mendengarnya. Hal tersebut terkesan seakan-akan Vadi sedang bernyanyi untuknya. Untuk orang-orang yang berjalan melewati mereka.
“Kamu suka lagu-lagunya Teh Gianna Lee?” Vadi kembali melontarkan pertanyaan usai menuntaskan sepenggal lirik lagu.
Azka memandang punggung milik orang-orang yang berjalan di depannya sebelum menjawab, “Enggak terlalu. Lagu yang kusuka lebih banyak bicara soal orang yang nggak aku suka.”
“That’s why people made a song.”
Azka menoleh. “Maksud kamu?”
“Lagu itu abadi. Kamu bisa mencintai seseorang lewat lagu, memuja mereka, menghidupkan mereka yang sudah mati lewat lagu, tapi kamu juga bisa membenci seseorang lewat lagu.”
“So your point?”
Vadi memasukan tangannya ke dalam saku celana. Ia menjawab seraya mengingat seseorang. “Aku pernah bikin lagu, buat ibuku. Aku harap orang lain mengenal ibuku lewat lagu, mencintai beliau, dan berdoa untuk beliau sebagaimana aku. Jadi, kalau kamu membenci seseorang karena lagu ya nggak apa-apa. Aduh aku ngomong apa sih.”
Pada kesempatan itu Vadi masih sempat untuk tertawa. “Intinya lagu itu banyak fungsinya. Kalau kamu bencilagu tertentu karena mengingatkan kamu sama seseorang, can I offer you a song that wil give you nothing but new memories?”
Azka terlihat meragu. “What’s song?”