III - Prinsip Awal

1027 Kata
Untuk beberapa saat Azka masih duduk terpaku di tempatnya. Darah yang mengalir di setiap pembuluhnya berdesir kuat. Pun, jantungnya seolah dipompa melebihi batas wajar. Sendi-sendi wanita itu mendadak berubah menjadi kawat-kawat baja. Dalam diam, Azka merutuki dirinya yang tidak mampu berkutik ketika pandangannya dan Daniel saling bersitatap. Dentuman abu-abu itu kembali memukul-mukul rongga d**a Azka. Ada nyeri yang tak dapat ia simpulkan pasti bagaimana bentuknya. Pada detik pertama, waktu seperti berhenti berdetak, menyisakan irama bisu yang suaranya menyerupai lagu kematian. Lirih serta menyayat gendang telinga siapa saja yang mendengarnya. Sekejap, Azka memperhatikan penampilan Daniel. Pakaian lelaki itu masih sama dan tampak tidak lebih baik. Dasi biru tua yang semula memeluk kerah kemejanya sudah tak berbentuk lagi. Memar-memar di wajahnya juga masih utuh, tampaknya tidak sedikit pun Daniel mengobati luka yang ia dapat kemarin sore.  Bahkan dagu Daniel ditumbuhi bulu-bulu halus bakal janggut. Azka bertanya-tanya, kapan terakhir kali lelaki itu merawat dirinya sendiri? Dan, kenapa pula Daniel ada di sini? Apakah laki-laki itu mencarinya? Buru-buru Azka memutuskan kontak mata. Semuanya sudah berbeda. Keadaan tak lagi sama. Daniel bukanlah siapa-siapa. Eksistensi laki-laki itu tidak lagi berharga. Azka dan Daniel, keduanya telah berakhir. Tidak akan ada kata kita lagi dalam kamus mereka. Yang ada hanyalah dua orang asing yang menjalani hidupnya masing-masing. Bukankah itu keinginan Daniel sejak dulu? Jauh sebelum Azka sempat tahu kalau perasaan Daniel padanya tidak lebih dari sekadar orang asing. "Karena kamu bukan masa depan yang aku inginkan." Suara Daniel terdengar kembali. Tempo dulu laki-laki itu mengatakan bahwa bukan Azka yang ia inginkan. Bukan dirinyalah yang Daniel harapkan ada di hidupnya, melainkan orang lain. Sesak yang seharusnya tak lagi menyapa, mendadak saja mencekam paru-paru Azka. Sakit yang seharusnya tidak bergumul di titik terlemah itu seharusnya sudah enyah. Kenyataannya, semua tidak semudah ekspetasi Azka. Seandainya pergi dan melupakan seseorang lebih mudah dari mengatakannya. Seandainya patah hati tidak lebih sakit daripada hari ini. Seandainya dan seandainya. Azka jadi banyak berandai-andai. Bodoh sekali. Rutuknya pada diri sendiri. Azka merasa bodoh atas banyak hal. “One of my own song.” Bayangan Daniel seketika tergantikan oleh suara berat Vadi. Azka melepaskan pandangannya dari Daniel. “Kamu bikin lagu?” “Tentu. Mau dengar?” Salah satu alis Azka naik. “Tentang apa dulu?” “About being brave.” Oh, Azka mulai tertarik. “Boleh?” “Boleh ‘kan aku yang nawarin. Tapi, ada syaratnya.” “Apa?” “May I know your name?” Azka mendengus. “Dasar perhitungan.” “Bukan perhitungan. Ini namanya memanfaatkan momen. Masa aku nyanyi buat kamu, tapi aku sendiri nggak tau nama kamu?” Pada akhirnya Azka setuju. “Azka. Nama saya Azka.” Dan, hal tersebut berhasil memantik senyum di bibir Vadi.  “What a beautiful name.” Azka memutar bola matanya malas. “Kamu terdengar aneh kalau ngomong kayak gitu. So your name is Vadi right?’ “Ya, betul. Vadi mahasiswa Universitas Merah Putih.” “Kamu ini kayaknya pandai main kata-kata ya.” Vadi mengendikkan bahunya. “Nggak gitu. Aku ngomong jujur kok.” “Gimana aku tau kamu lagi ngomong jujur atau Cuma lagi membual?” “Azka, terlalu percaya sama orang emang nggak boleh. Itu namanya naif dan bodoh. Tapi, nggak semua orang suka membual. Just wait and see,” kata Vadi mengakhiri sesi percakapan mereka sebelum beranjak pergi. Azka sendiri membiarkan langkah kaki Vadi menjauhinya. Dengan tas gitar di bahu, laki-laki itu bergerak sedikit berlari menuju panggung bebas di sisi kanan taman musik Centrum. Menit berikutnya lelaki itu sudah berada di atas panggung yang memang telah di sediakan khusus bagi siapapun yang ingin menunjukkan bakatnya dalam bermusik secara cuma-cuma. Dengan cekatan dan terlihat seperti sudah terbiasa, Vadi membuka tas gitarnya dan mengeluarkan gitar dari dalam sana. Benda itu tidak lama tergantung di sekitar perutnya dengan bantuan strap. Perlahan Vadi memetik senar gitar dan mulai menyenandungkan bait-bait lagu yang sudah ia hafal di luar kepala. “I see my mom crying in her dark room. Once she told me about being happy But I don’t wanna be happy without her Then she told me about summer” Banyak pasang mata yang menyorot Vadi terpukau tapi, hanya satu yang tampak biasa saja bahkan wanita itu sama sekali tidak melihatnya dan bahkan pergi bersama lelaki lain menyisakan tanda tanya besar di benak Vadi. Siapa lelaki itu? “She will find me when summer comes But this winter is too long Maybe I should be more adventorous So I could wait her ‘till this winter ends.” Sayangnya, hari itu Vadi menyelesaikan lagunya tanpa Azka. *** Azka berniat untuk mendengarkan Vadi sampai laki-laki itu selesai di atas panggung. Hanya saja, tiba-tiba Daniel datang datang dan menarik kasar pergelangan tangan Azka tanpa persetujuannya. Ia membawa Azka menjauhi keramaian taman seluas 4.200 meter persegi tersebut ke sudut yang lebih sepi. Azka yang mendapat gerakan secara tiba-tiba tidak mampu memberontak. Kedua lututnya juga ikut lemas. Azka jadi mulai bertanya-tanya, kenapa dirinya tidak bisa bersikap lebih berani pada Daniel? "Kamu ini apa-apaan?" Tanya Azka ketika keduanya sudah berada cukup jauh. Wanita itu menarik tangannya, kemudian mengusap-usap bagian yang tadi sempat Daniel cengkram. Agak memerah. Azka meringis. Daniel hendak meraih kembali tangan Azka sebab rasa bersalah berseliweran namun, belum sempat Daniel melakukannya Azka sudah lebih dulu menampar pipi lelaki itu. Cukup kuat, sehingga meninggalkan rasa panas serta perih secara bersamaan. Daniel menatap Azka tidak percaya yang dibalas tatapan entah Daniel sulit membaca arti tatapan itu tapi, satu yang pasti; ada banyak luka terpendam di sana. "Aku minta maaf." Kalimat itu pertama kali meluncur dari bibir Daniel. Azka diam. Napasnya memberat. "Tolong maafin aku, Zka. Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi. Nggak kayak gini, please? Setidaknya biarin aku jadi orang pertama yang gendong bayi kita nanti sebagai Ayah, “ mohon Daniel. Laki-laki itu memohon selayaknya ia pantas mendapatkan hal tersebut. Kenapa Daniel begitu mudah mengatakannya? Setelah semua yang terjadi di antara mereka. Memulai kembali semua dari awal? Apakah Daniel tidak merasa malu? "Aku nggak bisa," tukas Azka. Daniel kira hanya dengan maaf dapat merubah segalanya? Daniel kira hanya dengan maaf dapat menghapus deretan memori-memori pahit tersebut? Ia masih pada prinsip awal; ketuk palu hakim. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN