IV - Vadi dan Dunianya

2013 Kata
Sesaat setelah Azka menolak ajakan Daniel untuk mengulang semuanya dari awal, wajah Daniel langsung terlihat pucat. Mungkin Daniel terlalu menggampangkan masalah mereka atau mungkin Daniel terlalu menggampangkan Azka. Azka tidak tahu kalimat mana yang terdengar paling masuk asal saat ini. Azka merasa kalau Daniel hanya ingin lari dari perbuatannya sendiri dengan bersembunyi di balik permohonan maaf. "Tapi kenapa? Bayi kamu, bayi aku. Bayi kita sama-sama butuh sosok Ayah dan Ibu.” Daniel terdengar seperti sedang meracau saat ini. Seolah-olah kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Azka dan bayi mereka. Azka mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Membiarkan pertanyaan Daniel menggantung di udara bersama senyap yang mendadak membungkus keduanya. Bayi kita ... yang artinya adalah bayi Azka dan Daniel. Kedua jari-jari Azka di kepalkan, di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Mencoba sebisa mungkin menahan gejolak aneh yang mencekik kuat batinnya. Perasaan rindu, getir, pedih serta takut menelusup cepat ke dalam tulang sumsum belakangnya, menimbulkan dingin yang membekukan tiap jengkal tubuhnya. Bayangan wajah kuyu milik Hana muncul seperti fatamorgana di padang pasir. Hana ... sahabatnya. Orang yang Daniel cinta, pun juga mencintai Daniel. Azka memalingkan wajah. Mungkin kalau sejak awal dirinya tidak masuk ke dalam dunia Daniel, laki-laki itu sudah bisa hidup bersama dengan Hana. Hanya mereka berdua. Tanpa Azka.  "Zka, jawab aku," desak Daniel tak sabaran. Azka menoleh. "Status di antara kita mungkin berubah tapi, keberadaan sosok Ayah dan Ibu akan tetap ada. Kamu tetap kamu dengan hidup kamu dan aku juga tetap aku dengan kehidupanku. Kalau pun nanti anak ini lahir, nggak ada batasan buat kamu ketemu dia,” jelasnya kemudian. Azka paham anak mereka memiliki hak utuh untuk dicintai dan tidak dipisahkan dari ayahnya sendiri. Azka juga tidak ingin anaknya tumbuh sebagai pribadi yang mempertanyakan eksistensi ayahnya sendiri. Lagipula bayi mereka tidak berdosa. Azka marah, sangat marah. Akan tetapi, Azka juga ingin bersikap adil. Itu adalah satu-satunya kesempatan yang mampu Azka berikan pada Daniel. Bahu Daniel melemas. Binar harapan yang semula berpendar terang di sepasang matanya tiba-tiba redup, tersapu sesuatu yang sukar untuk dijabarkan. “Aku harus gimana, Zka? Aku harus gimana supaya kita bisa kayak dulu lagi?” Untuk pertama kalinya, Azka melihat Daniel yang putus asa. Daniel yang marah. Daniel yang menuntut. Daniel yang tidak sempurna. Lelaki itu seperti kehilangan aura arogan yang biasanya membingkai, meninggalkan jiwa yang sempat terkukung baja keangkuhan. Daniel tampak menyedihkan. “Kamu tanya aku harus gimana? Harusnya dari awal kamu enggak menikah denganku atau kamu nggak jatuh cinta sama sahabatku. Kenapa kamu seakan-akan melimpahkan aku atas semua kesalahan kamu? Kenapa aku yang harus berpikir di saat kamu...,” tangan Azka menuding wajah Daniel. “Kamu masalahnya di sini.” “Iya. Ini salahku. Tapi, tolong kasih aku kesempatan kedua. Can we fix it together?” Azka menggelengkan kepalanya sekali. Sayup-sayup ia masih bisa mendengar suara Vadi. Azka menyayangkan posisinya yang tidak bisa ada di sana guna menyaksikan penampilan panggung Vadi. Harus Azka akui suara laki-laki itu tidak terlalu buruk. Azka juga bersyukur dengan suaranya yang disiarkan melalui pengeras suara, percakapan antara dirinya dan Daniel jadi tidak  terlalu menonjol. “Kamu egois. Sejak awal kamu yang merusaknya dan sekarang kamu minta aku buat selesaikan berdua. You must be insane.” “Let what’s in the past stay in the past. Can you?” “Kamu suruh aku untuk lihat kamu yang sekarang dan melupakan masa lalu, tapi secara nggak sadar kamu tetap menjadi diri kamu yang dulu. Kamu belum berubah, Daniel." Azka memandang Daniel kecewa. Laki-laki itu tidak akan berubah. Dan, Daniel harus berubah demi mereka berdua. Terdengar helaan berat napas Daniel. Lelaki itu mengusap kasar wajahnya, seolah-olah lebam di area tersebut tidak ia rasakan. Rasanya Daniel seperti melakukan hal yang benar. Namun, ia juga merasa amat sangat salah pada waktu yang bersamaan. Rasa-rasanya Daniel mulai kehilangan akal untuk membedakan hitam dan putih. Perlahan Daniel memandang Azka redup. “Maaf.” Azka masih menunggu di saat seharusnya ia sudah pergi. Tidak ada yang ia harapkan dari Daniel. Sayangnya, tubuh Azka merespon dengan cara yang berbeda. Azka menunggu apapun yang akan Daniel ucapkan di sana.  "I'm sorry. I know I always made you hurt and now I'm relazed, you is all that I need. Please give me second chance, let me love you," suara Daniel melembut. Diayunkan sepasang kakinya itu demi memangkas jarak di antara keduanya secara perlahan. Azka terpaku, masih di tempat yang sama. Jantungnya berdetak lebih kuat, iramanya kali ini lebih berwarna. Bukan hanya pedih yang biasanya menggelung tapi, juga ada sesuatu yang keberadaannya ia coba tepis jauh-jauh. Daniel seperti sedang menawarkan sesuatu yang baru. Daniel seperti sedang menawarkan cinta yang selama ini Azka rindukan di tepi malamnya yang redup. Baru saja Daniel mengatakan cinta padanya. Kalau saja Daniel mengatakannya dua hari sebelum Azka kehilangan manis yang sempat ia tengguk, mungkin Azka akan benar-benar jatuh dalam euphoria bahagia. Namun, faktanya berbeda. Azka tidak tahu perkataan Daniel tadi merupakan sebuah kejujuran atau sebaliknya, seperti dulu. Daniel sempat menawarkan madu yang sarat akan surga duniawi dan Azka menerimanya. Padahal mereka sama-sama tahu kalau iming-iming tersebut tidak lebih dari dusta belaka. Azka tersentak ketika tubuh Daniel merapat padanya. Aroma khas Daniel menusuk-nusuk indera penciuman. Oh, ini aroma rumahnya. Daniel masih beraroma seperti rumah mereka dulu. Mendadak Azka mengingat rumah yang telah dirinya tinggalkan. Ada taman depan yang menyimpan kenangannya dengan Daniel yang tampak saling mengasihi, sebelum bayangan perpisahan mereka menyeruak naik. Dahulu, pagi-pagi sekali, Azka memilih untuk pergi terlebih dahulu. Ia meninggalkan rumah dan segala isinya tanpa pamit. Lagi pula perpisahan sebaiknya memang tidak dirayakan dengan lambaian tangan maupun kalimat penuh penyesalan. Azka hanya ingin pergi. Itu saja. Daniel menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Azka. Ibu jarinya bergerak menyentuh permukaan kulit pipi Azka. Merasakan dingin serta hangat dari kulit pucat wanita di depannya. Riuh rendah suara orang-orang terdengar di sekitar mereka. Daniel tidak begitu memperhatikan sekitar dan condong mempertahankan posisi intim tersebut. Yang Daniel inginkan detik itu adalah Azka tetap bersamanya. Daniel menarik tengkuk Azka membuat jarak keduanya semakin menipis. Baik bibir Azka maupun bibir Daniel terpisah kurang dari yang seharusnya. Terlalu dekat. Daniel menciumnya. Seperti baru saja menyadari sesuatu, Azka langsung menarik mundur tubuhnya. Ia melemparkan pandangan pada sekitar. Pada tempatnya berada kali ini. Pada Daniel yang berdiri di depannya. Azka mengusap kasar bibirnya dengan punggung tangan. Ia berusaha menghapus jejak Daniel di permukaan kulit bibirnya yang dipoles bincu. Ini semua salah. Bukan seperti ini caranya memulai.  “Aku nggak bisa, Niel. Kamu dan aku sudah selesai,” kata Azka sebelum kemudian berbalik pergi menuju suara Vadi. *** Vadi menemukan Azka pada salah satu kursi taman. Wanita itu berada agak jauh dari letak panggung. Di sana Azka terlihat melamun. Jadi, secara perlahan Vadi berjalan menghampirinya dan duduk di samping Azka. Mereka berdua masih diam sampai Azka membuka suara terlebih dahulu. “Kamu pernah kehilangan?” Awalnya Vadi ragu kalau Azka bertanya pada dirinya. Hanya saja, mengingat tidak ada siapapun di sisinya selain Vadi maka, laki-laki itu memutuskan untuk memberikan sebuah jawaban. “Pernah.” Azka menoleh. Ia menjumpai wajah Vadi yang memandang lurus ke depan. Laki-laki itu seperti sedang membayangkan sesuatu yang tidak dapat Azka lihat. Vadi terlihat seperti sedang meraba-raba ingatan yang sudah lama usang. Mencoba merasakan mereka kembali dan menghidupkannya di dalam kepala. “Dulu Ibuku meninggal. Mungkin itu jadi kehilangan pertamaku.” Dan, Azka tidak dapat menutupi ekspresi terkejut di wajahnya. Ia segera meminta maaf. “I’m sorry for your loss.” “Nggak apa-apa.” Vadi menoleh dan mengendikkan bahunya singkat. Waktu itu Vadi tidak terlihat sedih. Atau mungkin sebetulnya ia hanya sedang mencoba bersembunyi dari Azka. “Kehilangan itu seperti bagian dari menjadi manusia. Aku pikir begitu. Aku nggak bermaksud buat menggurui kamu, tapi kadang kala kehilangan itu berada di luar kuasa kita sebagai manusia. Entah itu soal usia, orang terkasih. Semua orang punya hak untuk kehilangan.” Semua orang punya hak untuk kehilangan. Entah kenapa kalimat Vadi terdengar cukup masuk akal hari itu.  "Bagaimana kamu melaluinya, Vadi? Maksudku apakah kamu pernah merasa sulit ketika tahu kalau kamu sedang kehilangan?" Vadi menyisir anak-anak rambutnya ke belakang. Berbicara soal kehilangan, tentu saja bukan merupakan sesuatu yang mudah. Ada banyak hari di mana Vadi menolak fakta kalau ibunya sudah meninggal. Ada banyak hari di mana Vadi menyalahkan dirinya sendiri serta semua orang yang ia kenal. Juga, ada hari di mana Vadi menyalahkan ibunya karena tega meninggalkan Vadi sendirian. Tentu Vadi kesulitan. "Menurutku semua orang menyikapi kehilangan dengan caranya masing-masing. Kalau aku pribadi, aku merasa kalau pergi adalah jalan terakhir yang bisa ditempuh oleh ibuku. Aku juga pernah dengar begini, orang-orang yang telah mati sebetulnya memberikan kenangan. Jadi, daripada mengenang kematiannya lebih baik kamu mengenang seluruh hidupnya. Kenang semua momen yang membuat kamu merasa kalau orang telah mati sebetulnya berharga dan layak untuk dikenang dengan cara yang baik. Dengan begitu, aku merasa kalau aku harus mencintai ibuku dan kematiannya. Menolak kenyataan nggak mengubah apapun dalam hidupku." Azka tersenyum sebentar. Di mata Vadi, Azka terlihat seperti Ibu ketika wanita itu berkata, "Kamu anak yang baik, Vadi." Kamu anak yang baik, Vadi. Vadi mampu mendengar suara ibunya. Ia juga seakan-akan masih mampu merasakan tangan Ibu yang bergerak mengusap puncak kepalanya. “Saya nggak tau apakah saya bisa menerima kehilangan-kehilangan yang lainnya, seperti kamu. Kehilangan adalah sesuatu yang baru bagi saya." “Bisa.” Vadi meyakinkan. “Tapi, ikhlas itu nggak ada waktu pastinya. Anggap saja penerimaan sama dengan hakikat ikhlas. Kalau kamu nggak bisa ikhlas dengan cepat ya nggak apa-apa. Berduka nggak mengenal waktu. Maksudku, kalau kamu masih ingin bersedih dan menolak ya sudah, nggak apa-apa, tapi kamu juga harus meyakinkan hati kamu kalau kita, manusia nggak selalu bisa mempertahankan segalanya. Termasuk, kehilangan dan perpisahan. Keduanya seperti bagian dari menjadi manusia." Untuk sesaat Azka merasa terpukau akan kalimat dan pikiran Vadi. Bagaimana mungkin laki-laki itu memilki pemikiran yang dewasa di luar penampilannya yang urak-urakan. Sesaat, Azka memandang Vadi. Mungkin ia terlalu judgemental terhadap laki-laki ini. Atau mungkin tidak. Entahlah, Azka merasa belum mampu mempercayai siapapun untuk sekarang ini. “Maaf.”                            Vadi menoleh pada Azka. Ekspresi wajahnya terlihat bingung. “Buat?” "Karena sudah membuat kamu mengingat masa lalu kamu, padahal di sini saya yang sedang dituntut untuk ikhlas." "Nggak apa-apa. Kamu tau, mengetahui seseorang di luar sana juga memiliki pengalaman yang sama membuat kamu merasa nggak sendirian. Setidaknya bukan cuma kamu satu-satunya orang yang bersedih di muka bumi. Seperti itu. Kalau nggak salah dosenku bilang, senasib seperjuangan. Yah, pokoknya seperti itu." Azka tersenyum. "Betul. Terima kasih ya karena sudah mau berbagi pengalaman kamu ke saya, padahal saya masih orang asing lho. Kamu nggak takut kalau saya mengecewakan kamu suatu saat nanti." "Takut sih. Tapi, kamu kelihatan baik." "Hal apa yang membuat saya terlihat baik di mata kamu?" Hari itu Vadi membawa dunianya di samping Azka. Hari itu Vadi membuka sedikit dunianya pada Azka. Dan, untuk beberapa alasan yang tidak dapat Azka jabarakan, Azkan merasa sedikit berterima kasih atas hadirnya Vadi. "Feeling aja? Well, aku nggak pandai menilai orang. Cuma ketika aku berpikir kalau dia baik, ya di mataku dia baik aja gitu. Kalau kemudian dia jadi jahat, artinya Tuhan sedang menunjukkan kalau apa yang aku lihat dan aku rasakan adalah sesuatu yang salah. Nggak ada hal yang sia-sia di muka bumi ini termasuk percaya sama orang yang kelihatan baik seperti kamu." "Kamu ini pandai sekali ya menjawab pertanyaanku." Vadi mengangguk setuju. "Ya. Aku harap kamu tau kalau kamu sebetulnya didengarkan. Orang-orang mampu menjawab ketika mereka bersedia untuk mendengar." Bohong kalau Azka tidak merasa tersentuh akan kalimat yang berasal dari bibir Vadi. Di mata Azka, Vadi terlihat memesona dengan kemampuan otaknya dalam menyusun kata serta frasa. "Terima kasih sudah bersedia untuk mendengarkan. Tapi, saya jadi merasa jahat dan buruk sekarang ini karena pergi begitu saja ketika kamu sedang nyanyi di atas panggung tadi. Padahal sebelumnya kamu bilang, kalau lagu itu sengaja kamu dedikasikan buat saya." Satu tangan Vadi bergerak mengibas udara. “That’s fine. Lagian stok laguku masih banyak kok.” “Oh ya?”                                  “Ya. Nanti kukasih lagu lainnya deh kalau masih ada kesempatan. Omong-omong can we meet again? Next time?” Azka memberikan jawaban pada detik ketiga. “Boleh.” Sejak saat itu Azka dan Vadi menjadi teman yang membawa dunia mereka masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN