Vadi menyampirkan handuk yang semula bertengger di pundaknya pada hanger. Poni basahnya jatuh membentur dahi diikuti tetesan air yang masih setia bergelayutan di antara helaian rambut hitam arang miliknya. Jam baru saja menunjukkan pukul 12 malam ketika Vadi merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang tergeletak di tengah-tengah kamar tidak lebih berukuran 2x4 meter itu.
Vadi menatap nyalang langit-langit kamar kontrakannya. Tidak ada sesuatu yang berarti di sana selain air hujan yang merembes masuk melewati lubang-lubang asbes tua hingga akhirnya bermuara ke ember yang sengaja diletakkan.
Kehidupan Vadi sederhana. Tidak ada barang-barang elektronik berharga selangit yang tertata di sana. Satu-satunya barang yang memiliki nilai lebih dari kata berharga hanyalah sebuah gitar lusuh penuh stiker yang tiap hari menemani langkahnya. Hanya itu, tidak ada lagi yang lain.
Ia terkekeh, teringat kata-katanya sore tadi di taman. Bahkan Vadi tidak pernah membayangkan kalimat tersebut akan meluncur begitu saja dari bibirnya sendiri. Rasanya Vadi seperti sedang menasehati diri sendiri.
Tangan Vadi bergerak meraih ponsel di samping tubuhnya. Benda tipis itu menampilkan potret Ibu sebagai wallpaper. Dulu, sewaktu Ibu masih bersamanya hidup Vadi terasa baik-baik saja. Ia punya Ibu, rumah, dan Ayah. Dulu, Vadi merasa bahwa dunianya akan terus begitu. Bersifat absolut dan kekal.
Lalu ketika Vadi mulai kehilangan satu persatu hidupnya, ia mulai paham bahwa hakikat menjadi manusia ada banyak. Salah satunya, adalah patah dan lebur.
Pemikiran tersebut buyar begitu saja manakala sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Notifikasi tersebut berasal dari komentar salah satu viewers di akun youtube-nya, tepat pada salah satu video yang menayangkan adegan ketika Vadi dan teman-teman kampusnya melakukan pertunjukan band untuk acara fakultas.
This is so amazing. Kalian harus jadi band besar kapan-kapan!
Komentar tersebut tertulis demikian.
Tanpa sadar Vadi tersenyum.
Ya, mungkin suatu saat nanti Vadi harus menjadi seseorang yang hidupnya memiliki arti. Sebelum menutup ponselnya, Vadi menemukan salah satu kanal youtube yang memuat wajah seseorang pada bagian thumbnail.
Pengusaha Sasongko Baru Saja Melangsungkan Pernikahan Keduanya.
Tertulis demikian. Vadi tidak perlu membuka video tersebut untuk dapat mengetahui isinya. Ia sudah tahu. Itu ayahnya. Menikah lagi dengan seseorang dan mungkin juga sudah melupakan Ibu. Ayahnya juga mungkin sudah benar-benar lupa pada Vadi.
Ah, sudah berapa lama ya keduanya tidak saling jumpa?
Vadi meletakkan ponsel di samping tubuh sebelum kembali menatap langit-langit kamarnya. Dahulu, setelah Ibu meninggal dan Ayah yang menentang mimpinya, Vadi memutuskan untuk meninggalkan rumah. Vadi pergi ketika ayahnya tampak sangat amat murka.
Vadi kehilangan sisa dunianya saat itu. Hanya saja, untuk satu alasan Vadi merasa tidak menyesal.
Vadi ingin menjadi penyanyi. Ia ingin menjadi seorang penyanyi yang menciptakan lagu dan membagikan kisahnya lewat lagu. Saat ini, Vadi hanya memiliki harapan tersebut. Vadi tidak masalah kalau Ayah membencinya. Akan tetapi, Vadi tidak bisa membayangakan hidupnya tanpa mimpi yang sedari dulu Vadi pegang.
Tak apa. Vadi tidak membutuhkan ayahnya.
***
Daniel ingat kalau suhu tubuhnya mulai terasa panas. Ia mungkin demam. Akan tetapi, ia tidak peduli. Daniel memilih untuk tetap masuk ke kantor dan duduk di depan meja kerjanya. Jarak sejauh tiga jam yang ia tempuh dari Bandung menuju Jakarta seperti tidak berarti apa-apa. Azka di Bandung sedangkan, pekerjaan Daniel di Jakarta. Keduanya terasa penting.
“Lo terlihat kayak mayat hidup.” Arif selaku sekretaris Daniel masuk bahkan tanpa mengetuk pintu. Laki-laki itu menyerahkan beberapa berkas di atas meja kerja Daniel. “Jadi anak orang kaya susah ya, Niel?’
Daniel mencebik. Terlihat tidak sedang ingin bercanda. “Kalau nggak ada urusan lagi mending lo keluar aja. Bikin kopi kek, teh kek.”
“Ye ... lo kira gue office boy. Kenapa sih? Masalah lo sama Azka belum beres?”
Daniel yang semula fokus pada layar monitor kini beralih menatap Arif. Sepertinya laki-laki itu tahu banyak. “Lo tau dari mana?”
“Ya jadi skandal kantorlah. CEO perusahaan gede selingkuh dari anak keluarga Brata. Udah gila lo mah, Niel. Lagian siapa juga yang nggak tau kayaknya. Nih lo masih mejeng sebagai CEO aja masih bagus. Kalau gue jadi Bapak lo ya, udah gue mutasi kali lo ke mana kek."
Pandangan Daniel mulai tidak fokus. Kepalanya mulai berdenyut nyeri. Alih-alih bekerja seharusnya Daniel sekarang berada di rumah. Minum obat dan istirahat. Akan tetapi, rumah selalu mengingatkan Daniel pada Azka. Dan, sayangnya Azka tidak ada di manapun. Tidak di rumah mereka yang kosong, tidak pula di sisinya.
“Lo udah tau sampai mana?”
“Lo selingkuh doang sih. Tapi, ya apa urusan gue sama itu? Gue cuma mau ngingetin, tolong jaga kesehatan. Kalau lo mati, satu perusahaan yang repot.”
Menyerah. Daniel memilih untuk bersandar pada punggung kursi. Ia merasa tidak sanggup apabila harus terus duduk dalam posisi tegak. “Lo pernah selingkuh?”
Arif terlihat terkejut atas pertanyaan Daniel. “Ya nggak pernahlah.”
“Kalau diselingkuhin.”
Kali ini Arif menggelengkan kepalanya sebanyak dua kali. “Amit-amit. Jangan dong.”
“Nah, lo mana paham, Rif rasanya tetap waras di kondisi kayak sekarang.”
“Ya nggak gitu juga, Niel.” Tanpa membutuhkan izin Daniel lagi, Arif mendudukan tubuhnya pada kursi di depan meja Daniel. Jam kantor sebentar lagi habis jadi, mungkin tidak apa-apa jika keduanya mengobrol sebentar. “Gini lho. Lo tau kan lo salah, nah makannya lo harus memperbaikinya semuanya, Niel. Dengan lo yang terlihat acak-acakan kayak sekarang malah bikin kesan kalau lo nggak terima masalah kayak gini muncul. Padahal lo pasti sadar ketika lo melakukannya. Jadi, lo harus tetap sadar juga ketika memperbaikinya.”
“Gue nggak tau harus gimana lagi, Rif. Clueless banget.”
“Emang cara apa aja yang udah lo lakuin selama ini?”
Daniel melirik tanggal yang tertera di sudut layar deskopnya. Terhitung sudah hampir dua minggu dirinya dan Azka berpisah. Sebetulnya kepergian Azka masih baru, tapi entah mengapa Daniel dan Azka sudah berpisah ribuan tahun lamanya.
“Minta maaf?”
“Selain itu?”
Pertanyaan Arif membuat Daniel mengerutkan hidungnya, pertanda tidak suka. “Ya itu aja?”
“Hadeh.” Arif memandang Daniel remeh. Sekali pun pria itu merupakan atasannya di kantor, namun keduanya tetap teman lama. Rasanya Arif bahkan tidak bisa lagi memanggil Daniel sebagai atasan setelah sikapnya hari ini. “Terus lo berharap dia maafin lo aja gitu?”
Daniel diam. Ia tidak menjawab karena tebakan Arif tepat sasaran.
“Nggak bisa gitu, Niel. Orang yang diselingkuhi itu punya kecenderungan buat merasa insecure dan punya trust issue. Dengan lo minta maaf aja ya nggak cukup. Gimana pun juga lo harus meyakinkan isteri lo kalau lo memang sungguh-sungguh mau tobat. Lagian alasan lo mau balik sama isteri lo apa deh? Kan lo punya selingkuhan juga.” Kalimat terakhir dari Arif terdengar sangat menohok. Daniel tahu laki-laki itu bukannya sedang memberi dukungan atas perbuatan perselingkuhannya, melainkan memberikan sebuah sindiran halus.
Kenapa ya?
Daniel jadi bertanya-tanya.
Karena Hana tidak mencintainya?
Karena Daniel mencintai Azka?
Daniel tidak tahu jawaban mana yang terdengar masuk akal. Ia waktu itu jatuh hati pada Hana lalu hubungan tersebut berjalan begitu saja.
“Kalau lo sayang ya kejar. Kalau nggak yaudah lepasin. Sorry to say tapi gue merasa orang yang selingkuh tuh nggak pantes buat dimaafin.”
"Kenapa memangnya? Bukannya manusia pasti pernah salah? Dan, bukannya manusia juga berhak buat dapet kesempatan kedua?"
Arif tampak mengangguk setuju. "Ya, bener. Tapi, manusia yang kayak gimana dulu. Kalau berengsek dan akhlaknya jelek terus ya buat apa juga ngasih kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya? Jangan naif deh, Niel. Sebelum lo memposisikan diri lo sebagai orang yang minta maaf, coba bayangkan dulu kalau lo adalah korbannya. Apakah lo akan dengan mudah memaafkan orang yang udah selingkuhin lo?"
Betul. Perkataan Arif sepenuhnya benar.
Daniel sendiri tidak yakin apakah ia bisa memaafkan dirinya sendiri. Lantas bagaimana dengan Azka?
Jadi, atas dasar alasan itulah Daniel kembali membawa mobilnya pergi melintasi Jakarta menuju Bandung. Harus ada yang ia selesaikan. Entah apapun hasilnya.
***
Dulu Daniel mengenal Hana sebagai sahabat Azka. Perempuan itu ada ketika acara pernikahan mereka. Ia juga ada ketika acara ulang tahun keluarga Azka bahkan fotonya ikut terpajang bersama foto keluarga Brata lainnya. Dulu Daniel belum mencintai Azka atau mungkin sudah. Ia tidak tahu. Akan tetapi, kehadiran Hana seperti membawa sesuatu yang baru.
Perempuan itu berwarna jingga dan merah. Mirip mimpi baru yang Daniel inginkan. Dan, untuk alasan yang tidak dapat dijelaskan Daniel jatuh cinta pada Hana. Gadis itu kemudian jadi lebih sering berada di sekitar Azka yang juga artinya berada di dekat Daniel.
Dulu Daniel pikir Hana juga mencintainya.
Padahal tidak.
“Tadi kamu ngobrol sama siapa di kantor?” Suara Hana muncul lagi dalam ingatan Daniel. Dahulu mereka sempat memiliki apartemen bersama. Letaknya agak jauh dari kantor maupun rumah Daniel. Biasanya Daniel ada di sana setiap hari Jumat. Lalu entah sejak kapan setiap Jumat terasa mencekik bagi Daniel.
Hana banyak mengekangnya.
“Siapa sih? Lita maksud kamu? Dia temannya Arif.”
Hana mendengus. Terlihat tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Daniel. “Teman Arif? Kok sampai tukeran nomor ponsel?”
“Kamu buka-buka hpku?”
“Ya. Kamu nggak suka?” Hana terlihat menantang. Sepasang matanya terlihat nyalang menatap Daniel.
Hana yang berdiri di depannya berubah menjadi sangat posesif. Terlalu banyak aturan yang wanita itu bebankan pada Daniel. Padahal Azka tidak begitu.
“Hana, tolong jangan seperti ini. Aku cape.”
Kamar mereka malam itu terasa dingin dan beku. Tidak ada jejak kenyamanan di mana pun. Semuanya seolah luntur dan hanya menyisakan emosi kosong. Daniel benci situasi seperti ini. Situasi di mana Hana dan dirinya berada dalam satu ruangan yang sama dengan perasaan tidak nyaman.
Tempo hari wanita itu menjadi lebih posesif pada Daniel. Dan, Daniel yang merasa lelah berniat untuk pergi. Jumatnya bersama Hana nyaris berakhir malam itu.
“Mana tahu aku kalau kamu juga selingkuh sama perempuan lain. Cheater itu punya kecenderungan buat selingkuh lagi. Kamu tahu ‘kan semacam penyakit.”
“Tapi, aku nggak begitu, Hana. Harus berapa kali aku bilang kalau aku cuma punya kamu?”
Salah satu sudut bibir Hana naik. Ia tersenyum sinis dan menampilkan ekspresi wajah sangsi. Ada banyak rasa tidak percaya yang melingkupi dadanya. Selalu ada keyakinan di dalam benak Hana kalau suatu saat Daniel akan meninggalkannya sebagaimana laki-laki itu juga meninggalkan Azka. “Bohong. Once a cheater always being a cheater."
Merasa tidak tahan mendengar tuduhan Hana, Daniel akhirnya bangkit dari posisi duduk. Ia segera meraih hoodie dan mengenakannya. Bersiap pergi meninggalkan Hana. Sejujurnya, Daniel tidak memiliki kalimat balasan lainnya. Dirinya sudah kepalang lelah.
Sebelum menyentuh kenop pintu, Hana sudah lebih dulu bersuara.
“Kalau kamu pergi, aku akan aduin ke Azka.”
Itu adalah gertakan pertama yang Hana lemparkan. Rasanya Daniel seperti sedang menggengam bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Entah dirinya yang akan hancur atau Azka. Mereka bisa saja berakhir kacau bersama.
“Jangan main-main denganku, Niel. Cheater deserve hell.”
Daniel merasa tidak pantas untuk tersinggung. Ia berbalik dan memandang Hana lama sebelum berkata, “Silakan kalau memang mau begitu.”
Malam itu Daniel meninggalkan apartemen mereka. Esoknya Daniel tahu kalau perkataan Hana tidak main-main. Wanita itu membeberkan segalanya di depan Azka.
Daniel tahu Azka menangis.
Daniel tahu Azka terluka. Hanya saja, waktu itu Daniel tidak mengatakan apapun sampai Hana pergi. Selepas hari itu, Azka lebih banyak melamun dan diam. Ia belum melayangkan gugatan apapun.
Pada awalnya Daniel berpikir kalau Azka selalu bersikap bungkam dan seolah-olah tidak tahu. Sampai akhirnya pada malam Jumat kesekian, ia dan Azka duduk menghadap satu meja makan yang sama.
Hubungannya dengan Hana sudah berakhir. Daniel tidak dapat menemukan Hana di manapun. Dan sepertinya Hana memang tidak ingin ditemukan oleh siapapun.
“Kenapa?” Itu adalah pertanyaan pertama dari Azka. Ia memandang Daniel dengan pandangan sarat akan luka dan kecewa.
Nasi di dalam mulut Daniel tidak pernah terasa sepahit malam itu.
“Kenapa harus Hana? Sahabatku.”
Daniel tahu hari ini akan terjadi. Tapi, ia belum menyiapkan jawaban apapun.
“Tell me the truth.”
Daniel meraih gelas di atas meja dan menenggak isinya. Mendadak tenggorokannya terasa kering. Ia memandang Azka dengan perasaan bersalah.
“Maaf.”
“No. Tell me the truth. Don’t be sorry. Kamu sudah salah sejak awal.” Salah satu tangan Azka terkepal di atas meja makan. Ia terlihat mati-matian sedang menahan emosinya. Mengetahui suaminya berselingkuh saja sudah berarti neraka lalu ditambah kenyataan kalau laki-laki hadapannya jatuh cinta pada Hana terasa lebih menyakitkan.
“You don’t love me.” Kali ini suara Azka terdengar bergetar. “Tell me the truth, please.”
Untuk terakhir kalinya Azka memohon.
Daniel mengembuskan napas kasar dari mulutnya sebelum berkata, “At the first time, I thought you are not the person who I want to be committed. I’m ready to love, to get hurt, and give everything but not for you. Karena kamu bukan masa depan yang aku inginkan, pada awalnya begitu.”
“Then why did you agree to marry me? Why don’t you find that person insetad of marrying me?”
Azka terlihat kacau. Ia bangkit dari duduknya dengan perasaan carut marut. Napasnya mulai terasa menderu.
“Let’s get a divorce.” Pada akhirnya Azka menjadi pihak yang memutuskan Daniel terlebih dahulu. Jarinya kemudian bergerak menarik keluar cincin pernikahan mereka dan meletakkannya di atas meja makan yang diam. “Aku yang akan urus semua.”
Azka hanya butuh waktu satu menit untuk memutuskan segalanya.
Pada satu kesempatan, sebelum Azka bergerak pergi Daniel sudah lebih dahulu menahan pergelangan tangannya. “Jangan. I’m begging your forgiveness.”
Pandangan Azka lurus menghadap ke depan. Ia belum siap atas segalanya. Namun, Azka tahu harus ada sesuatu yang diakhiri apabila ia mau baik dirinya maupun Daniel sama-sama bahagia. Pernikahan seperti ini bukanlah sesuatu yang Azka inginkan. Bayangan wajah Hana selalu muncul setiap kali Azka membuka matanya.
“No. Aku akan keluar dari rumah ini besok. Just prepare yourself.”
Daniel tahu satu menit setelah Azka memutuskan untuk pergi mejauh dari kehidupannya, seluruh alur hidupnya akan berubah. Satu menit setelah Azka meloloskan cincin dari jari manisnya, satu hal yang Daniel tahu bahwa semuanya akan berjalan jauh lebih sulit.
Begitu. Begitu sampai akhirnya Daniel tidak menemukan Azka di rumah mereka. Separuh isi lemari berisi pakaian Azka juga hilang. Wanita itu benar-benar pergi.
Daniel belum membicarakan perihal hancurnya rumah tangga mereka pada siapapun, tapi sepertinya berita tersebut sudah lebih dulu tersebar ke khalayak luar. Pada hari kedua, Daniel menemukan kedua orangtuanya yang datang ke rumah.
Mereka berdua kecewa. Itu yang terus Mama katakan sepanjang percakapan mereka.
“Papa bahkan sudah tidak tahu harus taro muka di mana. Kamu ini memalukan, Daniel. Tidak pernah ada sekalipun dari keluarga kita yang berselingkuh. Itu perbuatan yang hina.”
Papa tidak pernah memukul. Alih-alih menggunakan k*******n fisik, biasanya setiap kali Daniel melakukan kesalahan, Papa akan memilih untuk bungkam dan baru berbicara ketika emosinya sudah mereda. Hari ini menjadi pengecualian. Wajah Papa merah padam sedangkan nada suaranya terdengar keras. Mama yang duduk di sampingnya justru lebih banyak diam di saat biasanya wanita itu menjadi figur yang paling banyak mengomel.
“Pernikahan itu tanggung jawab berdua, Daniel. Kalau kamu berkhianat dari isterimu artinya kamu tidak bertanggung jawab. Papa nggak akan membantu kamu untuk urusan ini. Biar masalah rumah tangga menjadi milik kamu sendiri.”
Begitu sampai akhirnya mereka kedua pergi. Meninggalkan Daniel yang duduk dalam banyak kemelut yang sebetulnya ia ciptakan sendiri.
Pada hari berikutnya, Daniel kembali duduk menghadap meja makan. Cincin milik Azka masih ada di sana. Cincin pernikahan mereka dua tahun lalu. Dahulu Azka hadir dalam hidupnya sebagai anak dari rekan ayahnya. Gadis itu jatuh hati pada Daniel dan seperti adegan klise pada umumnya mereka menikah atas dasar perjodohan.
Untuk beberapa hari Daniel tidak bisa menghubungi Azka. Ia juga belum punya nyali untuk bertanya pada mertuanya. Daniel tahu ia sedang menghindar.
“Pak, permisi. Bu Azka nggak akan pulang toh?” Di hari kesekian, Mbak Sarmi selaku asisten rumah tangganya bertanya.
Daniel memilih untuk tidak menjawab pertanyaan wanita tua itu. Sampai akhirnya Mbak Sarmi kembali bersuara. “Bapak sudah tahu kalau Bu Azka hamil? Mohon maaf kalau saya terlalu ikut campur, saya cuma khawatir Bu Azka kenapa-napa, Pak.”
Seketika tubuh Daniel membeku. Untuk beberapa saat otaknya belum mampu mencerna maksud perkataan Mbak Sarmi sampai akhirnya ia bangkit dan meraih ponsel. “Sejak kapan?”
Ekspresi Mbak Sarmi terlihat gusar. “Aduh, sebetulnya Bu Azka belum kasih tau saya sih, Pak. Tapi, saya merasa kalau Bu Azka sedang hamil.Ya begitulah, Pak. Perasaan seorang wanita."
Kalimat Mbak Sarmi terdengar tidak runtut serta tidak logis. Wanita tua yang telah lama mengabdikan hidupnya untuk keluarga Brata bisa saja memberikan kesimpulan yang salah. Akan tetapi, Daniel memilih untuk percaya.
Tidak butuh waktu lama bagi Daniel untuk kemudian tahu kalau Azka saat ini berada di Bandung. Oleh karena itu, Daniel meninggalkan Jakarta guna menjemput Azka.
***