VI - Masa lalu dan Perputaran Waktu

2478 Kata
Dulu Azka mengenal Hana sebagai gadis yang berani. Hana selalu berada di depan tubuhnya untuk membantu dan membela Azka. Gadis itu pada kenyataanya banyak menolong Azka. Azka dan Hana saling mengenal sebagai teman SMA. Dulu Azka tahu kalau Hana menempati posisi penting di sekolah. Gadis itu jadi tim pemandu sorak dan untuk beberapa alasan status tersebut terasa sangat mewah di sekolahnya. Pada kala itu, seperti menjadi sebuah prestise tersendiri manakala seseorang mampu masuk ke dalam kelompok pemandu sorak. Sementara itu, Azka lebih banyak sendirian. Gadis itu suka buku dan aroma perpustakaan. Azka mencintai aroma yang dihasilkan dari lembar buku tua yang bercampur dengan selulosa, lignin, dan benzaldehida. Azka dan dunianya yang sunyi. Orang-orang kemudian melabeli Azka aneh. Katanya, Azka lebih banyak berbicara dengan buku daripada manusia. Katanya, Azka mungkin tidak mau berteman dengan manusia. Katanya, katanya, dan katanya. Manusia itu berisik. Dan, Azka membenci suara mereka. Oleh karena itu, Azka lebih banyak duduk bersama buku alih-alih kawan sebaya.  Pada awalnya Azka merasa tidak keberatan. Toh ia tidak masalah kalau harus menghabiskan waktu tiga tahun di SMA hanya bertemankan buku. Tapi, orang-orang sepertinya lebih senang menggunjing. “Hey, kutu buku. Minggir dong, hari ini gue duduk di kursi lo ya. Mata gue minusnya nambah jadi, gue harus duduk di depan. Lo duduk di bangku bekas gue aja. Di sana.” Tempo hari seorang teman sekelas Azka datang ke mejanya. Ia perempuan, di bahunya sudah tersampir tas yang siap untuk disimpan di atas kursi Azka. Azka mengikuti arah tunjuk perempuan di depannya. Gadis itu menunjuk deret kursi terakhir di belakang. Tempat itu terlihat tidak nyaman dan sepertinya akan membuat Azka sulit untuk berkonsetrasi. Bagaimana tidak? Lihat saja itu, segerombolan anak-anak nakal berada di barisan belakang. Mereka pasti akan mengusik Azka ketika ingin. Tidak peduli apakah perbuatan tersebut mencederai kenyamanan Azka. Atas dasar hal tersebut Azka menolak. “Nggak mau. Kamu cari kursi lain aja atau pakai kacamata baru.” “Lho lo udah berani ya ngomong sama manusia?” Azka terlihat tersinggung. Ia merasa tidak terima mendengar penuturan lawan bicaranya. Azka merasa kalimat tadi terkesan menariknya jauh dari lingkungannya sendiri. Padahal, mereka tidak berhak melabeli Azka dengan status apapun. Padahal Azka tidak pernah mengganggu mereka semua, lantas kenapa mereka mengganggu Azka?  Apakah manusia memang begini? Senang sekali merendahkan orang lain agar dirinya terlihat lebih tinggi? Dengan tangan yang terkepal di sisi kanan dan kiri tubuhnya, Azka menimpali, “Kamu pikir kamu boleh mengatakan apapun hanya karena kamu punya mulut ya?" Perempuan itu menjatuhkan tasnya. Tindakan tersebut berhasil memantik perhatian orang-orang di kelas. Waktu itu jam kelas belum dimulai. Jadi, Azka dapat pastikan kalau tidak akan ada seorang pun di sini yang bersedia untuk membelanya. Ia mungkin harus mengalah, hanya saja untuk sekarang Azka memilih untuk sedikit melawan. “Wah, udah berani kurang ajar ya lo.” Secara tiba-tiba tangan perempuan itu mencengkram bagian belakang kepala Azka. Hal tersebut kontan saja menarik perhatian yang lebih banyak. Azka mengaduh. Ia berusaha melepaskan rambutnya dari cengkaraman siswi di depannya. Namun usaha tersebut sia-sia. Tenaga Azka seperti tidak sebanding dengannya. “Inget ya, jangan kurang ajar kalau mau hidup lo tetap aman—AW!” Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, gadis itu sudah terlebih dahulu mengaduh. Tepat di belakang gadis itu berdiri siswi lain yang ikut mencengkram bagian belakang kepalanya, persis seperti yang sedang ia lakukan pada Azka. “Aduh jadi takut deh.” Genggaman gadis itu pada rambut Azka lepas. Ia kemudian terlihat mencoba melepaskan rambutnya dari genggaman siswi lain tersebut. "Lo siapa--" Ketika mampu melihat wajah dari orang yang sedang menarik rambutnya, gadis itu menghentikan ucapannya. Ia terlihat panik dan segera meminta maaf.  “Ah, maaf-maaf, Hana. Lagian dia yang mulai duluan.” Siswi yang dipanggil Hana itu memandang Azka dengan penuh tanya. “Bener lo yang ganggu dia duluan?” Azka segera menggeleng, memberi penolakan melalui bahasa tubuh sebelum menjawab, “Bukan. Tapi, dia. Kamu tau sendiri aku belum pernah kelahi sama siapapun. Sangat nggak logis kalau aku cari ribut sama dia." Anehnya, waktu itu Hana membela Azka. Anehnya, Hana tidak banyak bertanya dan menarik mundur gadis yang sebelumnya menjadi lawan bicara Azka. Mereka pergi menjauh menuju kursi belakang. Di tempat itu, Azka melihat gadis tadi duduk setelah Hana memberi perintah padanya agar duduk. Itu adalah pertolongan pertama yang Hana berikan pada Azka. Hari berikutnya, entah mengapa mereka menjadi dekat. Hana banyak bicara pada Azka. Hana juga banyak bertanya ketika kesulitan mencerna salah satu materi yang telah dipaparkan guru. "Jadi, apa bedanya unsur intrinsik dengan unsur ekstrinsik pada puisi?" Tempo hari Hana bertanya. Jam istirahat baru saja berdering dan seperti menjadi kebiasaan baru, Hana tidak akan pergi ke kantin. Ia akan menarik kursi dan duduk menghadap meja Azka. Mereka biasanya akan membahas soal yang tidak Hana mengerti sembari menyantap bekal makan siang masing-masing. "Kalau unsur intrinsik itu unsur yang tedapat di dalam puisi. Nah, yang termasuk unsur intrinsik itu ada tema, rasa, nada, tujuan atau purpose, gaya bahasa, rima, tipografi, imaji, dan kata konkret. Kalau unsur ekstrinsik sebaliknya yang mencakup unsur biografi, unsur sosial, dan unsur nilai." "Astaga, apalagi itu? Kukira membuat puisi itu mudah, tinggal susun kata lalu jadi." Hana terlihat mendorong bekal makanannya ke depan. Ia sudah tidak berselera setelah mendengar penjelasan dari mulut Azka. Rasanya kepala Hana dapat meledak sewaktu-waktu saking pusingnya. "Ini mudah kok. Aku ajarin kamu di rumahku setelah pulang sekolah mau? Di rumahku ada beberapa antologi puisi. Nanti aku jelaskan masing-masing unsurnya dengan merujuk bunga rampai yang aku punya." Seketika Hana tampak antusias. "Boleh?" "Tentu. Nanti aku kabari Mama dulu ya." Begitu sampai akhirnya mereka berteman. Kehadiran Hana selanjutnya menjadi sesuatu yang familier bagi keluarga Brata. Ayah Azka bahkan banyak berbicara dengan Hana. Satu dua kali keduanya tampak menonton pertandingan basket yang ditayangkan melalui saluran televisi nasional. Potret Hana yang tersenyum dengan setelan kebaya kelulusannya juga ikut masuk dalam figura keluarga Azka pada kemudian hari. Hana adalah bagian dari dunianya. Pada satu sisi Azka merasa mengetahui dunia Hana, namun pada sisi yang lain Azka juga merasa menjadi bagian terluar dari hidup Hana. Gadis itu agak tertutup dan seperti menyimpan sesuatu. “Kamu beruntung tau, Zka.” Azka ingat tempo hari setelah upacara kelulusan SMA, ia dan Hana sama-sama terbaring di atas kasur Azka.  “Beruntung karena?” Hana membalik tubuhnya. Ia memandang langit-langit kamar yang kosong. “Karena kamu punya segalanya. Ibu, Ayah, keluarga, uang.” “Is that important?” Azka bertanya. Ia belum menyadari arah pembicaraan mereka pada malam itu. “Tentu. Dengan keluarga kamu nggak akan merasa kesepian. Dengan uang kamu nggak akan merasa miskin. Semua hal itu penting, Zka. That’s why aku bilang kamu beruntung, karena enggak semua orang bisa mendapatkan keduanya sekaligus. Itu adalah sebuah kemewahan." “Then how about you, Han? Aku nggak pernah tahu bagaimana hidup kamu. Aku bahkan nggak tahu gimana bentuk dan isi kamar kamu. Kamu sangat tertutup padaku, don’t you?” Hana terkekeh pelan. Entah apa yang membuatnya demikian di saat Azka merasa tidak ada satu pun dari kalimatnya yang terdengar menggelitik. “Apa yang ingin kamu tau soal hidupku? My life is complety mess. That’s all.” Oh, Azka belum tahu cerita itu. Selama ini Hana tidak pernah membahas masalah keluarganya. Gadis itu juga tidak pernah mengizinkan Azka untuk berkunjung ke rumahnya selayaknya teman pada umumnya. “Maaf, aku nggak tau.” Azka bangun dari posisi rebahnya. Ia memandang Hana dengan perasaan tidak enak. Seharusnya Azka tidak menyinggung masalah keluarganya. “No. I’m totally fine. Yah, kalau kamu penasaran soal hidupku. Aku nggak punya apa-apa, Zka. Ibuku lebih banyak diselingkuhi sementara ayahku orang yang kasar padahal ia juga nggak menghasilkan uang yang banyak buat kami. Aku nggak bermaksud ngomong kalau laki-laki yang punya penghasilan banyak bisa seenaknya memperlakukan anak dan isterinya, aku cuma merasa ... Ayahku nggak tau malu.” Azka melipat lututnya di atas kasur dan memeluknya. Ia sedang mencoba mendengarkan Hana saat ini. Mencoba memahami dunia milik gadis itu. “Kamu benci Ayah kamu?” “Yes.” Hana terlihat menutup matanya sebentar. “Tapi, aku nggak bisa apa-apa. Mungkin kalau aku sudah bisa cari uang, aku akan pergi ninggalin Ayah. Bisa nggak ya aku cari uang kayak orang-orang?” “Bisa dong! Kamu pintar Hana, kamu pasti bisa mendapat pekerjaan yang bagus.” Waktu itu Hana tersenyum, mengaminkan. “Terima kasih, Azka.” Ya. Terima kasih juga, Hana. *** Azka tersentak dari tidurnya. Keringat dingin menitik di dahinya. Ia mengedarkan pandangan, lantas mengembuskan napas lega sebab sadar dirinya masih berada di kamar dan tadi hanyalah mimpi. Mimpi yang membawa dirinya kembali ke masa itu. Masa dimana ia dan seorang Hana Yokata pertama kali bertemu hingga berakhir menjadi teman. Masa lalu. Azka menangkup wajahnya ketika nyeri itu berdenyut-denyut membentur jantungnya. Tak dapat dipungkiri ia merindukan Hana. Ia merindukan persahabatan mereka. Ia merindukan gambaran tawa serta canda yang kini telah terjeda oleh waktu. Bahkan dirinya belum mengucapkan maaf untuk wanita itu. Maaf karena tidak bisa menjadi teman yang memberinya kebahagiaan. Azka tahu Hana juga sama-sama terluka saat ini. Tak lama tangis Azka pecah, bergelung bersama malam yang hampir tenggelam. Membiarkan desau angin mendegar resahnya. Sebelumnya, Azka tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padanya. Sebelumnya Azka tak pernah membayangkan akan kehilangan orang yang ia sayangi dengan cara seperti ini. Dan, sebelumnya ia tak pernah membayangkan akan membenci Daniel sebesar ia mencintai lelaki itu. Azka harap ia dapat berbalik dan memutar takdir agar tidak pernah mengenal Daniel. *** Pada pukul tiga pagi ponsel Azka berdering. Ada nomor asing yang masuk. Azka sedikit ragu, namun ia tetap menerima panggilan tersebut. Ada hening yang panjang sebelum kemudian Azka memutuskan untuk bersuara terlebih dahulu. “Zka.” Suara itu milik Daniel. Azka berniat menutup teleponnya jika saja laki-laki itu tidak kembali berbicara. "Kamu bangun karena suara dari teleponku?" Azka menunduk. Ia sedang membayangkan Daniel yang berbicara langsung di depannya. "Bukan." "Kenapa kamu masih bangun?" Azka tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya. Jadi, ia menimpali dengan kalimat yang membuat Daniel terdiam. "Itu nggak penting. Buat apa kamu telepon aku malam-malam?" Belum ada sahutan dari Daniel. Azka megerutkan dahinya. "Kalau kamu cuma mau diam sebaiknya jangan telepon aku." "Azka." "Hm?" Suara embusan napas kasar terdengar dari speaker ponsel Azka sebelum kemudian ia mendengar vokal Daniel. "Aku sadar aku salah. Aku juga sadar kalau aku sangat egois karena meminta kamu untuk segera memaafkan aku. Waktu itu, aku pikir kalau sebetulnya aku masih punya kesempatan dan sebaiknya kamu pun memberikan aku hal itu. Lalu, aku tau kalau aku hanya memikirkan diriku sendiri sementara, yang aku lukai di sini adalah kamu." Azka mendengarkan. Ia masih mendengarkan. “Aku sungguh menyesal. Aku tahu perbuatanku tidak akan selesai hanya karena aku minta maaf. Tapi, kalau kamu berkenan,  izinkan aku untuk memperbaiki segalanya dengan benar." "Bagaimana ..." Azka menarik napasnya dalam-dalam. "Bagaimana caranya kamu memperbaiki semuanya, Niel? Tell me how to solve this problem." "Aku akan mengabulkan keinginan kamu untuk berpisah kalau memang itu yang kamu inginkan. Tapi, aku mohon pada kamu agar kamu memberikan aku kesempatan untuk tetap berada di samping kamu sampai anak kita lahir. Setelahnya aku akan melepaskan kamu." Azka meremat ujung selimut yang melingkupi tubuhnya. Kalimat Daniel terdengar masuk akal, hanya saja Azka merasa sedikit janggal. Rasanya ia ingin pergi sejauh mungkin dari Daniel dan mengubur ingatan masa lalu soal pria itu. Namun, pada bagian lagian di dalam hatinya Azka merasa belum siap untuk melepaskan Daniel. Azka merasa sangat bodoh dan tidak berdaya karena perasaannya sendiri. "Kalau Hana? Bagaimana dengan Hana?" "Aku akan cari Hana. Mungkin dia masih di Jakarta. Kantor tempatnya kerja bilang kalau Hana pindah ke Bandung, di perusahaan kompetitor. Tapi, aku merasa kalau Hana masih di Jakarta mengingat proses perekrutan karyawan tidak sebentar." Azka diam. Untuk beberapa saat Azka merasa kehilangan kalimat di dalam kepalanya sebelum sebuah pertanyaan muncul. "Did she made your heartbeat faster than I could?" "Ya." Azka menutup matanya sebentar. "Could you love her more?" Kali ini Daniel tidak langsung menjawab cepat. Di seberang sana ia sedang berpikir. Mengenai perasaanya. Mengenai tindakannya di masa lalu. "Aku tidak tahu." Merasa tidak sanggup untuk mendengarkan, Azka memilih untuk membuat topik baru. Setidaknya Azka harus mendengarkan perihal Hana dengan perasaan yang lebih tenang dari malam ini. Azka tidak ingin perasaannya mengambil alih tindakan serta jawaban Azka kelak. “Sekarang kamu di mana?”  “Bandung.” “Bandung? Kamu di sini? Di mananya?” “Di depan rumah kamu.” Dengan segera Azka bangkit dan berjalan menuju sayap kanan bangunan kamarnya. Tangannya secara tergesa-gesa menyibak gorden untuk kemudian menemukan sosok Daniel yang duduk di atas kap mobilnya. Mata Azka menyipit. Ia melihat wajah Daniel yang pucat. Pun, Daniel balik membalas Azka. “Kamu nggak pulang ke Jakarta?” “Sudah. Tapi, aku harus jemput kamu.” “Aku nggak akan pulang." Daniel bangkit dari duduknya. Ia terlihat menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan tangan. “Aku tau. Aku nggak bisa jemput kamu.” Ada nada khawatir yang terselip dari suaranya ketika Azka memilih untuk menutup tirai dan berjalan menuju lantai satu. Secara naluriah Azka juga meraih jaket di dalam lemari dan berniat memberikannya untuk Daniel. “Kamu sakit?” “Mm? Sedikit.” “Kamu harus pulang, Niel.” Azka kini berada di depan pintu ruang utama. Ia hanya perlu memutar kenopnya untuk bisa melihat Daniel di luar sana. Hanya saja, Azka dihantam ragu. Haruskah ia melangkah atau justru berbalik pergi? “Iya, nanti ya. Nanti aku akan pulang ke Jakarta." Di seberang sana Daniel melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu semakin bergerak larut. "Kamu harus kembali tidur. Aku tutup teleponnya ya?" Tanpa menunggu persetujuan dari Azka, panggilan sudah terlebih dahulu diputuskan. Dan, dengan begitu Azka memutar kenop pintu. Ia berjalan melewati halaman depan rumah untuk kemudian sampai di depan pagar. Daniel yang awalnya berniat masuk kembali ke dalam mobil seketika menghentikan langkahnya. “Kenapa keluar?” tanya laki-laki itu. “Kamu yang kenapa ada di luar. Kamu sakit dan ini sudah malam. Kenapa kamu sangat merepotkan sih, Niel? Kamu bisa datang besok atau ketika kamu sudah dalam kondisi yang sehat.” “Aku nggak apa-apa—“ Belum sempat menuntaskan kalimatnya, Azka sudah telebih dahul meletakkan tangannya di atas kening Daniel. Azka berjinggit manakala merasa suhu tubuh Daniel yang panas. Pria di depannya demam. Wajahnya juga masih lebam.  Dengan panik Azka menarik tangannya dari kulit Daniel dan meminta pria itu untuk menunggu. Daniel malam itu juga menurut. Ia masih duduk di atas kap mobil sampai Azka kembali dengan sekuriti rumahnya. Pria di samping Azka terlihat sangat mengantuk. "Pak, katanya Bapak bisa bawa mobil. Tolong supirin saya sama Daniel ya, ke rumah sakit sekitar sini aja." Sekuriti tadi tidak banyak bicara. Ia hanya mengangguk dan membuat gestur menunggu dengan telapak tangan yang menengadah. Daniel yang membacanya segera merogoh kunci mobil dan meletakkannya di atas telapak tangan sekuriti. Dengan gerakan yang terkesan buru-buru Azka segera menarik Daniel agar masuk dan duduk di dalam mobil. Perempuan itu menyusul masuk setelah Daniel duduk dalam posisi nyaman. Malam itu, Daniel merasakan Azka yang berada di sampingnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN